Trio Tangguh Dan Elena

Trio Tangguh Dan Elena
Bab 27 Surat Peringatan


__ADS_3

"Aku pikir kak Arya akan langsung antar aku pulang"


"Kita makan dulu ya? Ga apa-apa kan makan disini? Muka kamu pucat, aku ga mau kamu sampai sakit, nanti sampai rumah bisa-bisa aku di marahin sama kakek dan nenek kamu"


Elena hanya tersenyum kepada Arya.


"Kenapa? Kok senyum-senyum?" Tanya Arya bingung melihat ekspresi Elena.


"Ga apa-apa. Cuma tadi di jalan masih pakai saya sekarang udah aku dan kamu. Berarti udah ga marah ya sama Lena?"


"Iya, udah ga marah. Aku ga bisa kayaknya lama-lama marah sama kamu. Lagipula, seperti yang tadi aku bilang ini bukan salah kamu."


Arya lalu memakirkan Oggie - mobilnya, ke sebuah rumah makan Padang.


"Makan yang banyak ya Lena, kalau perlu di habisin semua"


"Sebanyak ini? Aduh, bisa-bisa meledak perut aku kak saking kenyangnya!"


Arya tertawa melihat kepolosan Elena. Kemudian ia tersenyum melihat Elena makan dengan lahap.


"Pokoknya kalau abis ini aku jadi gendut kak Arya tanggung jawab ya!"


"Kok aku? Aku kan ga ngapa-ngapain, cuma ajak kamu makan aja"


Setelah itu Elena malah mencubit lengan Arya saking gemasnya.


"Aww... Sakit!"


"Eeh... Maaf kak, aku suka spontan nyubit kalau lagi gemas"


"Ga apa-apa Lena, aku tau kok kalau aku ngegemesin"


"Iiih... Tuh kaan... "


Dan mereka pun tertawa bersama. Arya berharap setelah ini keadaan kembali seperti dulu lagi dimana mereka selalu bercanda seperti ini.


**


Waktu sudah menunjukkan pukul 11 ketika Elena tiba di rumah. Untungnya Elena membawa kunci duplikat karena kakek dan nenek sudah tidur.


"Jam segini biasanya kakek sama nenek udah tidur, kak. Jadi ga bisa pamit. Maaf ya... "


"Iya ga apa-apa, Lena. Aku titip salam aja ya. Kamu juga langsung masuk sama istirahat ya, besok pagi kan harus berangkat kerja lagi"


"Iya kak, Terima kasih ya udah anterin aku. Aku masuk dulu ya... " Ujar Elena sambil tersenyum.


Arya pun hanya menjawab dengan anggukan dan senyuman, setelah itu ia langsung pulang.


**

__ADS_1


Keesokan paginya, sebelum berangkat kerja Dimas menelepon Arya.


"Halo, Dims. Pas banget kamu nelepon karena aku lagi ada perlu penting sama kamu"


"Iya, maaf semalam aku ketiduran capek banget. Mau bahas berkas Simmons corp kan?"


"Iya, soal itu sama satu lagi"


"Soal apa, ya'?"


"Kamu berangkat pagi, kan?"


"Iya, seperti biasa. Kenapa memangnya?"


"Nanti aja aku jelasin di kantor. Aku bawa lucky aja biar ga kena macet. Oke, sampai ketemu di kantor, Dims. Bye!"


"Bye"


Dimas masih memandangi handphonenya. Ia jadi penasaran hal penting apa yang mau di bahas Arya selain Simmons corp?


**


Arya memang sengaja berangkat lebih pagi untuk menjemput Elena. Ketika tiba di rumah kakek dan nenek, Elena baru saja akan keluar rumah. Setelah berpamitan, mereka langsung berangkat menuju kantor.


Setibanya di kantor, Arya sengaja menunggu Dimas di luar ruangan Dimas di Sofa untuk tamu yang letaknya tidak jauh dari meja Elena untuk mengawasi Redi. Tak lama setelah Arya dan Elena tiba, Redi datang. Ia kaget melihat Arya, sehingga ia tidak berani menegur Elena di depan Arya.


"Hei, ya'... Udah lama sampai?"


"Belum terlalu lama, ada sekitar 10 menit."


"Yuk, masuk!"


"Oke"


Setelah masuk ke ruangan Dimas, Arya meminta Dimas untuk mengamati Redi sebentar. Redi yang sadar sedari tadi di perhatikan pura-pura bekerja seperti biasa.


"Ada apa sih sebenernya, ya'?" Dimas masih bingung dengan sikap Arya.


"Coba cek CCTV ruang depan kemarin, Dims. "


Dimas pun menuruti permintaan sahabatnya. Ia melihat Redi beberapa kali menghampiri meja Elena dan memberikan banyak pekerjaan. Ia merasa heran dan kaget melihatnya.


"Aku rasa dia ga akan berani melakukan itu ke Bu Astri. Iya kan, Dims?"


"Apa selama ini dia mengintimidasi Elena?"


"Mungkin. Coba kamu cek rekaman seminggu terakhir deh sejak Elena masuk kerja"


Ternyata dugaan mereka benar. Redi selama ini mengintimidasi Elena dengan memberikannya banyak pekerjaan.

__ADS_1


"Jadi semalam kamu nemenin dia lembur, ya'?"


"Iya, jam 9 aku paksa Elena pulang karena mukanya sudah pucat, Dims. Aku takut dia sakit. Makanya tadi aku jemput dia"


"Makasih ya' kalau kamu ga ke kantor kemarin, mungkin kita ga akan pernah tau tentang ini."


"Iya, sama-sama Dims. Sekarang keputusan ada di tangan kamu, yang jelas kamu harus melakukan sesuatu"


"Jujur, kalau terserah sama aku, aku pengen pecat dia sekarang juga tanpa pesangon! Tapi ada beberapa peraturan perusahaan yang aku harus patuhi. Aku juga pengen dia ketangkap basah sekalian biar dia malu"


"Trus apa rencana kamu, Dims?"


"Gini aja, rapat jam 11 nanti kamu sama Redi yang handle. Nanti aku akan ajak Elena makan siang bareng biar Redi ga punya waktu untuk ganggu Elena hari ini. Selesai rapat nanti kamu balik kesini sampai waktunya pulang ya', nanti kita beraksi."


"Beraksi? Emang kamu mau ngapain?" Tanya Arya penasaran


"Nanti juga kamu tau sendiri. Yang jelas hari ini aku mau tetap di kantor untuk mengamati."


"Okelah, aku ikut aja sama rencana kamu. Aku siap-siap untuk rapat dulu ya, Dims"


"Iya ya'. Hati-hati.. "


Di siang harinya Dimas mengajak Elena makan siang bersama. Dimas juga mengajak mba Cindy tapi mba Cindy menolak karena kali ini ia benar-benar di datangi oleh suaminya untuk makan siang bersama, tidak seperti waktu ketika Dimas meminta mba Cindy untuk berbohong agar Elena dapat makan siang bersama Steven.


Dimas memang sengaja tidak membahas tentang intimidasi Redi dengan Elena. Dan Elena pun sama sekali tidak ada niat untuk mengadu kepada Dimas, seperti yang Dimas duga. Walau ia merasa emosi kepada Redi, tetapi ia masih berusaha untuk sabar menunggu sampai waktu pulang kerja.


Arya dan Redi baru tiba di kantor jam 3 sore. Sebelum Arya masuk ke ruangan Dimas untuk berdiskusi, Dimas sempat menunggu di depan pintu ruangannya untuk melihat Redi apakah ia berani menghampiri meja kerja Elena selama Dimas ada di ruangannya. Ternyata Redi tetap di tempatnya.


**


Waktu pulang akhirnya tiba. Dimas dan Arya sengaja pamit pulang duluan untuk menjebak Redi. Setelah Dimas dan Arya keluar ruangan, mba Cindy menyusul. Ketika akan menuju lift, mba Cindy heran melihat Dimas dan Arya masih ada di balik pintu.


Dengan memberikan isyarat, Dimas memberi tahu mba Cindy untuk tidak bersuara dan Cindy pun langsung mengerti. Tapi ia tidak jadi naik lift karena ia penasaran ingin mengetahui apa yang terjadi.


Setelah memastikan semua pulang, Redi menghampiri meja Elena. Ia menaruh berkas pekerjaannya lagi dan langsung mencekal tangan Elena


"Kamu ngapain aja kemarin kok kerjaan aku belum selesai juga? Kenapa? Kamu capek? Sudah kuduga anak manja kayak kamu ga akan becus ngerjain kerjaan aku! Makanya jadi anak jangan sok! Baru di perhatiin sedikit aja udah belagu!"


"Tolong lepasin mas, tangan saya sakit!" Ujar Elena kesakitan karena Redi terlalu kencang mencekal tangannya.


Dimas yang sudah tak tahan lagi, masuk ke ruangan kerja Redi dan Elena. Redi kaget melihat Dimas dan Arya yang ternyata masih ada di situ.


"Redi, besok pagi temui saya di ruang kerja saya. Jangan sampai terlambat!"


"Bb... Baik, Pak... " Ujar Redi dengan terbata-bata.


"Sekarang juga kamu pulang! Besok kita bicara lagi!" Ujar Dimas sambil menahan emosi karena ia sebenarnya ingin sekali meninju muka Redi.


Setelah itu Redi langsung membereskan mejanya dengan tergesa-gesa lalu pamit pulang. Mba Cindy yang masih di sana membantu Elena membersihkan mejanya dan merangkulnya sambil turun ke lift.

__ADS_1


__ADS_2