
Now the drugs don't work
They just make you worse
But I know I'll see your face again
(The drugs don't work - The Verve)
Dimas, Arya dan Steven sedang berkumpul di cafe Sam di hari Sabtu menjelang siang.
"Aku tau Sam pasti sengaja putar lagu ini untuk menyindir kita" Ujar Steven.
"Iya aku inget kita selalu nyanyi lagu ini dengan suara sumbang tiap kali kita pakai narkoba" Ucap Arya sambil tersenyum mengingat saat itu.
"Lagu ini mengingatkan kita kalau kita dulu payah banget waktu pake narkoba." Ucap Dimas dengan nada menyesal.
"Tapi kalau kita ga melewati fase itu mungkin sampai sekarang kita masih nakal. Iya ga sih?" Tanya Steven.
"Iya juga sih. Dan Dimas ga mungkin bisa buat gebrakan positif dengan membuat yayasan untuk menampung para pemakai narkoba sampai sembuh. Iya ga Dims?" Tanya Arya ke Dimas.
Dimas hanya menjawab dengan anggukan kepala. Setelah itu trio tangguh mengenang masa-masa itu. Dimas mendirikan Yayasan rehabilitasi untuk para pemakai narkoba setahun setelah ia menjabat sebagai CEO di kantor pusat. Gagasan itu mendapatkan dukungan penuh dari keluarganya. Yayasan itu masih berdiri sampai sekarang dengan di kelola oleh beberapa staf kepercayaan Dimas.
Trio tangguh merasa bersyukur telah terbebas dari jerat narkoba dan memutuskan tidak akan pernah menyentuhnya lagi. Ketika Arya menghilang selama setahun dan di rawat oleh Mr. Abdullah, ia di bawa ke pengobatan hipnoterapi untuk sugesti menghilangkan pikiran tentang keinginan untuk memakai narkoba. Hal itu berhasil dilakukan, jadi pengobatan itu sekarang juga di pakai oleh Yayasan Dimas untuk membantu pengobatan bagi para pemakai narkoba.
Arya sekarang selain sudah tidak memakai narkoba juga berhenti merokok. Ia juga jarang sekali minum minuman keras. Steven juga sudah berhenti total memakai narkoba, begitu juga Dimas. Tapi Steven masih menjadi perokok berat dan belum menemukan cara untuk berhenti.
Dimas sudah tidak merokok, tapi sesekali ia masih suka menghisap cerutu, apalagi kalau papanya pulang dari luar negeri dan membawa oleh-oleh cerutu, Dimas tidak sanggup menolaknya. Papanya masih mengizinkan Dimas menghisap cerutu asal masih di awasi.
"Udah cukup sedihnya, aku mau request lagu pembakar semangat aja ke Sam. Pengen tau juga sih kalian masih inget apa ngga. Tunggu sebentar ya" Ujar Arya sambil keluar ruangan VIP cafe tersebut untuk mencari Sam.
"Sam..." Arya memanggil Sam yang sedang ada di ruang kerjanya.
"Tunggu... Tunggu... Kamu mau marahin aku ya gara-gara lagu yang tadi aku putar?"
"Ngga sih, tapi kalau Tev iya mau marahin kamu! Hehehehe... "
__ADS_1
"Udah kuduga. Untung bukan dia yang kesini"
"Sebagai permintaan maaf aku mau request lagu sama kamu"
"Aku kan belum minta maaf kok udah request lagu aja?"
"Udah turutin aja. Mau selamat ga dari tendangan maut Tev?"
"Ya udah deh iya aku puterin lagu request kamu"
"Nah gitu dong" Ujar Arya sambil nyengir.
**
Dimas dan Steven menunggu di ruangan sambil menerka-nerka lagu apa yang akan di request oleh Arya ke Sam. Tak lama kemudian terdengar dentuman lagu rock dari speaker yang terdengar ke seluruh cafe.
Dan jika kami bersama, nyalakan tanda bahaya
Musik akan menghentak, anda akan tersentak
Kami adalah kamu, muda, beda dan berbahaya
(Jika Kami Bersama - Superman is Dead & Shaggy Dog)
Setelah Arya kembali ke ruangan untuk menemui Dimas dan Steven, mereka berdua tertawa senang mendengar lagu tersebut.
"Wiih... Cadas nih!" Steven berkomentar senang
"Muda, beda, dan berbahaya ga tuh! Kita banget ga sih dulu?" Tanya Dimas meminta persetujuan dari Arya dan Steven.
"Iya, Dims!" Ujar Arya dan Steven berbarengan.
Setelah lagu selesai di putar, mereka kembali duduk dan merenung, mengingat masa muda mereka. Kemudian Steven mengingat ketika ia baru wisuda kuliah S1 yang hanya di hadiri oleh kedua sahabatnya karena Papinya saat itu sedang terserang stroke dan dirawat di rumah sakit.
Saat itu pula Steven merasa masa mudanya berhenti, begitu pula dengan foya-foya dari satu tempat hiburan ke tempat hiburan lain. Hidupnya hanya berisi tentang kerja sambil melanjutkan kuliah S2.
__ADS_1
Arya sebenarnya sempat menghilang dan baru muncul ketika Steven diwisuda. Saat itu Dimas sempat menyuruh orang untuk mencari tahu dimana Arya berada. Ternyata Arya selama itu sedang kuliah di Perancis, tepatnya di kota Paris, mengambil jurusan seni lukis karena impiannya suatu hari nanti ingin menjadi pelukis dan memiliki galeri seni yang memajang hasil karyanya.
Setelah Arya hadir di wisuda Steven, ia kembali lagi ke Perancis untuk melanjutkan kuliahnya sampai selesai. Ayahnya tadinya tidak tahu, tapi akhirnya tahu juga setelah mengirim orang untuk menyelidiki. Arya di paksa untuk pulang ke Indonesia tetapi ia menolak. Ia berjanji akan pulang setelah kuliahnya selesai. Setelah pulang ia di marahi habis-habisan oleh ayahnya.
"Kamu masih ingin jadi pelukis, ya'?" Tanya Steven kepada Arya.
"Masih, Tev. Suatu hari nanti mudah-mudahan bisa terlaksana" Ujar Arya.
"Ayahmu pasti akan marah besar" Ujar Steven lagi.
"Kayaknya sih begitu, Tev" Ujar Arya sambil meringis.
"Aku tahu kamu ga punya pilihan dulu waktu menggantikan posisi Papimu, Tev. Tapi coba deh kalau kamu punya pilihan sebenarnya kamu emang mau jadi CEO atau yang lain? Kamu juga Dims, apa kamu punya keinginan lain selain jadi CEO?"
"Aku dari dulu suka belajar, kalian juga tau itu kan. Mungkin kalau aku bisa milih aku udah jadi dosen sekarang" Ujar Steven sambil tersenyum membayangkan dirinya menjadi dosen.
"Kalau kamu gimana, Dims?" Tanya Arya kepada Dimas yang sedari tadi lebih banyak diam.
"Aku dari kecil suka nemenin Papa main golf sampai lumayan jago, jadi dulu aku sempat kepikiran pengen jadi pemain golf profesional, ya'. Tapi jadi pembalap juga keren, apalagi umbrella girl-nya cantik-cantik, jadi kayaknya betah banget kalau berprofesi jadi pembalap" Ujar Dimas.
Arya dan Steven secara spontan langsung menyoraki Dimas
"Huuu... Kebiasaan deh ujung-ujungnya pasti ke situ omongannya!" Seru mereka sambil meninju pelan lengan Dimas.
"Yee... Terserah aku dong kalian jangan iri gitu, kalau mau buat mimpi sendiri yang kayak aku!" Ujar Dimas membela diri.
"Kita udah punya mimpi Dims, ngapain juga ngikutin mimpi kayak kamu!" Ujar Arya
"Tau nih, aku curiga jangan-jangan mimpi kamu isinya mesum semua! Hahahaha...!" Steven menimpali dengan menggoda Dimas.
Arya ikut tertawa mendengar ucapan Steven, sementara Dimas hanya diam sambil cemberut.
"Udah jangan cemberut lagi, nanti gantengnya hilang repot loh, ga bisa tebar pesona lagi! Hahahaha... " Ujar Steven tambah senang menggoda Dimas.
"Dimas tuh ga ganteng Tev, tapi dia imut-imut kayak anak marmut! Hahaha..." Arya ikut menimpali Steven.
__ADS_1
Setelah itu mereka saling berkejaran seperti yang biasa mereka lakukan sewaktu kecil.