
"Kamu baik-baik saja, Elena?" Tanya Dimas di lift. Selain Dimas dan Elena, ada Arya dan mba Cindy yang sedari tadi merangkul Elena karena Elena terlihat masih agak shock dengan perlakuan Redi tadi.
"Iya tidak apa-apa, Pak. Hanya sedikit shock tadi" Ujar Elena jujur.
"Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja sekarang" Ujar Dimas mencoba untuk menenangkan.
"Tolong jangan pecat Redi karena saya, Pak. Karena saya yakin sebenarnya ia orang baik"
Dimas dan Arya saling bertatapan. Mereka sudah menduga kalau Elena akan bereaksi seperti ini.
"Jangan khawatir, saya tak akan memecat Redi. Tapi ia harus belajar dari peristiwa ini, jadi besok ia akan mendapatkan surat peringatan sesuai dengan peraturan perusahaan"
"Baik Pak, Terima kasih. Setidaknya ia tidak di pecat"
"Ya sudah, sekarang kamu saya antar pulang" Ujar Dimas.
"Tapi kalau kamu mau naik Lucky sama saya seperti tadi pagi juga ga apa-apa, Elena. Ga pakai macet lagi" Ujar Arya juga menawarkan.
"Ga apa-apa, Pak. Saya pulang naik kendaraan umum saja"
Dimas dan Arya langsung protes tidak setuju. Elena tidak boleh pulang sendiri mengingat kondisinya sedang kurang baik.
"Ya udah kalau gitu pulang sama mba Cindy aja yuk! Pakai motor juga kayak Pak Ksatria, tapi di jamin ga ngebut"
"Ah mba Cindy, jangan gitu dong. Saya juga ga pernah ngebut kok kalau naik motor, tanya aja sama Elena"
Elena hanya tersenyum melihat mereka sekaligus merasa bersyukur karena di kelilingi oleh orang-orang baik.
**
Keesokan harinya, Steven melakukan video call kepada Dimas dan Arya
"Dims... Ya'... Jadwal kalian hari ini padat ga?"
"Kalau aku sih ngga, ga tau deh kalau Dimas" Ujar Arya.
"Aku sih pagi mau ngobrol sama Redi dulu, tapi abis itu kayaknya sih belum ada jadwal penting lagi deh. Emang kenapa, Tev?"
"Kalau bisa kosongin jadwal tolong mampir ke kantor aku sebelum makan siang. Ada yang mau aku omongin ke kalian"
"Ya udah nanti dari rumah aku langsung ke kantor kamu, Tev." Ujar Arya.
"Aku juga kalau udah selesai nanti kabarin kamu, Tev"
"Oke, thanks ya. Aku tunggu"
__ADS_1
"Iya, Tev" Ujar Dimas dan Arya berbarengan.
Setelah itu Steven menutup telepon dan bersiap berangkat menuju kantor.
**
Dimas datang pagi seperti biasa dan langsung memanggil Redi yang memang sudah tiba lebih dulu dari Dimas. Ia lalu mengetuk pintu sebelum masuk ke ruangan Dimas.
"Masuk! Silakan duduk, Redi"
"Iya, Pak"
"Kamu tentu sudah tahu kenapa kamu saya panggil. Saya sudah tahu semua perbuatan kamu kepada Elena, tapi bukan dari mulut Elena sendiri. Yang jelas saya sudah punya bukti jadi kamu tidak bisa berkelit lagi."
" Saya minta maaf Pak, saya tahu saya salah. Tapi tolong jangan pecat saya, pak"
"Jangan khawatir, saya tidak akan pecat kamu walaupun saya kecewa karena setahu saya selama ini kamu karyawan yang baik. Tapi, sebagai pembelajaran agar peristiwa ini tidak terjadi lagi, kamu akan dapat SP 1 atau Surat Peringatan 1. Kalau sampai ada Surat Peringatan 2, berarti mau tidak mau kamu harus keluar dari kantor ini. Kamu paham, Redi?"
"Iya paham, pak"
"Kalau begitu kamu bisa kembali bekerja. Nanti bagian HRD akan menghubungi kamu untuk pengambilan surat peringatan kamu."
"Iya, Pak"
Setelah itu Dimas memanggil Cindy. Ia berpesan kalau setelah ini ia akan keluar kantor, jadi ia meminta tolong ke Cindy untuk mengawasi Redi dan jangan sampai Elena dan Redi hanya berdua di satu ruangan agar kejadian sebelumnya tidak terulang lagi karena Dimas memang belum sepenuhnya percaya kepada Redi.
**
Arya tiba lebih dulu sebelum Dimas. Setelah mereka berdua sampai, Steven meminta tolong kepada asistennya untuk menahan semua panggilan masuk untuk Steven.
"Ada apa nih, Tev? Kita jadi penasaran" Ujar Dimas
"Kayaknya ada hubungannya sama Aldo ya?" Tebak Arya.
"Iya, Lagi-lagi masih soal dia"
"Dia dimana sekarang? Kayaknya dari tadi aku belum lihat dia deh" Ujar Arya
"Iya, aku juga ga liat. Memangnya dia masih di hukum sama papi?" Tanya Dimas.
"Dia udah ga di hukum, Dims. Tapi Papi menyuruh Aldo untuk memegang jabatan direktur di kantor cabang Surabaya karena direktur sebelumnya mengundurkan diri"
"Bagus dong kalau begitu" Ujar Dimas.
"Tadinya dia ga mau Dims karena dia tetap mau pegang jabatan aku di sini, tapi Papi bilang dia pegang jabatan yang di Surabaya dulu selama setahun, kalau dia mampu dia boleh mengambil jabatan di kantor pusat menggantikan aku"
__ADS_1
"Trus kamu gimana, Tev?" Ujar Arya heran dengan keputusan Papi Steven.
"Kalau dia mampu dia kesini gantikan aku, sedangkan aku di suruh ke Surabaya gantiin dia"
"Apa? Ke Surabaya?" Ujar Dimas dan Arya berbarengan.
"Iya, jadi semua tergantung kinerja Aldo selama setahun ini"
"Kalau kamu di Surabaya, kita jadi jarang ketemu dong, Tev" Ujar Dimas sedih.
"Aku bisa aja sih Tev ke Surabaya seminggu sekali, tapi rasanya udah pasti ga sama kayak kita yang selama ini tinggal di kota yang sama" Ujar Arya sedih.
"Yah, mau gimana lagi. Padahal tadinya aku mau bilang ke kalian kalau aku ada niat untuk mendekati Elena, kalau begini kan peluang aku jadi paling kecil di antara kalian."
Dimas dan Arya saling berpandangan heran. Baru kali ini Steven terbuka dan berani bicara untuk mendekati seseorang.
"Memangnya kamu suka sama Elena, Tev?" Tanya Arya.
"Iya. Kalian juga kan?"
Dimas dan Arya yang di tanya Steven malah jadi gugup dan bingung harus jawab apa.
"Oh, come on. Kalian pikir aku ngga tau apa? Yaa... Tapi kalau kalian ga suka ya bagus, berarti kesempatan aku besar untuk dapat Elena. Sekalian aku tawarin aja siapa tau Elena mau LDR-an sama aku kalau nanti aku jadi ke Surabaya"
"Kalau aku sih asal kalian saling suka, aku setuju aja walau ada rasa ga rela juga sih sedikit, ga tau deh kalau Arya" Ujar Dimas.
"Aku juga setuju kalau kalian jadian. Kebahagiaan kalian kan kebahagiaan aku juga" Ujar Arya.
"Kenapa ya aku ga kaget sama jawaban Arya" Ujar Steven malah kesal.
"Kenapa kamu kayak keliatan kesal, Tev" Ujar Arya sambil menggaruk-garuk kepalanya karena bingung.
"Kamu kan emang dari dulu begitu, suka ngalah. Emangnya kamu ga mau bersaing secara sehat dulu gitu sama aku dan Dimas?" Tanya Steven sambil tersenyum masam kepada Arya.
"Kalau aku sih mau aja bersaing secara sehat sama Tev, malah aku ada niatan untuk berhenti jadi playboy kalau Elena mau sama aku" Ujar Dimas menyela sebelum Arya menjawab pertanyaan Steven.
"Dims, aku kan nanya sama Arya kenapa jadi kamu yang jawab duluan sih? Ujar Steven protes.
" Abis Arya diam aja, jadi aku yang jawab aja deh" Ujar Dimas beralasan.
Arya hanya tersenyum tapi setelah itu dia menjawab pertanyaan Steven.
"Aku sayang sama Elena, Tev. Seperti aku sayang sama adikku dan sebisa mungkin aku akan lindungi dia sampai ada orang yang benar-benar mencintai dia dengan tulus"
"Benar begitu, ya'? Jadi kamu beneran ga mau bersaing sama kita?"
__ADS_1
"Iya, bener begitu. Lagipula, setelah apa yang udah aku alami, aku ga yakin bisa mencintai orang lain lagi. Kalian tau sendiri kan kenapa"
Dimas dan Steven hanya terdiam karena tak tau harus menanggapi apa.