Trio Tangguh Dan Elena

Trio Tangguh Dan Elena
Bab 83 Ancaman untuk Elena


__ADS_3

Arya baru saja ingin memberi tahu Steven tentang obat yang nanti harus ia minum tetapi ia urung melakukannya ketika melihat Steven tidur dengan lelap bersama Elena di sampingnya.


Walau hati Arya sakit melihatnya, tapi ia harus mengikhlaskannya demi sahabat yang sudah ia anggap seperti saudara sendiri. Kemudian ia memutuskan untuk turun ke kantin di bawah untuk membeli kopi. Sepertinya ia juga tak sanggup untuk tidur di sofa dan melihat kebersamaan mereka. Walau selama ini ia pintar menutupinya, tapi ia juga manusia biasa yang punya rasa cemburu.


Ketika Arya hendak turun dengan lift, pintu lift terbuka dan di dalamnya ada Celine yang akan keluar dari lift menuju kamar tempat Steven di rawat.


"Cel, ada apa? Kok kamu balik lagi?"


"Iya, dompet aku ketinggalan di kamar koko"


"Biar aku ambilkan. Kira-kira kamu taruh dimana dompetnya?"


"Aku ambil sendiri aja, kak"


"Aku aja yang ambilin. Tev lagi tidur, nanti keganggu. Dompet kamu warna apa?"


Tapi Celine bukannya menjawab pertanyaan Arya malah nekat masuk ke kamar Steven.


"Cel, tunggu!" Tapi Arya tidak keburu mengejar Celine, ia sudah membuka pintu kamar Steven dan seketika jadi diam mematung ketika melihat Steven dan Elena sedang tidur bersama di ranjang pasien. Setelah itu, Celine mengambil dompetnya yang ketinggalan dan berlari keluar dari kamar Steven. Arya tak lagi mengejar Celine, tetapi perasaannya jadi tak enak setelah itu.


**


Keesokan harinya, Arya bergantian jaga dengan Dimas. Setelah mandi, ia bermaksud untuk kembali ke apartemennya tapi sebelumnya ia akan mengantar Elena dulu kembali ke rumah kakeknya.


"Elena mana, Dims?"


"Tadi sih bilangnya ke bawah mau beli buah untuk Tev"


"Perasaanku tak enak setelah Celine lihat Elena sama Tev tidur bersama di ranjang Tev semalam"


"Elena dan Tev apa? Kok aku baru tau. Tadi aku sampai sini sih Elena memang sudah bangun dan mandi"


"Aku cek ke bawah dulu deh untuk memastikan. Elena bawa ponsel ga?"


"Kayaknya sih tadi cuma bawa dompet aja. Itu ponselnya kan?" Dimas menunjuk sebuah ponsel yang sedang di isi daya baterai di sudut ruangan.


"Iya, itu ponselnya. Aku ke bawah dulu ya!"


"Oke, ya'. Mudah-mudahan ga ada apa-apa."


"Iya, Dims"


Arya pun turun ke bawah, tapi setelah ke bawah ia tak menemukan Elena di manapun. Arya mulai cemas dan menelpon Dimas.

__ADS_1


"Dims, Elena ga ada di bawah! Dia udah naik ke atas belum? Siapa tau aku selisih jalan"


"Ga, ya'. Elena belum naik lagi kesini"


"Tev masih tidur ya?"


"Iya masih"


"Kalau gitu kita keliling rumah sakit untuk cari Elena. Kabarin aku kalau ketemu, Dims!"


"Iya, ya'!"


Dimas dan Arya pun bergegas untuk keliling rumah sakit sambil bertanya kepada orang-orang apakah ada yang melihat Elena. Ketika Arya sedang bertanya kepada seorang ibu yang sedang bersama anaknya, secara mengejutkan anak ibu itu memberitahu kalau ia melihat seseorang mirip Elena sedang naik lift bersama seorang perempuan lain. Ia mengatakan sesuatu tentang atap. Arya pun langsung mengerti. Setelah berterima kasih, ia langsung menuju atap. 'Tak ada salahnya untuk di cek' pikir Arya.


Ketika sampai di atas, Arya melihat dua sosok perempuan yang membelakanginya. Setelah ia mendekat dan yakin kalau itu Elena yang ternyata sedang bersama Celine, Arya langsung menelepon Dimas.


Arya kemudian memanggil Elena dan Celine. Tapi ia jadi terkejut ketika melihat Celine sedang menodongkan pisau lipat ke arah Elena. Setelah tau Arya juga ada di tempat yang sama dengan mereka, Celine langsung mengarahkan pisaunya ke leher Elena.


"Cel, please tenang dulu, kita bicara baik-baik" Keringat mengucur deras di kening Arya. Dia takut Celine bukan hanya mengancam tapi nekat untuk melukai Elena.


"Aku tak bisa tenang! Dan aku benci kalian semua karena selalu membela Elena! Tak ada satupun yang memikirkan perasaanku!"


"Itu tidak benar, Cel. Sekarang tolong berikan pisaunya padaku. Kamu bisa di penjara kalau masih nekat ingin melakukan ini, Cel!"


Dimas yang baru datang langsung melakukan tindakan. Dengan kepiawaiannya, ketika Celine lengah, ia menendang pisau yang ada di tangan Celine. Pisau itu terlempar cukup jauh.


"Kamu kelamaan, ya'! Kurang sigap!" Ujar Dimas.


"Aku kan harus hati-hati, Dims! Kalau ngga, Elena bisa terluka."


Elena yang baru saja terlepas dari Celine diam saja. Ia masih merasa shock. Tak lama kemudian, ia jatuh pingsan. Arya yang berdiri lebih dekat dengan Elena langsung menangkapnya.


"Dims, leher Elena sempat tergores pisau Celine!"


"Ya udah langsung bawa ke bawah aja! Aku akan... Aduh!"


Mereka tidak menyadari kalau Celine diam-diam mengambil kembali pisaunya yang terlempar, dan ia langsung menggores lengan Dimas. Arya yang belum membawa Elena ke bawah pun ikut kaget melihatnya.


"Sialan, kau melukai lenganku, bit*h!" Dimas sungguh kesal dengan perbuatan Celine. Kemudian dengan tangannya yang tak terluka, ia membalas Celine. Bukannya memukul atau menendang, Dimas malah melakukan totok ke tubuh Celine. Itu membuat tubuh Celine menjadi kaku seperti orang terkena stroke.


Dimas dan Arya pernah mempelajari totok tubuh dengan di ajari oleh Steven yang sekarang sedang terbaring di kamarnya. Akhirnya hari ini Dimas benar-benar bisa mempraktekkannya kepada seseorang.


"Ayo kita turun! Aku juga perlu perawatan pada luka di lenganku" Ujar Dimas

__ADS_1


"Itu Celine gimana, Dims?"


"Biarin aja di situ dulu, nanti setelah lenganku sudah di obati baru aku lapor polisi"


"Kamu yakin mau laporin Celine ke polisi, Dims?"


"Yakinlah! Tindakan sembrononya hampir menghilangkan nyawa orang, Arya! Udah kayak gini kamu masih mau kasihan juga sama dia?"


"Ya udah kalau gitu kita ke bawah dulu deh!"


"Ayok ah! Tanganku udah mulai cenat-cenut nih!"


**


Lengan Dimas sudah selesai di beri perawatan, Elena juga sudah selesai mendapatkan tindakan. Untungnya hanya tergores. Tapi karena masih shock, Elena masih juga belum siuman.


"Di luar udah mulai mendung, ya'. Apa kita biarin aja si Celine di atap sampai hujan turun deras biar dia kebasahan? Jadi nanti pas udah aku lepas totoknya, dia tau-tau masuk angin... Wekekeke... "


"Dimas, kamu hari ini kejam" Ujar Arya sambil melirik sinis ke arah Dimas.


"Siapa suruh dia begitu? Aarrgh... Kenapa sih akhir-akhir ini aku selalu ketemu sama cewek menyebalkan? Kalau ga ketemu juga sama yang bener kan bisa-bisa aku jadi jomblo abadi!"


Arya tertawa mendengar keluhan Dimas.


"Udah ah, kita jemput si Celine dulu!"


"Sebentar, aku mau beli plester dulu sama cari sesuatu buat ikat tangannya. Kalau dia lepas lagi kan aku juga yang repot"


"Terserah kamu ajalah!"


"Eh iya dari tadi kita belum nengok Tev nih"


"Iya, makanya kita buruan urus Celine, abis itu baru ke Tev. Tapi Tev sama kakek nenek Elena jangan sampai tau Dims, nanti mereka jadi khawatir"


"Iya, aku setuju ya"


Sebelum membebaskan totok di tubuh Celine, Dimas lebih dulu memplester mulut Celine dan mengikatnya dengan tali. Tak lama kemudian, polisi datang untuk menjemput Celine.


Elena akhirnya siuman dari pingsannya. Dia terus menerus menangis menyesali tindakan Celine. Elena masih harus di rawat selama satu hari. Jika luka goresannya membaik, besok ia sudah boleh pulang. Kemudian, Elena menelepon kakeknya untuk memberitahu kalau ia masih harus menginap satu hari lagi di rumah sakit karena mengurus Steven.


Dimas menemani Steven yang memang tak ia beritahu apa yang telah terjadi pada Elena sebelumnya. Yang Steven tahu hanya Elena sudah pulang ke rumahnya dan ketika tadi ia mau pamit, Steven sedang tertidur pulas. Steven sempat menanyakan tentang luka di tangan Dimas, lalu Dimas berbohong kalau ia mengalami kecelakaan kecil sebelum berangkat ke rumah sakit.


Arya masih menemani Elena sampai akhirnya Elena di perbolehkan pulang keesokan harinya karena lukanya sudah membaik. Kini hanya ada plester kecil di leher Elena, dan seperti juga Dimas, Elena juga terpaksa harus membohongi kakek dan neneknya tentang luka di lehernya agar mereka tidak khawatir dan menyalahkan Celine jika mereka tahu kejadian yang sebenarnya.

__ADS_1


__ADS_2