
Steven telah menyerahkan sampel tes DNA Diva kepada seorang kenalannya. Kemungkinan hasilnya memerlukan waktu paling cepat satu minggu. Kemudian Steven menghubungi Dimas.
"Halo, Tev"
"Halo, Dims. Kamu ada acara ga hari ini?"
"Ga kayaknya. Aku males kemana-mana. Semalam juga aku ga kemana-mana"
'Tumben. Biasanya tiap malam minggu Dimas suka berkencan. Pasangannya tiap minggu pasti beda. Apakah karena Diva ya Dimas jadi tobat?' pikir Steven.
"Nanti ketemuan di Cafe Sam yuk abis aku pulang dari gereja. Sekalian lunch"
"Ya udah, boleh deh"
"Oke, nanti aku kasih tau Arya juga. Sampai ketemu di sana ya!"
"Oke deh"
**
Menjelang makan siang, Steven tiba di Cafe Sam dan bertemu dengan pemiliknya di meja resepsionis depan yang adalah sepupunya sendiri.
"Sam, Dimas sama Arya udah sampai belum?"
"Udah. Belum lama datang kok, di tempat biasa."
"Oke, aku masuk dulu ya" Ujar Steven sambil menepuk pelan bahu Sam.
"Iya" Jawab Sam singkat.
Di ruang VIP yang sama seperti yang di pakai oleh Steven dan Arya untuk bertemu Diva semalam, terdapat Arya dan Dimas yang nampaknya sudah memesan minuman. Sepertinya mereka sedang berdebat.
"Hei guys, ada apa ini? Kok kalian berantem sih?"
__ADS_1
"Ini nih Dimas mau pesan satu botol minuman beralkohol. Kamu tau sendiri kan Tev, dia kalau mabuk kayak apa. Makanya aku larang" Ujar Arya kesal.
"Mabuk juga ga apa-apa, kan ada kalian yang bisa anterin aku pulang" Ujar Dimas beralasan.
"Emang kalian kesini bawa mobil masing-masing apa barengan tadi?" Tanya Steven.
"Barengan, aku yang jemput Dimas. Kamu liat aja dia kayak gini, Tev. Ga mabuk aja udah linglung begini, apalagi kalau mabuk!" Ujar Arya.
"Udah jangan ribut lagi. Dims, minum yang biasa aja dulu ya? Aku mau ngobrol sama kamu, kan ga enak kalau ngajak ngobrol kamu sambil mabuk. Aku yakin sih ga akan nyambung" Ujar Steven.
"Ya udah, kamu mau ngomong apa emangnya?"
"Aku mau minta maaf soal kemarin. Aku sadar aku udah memancing keributan"
"Akhirnya kamu ngaku juga ya Tev... Tapi... Ya sudahlah aku maafin kamu. Aku tau niat kamu sebenarnya baik, tapi aku harus menyelesaikan masalah ini sendiri"
Arya memandang Steven. Ia lega Steven akhirnya mau meminta maaf, tapi setelah hasil tes DNA keluar nanti, Arya tak yakin kalau Steven dan Dimas tidak akan berkelahi lagi.
"Ada yang aku mau tanyain ke kamu juga sih dari kemarin, tapi belum sempat" Ujar Steven.
"Keluarga kamu udah tau belum soal Diva?"
"Ah iya, soal itu. Sebenarnya aku belum bilang ke satu pun dari mereka, terutama Lili. Karena pastinya Lili ga akan bisa simpan rahasia. Untungnya kemarin waktu kita ribut, saksinya Elena, mba Cindy, dan Redi ga ada yang bocorin jadi kayaknya belum sampai ke telinga Lili yang lagi training"
"Karena kita keluar juga sebelum makan siang jadinya belum banyak yang liat juga, Dims. Berkat Arya juga sih" Ujar Steven.
"Iya betul" Setelah itu Dimas diam. Sejak ia mengetahui tentang kehamilan Diva, Dimas memang banyak murung. Tentu saja itu membuat Steven dan Arya jadi sedih.
Kemudian mereka memesan makanan. Dimas akhirnya mengalah untuk tidak minum minuman beralkohol. Tapi setelah makanan pesanan mereka datang, Dimas hampir tak menyentuh makanannya.
"Dims, di makan dong. Ini kan makanan favorit kamu. Apa kamu minta disuapin kayak waktu kecil?" Ujar Arya sambil menyeringai. Tapi bukannya menjawab, Dimas malah membicarakan hal lain.
"Sepertinya aku harus membatalkan pertunangan aku dengan Leticia. Ya Tuhan, berat banget mau tobat jadi orang bener" Setelah itu Dimas malah menangis. Mereka jarang menangis, tapi sekalinya salah satu dari mereka menangis pastinya permasalahan yang mereka hadapi sangat berat sampai mereka merasa tak sanggup untuk memikulnya sendiri. Arya dan Steven spontan langsung menghentikan makan mereka dan merangkul pundak Dimas di sebelah kanan dan kiri. Setelah beberapa lama, ponsel Steven berdering. Steven mengerutkan kening ketika melihat nama Sam di layar ponselnya.
__ADS_1
"Sam, ngapain telepon?"
"Jangan buat yang aneh-aneh ya Steve di Cafe aku! Dari kemarin aku sudah geram pengen hajar kamu!"
"Aneh-aneh gimana sih? Kamu kali yang aneh tiba-tiba emosi kayak gini. Tumben banget"
"Heh, bule! Sadar ga sih, semalam kamu bikin pingsan perempuan di sini! Sekarang, di ruangan yang sama kamu malah pelukan sama si Dimas bareng Arya! Gimana aku ga kesel! Emang kamu udah bosen jadi cowok normal apa?'
" Sembarangan! Aku masih normal tau! Kamu aja yang salah paham!" Steven jadi emosi, apalagi tiap kali Sam memanggilnya bule. Dia sebal sekali tiap kali sepupunya memanggilnya seperti itu. Dimas yang tadinya menangis jadi berhenti karena heran melihat Steven, begitu pula dengan Arya.
"Ada apa sih, Tev? Kok kamu keliatan kesel gitu?" Tanya Arya penasaran.
"Ini nih si Sam buat ulah! Masa gara-gara liat kita pelukan, dia jadi kira kita ga normal! Kalian tunggu sini, aku mau ke tempat Sam dulu"
"Jangan berantem lagi Tev, nanti di jewer papi loh!" Ujar Arya mengingatkan Steven sambil menggoda.
"Iya, tenang aja!"
Steven langsung masuk ruang kerja Sam tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Steve... "
"Ini nih akibatnya kalau jadi orang tukang ngintip! Nanya dulu kek, main tuduh aja!'
" Kamu juga ketuk pintu dulu kek, main masuk aja!" Sam tak kalah ketus dengan Steven.
"Ya udah kalau gitu kita impas! Sam, dengerin dulu, aku bisa jelasin. Soal semalam aku lagi ada misi penting. Dimas lagi ada masalah, jadi aku lagi bantuin dia. Jangan salah paham dulu, nanti detailnya aku cerita lagi ke kamu. Yang jelas, semalam dia bukan wanita baik-baik, dia cuma mau jebak Dimas, dan aku, Arya, sama Dimas masih normal. Catat itu! Oke, aku balik ke ruangan dulu. Bye!"
Sam yang dari tadi tidak di beri kesempatan untuk berbicara hanya tersenyum kecut. Dia sudah hafal dengan kebiasaan Steven, tapi tetap saja ia kesal dengan saudara sepupunya itu.
**
Lima hari setelah Steven menyerahkan sampel Diva, seorang petugas dari pemeriksa DNA menghubungi Steven. Ia memberitahukan kalau hasil tes Diva telah selesai.
__ADS_1
Tanpa menunggu waktu lama, Steven langsung datang dan mengambil hasilnya. Dan sudah seperti yang Steven duga, hasilnya adalah bukan hanya Dimas bukanlah ayah dari janin yang di kandung Diva, melainkan Diva sebenarnya tidak hamil.
Steven segera menghubungi Arya dan Dimas. Ia meminta mereka untuk bertemu di apartemen yang mereka punya agar lebih aman. Karena kalau ia memilih di Cafe Sam lagi, ia takut Sam akan salah paham lagi kepadanya. Setelah Arya dan Dimas setuju, Steven langsung membawa mobilnya dari rumah keluarga Steven menuju apartemen miliknya.