
Sekitar jam 7 malam, Elena turun ke bawah untuk makan malam di restoran yang terletak di lantai dasar hotel tempat ia dan Dimas menginap. Elena sengaja memilih tempat duduk di dekat jendela agar ia bisa melihat pemandangan di luar.
Tak lama, ia melihat sosok pria yang ia kenal hendak naik taksi. Mas Dimas, pikir Elena. Ia terlihat rapi dan tampan. Jika aku berada di dekatnya, aku pasti bisa mencium wangi parfumnya. Dimas memang selalu terlihat modis, rapi, dan wangi. Ciri khas laki-laki metropolitan modern yang selalu up to date tentang fashion. Elena menebak, Dimas pasti akan pergi berkencan. Apakah dengan Nine? Entahlah... itu bukan urusanku kan? Elena menepis pikiran itu dan melanjutkan makan malamnya.
**
Dimas tiba lebih awal 10 menit sebelum jam 8. Ia kemudian menyebutkan nama Nine kepada salah satu pelayan restoran, lalu ia di antar ke sebuah ruangan. Ternyata Nine memesan ruangan VIP. Dimas belum melihat kehadiran Nine, jadi ia memutuskan untuk memesan minuman.
Tak lama kemudian, tepat jam 8 malam Nine datang dengan pakaian berwarna merah menyala yang seksi dan terbuka. Ia memesan makanan pembuka berupa buah stroberi bersama saus coklat.
"Sudah lama menunggu, babe?" Sapanya dengan suara menggoda dan langsung duduk di pangkuan Dimas.
"Baru sekitar 10 menit" Dimas langsung merasa tegang, terutama di bagian bawah tubuhnya.
Kemudian Nine mencelupkan buah stroberi ke dalam saus coklat, menjilat, dan mengunyahnya dengan pelan untuk menggoda Dimas. Setelah itu ia memberikan stroberi yang ia kunyah ke mulut Dimas. Nine juga sudah memesan sebotol wine untuk mereka berdua.
Suasana ruang VIP tersebut bertambah panas. Setelah meminum dua gelas wine, Dimas mulai mabuk dan menciumi leher Nine, sambil meraba dadanya yang terlihat belahan dari gaunnya. Payud*ranya tidak terlalu besar, tapi padat.
"Ayo kita pergi dari sini ke kamarku di hotel, Nine."
"Ayo. Aku juga sudah tak tahan lagi ingin menyentuh seluruh tubuhmu"
Setelah itu mereka menuju hotel tempat Dimas dan juga Elena menginap dengan taksi.
**
Elena panik. Setelah makan malam di lantai dasar, ia kembali ke kamarnya. Tapi ia tak dapat membuka pintu kamarnya. Kunci kamar yang berupa kartu tidak dapat terbuka. Biasanya lampu akan menunjukkan dari warna merah ke warna hijau lalu pintu akan terbuka. Tapi sedari tadi lampu hanya menunjukkan warna merah, tidak kunjung berubah warna menjadi hijau. Elena kemudian ke lantai bawah untuk meminta bantuan kepada staf hotel.
__ADS_1
Seorang staf lalu memeriksa kunci Elena dan ternyata memang tidak berfungsi. Kemudian ia mengganti dengan kunci yang baru. Setelah berterima kasih kepada staf yang telah membantunya, Elena kembali ke lantai lima tempat kamarnya berada.
Setelah keluar dari lift, Elena melihat pasangan pria dan wanita sedang berciuman di depan pintu kamar mereka. Namun, Elena kaget ketika melihat ternyata pasangan itu adalah Dimas dan Nine, sekretaris Pak Prakash. Elena tidak bisa masuk ke kamarnya karena ia harus melewati pasangan Dimas dan Nine dulu sebelum masuk ke kamarnya, dan ia tidak ingin mereka mengetahui keberadaannya di sana.
Jadi Elena memutuskan untuk bersembunyi di dekat tangga darurat sampai mereka masuk ke dalam kamar. Karena mabuk, Dimas sempat kesulitan untuk menemukan kunci kamarnya. Tetapi setelah beberapa waktu akhirnya ia bisa juga membuka kunci kamar sambil terus bercumbu dengan Nine. Setelah di rasa aman, Elena keluar dari tempat persembunyiannya dan masuk ke kamarnya.
Di dalam kamarnya, ia gelisah dan berjalan bolak-balik di kamarnya, memikirkan apa yang harus ia lakukan. Ia tak perduli dengan urusan pribadi Dimas, yang ia pikirkan adalah saat ini Dimas dalam keadaan mabuk. Ia takut besok Dimas tidak dapat hadir rapat tepat waktu atau kesiangan.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Kemudian Elena memutuskan untuk menelepon Arya.
"Halo, Elena. Ada apa? Apa ada masalah?"
"Ha...halo, kak. I... Iya... Ini soal mas Dimas" Ucap Elena terbata-bata karena gugup.
"Ada apa dengan Dimas?"
"Eeeng ... Itu kak ... Aduh aku bingung sebenarnya harus mulai cerita dari mana"
"Ga jadi deh kak, maaf udah ganggu malam-malam" Setelah itu Elena langsung memutuskan sambungan telepon.
Arya yang penasaran langsung menelepon balik Elena.
"Elena, sebenarnya ada apa? Tolong cerita sama aku. Soal Dimas ya? Apakah kamu melihat Dimas bersama seseorang?"
"I... Iya, kak. Aku liat mas Dimas sama sekretarisnya Pak Prakash di kamar sebelah."
"Sekretaris mas Prakash? Maksud kamu Nine?"
__ADS_1
"Iya. Aku tau ini bukan urusan aku, tapi mereka berdua sedang mabuk. Aku cuma takut besok mereka jadi tak bisa datang ke meeting. Gimana ya, kak?"
"Meetingnya jam berapa, Len?"
"Jam 9 pagi, kak"
"Gini aja, aku coba cek jadwal penerbangan dulu. Kalau malam ini tidak ada jadwal dari Jakarta ke Singapura berarti aku akan naik pesawat pertama besok. Mudah-mudahan ada yang jam 6 pagi. Nanti aku kabari lagi ya"
"Baik, kak. Terima kasih banyak"
"Iya sama-sama"
Jadwal penerbangan malam ke Singapura sudah tidak ada, jadi Arya memutuskan untuk mengambil penerbangan pertama besok pagi. Arya masih tak habis pikir akan kelakuan Dimas, biasanya ia tak seceroboh ini. Untuk itu Arya harus melakukan sesuatu untuk membantunya.
Setelah mengabari Elena, Arya bergegas untuk bersiap-siap menuju bandara. Arya mengambil penerbangan jam pertama di jam 6 pagi. Penerbangan memerlukan waktu hampir 2 jam dan untungnya tepat waktu. Hampir jam 8 pagi Arya tiba di bandara Changi international Airport dan langsung menuju hotel tempat Dimas dan Elena menginap.
Sejak jam 6 pagi Elena sudah mengetuk pintu kamar Dimas, tapi pintu kamar Dimas tak kunjung di buka. Tak terhitung pula sudah berapa kali Elena menelepon Dimas, tetap tak ada jawaban. Ketika Arya tiba, mereka mencoba lagi mengetuk pintu kamar Dimas. Karena tak ada jawaban, akhirnya Arya dan Elena memutuskan untuk segera berangkat ke Kantor Prakash.
**
Prakash kaget melihat kehadiran Arya, tapi tak melihat kehadiran Dimas. Nine juga sedari tadi belum muncul.
"Arya... Elena... Sebenarnya ada apa ini? Kemana Dimas? Saya juga bingung jam segini Nine belum juga muncul"
"Tenang, mas. Ini Arya juga dadakan datang untuk menggantikan Dimas. Nanti aja ceritanya setelah meeting. Gimana, mas?"
"Oke deh, kalau gitu ayo kita siap-siap"
__ADS_1
"Iya mas"
Meeting berlangsung tepat waktu. Arya juga mendadak langsung mempelajari materi meeting. Elena juga sebenarnya cukup kewalahan dengan tugasnya, karena Nine tidak muncul jadi selain melakukan tugasnya sendiri, ia juga melakukan tugas Nine. Ia hanya bisa berharap meeting ini berjalan dengan lancar sampai selesai.