Trio Tangguh Dan Elena

Trio Tangguh Dan Elena
Bab 25 Penjelasan


__ADS_3

"Aku sendiri juga baru tahu kalau Elena mengenal Pak Steven"


"Iya Cel, Pak Steven itu sahabatnya Pak Dimas sama Pak Arya. Mereka ini atasan aku di kantor tempat aku kerja. Aku juga salah sih selama ini ga pernah nanya kamu kerja dimana"


"Aku juga ga pernah cerita sih. Tapi tadi kamu manggilnya Koh, kayak dekat" Celine sempat cemburu sebenarnya tadi waktu Elena memanggil Steven dengan sebutan koh.


"Iya, kalau di luar kantor Pak Steven meminta aku memanggilnya seperti itu, Cel. Begitu juga dengan Pak Dimas dan Pak Arya"


Celine hanya menganggukan kepalanya tanda mengerti.


**


Mereka akhirnya tiba di rumah sakit terdekat. Steven langsung di bawa ke ruang UGD untuk diperiksa. Setelah menunggu beberapa lama, seorang dokter jaga keluar.


"Keluarga pasien bapak Steven!"


"Iya dok" Dimas dan Arya langsung menghampiri dokter tersebut.


"Anda keluarga Pak Steven?"


"Kami sahabatnya, dok. Keluarganya segera datang untuk menyusul kesini."


"Baik. Kondisi bapak Steven banyak terdapat luka lebam yang harus di rawat, tapi untungnya tidak ada luka serius di organ vitalnya. Setelah ini kami akan memindahkannya ke ruang rawat inap jadi tolong pihak keluarga untuk mengurusnya"


"Baik, dok"


"Setelah itu kami akan melakukan evaluasi. Jika hasil evaluasi baik maka Pak Steven di perbolehkan untuk pulang besok atau lusa"


"Baik, Terima kasih banyak, Dok" Ujar Dimas yang di angguki oleh Arya.


Papi dan Mami tiri Steven datang untuk melihat keadaan Steven. Aldo juga berada di rumah sakit yang sama. Jadi Dimas dan Arya menawarkan bantuan untuk mengurus perpindahan kamar Steven dan Aldo.


"Maaf pi, Arya sama Dimas aja ya yang urus perpindahan kamar Steven dan Aldo biar Papi ga repot.


" Boleh. Terima kasih ya Dimas dan Arya. Papi jadi ngerepotin. Kamar Steven sama Aldo di VIP aja dan kalau bisa bersebelahan biar Papi ga repot nengokinnya"


"Baik Pi" Ujar Arya. Lalu ia menghampiri Elena dan Celine yang masih menunggu Steven siuman.


"Elena sama Celine masih mau disini atau mau pulang? Kalau masih mau disini tunggu sebentar ya kita mau urus kamar Steven dulu."


"Kita masih mau di sini sampai koh Steven siuman. Iya kan, Cel?"

__ADS_1


"Iya, Len"


"Lagipula aku masih mau tanya sama kalian tentang kenapa kalian membiarkan Koh Steven melakukan ini."


"Iya, baiklah. Nanti kita bicara lagi ya" Ucap Arya sambil tersenyum masam. Setelah itu Dimas dan Arya turun ke lantai bawah untuk mengurus administrasi dan perpindahan kamar Steven dan Aldo.


**


"Elena pasti nyalahin kita ya, ya' karena ngebiarin Steven bertanding sampai babak belur gitu"


"Iya, Dims. Dan aku yakin dia ga bakalan mau pulang sampai dapat penjelasan detail dari kita"


"Iya. Lagian sih Tev ada-ada aja pakai punya ide duel segala!" Ujar Dimas gemas kepada Steven.


"Tapi seenggaknya dia puas sekarang bisa mukulin Aldo, Dims" Ujar Arya sambil terkekeh membayangkan reaksi Steven setelah ia siuman nanti."


"Hehehe... Iya sih. Aku juga bakalan merasa puas kalau jadi Tev" Ujar Dimas setuju.


Setelah selesai mengurus administrasi, Dimas dan Arya kembali ke ruang UGD untuk membantu perpindahan Steven ke kamar rawat inap.


**


Elena lalu mulai bertanya kepada Dimas dan Arya mengenai bagaimana duel ini bisa terjadi. Dimas menjelaskan panjang lebar mulai dari munculnya masalah di kantor cabang Singapura yang di pimpin oleh Prakash, di kirimnya Arya ke Singapura untuk menyelidiki dan menangkap basah Aldo, sidang Aldo, tantangan dari Steven sampai akhirnya duel berlangsung di hari ini.


Lalu Arya melanjutkan penjelasan Dimas.


"Kita bukannya tidak mencegah duel itu, Lena. Kita sudah berusaha mencegah, bahkan Papi Steven pun tak setuju. Tapi yah, seperti yang kau lihat tadi, duel tetap berlangsung dan berakhir seperti ini"


Tak lama kemudian, Steven membuka matanya. Dia mulai siuman. Elena yang melihat itu langsung menghampiri dan mengomeli Steven.


"Koh, gimana sih kok bisa seceroboh itu pakai duel segala! Untung cuma luka-luka aja, kalau lebih parah dari itu gimana? Emang ga mikirin perasaan Papinya yang pasti khawatir, apalagi katanya lagi sakit. Gimana sih koo..."


Setelah itu Elena malah menangis. Steven jadi salah tingkah dan garuk-garuk kepala.


"Maaf Elena, aku ga bermaksud membuat siapapun khawatir, termasuk kamu. Aldo memang harus dikasih pelajaran biar dia belajar lebih bertanggung jawab."


"Tapi ga gini juga caranya, koh... "


"Akhirnya ada juga ya perempuan yang berani ngomelin Tev setelah almarhumah mami" Ujar Dimas kepada Arya yang sengaja meledek Steven.


"Hei, aku denger ya Dims. Biar bisik-bisik juga masih kedengeran tau!"

__ADS_1


"Tapi emang bener kan yang aku omongin tadi?" Ujar Dimas tak mau kalah.


"Eeh... Udah... Kalian kayak anak kecil aja deh. Dims, kasian tuh Tev baru siuman udah di omelin sama dua orang, belum nanti di tambahin lagi sama Papi kalau Papi kesini lagi?"


"Tadi Papi udah kesini ya'?"


"Udah tadi waktu kamu masih di UGD. Tapi nanti balik lagi mau bawa baju sama keperluan kamu dan Aldo"


"Jadi Aldo ada di rumah sakit ini juga?"


"Iya biar sekalian. Kalau beda rumah sakit kasian Papi repot ngurusnya."


"Iya juga sih. Oh iya, Elena datang sama siapa?" Tanya Steven yang mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Aku datang sama Celine. Dia pegawai koko juga di kantor" Ujar Elena.


Lalu Dimas berbisik kepada Arya.


"Aku berani taruhan ya' kalau Tev pasti ga kenal sama pegawainya sendiri saking dinginnya dia sama perempuan"


"Celine? Dari bagian administrasi ya?" Ujar Steven yang memang mempunyai ingatan tajam tentang pegawainya walau jumlahnya banyak.


"I... Iya Pak" Jawab Celine malu-malu.


Setelah itu Arya malah menertawakan Dimas.


"Ternyata dia ingat, Dims. Kamu sih terlalu ngeremehin Tev"


Steven yang mendengarnya hanya tersenyum kecil.


"Aku sih ingat, emang kamu tuh yang di ingat cuma pegawai yang cantik aja!"


"Eh, sembarangan! Aku inget kok. Buktinya sama mba Cindy aku inget!"


"Iya kalau mba Cindy kan tiap hari ketemu. Coba kalau bagian lain, aku yakin kamu pasti ga inget kecuali kalau parasnya cantik!"


"Kamu tuh ya baru siuman udah ngeselin! Pake buka kartu segala lagi! Kan malu-maluin! Mau duel lagi apa sama aku?" Ujar Dimas yang gemas dengan Steven


"Boleh! Siapa takut?" Steven malah menerima tantangan Dimas.


Arya, Elena, dan Celine yang melihatnya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala.

__ADS_1


__ADS_2