Trio Tangguh Dan Elena

Trio Tangguh Dan Elena
Bab 57 Pencuri Start


__ADS_3

Hari ini adalah hari terakhir Lili sebagai trainee di perusahaan keluarganya, Loekito Corp. Tak terasa sebulan telah berlalu, tapi tidak bagi Lili. Waktu sebulan baginya bagaikan seabad lamanya. Tapi akhirnya ia lega juga karena masa trainee-nya sudah selesai.


Dimas memutuskan untuk mengajak Steven dan Arya yang hari ini sudah mulai masuk kerja lagi untuk makan siang bersama dengan Lili untuk merayakan selesainya masa trainee Lili. Dimas sempat mengajak Elena untuk bergabung, tapi Elena menolak dengan alasan ia sudah punya janji makan siang dengan orang lain.


Pertama kali Arya memasuki ruangan dan bertemu dengan Elena setelah kembali dari Kuala Lumpur, Arya mendapati Elena sedang melamun sambil memegang alat pembuka amplop yang bentuknya seperti pisau. Tanpa terasa jari Elena tergores dan mengeluarkan darah. Arya dengan sigap membantu Elena.


"Elena, ayo ke toilet. Lukamu harus di bersihkan"


"I... Iya, kak... Eh Pak..."


"Ayo, aku antar ke toilet"


"Baiklah"


Setelah membersihkan lukanya, Arya memberi obat di luka Elena lalu memasang plester di jarinya yang sakit.


"Gimana? Masih sakit ga?"


"Masih agak nyut-nyutan, tapi lebih baik dari yang tadi"


"Sabar ya, nanti juga sembuh"


"Iya Pak, Terima kasih"


'Tolong berhenti bersikap baik padaku, karena itu membuatku berharap dan jadi tambah sedih' batin Elena. Setelah itu Elena pamit untuk kembali ke toilet. Di dalam toilet, ia menangis meratapi nasibnya. Sepertinya ia harus mencari pekerjaan baru, karena rasanya ia tak sanggup kalau harus bertemu dengan Arya setiap hari.


Sewaktu Elena ke toilet, Arya masuk ke ruangan Dimas yang terbuat dari kaca. Tapi orang yang ada di luar ruangan Dimas tidak dapat melihat ke dalam ruangan, sebaliknya orang yang berada di dalam ruangan bisa melihat ke luar. Jadi sekarang Arya sedang mengamati Elena sambil menunggu Steven datang. Tak lama, datang seorang pemuda menghampiri Elena.


Dimas yang sedari tadi ikut mengawasi Elena akhirnya bersuara.


"Sepertinya itu yang namanya Banyu dari bagian administrasi, ya'."


"Jadi si Banyu ini sedang pendekatan ke Elena ya?"


"Iya mungkin. Kenapa? Kamu cemburu?" Tanya Dimas sambil memandang Arya dengan curiga.


"Ngga. Aku cuma mau bilang saingan kalian jadi bertambah satu dengan munculnya Banyu."


"Yaa... Terserah kamu ajalah ya"

__ADS_1


Tak lama kemudian Lili muncul di susul dengan Steven. Lalu mereka makan siang bersama di restoran pilihan Lili.


**


Beberapa hari kemudian, Dimas mengajak Arya dan Steven untuk bertemu di Cafe Sam. Ia hanya ingin melepas penat setelah seharian bekerja.


"Tumben Dims, ngajak ketemuan di pertengahan minggu. Biasanya kamu suka ngajak pas weekend." Ujar Steven.


"Iya, lagi pengen aja. Aku kayaknya udah lama ga liat kamu ngerokok, Tev. Udah berhenti ya?"


"Iya, aku kapok. Sakit banget tenggorokan karena batuk terus. Apalagi kalau berobatnya sama Sylvia, pasti aku bakal di omelin terus kalau masih ngerokok"


"Iya, lebih baik sih berhenti Tev, demi kesehatan kamu juga" Arya menimpali obrolan Dimas dan Steven.


"Tapi kamu sekarang baik-baik aja kan, Tev?" Kali ini Dimas yang bertanya.


"Aku baik-baik aja, kok"


"Oh iya, kemarin aku ga sengaja lihat data pegawai, ternyata Elena hari Jum'at ini ulang tahun" Ujar Arya.


Steven dan Dimas spontan langsung memandang Arya dengan curiga.


"Apa? Kenapa kalian liatin aku kayak gitu sih?'


"Iya, bilangnya ga mau ikutan bersaing secara sehat untuk dapetin Elena, taunya diam-diam memperhatikan dan peduli" Ujar Dimas.


"Aku ga sengaja liat data pegawai, seperti yang tadi aku bilang. Makanya aku info kalian kalau Elena hari Jum'at ini ulang tahun, supaya kalian bisa siap-siap cari kado buat dia. Kalau aku emang ada niat buat kejar Elena, ngapain juga aku kasih tau kalian, mending aku simpan sendiri supaya aku bisa siapin kejutan untuk dia."


"Udah ngaku aja ya' kalau kamu ga suka kan ga mungkin tiba-tiba kamu cium dia!" Dimas keceplosan bicara. Spontan ia menutup mulutnya dengan tangan, tapi Arya dan Steven sudah terlanjur mendengarnya dan sekarang gantian mereka yang memandangi Dimas dengan ekspresi berbeda. Arya dengan ekspresi terkejut, sedangkan Steven tatapannya seram seperti mau makan orang hidup-hidup.


"Kamu bilang apa barusan, Dims? Kamu bercanda, kan?" Tanya Steven


"Kamu tau darimana soal itu, Dims?" Gantian Arya yang bertanya.


"Dari Elena. Ah sial! Mulut besarku ga bisa di ajak kerjasama! Tolong jangan bahas ini lagi ke Elena, karena aku udah janji ga akan bilang siapa-siapa, dan kemungkinan dia akan bunuh aku setelah kalian!" Ujar Dimas panik.


Arya baru saja akan maju untuk menghajar Dimas, tapi Steven malah lebih dulu mencengkram baju Arya.


"Apa-apaan sih, Tev? Harusnya kan kamu hajar Dimas, bukan aku!"

__ADS_1


"Dia emang keceplosan, tapi yang nyebelin tuh kamu!"


"Loh kok aku sih?"


"Iya, kamu udah curi start! Ngakunya ga mau ikutan bersaing secara sehat, taunya malah udah sampai cium Elena!"


"Aku ga sengaja! Aku panik karena liat Elena kayak orang kehabisan nafas, jadi aku spontan cium dia! Dims, bantu aku jelasin dong kan kamu juga salah dari awal ga bilang ke aku kalau Elena takut naik pesawat terbang!"


"Elena takut naik pesawat terbang?" Steven bertanya sambil melonggarkan cengkraman di baju Arya.


"Iya, dia takut naik pesawat terbang dan aku ga tau karena Dimas sebelumnya ga bilang ke aku"


"Tapi kamu kan bisa minta bantuan sama petugas di pesawat, bukannya malah cium Elena!" Steven kembali mencengkram baju Arya.


"Tau nih Arya modus!" Dimas malah mengompori Steven bukannya malah melerai mereka.


"Kamu tuh sebenarnya ada di pihak mana sih, Dims?" Arya memelototi Dimas karena kesal.


"Aku ada di pihak Steven lah, kan kamu emang salah" Ujar Dimas sambil memasang ekspresi tanpa dosa.


"Tapi aku penasaran sih gimana rasanya cium Elena, ya'? Coba sharing sama kita dong"


"Dimas! Kamu bosen hidup ya berani nanya kayak gitu ke Arya?"


"Kenapa sih, Tev? Emang kamu ga penasaran juga apa?"


"Kalian tuh udah menodai aku yg masih innocent gini! Aku ga mau kalian sharing soal gituan ke aku, biar aku cari sendiri nanti!" Steven yang masih perjaka jadi kesal dengan kedua sahabatnya. Arya dan Dimas yang heran melihat kelakuan Steven yang sedang merajuk kemudian saling memandang setelah itu malah tertawa terbahak-bahak.


"Jangan khawatir, Tev. Aku ga akan cerita kok soal gimana rasanya mencium Elena. Kan aku udah bilang kalau aku spontan melakukan itu. Aku udah minta maaf sama Elena dan berjanji ga akan melakukannya lagi"


'Berjanji ga akan melakukannya lagi? Ya', kamu tuh sebenarnya normal ga sih? Emang bisa kamu ga akan melakukannya lagi kalau udah tau rasanya?" Ujar Dimas sambil geleng-geleng kepala.


"Ya bisalah, kalau kamu tuh baru ga bisa! Tev, kamu kenapa sih ngeliatin aku kayak gitu?"


"Aku ikutan heran sama kamu. Jadi beneran kamu udah ga normal ya'?"


'Idih kamu kenapa jadi sama kayak Dimas sih? Udah deh kita ngomongin yang lain aja kayak kira-kira kita mau ngadain acara apa buat Elena di hari Sabtu atau minggu gitu"


"Aku rasa karena Elena takut naik pesawat terbang, mungkin kita bisa ajak Elena ke suatu tempat yang setidaknya bisa mengurangi ketakutannya naik pesawat terbang" Ujar Steven.

__ADS_1


"Nah, bagus juga ide kamu, Tev!" Ujar Dimas.


Dalam hati Arya tersenyum lega. Akhirnya ia bisa juga mengalihkan kedua sahabatnya untuk tidak membicarakan lagi soal ciumannya dengan Elena.


__ADS_2