
Arya baru saja selesai meeting di luar kantor bersama Redi ketika ponselnya berbunyi. Tertera nama Elena di layar ponselnya, membuat Arya khawatir dan segera mengangkat telepon.
"Halo Elena"
"Halo Pak... Maaf Pak Ksatria sudah selesai meeting belum?"
"Sudah nih mau balik ke kantor sama Redi. Kenapa? Apakah ada masalah?"
"Iya, Pak. Pak Steven ada di sini dan dia sedang berkelahi dengan Pak Dimas. Aku dan mba Cindy ga sanggup untuk melerainya"
"Apa? Aduh Tev... Gini aja, kamu coba lerai sebisa kamu... Saya sama Redi segera ke sana. Oke?"
"Oke, Pak"
Kemudian Arya segera berangkat menuju kantor Dimas dengan kecepatan tinggi. Beberapa tempat macet, jadi ia memutuskan untuk melalui jalur alternatif.
**
Setelah berjibaku menghindari kemacetan di jalan, akhirnya Arya dan Redi tiba juga. Waktu tempuh yang seharusnya bisa mencapai 30 menit apabila jalanan lancar menjadi 20 menit tiba di Loekito Corp. Arya bergegas naik lift bersama Redi. Tadi ia sudah bercerita tentang Dimas dan Steven yang sedang bertengkar di ruangan Dimas kepada Redi.
"Redi, nanti kamu bantuin pegangin Dimas ya, aku pegang Steven karena Steven fisiknya lebih besar dan kuat dari Dimas"
"Saya sebenarnya sungkan melakukannya, Pak tapi akan saya lakukan, Pak."
"Tolong saya ya, karena saya ga bisa pegangin mereka berdua"
"Baik, Pak"
Sesampainya di ruangan Dimas, Steven dan Dimas sedang saling mencengkram baju lalu Dimas menindih Steven dan memukulinya dengan brutal. Muka keduanya sudah babak belur. Arya bersama Redi segera melerai mereka.
"Dims... Tev... Tenang... Ini kantor! Tolong jangan di sini kalau mau ribut!"
__ADS_1
"Ya udah ayo kita lanjut di luar, Tev!"
"Ayo! Siapa takut!"
"Aduh... Kalian tuh yah... "
Kemudian Arya ingat di dekat kantor Dimas terdapat lapangan yang di pinggirnya terdapat beberapa penjual makanan dan minuman. Di jam makan siang biasanya para karyawan suka makan siang di sana. Lalu Arya segera mengajak mereka ke sana. Kebetulan saat itu sudah mendekati jam makan siang.
Arya kemudian keluar ruangan dan memberitahu Elena kalau ia, Dimas, dan Steven akan keluar kantor dan baru akan kembali setelah makan siang. Tapi sebelumnya ia meminta Elena untuk mengambil kotak P3K agar luka-luka Dimas dan Steven di bersihkan dan di obati dulu sebelum mereka keluar kantor.
Arya sengaja mengajak Dimas dan Steven keluar sebelum jam makan siang agar tidak berbarengan dengan para karyawan dan mengurangi gosip karena mereka pasti akan bertanya-tanya jika melihat luka-luka di wajah dan badan Dimas dan Steven.
**
"Kenapa kita di ajak kesini, sih? Disini kan panas!" Steven mulai mengeluh kepada Arya.
"Daripada kita ke cafe. Iya sih adem karena ada AC-nya, tapi kalau kalian berantem lagi sampai mecahin barang kan malu, Tev. Lagian kamu gimana sih Tev, kan tadi aku bilang tunggu sampai aku selesai meeting, eh malah tau-tau udah datang duluan. Aku sampai sini kalian malah lagi saling adu jotos! "
"Menghina gimana? Soal dia yang profesinya sebagai pela*ur kelas atas itu fakta! Pak Peter sendiri ngaku kok kalau dia pernah booking si Diva itu!"
"Si Diva itu calon istriku, tau! Sopan sedikit kalau ngomong!"
"Terserah! Kamu silakan tanya sendiri sama si Diva, biar kamu tau kalau dia sebenarnya cuma mau manfaatin kamu!"
"Bisa aja kan dia sekarang udah ga menjalani profesi itu! Kan kamu taunya udah setahun yang lalu!"
"Kamu tuh keras kepala banget ya! Susah banget kalau di bilangin! Kalau cinta ya jangan sampai buta gitu sih, Dims!"
"Siapa yang bilang aku cinta! Aku cuma merasa berkewajiban untuk bertanggung jawab atas kesalahan yang udah aku buat! Biar gimana pun kan janin itu ga salah, yang salah ya orang tuanya yang sembrono, yaitu aku dan Diva!"
Steven dan Arya hanya saling memandang heran atas ucapan Dimas.
__ADS_1
"Yah, kalau itu keputusan kamu sih... Aku ga bisa bilang apa-apa... Asal itu benar anakmu, Dims. Karena profesi Diva, aku khawatir dia sendiri mungkin ga tau siapa sebenarnya ayah dari anak itu saking banyaknya affair dia sama para pria hidung belang"
"Kamu menghina aku Tev? Maksud kamu aku salah satu dari pria hidung belang itu? Begitu kan maksudmu?"
"Aduh, Tev! Udah deh jangan di perpanjang lagi! Saat ini kita harus hormati keputusan Dimas karena ini hidup dia. Kita sebagai sahabat cuma bisa mendukung. Tapi kalau dia perlu bantuan kita, kita tinggal bantu dia kapan pun itu" Ujar Arya berusaha menengahi mereka
"Kamu gila ya' mendukung Dimas? Kalau si Diva perempuan baik-baik sih aku juga pasti dukung Dimas! Dims, aku begini tuh karena aku sayang kamu! Bukannya aku ga peduli sama janin di kandungan si Diva! Aku cuma ga rela dia membohongi dan manfaatin kamu!" Steven masih emosi dan belum puas. Dia hanya ingin Dimas berpikir secara jernih terhadap masalah ini.
"Ya udah, gimana kalau sekarang kita makan dulu? Aku udah lapar nih!" Arya mencoba mengalihkan perdebatan mereka dengan menawarkan makanan, tapi tak satu pun dari mereka yang berselera untuk makan.
Arya lalu pergi ke salah satu penjual makanan dan memesan makanan untuk dirinya sendiri. Tapi, setelah suapan pertama, Steven malah merebut sendok Arya dan memakan makanan Arya. Dimas yang ternyata juga lapar setelah berkelahi dengan Steven tak mau kalah dengan mengambil garpu di makanan Arya dan ikut makan. Arya protes dan menyuruh mereka untuk memesan makanan sendiri dan jangan mengganggu makanannya lagi. Kelakuan mereka yang seperti anak kecil membuat Arya heran dan tak percaya kalau masing-masing dari mereka adalah CEO dari perusahaan besar.
Setelah makan siang, Steven pamit. Ia tak mendebat atau berkata apa-apa lagi. Tapi ia meminta Arya mengantarkannya turun ke bawah sampai ia naik kendaraannya sendiri. Ketika akan turun ke bawah, Steven mengatakan sesuatu kepada Arya.
"Aku punya rencana, ya'. Aku yakin rencanaku pasti berhasil"
"Aduh Tev, aku kira kamu udah nyerah tadi karena diam aja. Ternyata kamu belum nyerah juga!"
"Never. Aku ga akan berhenti sampai aku menemukan bukti kelicikan si ular Diva itu"
Arya geleng-geleng kepala, tapi ia tetap mendengarkan perkataan Steven.
"Ya udah, jadi apa rencana kamu?"
"Aku punya kenalan petugas bagian DNA. Aku berecana untuk mengambil sampel Diva."
"Jangan gila kamu, Tev! Gimana caranya coba ambil sampel Diva tanpa membahayakan janin Diva? Di bius? Ga mungkin! Itu bahaya, tau!" Arya jadi emosi mendengar ide Steven yang di luar nalar. Steven yang mendengar kata bius, hanya mengangguk-anggukan kepalanya sambil tersenyum kepada Arya.
"Steven Ray Simmons, aku rasa kamu sekarang udah benar-benar gila" Arya sambil memegang dahi Steven yang tidak panas karena dia mulai gila, bukan demam.
"Ish, apaan sih! Aku masih waras! Udah kamu ikut rencana aku aja nanti kamu bisa tak sendiri hasilnya!"
__ADS_1
Arya tak tahu lagi harus berkata apa, yang jelas kedua sahabatnya ini sedang tidak baik-baik saja.