
Elena mematut dirinya di depan cermin dan hampir tak mengenali dirinya sendiri. Ia telah di sulap menjadi wanita cantik dan elegan oleh para profesional di bidang make up dan rambut. Tadi ia telah di antarkan oleh pak Sofyan ke sebuah salon ternama yang juga sudah menyiapkan gaun dan sepatu berhak tinggi untuk Elena.
Elena tak menyangka Steven telah menyiapkan segalanya dengan matang untuk Elena. Biasanya yang suka mengurus hal-hal seperti ini adalah Dimas. Apalagi untuk kencan-kencan kejutan, Dimas biasa menyiapkan itu semua untuk para teman kencannya.
Hari ini sepertinya hari yang istimewa untuk Steven, untuk itu Elena memberanikan diri bertanya kepada pak Sofyan ketika mereka sedang menuju tempat dimana Steven berada.
"Maaf Pak Sofyan, kalau boleh saya bertanya, apakah hari ini hari ulang tahun koko Steve?"
"Iya, nona"
"Wah, saya belum menyiapkan kado untuk Steve. Bagaimana ya? Apa kita mampir dulu di suatu tempat untuk membeli kado?"
"Jangan khawatir soal itu, nona. Saya yakin tuan Steven sudah senang melihat nona, jadi dia tak perlu kado lagi" Ujar Pak Sofyan sambil tersenyum. Elena hanya bisa menunduk malu mendengar ucapan Pak Sofyan. Setelah hampir satu jam lamanya, akhirnya mereka tiba juga di tempat yang dituju.
**
Dimas dan Arya sudah menuju arah pulang dari rumah keluarga Steven ketika ponsel Dimas berdering.
"Papi Tev telepon aku, ya'. Kira-kira ada apa ya?"
"Ga tau, coba aja di angkat"
"Oke deh"
"Halo, pi"
"Dimas, sepertinya papi tau dimana Steve ajak Elena."
"Benarkah papi tau? Dimana, pi?"
"Di rooftop restaurant yang ada di hotel Grace. Dulu papi suka ajak Almarhumah mami kesana"
"Ooh.. Oke, pi. Terima kasih infonya"
Setelah itu Dimas memberitahu Arya.
"Apa perlu kita kesana, ya' untuk jaga-jaga aja mastiin kalau Tev baik-baik aja?"
"Aku rasa ga usah Dims. Tev lagi butuh waktu berdua sama Elena. Lagipula kalau ada apa-apa pasti Pak Sofyan hubungi papi atau kita"
"Gitu ya? Ya udah deh kalau gitu kita pulang aja"
"Oke"
**
"Selamat datang, Elena" Ujar Steven yang sudah rapi dengan setelan jas resmi.
"Koko... Makasih udah undang aku ke sini. Gaun, sepatu, dan make up-nya juga bagus banget."
"Sama-sama, Elena. Kamu suka?"
"Iya, aku suka"
"Aku sudah duga sih kalau kamu akan keliatan cantik malam ini, karena biasanya ga full make up juga udah cantik"
__ADS_1
"Koko bisa aja" Ujar Elena malu-malu.
"Kita makan dulu yuk, pasti kamu udah lapar kan?"
"Lumayan"
Setelah itu mereka sama-sama tertawa. Hidangan pembuka kemudian di sajikan, di susul dengan menu utama, dan di akhiri dengan hidangan penutup. Steven suka makanan manis, jadi sambil makan ia bercerita kalau selama ini ia sudah mencicipi berbagai macam dessert atau hidangan penutup tiap kali ia bepergian. Tapi yang paling ia suka adalah berbagai varian dessert dari coklat.
"Aku juga suka coklat, ko. Tapi... Ini agak memalukan sih... "
"Ga apa-apa, Elena, bilang aja. Aku pasti dengerin"
"Aku ga pernah rewel soal makanan, jadi semua dessert aku suka. Makanya aku malu ngomongnya, takut di kira rakus"
Kemudian mereka berdua sama-sama tertawa. Setelah mereka selesai makan, terdengar alunan musik klasik di ruangan. Lalu Steven berdiri dan mengulurkan tangannya.
"Elena, maukah kamu berdansa denganku?"
Elena sempat terpana sesaat, tapi setelah itu ia menganggukan kepala dan menyambut uluran tangan Steven.
"Aku... Aku sebenarnya ga bisa dansa, ko... " Ujar Elena sambil menunduk malu"
"Ga apa-apa, nanti aku ajarin. Pelan-pelan aja"
Tapi Elena yang kikuk beberapa kali menginjak kaki Steven dan meminta maaf.
"Maaf koko... "
"Elen, kamu ga biasa pakai high heels ya?"
"Kalau gitu lepas aja high heels-nya"
"Hah? Terus aku ga pakai alas kaki gitu?"
"Iya. Taruh kaki kamu di atas sepatuku"
"Itu sih sama aja aku injak kaki koko! Apalagi aku berat loh, nanti kaki koko sakit"
"Udah, ikutin aja"
Lalu Elena melepaskan sepatunya dan menumpukan kakinya di sepatu Steven. Mereka saling memandang. Tinggi mereka terpaut jauh, jadi Elena agak mendongak untuk menatap Steven. Di antara Trio Tangguh, Steven memang paling tinggi. Tingginya mencapai 185 cm, sedangkan Elena 165 cm, jadi tingginya hanya mencapai leher Steven.
"Kok, aku deg-degan yah... "
"Sama, aku juga... "
"Dansanya udahan ya, ko. Aku ga mau kaki koko sakit"
"Ya udah deh. Kita duduk lagi aja"
Elena kemudian kembali memakai sepatu hak tingginya.
"Koko... Aku boleh tanya ga?"
"Boleh, tanya aja"
__ADS_1
"Kenapa koko undang aku kesini? Hari ini koko ulang tahun ya?"
"Iya, kamu betul. Itu alasan pertama"
"Yang kedua apa?"
Steven menghela nafas panjang, lalu bicara.
"Aku sakit, Elena. Aku takut waktuku tak lama. Jadi, aku... "
"Koko apa?"
"Aku ingin menyatakan perasaanku sebelum terlambat"
"Terlambat untuk apa?"
"Elena, dengar dulu... Aku... Aku suka sama kamu... Sebenarnya aku cinta sama kamu, tapi kalau sekarang aku bilang cinta nanti kamu jadi takut terus kabur. Jadi aku bilang suka dulu sama kamu. Ah... Dimas benar... Aku memang culun soal ini"
Elena sempat tersenyum sebentar, tapi lalu terdiam.
"Koko... "
"Ya, Elen...?"
"Kenapa koko suka panggil aku Elen?"
"Karena namamu hampir sama dengan nama almarhumah mamiku, Helen. Kamu juga cantik, anggun, dan bersahaja seperti mamiku.
" Oh gitu ya... Trus tadi koko bilang koko lagi sakit? Koko sakit apa?"
"Kanker paru-paru, Elen. Stadium 2"
Elena tak menjawab apa-apa, tapi matanya malah berkaca. Lalu ia jadi menangis dan terus menangis. Responnya jadi hampir sama seperti Dimas.
"Aku tak apa-apa, Elen. Jangan khawatir, masih ada harapan untuk sembuh. Aku akan berjuang, karena aku masih ingin lihat senyum kamu yang manisnya ngalahin gula. Ya ampun, aku tuh mau ngegombal tapi kenapa kedengarannya garing banget ya?"
Lalu Elena tertawa di saat dia masih menangis. Steven yang melihat Elena jadi ikutan tertawa. Setelah itu Elena baru sadar kalau ponselnya mati sedari tadi. Kemudian ia menghubungi kakek dan neneknya untuk mengabari kalau ia akan pulang terlambat dengan memakai ponsel Steven. Setelah Elena selesai menelepon kakek dan neneknya, Steven mengantarkan Elena pulang ke rumah.
**
Di perjalanan menuju rumah kakek Elena, Steven kembali berbicara dengan Elena.
"Elen, kamu ga usah terburu-buru jawab soal tadi ya. Aku ga mau kamu merasa terpaksa untuk menjawabnya"
"Jawab soal apa, koh?"
"Ah, aku jadi malu"
Elena tersenyum. Ia sebenarnya tahu maksud Steven, ia hanya ingin menggoda Steven.
"Iya, nanti aku jawab tahun depan"
"Jangan tahun depan juga kali, nanti aku keburu lumutan"
"Emangnya koko tanaman bisa sampai lumutan... Hehehe... "
__ADS_1
Setelah itu mereka sama-sama tertawa lagi. Lalu Steven meminta izin Elena untuk menggenggam tangannya dan Elena mengizinkan, sampai akhirnya mereka tiba di rumah kakek Elena.