Trio Tangguh Dan Elena

Trio Tangguh Dan Elena
Bab 68 Terbujuk?


__ADS_3

Arya membuka kedua matanya dan merasa bingung. Ada dimana kah dirinya? Kemudian ia mengingat semalam ia ke sini, ke rumah milik kakek Elena. 'Aku pasti ketiduran' pikirnya.


Suara dari masjid terdengar di telinga Arya. Sepertinya waktu adzan Subuh akan tiba. Ia kemudian melirik jam tangannya. Pukul 4 dini hari. Tak lama kemudian, kakek Elena datang sambil duduk di kursi rodanya.


"Alhamdulillah sudah bangun, kakek baru mau bangunin Arya"


"Aku benar-benar minta maaf kek, aku pasti sudah ketiduran disini"


"Iya, tidak apa-apa, nak"


Tak lama kemudian, Elena muncul sambil membawakan Arya minum.


"Terima kasih, Elena. Maaf ya, aku tak bermaksud untuk... "


"Tidak apa-apa kak, aku mengerti"


"Arya sekarang mandi ya, setelah itu ikut kakek ke mesjid untuk sholat Subuh"


"Baik, kek. Tapi aku ga bawa baju ganti"


"Tak usah khawatir soal itu. Sementara pakai baju kakek aja dulu"


"Baik, kalau gitu Arya mandi dulu ya kek"


Setelah mandi, Arya memakai baju koko dan sarung kakek.


"Wah, cucu kakek keliatan kasep seperti yang di bilang mpok DJ ya, Len" Ujar kakek bermaksud untuk menggoda Arya.


"Cucu kakek kan aku, bukan kak Arya, kek" Ujar Elena sambil pura-pura cemberut.


Mereka lalu tertawa bersama-sama, setelah itu bergegas berangkat ke mesjid untuk sholat Subuh berjama'ah.


Setelah sholat Subuh, Arya dan kakek berbincang-bincang.


"Kakek tiap hari sholat Subuh di mesjid, kek?"


"Iya, kalau Elena lagi bisa antar aja sebelum berangkat kerja"


Arya menganggukan kepalanya. Pantas Elena selalu datang pagi ke kantor, karena ia juga selalu bangun pagi sampai menyempatkan diri untuk mengantarkan kakek ke mesjid.


"Sepertinya masalah yang kau hadapi cukup berat ya"


"Iya, kek"

__ADS_1


Jawaban singkat Arya membuat kakek menahan diri untuk bertanya lebih jauh. Tapi setelah itu Arya justru menjelaskan panjang lebar tentang kejadian kemarin.


"Arya, kalau boleh kakek tanya, apakah ibumu sudah tau soal ini?"


"Entahlah kek, aku belum bertemu dan bicara langsung dengan ibuku. Hatinya pasti hancur kalau tau tentang ini, kek. Selama ini aku bertahan untuk tinggal di rumah demi ibu dan adikku, tapi aku sungguh tak menyangka akan mengalami hal ini. Aku pikir ayahku takkan mungkin tega melakukan ini terhadap ibuku, tapi ternyata... " Arya lalu menghembuskan nafasnya dengan keras untuk melepaskan semua beban di pikirannya.


"Semua orang pernah melakukan kesalahan, Arya. Termasuk kedua orang tuamu. Beri mereka kesempatan untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri. Tugasmu sebagai anak hanyalah memberi dukungan jika di perlukan. Dan satu lagi, biar bagaimanapun besarnya kesalahan ayahmu, ia tetaplah ayahmu, tidak ada kan yang namanya bekas ayah?"


"Tapi, kek... "


"Tenangkan dulu pikiranmu, jangan biarkan emosi menguasaimu. Kelak jika nanti kau jadi orang tua, jadikan masalah ini sebagai pembelajaran untukmu dan pasanganmu di kemudian hari"


"Aku rasa kakek benar. Terima kasih atas sarannya, kek. Aku lega karena sudah datang ke tempat yang benar. Setidaknya aku tak salah jalan lagi seperti waktu muda dulu"


"Semuanya membutuhkan proses, Arya. Jadi kamu datang kesini lega karena bisa dengar saran dari kakek atau karena bisa ketemu sama Elena?"


"Ah, kakek bisa aja."


"Sekarang lebih baik kita kembali ke rumah. Nenek pasti sudah siapkan sarapan buat kita"


"Baik, kek"


Setelah itu Arya mendorong kursi roda kakek dan kembali ke rumah.


**


"Kak Arya baik-baik aja kan? Ga apa-apa aku tinggal masuk ke dalam kantor?"


"Iya ga apa-apa Elena. Kamu masuk aja ke dalam, nanti terlambat loh"


"Telat juga ga apa-apa. Kan bos aku sahabat kakak, jadi dia ga mungkin marahin aku" Ujar Elena mencoba untuk bercanda agar Arya tak terlalu sedih. Dan Arya pun tersenyum mendengarnya.


"Jangan bawa Lucky ngebut ya kak, kasihan nanti dia kecapekan" Ucap Elena.


"Jadi kamu lebih perhatian sama Lucky nih di banding sama aku?"


"Ah iya, maaf. Yang jelas aku ga bisa lebih perhatian ke Momo karena aku masih geli kalau liat dia yang masih bersaudara sama tikus"


"Momo itu hamster, Elena"


"Tetap aja badannya kayak tikus walau packaging-nya lucu"


Arya kemudian tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Elena yang polos.

__ADS_1


"Terima kasih ya Elena. Maaf udah ngerepotin kamu, kakek sama nenek dari semalam"


"Ga apa-apa kak. Kalau aku belum tidur pasti aku bukain pintu. Tapi kalau aku udah tidur sih ga janji ya"


Arya kembali tertawa dan juga agak lega. Setidaknya kejadian semalam membuat hubungan mereka yang sempat renggang menjadi baik seperti semula.


**


Ketika jam kerja usai, Dimas dan Steven datang ke apartemen Arya. Masing-masing dari apartemen mereka yang bersebelahan terdapat balkon, dan saat ini mereka bertiga sedang duduk di balkon apartemen Arya sambil menikmati pemandangan kota di bawah sana.


"Kamu marah ga ya' sama istri muda ayahmu?" Tanya Dimas.


"Entahlah. Tapi yang jelas aku tak marah dengan calon adikku"


"Ya, kamu benar. Dia ga salah. Yang salah ya perbuatan orang tuanya. Aku rasa aku mengerti kalau kau emosi. Aku sendiri sampai saat ini masih belum bisa menerima kehadiran ibu tiriku. Apalagi kami tinggal serumah. Segitu juga papiku kan nikahnya setelah mami meninggal, makanya kurang lebih aku ngerti perasaan kamu sekarang"


"Iya, Tev"


"Kamu ga coba telepon ibu kamu, ya'?"


"Belum, Dims. Aku belum siap"


"Iya, sebaiknya kamu tenangin diri dulu. Ga usah mikirin urusan kantor dulu. Aku sama Redi masih bisa handle kok, jangan khawatir"


"Iya Dims, Thanks ya"


"You're welcome ya'. Itulah gunanya sahabat. Sahabat rasa saudara" Ujar Dimas.


"Yeah. Trio tangguh, brothers for life" Ucap Steven. Setelah itu mereka tertawa bersama.


Sekitar jam 11 malam, Dimas pamit pulang. Tapi Steven tetap tinggal. Ia bilang malam ini ia akan tidur di apartemennya untuk berfikir. Hal itu membuat Arya dan Dimas bingung dengan perubahan sikap Steven. Tetapi mereka akan membahasnya nanti ketika sedang berdua.


**


Keesokan harinya di sore hari, terdengar ketukan di pintu apartemen Arya yang seharian hanya menghabiskan waktunya di dalam apartemen sambil membersihkan dan melakukan hobi yang sudah lama tak sempat ia lakukan, yaitu melukis.


Arya yang biasanya selalu mengintip di lubang pintu sebelum membukakan pintu, kali ini tidak melakukannya. Ketika ia membuka pintu, ia kaget melihat kehadiran dua tamu yang tak dia duga akan datang ke apartemennya.


"Ibu...? Dita...? Bagaimana kalian bisa kesini?"


"Gimana kalau persilahkan kita masuk dulu A'?" Ujar Dita kepada kakaknya sambil tersenyum.


Setelah itu Arya membukakan pintu untuk mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2