Trio Tangguh Dan Elena

Trio Tangguh Dan Elena
Bab 85 Ide Aneh Dimas


__ADS_3

Steven akhirnya tiba di rumah. Seperti janjinya kepada Sylvia, ia meminta tolong kepada papinya untuk mempersiapkan peralatan rumah sakit di kamarnya beserta perawat pribadi yang terpercaya.


Setelah Sylvia memastikan semuanya sudah lengkap, ia pun pamit pulang. Dimas dan Arya juga ikut mengantar Steven pulang. Steven di antar ke kamarnya dengan kursi roda. Kakinya sudah terlalu lemah untuk di pakai berjalan.


Setelah masuk ke kamarnya, Steven tak mau di papah ke tempat tidur, ia malah minta di antarkan ke rumah bagian belakang oleh perawatnya yang bernama Sissy untuk bertemu dengan Jade.


Setelah tiba di bagian belakang rumahnya, Steven melihat Jade sedang tertidur pulas di atas karpet kecil kesayangannya, seperti biasa. Lalu Steven meminta tolong kepada Arya untuk mengangkat Jade ke pangkuannya dan kembali ke kamarnya. Kali ini Dimas yang mendorong kursi roda Steven karena dengan Jade berada di pangkuannya, membuat kursi roda Steven menjadi lebih berat dari sebelumnya, jadi pastinya akan lebih berat bagi Sissy untuk mendorong kursi roda Steven.


"Jadi, kau akan mengajak Jade tidur bersamamu di kamar, Tev?" Tanya Arya


"Iya, seperti waktu aku masih kecil, ingat?"


"Ya, kita ingat. Tapi sekarang kau kan sudah besar, Tev" Ujar Dimas.


"Aku lakukan ini agar aku lebih mudah memantaunya daripada aku harus bolak-balik dari kamar ke belakang. Lagipula, tempat tidurku kan besar jadi masih bisa muat untuk aku dan Jade"


"Ya, ya... Terserah kau saja, Tev"


"Sissy, kamarmu ada di sebelah kamarku. Jadi, kalau ada ada apa-apa aku mudah untuk memanggilmu. Sekarang, aku ingin kau untuk ke kamar dan beristirahat. Karena dua sahabatku ada disini jadi sementara ini aku belum membutuhkan bantuanmu"


"Baik, Terima kasih Pak" Ujar Sissy


"Tolong panggil Koko saja ya"


"Iya koko"


**


Keesokan harinya, sepulang bekerja Dimas dan Arya mengantarkan Elena ke rumah Steven. Hans menyambut kedatangan Elena dengan baik. Lalu ia turut mengantarkan Elena ke kamar Steven. Setelah tiba di kamar Steven, Hans dan Dimas keluar lebih dulu untuk berbicara. Sementara Arya masih di kamar untuk menemani sebentar.


"Halo kokoo..."


"Halo, Elena"


"Loh kok koko cemberut sih liat aku?"


"Habis kamu keliatan segar dan ceria, sementara aku keliatan lesu begini"


"Koko kan lagi sakit, wajar kalau keliatan lesu. Aku juga sebenarnya bau keringat, kan aku baru pulang kerja belum sempat mandi"


"Iya juga ya. Coba agak mendekat sebentar, Elena. Suaraku serak, jadi ga bisa ngomong kencang"


"Oke"


"Mulai sekarang, tolong panggil aku Stevie, jangan koko lagi. Aku suka kamu panggil aku begitu"


"Baiklah, Stevie" Ujar Elena sambil menyeringai.


"Stevie?" Arya yang ikut mendengar jadi bingung. Elena dan Steven tersenyum melihat reaksi Arya.

__ADS_1


"Iya, mulai sekarang Elena memanggilku Stevie. Kau keberatan?"


"Tentu saja tidak. Kenapa aku harus keberatan?"


Steven tersenyum. Ia tahu kalau Arya cemburu.


"Kalau begitu, aku tinggal kalian berdua dulu. Dimas tadi katanya mau bahas sesuatu denganku dan papi"


"Baiklah"


Steven dan Elena lalu melanjutkan pembicaraan sambil berpegangan tangan.


"Jadi, apakah ini Jade" Tanya Elena.


"Iya, ini Jade. Jade, bangunlah sebentar. Elena ingin bertemu denganmu" Tangan kanan Steven berpegangan dengan Elena, sementara tangan kirinya mengelus lembut bulu Jade. Tapi Jade hanya mengeluarkan suara dengkuran halus pertanda ia masih tidur.


"Aku harap ia bisa segera sembuh" Ucap Elena dengan sedih.


"Iya, aku harap juga begitu"


Tak lama kemudian, pintu kamar Steven terbuka. Dimas dan Arya masuk. Hans menyusul di belakangnya dan mulai bicara.


"Maaf menggangu waktu kalian, tapi Dimas punya ide yang menurut papi dan Arya... Well... Agak aneh, tapi sebaiknya kau dengar dulu, Steve. Papi tinggal kalian dulu. Silakan berdiskusi, tapi ingat, jangan sampai ribut. Oke?"


"Oke, pi" Dimas dan Arya menyahut berbarengan, sementara Steven masih bingung dengan mereka.


"A... Apa??" Steven dan Elena menyahut berbarengan.


"Aku kan sudah bilang kalau idemu itu aneh, Dims" Ujar Arya


"Hei, dengar dulu. Aku melakukan ini demi kebahagiaan kamu juga, Tev. Supaya Elena bisa rawat kamu tanpa ada rasa canggung"


"Tapi, ini tidak adil untuk Elena, Dims. Sekarang aku tanya ke kamu dan Arya. Jika kalian ada di posisiku, apakah kalian juga ingin menikah dengan Elena? Dia masih muda, jalan hidupnya masih panjang. Sedangkan aku? Aku sendiri tak tahu sampai kapan aku bisa bertahan hidup"


"Aku mau menikah denganmu, Stevie. Asal kau menginginkannya juga. Dimas ada benarnya juga. Aku bisa merawatmu sampai kau sembuh. Aku yakin aku bisa"


Jawaban Elena mengejutkan Dimas dan Arya. Tapi mereka lebih terkejut lagi dengan jawaban Steven.


"Tapi aku tak bisa melakukannya, Elena. Bukan karena aku tak ingin. Aku ingin sekali. Tapi aku tak boleh egois karena aku ingin kau bahagia"


"Tapi aku bahagia bersamamu, Stevie"


"Elena, tolong mengertilah" Ujar Steven sambil mencium tangan Elena


"Maaf, aku dan Dimas sebaiknya keluar dulu supaya kalian bisa bicara berdua" Ujar Arya.


"Tidak, ini takkan lama. Elena, sekarang sudah malam. Sebaiknya kamu pulang dulu bersama Arya dan Dimas. Aku tak ingin kakek dan nenekmu khawatir. Besok kita bicara lagi. Oke?"


"Baiklah" Ujar Elena sambil menghela nafas panjang

__ADS_1


"Guys, tolong antarkan Elena pulang ya. Aku lelah dan perlu waktu untuk berfikir. Besok kita bicara lagi. Kalian ga keberatan kan?"


"Iya, Tev. Ayo Elena, kita pulang dulu" Ujar Dimas.


"Kita pulang dulu ya, Tev." Ujar Arya


"Iya. Kalian hati-hati ya"


Elena yang kecewa dengan Steven langsung keluar dari kamar Steven tanpa mengatakan apa-apa lagi. Steven hanya bisa menghela nafas dengan panjang, berharap nantinya Elena akan mengerti dengan keputusannya.


**


Sepanjang perjalanan pulang, Elena hanya diam. Ia duduk sendirian di bangku belakang, sementara Dimas dan Arya di depan dengan Dimas yang mengemudi mobilnya. Tak lama kemudian, Elena menangis.


"Dims, tolong pinggirkan mobilnya sebentar"


"Emang ada apa, ya'?"


"Itu Elena menangis. Aku mau ke bangku belakang dulu"


"Oke"


Dimas melihat Elena menangis jadi merasa tak enak, karena ini adalah idenya.


Ketika Arya duduk di sebelah Elena, Elena langsung menyandarkan kepalanya di bahu Arya sambil menangis.


"Dia sudah menolakku. Apakah aku tak pantas untuknya?"


"Bukan begitu, Elena. Kalau kau jadi Tev, apakah kau akan melakukan hal yang sama juga?"


"Tapi, entahlah... Aku jadi bingung"


"Jika kau cinta pada seseorang, bukankah kau juga ingin melihatnya bahagia, Elena?"


Elena berhenti menangis dan mulai memikirkan pertanyaan Arya. Kemudian Dimas mulai bicara.


"Maafkan aku, Elena. Arya dan papi benar, ideku aneh. Andai aku tak mengutarakan ideku, kau mungkin takkan menangis seperti ini"


"Tidak, mas. Aku tau maksudmu baik. Aku takkan menangis lagi supaya kalian tak khawatir lagi"


"Iya, begitu lebih baik"


"Kau ingin gantian menyetir, Dims? Tapi kau duduk disini aja temenin Elena"


"Emangnya kamu ga apa-apa ya' nyetir di depan sendirian kayak sopir?"


"Ya ga apa-apalah. Yang selama ini suka protes kan kamu, bukan aku"


Dimas dan Arya masih terus berdebat sampai tiba di rumah kakek Elena. Tapi setidaknya Elena jadi berhenti menangis karena heran melihat kelakuan Dimas dan Arya yang sepertinya tak pernah akur.

__ADS_1


__ADS_2