Trio Tangguh Dan Elena

Trio Tangguh Dan Elena
Bab 86 Jade Berpulang


__ADS_3

Steven merasa sedih. Kesehatan Jade semakin hari semakin menurun. Ia sudah tak selincah biasanya. Jade jarang menggonggong karena ia selalu tidur, jadi Steven lebih sering mendengar dengkurannya yang halus.


Suatu hari, Jade membuka matanya dengan lemah. Momen yang langka karena biasanya ia tidur seharian. Kemudian Steven memangkunya dan mengajaknya bicara.


"Jade, jika sudah waktunya aku akan melepasmu pergi. Maaf jika ideku tidak biasa, tapi aku harus melakukan ini. Jangan khawatir, kau akan aman di samping makam mami. Aku sayang kau, Jade"


Kemudian Jade menggonggong pelan dan menjilat pipi Steven sekilas. Tak lama kemudian, ia tertidur. Bedanya kali ini ia tak bangun lagi. Setelah menunggu beberapa jam kemudian, Steven mengguncang pelan tubuh Jade untuk membangunkannya. Tapi tidak kunjung ada respons. Lalu Steven meminta tolong kepada papinya untuk menghubungi dr. Ruby.


Setelah dr. Ruby datang, ia mengkonfirmasi kalau Jade sudah tiada. Steven tahu hari ini akan tiba, tapi perasaannya tetap hancur. Kemudian tubuh Jade di bersihkan dan disimpan sampai waktu pemakaman tiba, sesuai rencana Steven.


Elena yang semula marah dengan Steven akhirnya mengalah dan datang ke rumah Steven untuk menghiburnya. Dimas dan Arya yang mengantar Elena ke rumah Steven, memberikan waktu kepada Steven dan Elena agar bisa berbicara berdua. Tapi sepanjang waktu berdua, mereka hampir tidak berbicara. Elena hanya memberikan pelukan untuk Steven yang sedang berduka.


"Aku pikir sudah lelah menangis sampai kau datang. Ternyata stok air mataku masih banyak" Ujar Steven


"Stevie, jangan menangis terus nanti aku ikut sedih. Kau juga harus memikirkan kesehatanmu, badanmu agak panas hari ini"


"Aku tidak apa-apa, Elen. Aku hanya terlalu sedih"


"Kau sudah makan belum?"


"Entahlah, aku tak ingat sudah makan atau belum"


"Oh Stevie..." Elena kemudian bangkit dari tempat tidur Steven.


"Kamu mau kemana? Jangan kemana-mana, tolong temani aku."


"Aku hanya ingin bertanya sama mba Sissy apakah kamu sudah makan atau belum"


"Sudahlah, Elen. Aku tak mau makan, aku sama sekali tak berselera"


"Aku tetap akan tanya ke mba Sissy"


"Kamu keras kepala, Elen"


"Sama, kamu juga keras kepala, Stevie"


"Apakah kau masih marah padaku?"


"Masih. Kalau kau tak mau makan, aku akan lebih marah lagi padamu"


"Ternyata kau lebih galak dari Sissy"


"Iya memang. Kalau kamu masih ga mau makan juga, lebih baik aku pulang"


"Elen, ku mohon tinggalah di sini hari ini. Aku butuh kamu"


"Baiklah, tapi kamu harus nurut sama aku, Stevie"


"Ya, baiklah"

__ADS_1


Elena kemudian menghubungi Sissy lewat interkom. Ia meminta Sissy untuk membawakan makanan Steven agar nanti Elena yang menyuapi Steven.


Walau dengan susah payah, akhirnya Steven mau makan juga. Steven yang aslinya pendiam, menjadi semakin pendiam dengan kepergian Jade. Sesuai permintaan Steven, Elena tetap tinggal demi Steven, jadi ia menghubungi kakek dan neneknya untuk meminta izin.


**


Dimas masih bolak-balik dari rumahnya ke rumah Steven, sedangkan Arya ikut menemani Elena untuk menjaga Steven karena hubungannya dengan ayahnya semakin renggang sejak kematian ibu tiri dan adiknya, jadi sementara waktu ini Arya masih belum kembali ke rumah keluarganya.


Elena merasakan suhu badan Steven yang bertambah panas. Setelah berdiskusi dengan Sissy, akhirnya mereka memutuskan untuk menghubungi dr. Sylvia. Elena juga memberitahu Arya dan Hans tentang kondisi Steven.


Beberapa waktu kemudian, akhirnya Sylvia datang dan memeriksa Steven. Ia membenarkan kalau kondisi Steven saat ini sedang menurun. Penyebab utamanya kemungkinan karena kepergian Jade. Setelah meresepkan beberapa obat tambahan untuk Steven, setelah itu Sylvia pamit untuk pulang.


"Stevie, aku ingin kamu cepat sembuh. Jangan sedih lagi ya. Kalau kamu sedih kan aku jadi ikutan sedih"


"Akan aku coba, Elen"


"Sekarang kamu istirahat ya."


"Kamu temani aku ya sampai aku tidur"


"Iya"


"Elen..."


"Ya?"


"Kalau nanti aku bisa sembuh, maukah kau menikah denganku?"


"Tapi aku tak mau. Aku tak ingin kamu sendirian kalau nanti umurku tak panjang"


"Oh, Stevie..." Mata Elena berkaca-kaca mendengar ucapan Steven.


"Sudah, jangan nangis lagi. Kamu tuh sama deh kayak Dimas, suka gampang nangis."


"Aku kan perempuan, jadi wajar kalau gampang nangis"


"Jadi Dimas ga wajar dong gampang nangis, karena dia kan cowok"


Setelah itu mereka sama-sama tersenyum. Mungkin Dimas di rumah sedang tersedak karena di bicarakan oleh Elena dan Steven.


"Aku ngantuk. Nanti kita bicara lagi ya kalau aku sudah bangun"


"Oke. Tidur yang nyenyak, Stevie. Aku sayang kamu" Steven hanya menjawab dengan anggukan kepala. Setelah itu Elena menyelimuti Steven sambil memeluknya sampai ia tertidur dengan lelap.


Setelah memastikan Steven tidur dengan nyenyak, Elena pelan-pelan keluar dari kamar Steven untuk menghirup udara segar. Di luar kamar ia bertemu dengan Arya yang sepertinya hendak keluar rumah.


"Tev lagi tidur ya?" Tanya Arya kepada Elena


"Iya kak"

__ADS_1


"Kalau gitu kamu ikut aku yuk tebus resep obatnya Tev sekalian cari udara segar. Sudah hampir seharian ini kamu di kamar Tev terus kan?"


"Iya kak. Sebentar aku bilang mba Sissy dulu ya"


"Iya. Aku tunggu di teras ya sekalian bilang ke papi juga"


"Iya kak"


Setelah menebus resep obat Steven, Arya mengajak Elena ke sebuah cafe untuk minum sambil melepas penat.


"Kak Arya... "


"Ya, Lena?"


"Kapan kira-kira pemakaman Jade di laksanakan?"


Arya sempat terdiam sebentar, lalu menjawab.


"Belum tau, Lena. Masih menunggu keputusan dari Tev"


"Aku harap tidak terlalu lama"


"Iya, aku harap juga begitu"


"Aku juga berharap Stevie bisa sembuh. Bisakah aku berharap begitu?"


"Tentu saja bisa, Lena"


Tak lama kemudian, Arya terlihat sedang tersenyum samar.


"Kenapa kak Arya senyum-senyum sendiri? Aku jadi ngeri liatnya"


"Hehe... Maaf, aku sedang membayangkan kalau aku juga memanggil Tev dengan Stevie, pasti dia akan membunuhku. Lagian kamu kenapa sih jadi panggil dia Stevie? Itu kan kecewek-cewekan banget!"


"Ceritanya panjang tapi rahasia. Jadi aku gak akan cerita"


"Oh jadi gitu ya main rahasia sama aku? Oke deh. Ini kunci mobil aku, kamu balik ke rumah Tev bawa sendiri deh tuh mobil aku!"


"Ih, kak Arya ngambeknya jelek banget. Aku juga ga bisa cerita karena nanti Stevie juga marah sama aku"


"Hah, iya juga sih pasti dia bakalan marah. Kamu udah belum minumnya? Kita ke rumah Tev yuk, nanti dia bangun cariin kamu lagi"


"Aku udah kok minumnya. Terima kasih ya, kak. Jadi lumayan fresh lagi setelah keluar sebentar kayak gini"


"Iya sama-sama, Lena. Yuk!"


"Yuk"


Setelah itu mereka sama-sama kembali ke rumah Steven.

__ADS_1


Sesampainya mereka di rumah Steven, ternyata Steven masih tidur dengan lelap sambil sesekali di temani oleh Sissy. Elena kemudian meminta Sissy untuk beristirahat karena Elena menawarkan untuk bergantian menjaga Steven sementara Arya pergi ke kamarnya di kamar tamu untuk membersihkan diri.


__ADS_2