
Setelah hampir dua jam menempuh perjalanan, akhirnya trio tangguh dan Elena tiba di tempat tujuan.
"Jadi kita ke taman hiburan ya?" Tanya Elena kepada trio tangguh.
"Iya. Kamu suka ga? Sebenarnya tadinya kita mau ke tempat simulasi pesawat terbang untuk mengatasi aero phobia kamu. Tapi jadinya lebih kayak buat calon pilot gitu sih jadi kayaknya kurang tepat" Ujar Dimas
"Trus kita juga tadinya mau ajak kamu ke planetarium liat bintang-bintang, tapi kayaknya ga nyambung juga karena kamu kan bukan mau belajar astronomi atau jadi astronot. Jadi gagal juga kesitu" Ujar Arya
"Jadinya kita kesini mau ajak kamu naik wahana yang tinggi-tinggi. Ya anggap aja latihan gitu. Tapi sebenarnya kalau ini tuh lebih tepat buat orang yang takut ketinggian, jadi sebenarnya kurang tepat juga sih" Kali ini Steven yang menimpali sambil garuk-garuk kepala.
"Atau kalau kamu mau ke tempat lain ga apa-apa juga sih, kita ikut aja. Iya ga Tev...Ya'?"
"Iyaa" Steven dan Arya menyahut berbarengan.
"Ga apa-apa, aku suka kok di sini. Terima kasih kalian udah mau repot-repot ngajak aku kesini" Ujar Elena sambil tersenyum.
"Baiklah kalau begitu. Kita coba wahana-wahana di sini yuk! Kamu yang pilih nanti kita ikut aja" Ujar Dimas yang paling banyak bicara, membuat ia terlihat seperti MC acara.
Awalnya mereka naik wahana yang terbilang aman, setelah itu mereka mulai naik wahana cepat seperti halilintar. Elena masih bisa bertahan walau mukanya sudah mulai pucat. Lalu mereka istirahat sebentar, setelah itu mulai naik wahana lain. Tetapi di wahana yang berputar-putar di atas, Elena sudah tak sanggup lagi. Ia merasa mual dan langsung lari ke toilet.
Dimas dan Arya sebenarnya maklum kalau akhirnya Elena tidak sanggup menaiki semua wahana yang penuh tantangan dan memacu adrenalin. Tetapi ketika mereka melihat muka Steven yang juga pucat dan tiba-tiba muntah di dekat pohon, Dimas dan Arya malah menertawakan Steven.
"Duh Tev, kamu payah banget sih. Masa begitu aja sampai mual, malu dong sama Elena!" Dimas mulai mengejek Steven, sementara Arya hanya senyum-senyum melihat Steven. Tapi ia akhirnya tak tega juga.
"Untung aku bawa kotak P3K di tas. Ini kamu pakai minyak angin roll on dulu sama minum air putih" Ujar Arya. Tak lama kemudian, Elena keluar dari toilet. Arya juga menawarkan obat kepada Elena.
"Aku kayaknya masih pengen naik beberapa wahana lagi deh. Atau gini aja, aku sama Arya keliling naik wahana dulu, Elena sama Steven tunggu sini aja. Tapi kalau kalian mau keliling juga, kabarin kita aja ya" Ujar Dimas.
"Iya, siap Dims" Ujar Steven.
Setelah itu mereka berpencar. Ketika sedang mengantri untuk menaiki wahana, Arya membuka percakapan dengan Dimas.
"Dims, aku kok ngerasa Elena kayak menghindari aku ya?"
"Mungkin dia ngerasa sungkan sama kamu sejak ciuman itu, ya'."
__ADS_1
"Tapi aku kan udah minta maaf waktu itu"
"Mungkin ga segampang itu juga dia ngelupainnya, ya'. Namanya juga perempuan. Apalagi setelah itu kamu ngajak Elena ke makam Aisyah kan, kayaknya Elena jadi bingung sama kamu"
"Gitu ya? Trus aku harus gimana, Dims?"
"Kamu ya harus tetap bersikap baik sama dia. Jadi teman ketika dia membutuhkan kamu. Nanti juga lama kelamaan dia bisa bersikap biasa sama kamu"
"Entahlah, aku ga yakin. Tapi aku akan tetap coba, Dims."
"Nah gitu dong, semangat ga boleh kendor. Kan kita trio tangguh"
"Iya deh, iya... "
Setelah itu Dimas menepuk bahu Arya dengan pelan untuk memberi semangat dan mulai menaiki wahana.
Steven dan Elena sedang melihat-lihat barang di toko suvenir sambil berkeliling. Lalu Steven melihat sebuah wahana dengan tulisan "Rumah Misteri" Elena ikut melihat apa yang sedang Steven lihat dengan heran, lalu Steven bertanya.
"Ke situ yuk! Kamu berani ga?"
"Hehehe... Jujur banget ya"
"Daripada bohong nanti pasti ketahuan juga"
"Iya juga sih. Kamu percaya deh sama aku, aku pasti bisa nemuin jalan keluarnya. Selama ini kalau ke tempat kayak gini aku selalu bisa keluar duluan karena aku suka tantangan."
"Benarkah? Kalau begitu koko harus buktikan ke aku"
"Ayo, siapa takut? Tapi kamu jangan lepas pegangan ke aku ya, karena kalau kamu panik trus berpencar nanti aku susah nyari kamu lagi"
"Kenapa aku mencium aroma modus ya disini?"
"Karena aku memang modus! Hahaha... Ngga kok, aku bercanda. Sekarang kita masuk yuk!"
"Ayo deh"
__ADS_1
Setelah di dalam, Steven baru bertanya lagi kepada Elena.
"Kamu ga ada penyakit jantung bawaan kan, Elen?"
"Kayaknya koko telat deh nanya itu setelah kita udah di dalam kayak gini"
"Hehehe... Iya juga ya. Maaf kalau aku agak kaku. Aku memang ga begitu bisa menghadapi perempuan"
"Aku ga percaya"
"Kok kamu bisa ga percaya? Kenapa?"
"Kalau koko bisa sayang sama adik perempuan koko, aku rasa koko juga bisa kok menghadapi perempuan. Buktinya koko baik sama aku"
"Iya, tapi awalnya kan ngga"
"Itu kan karena keadaan aja yang ga mendukung."
"Menurut kamu begitu? Ah, Terima kasih Elena, itu adalah ucapan paling manis yang pernah aku dengar hari ini. Nanti malam aku pasti bisa tidur nyenyak"
Elena malah tertawa mendengar ucapan Steven. Walaupun kadang agak kaku, Elena tahu kalau Steven sebenarnya baik dan tulus kepadanya.
Setelah selesai menaiki semua wahana, Dimas akhirnya menelepon Steven. Tetapi setelah beberapa kali menelepon tak juga di angkat oleh Steven. Beberapa lama kemudian, Steven menelepon balik Dimas, lalu mereka sepakat untuk bertemu di tempat yang sudah di tentukan.
Ketika akhirnya mereka berempat bertemu kembali, mereka kemudian makan siang di tempat yang tak begitu jauh dari lokasi mereka bertemu. Setelah makan siang selesai, Dimas melihat sebuah photobooth dan ia mengajukan usul supaya Elena berfoto dengan masing-masing dari mereka, kemudian mereka akan berkeliling untuk menanyakan kepada orang-orang foto mana yang menurut mereka paling bagus.
Setelah masing-masing dari mereka selesai berfoto bersama Elena dan menanyakan kepada orang-orang di sekitar mereka, akhirnya yang keluar sebagai pemenang adalah foto Elena bersama Dimas yang posenya di nilai paling lucu dan ceria.
"Arya sama Elena kelihatan paling kaku ya, Tev. Kayak kebanyakan beban hidup! Hahaha..."
"Iya, Dims. Padahal sebenarnya yang paling kaku itu seharusnya aku, tapi tumben ini hasil foto aku sama Elena lumayan bagus. Nanti aku pajang ah di rumah"
"Lagian ide kamu ada-ada aja sih, Dims. Aku kan emang kurang suka di foto, biasanya kan emang aku yang foto kalian"
"Bisa aja ya Tev nyari alasan" Dimas meminta dukungan Steven untuk meledek Arya dan mencairkan suasana karena sebenarnya Dimas tau kenapa pose Arya dan Elena menjadi kaku. Masing-masing dari foto itu terdiri dari empat pose kecil-kecil. Kemudian mereka saling menyimpan foto tersebut untuk kenang-kenangan. Arya juga membawa kamera dan mereka sempat berfoto berempat sebelum mereka pulang.
__ADS_1