Trio Tangguh Dan Elena

Trio Tangguh Dan Elena
Bab 56 Elena Galau


__ADS_3

Keesokan harinya Elena masuk kerja seperti biasa. Tapi ia banyak melamun. Samar-samar terdengar alunan musik dari ponsel Elena. Lagu Twist me around oleh Mocca seolah mewakili perasaan Elena saat ini yang bingung dengan sikap Arya yang sulit di tebak.


Sometimes you're sweeter than a pie made of lemon


But sometimes full of secrets like Clark Kent


Twist me around...


Beberapa kali juga Elena menghela nafas. Ia masih mengingat dengan jelas ciuman Arya beberapa hari yang lalu. Bahkan mas Seno yang dulu hampir menikah dengannya saja tidak pernah menciumnya seperti itu.


Elena kembali menghela nafas. Tapi menjelang kembali ke Jakarta Arya malah memberinya kejutan dengan mengajaknya ke makam almarhumah istrinya. Ia benar-benar bingung dengan sikap Arya. Tapi Elena yakin kalau Arya masih mencintai Almarhumah istrinya dan tidak berniat untuk mencari gantinya. Lalu kenapa aku harus sedih? Dia kan memang tak pernah memberi harapan padaku. Selama ini ia hanya bersikap baik padaku.


Dimas sedari tadi menyadari kalau Elena terlihat berbeda hari ini. Kemudian ia menghubungi Elena via intercom.


"Elena, tolong ke ruangan saya sebentar"


"Iya, baik Pak"


Cindy memperhatikan Elena dengan perasaan was-was. Ia takut Elena di tegur Dimas karena sedari tadi ia banyak melamun. Tapi ia berharap tidak terjadi apa-apa karena selama ini Dimas baik kepada mereka semua dan tidak pernah pilih kasih.


Elena mengetuk pintu dan masuk. Dimas lalu menyuruh Elena untuk duduk di sofa yang ada di ruangan Dimas. Lalu Dimas duduk di sebelah Elena.


"Elena, apakah kau baik-baik saja?"


"Saya? Iya, saya baik Pak"


"Apakah terjadi sesuatu selama kamu di Kuala Lumpur kemarin?"


"Kenapa Pak Dimas menanyakan itu? Semua baik-baik saja kok, kan bapak bisa baca dari laporan saya"


"Maksud saya selain soal pekerjaan"


"Tidak... Tidak ada apa-apa kok... Pak Ksatria juga tidak bilang apa-apa kan? Oh iya, ngomong-ngomong Pak Ksatria hari ini tidak masuk ya, Pak?"


Dimas tersenyum miring. Sepertinya ada yang Elena tutupi.


"Kamu kok kelihatan gugup ya?"


"Bapak kok ga jawab pertanyaan saya ya?"

__ADS_1


"Pertanyaan yang mana?" Dimas pura-pura tak tahu karena ia memang sengaja ingin menggoda Elena.


"Soal Pak Ksatria. Apakah dia sakit? Karena dia dari kemarin bilangnya capek"


"Kamu khawatir ya?"


"Ih ngga, saya cuma tanya aja. Kalau gitu saya balik ke meja kerja saya aja deh!"


"Tunggu... Tunggu... Jangan marah dong. Saya akan jawab pertanyaan kamu asal kamu mau makan siang sama saya. Gimana?"


"Eeng... Ya, baiklah"


"Oke, kalau begitu sekarang kamu boleh balik ke meja kerja kamu"


"Baik, Pak"


**


Jam makan siang akhirnya tiba. Dimas langsung keluar dari ruangan dan mengajak Elena makan di tempat yang agak jauh dari Kantor dan tidak terlalu ramai.


"Di sini tempatnya memang tidak terlalu ramai, tapi kalau buat makan sambil ngobrol enak karena tak terlalu bising. Aku sama Arya kadang suka kesini. Kadang kita memang suka ke tempat yang tidak terlalu ramai, karena lebih nyaman" Ujar Dimas panjang lebar. Elena hanya menganggukan kepala sambil melihat ke sekeliling tempat itu.


"Ngomongin soal kak Arya, mas Dimas belum jawab pertanyaan aku tadi"


"Tuh kan gitu lagi deh. Aku makan siang sama mba Cindy aja deh kalau gitu" Elena mulai beranjak pergi, tapi tangan Dimas menahannya.


"Maaf, kamu marah ya? Duduk dulu nanti aku kasih tau deh."


"Janji ya?"


"Iya janji" Kemudian Elena kembali duduk di seberang Dimas.


"Arya tadi pagi telepon aku katanya ia izin hari ini ga masuk karena dia lagi kurang enak badan. Jujur, aku agak merasa bersalah juga karena waktu aku minta dia gantiin aku mendadak banget dan waktu itu dia emang lagi capek banget"


"Oh berarti kak Arya lagi kurang enak badan ya, mas?"


"Iya"


Elena ingin sekali menjenguknya, tapi kalau datang ke rumahnya rasanya kurang pantas. Ia pasti akan malu sekali, apalagi dengan keluarga Arya.

__ADS_1


"Kenapa, Elena? Kamu keliatan lagi banyak pikiran"


"Ah, engga apa-apa kok mas. Tapi kalau mas Dimas nanti mau jenguk kak Arya, aku titip salam aja ya"


"Iya, nanti aku salamin. Mmm... Elena..."


"Ya?"


"Tolong jujur padaku, sebenarnya ada kejadian apa selama kamu sama Arya di Kuala Lumpur?"


Elena merasa tak bisa mengelak lagi. Kemudian ia menceritakan semuanya mulai dari ciuman itu sampai terakhir waktu Arya mengajak Elena ke makam Aisyah.


"Mas, tapi aku mohon tolong jangan bicarakan lagi ke kak Arya ya soal ini. Aku malu"


"Iya aku janji ga akan bilang ke Arya, karena aku yakin dia juga ga akan cerita duluan kalau aku ga tanya ke kamu"


Walaupun Dimas terkejut mendengar cerita Elena, tapi Dimas mencoba melihatnya dari sudut pandang Arya.


"Mmm... Kalau menurut aku kenapa Arya ngajak kamu ke makam Aisyah karena pertama momennya pas, kebetulan kalian memang lagi ke Malaysia, tempat Aisyah tinggal dari lahir sampai ia meninggal di sana. Ia juga ingin jujur sama kamu, ga ingin tutup-tutupin lagi seperti dulu"


"Apakah mas Dimas pernah bertemu dengan Aisyah sewaktu masih hidup?"


"Belum pernah. Aku sama Tev tapi pernah ke makamnya. Kan Arya juga nikahnya diam-diam, ga ngabarin sama sekali. Itu bukan pertama kalinya juga ia menghilang, sekalinya ketemu malah bawa kabar mengejutkan" Ujar Dimas sambil cemberut.


"Aku sepertinya sudah lancang ketika bertanya apakah ia masih mencintai Almarhumah istrinya atau tidak" Ujar Elena sambil menunduk malu. Dimas tentu saja kaget mendengarnya.


"Trus dia jawab apa setelah kamu nanya itu?"


"Dia hanya bilang kalau dulu dia pernah mencintainya, itu saja yang bisa ia katakan kepadaku"


Mata Dimas menerawang jauh mengingat momen ketika Arya menceritakan tentang hidupnya selama dua tahun menikah dengan Aisyah.


"Selama setahun menikah, Arya memang sempat bahagia. Tapi setahun setelah itu sampai Aisyah meninggal, hidupnya memang bagai di neraka"


"Kenapa begitu, mas?"


"Arya kecewa sama Aisyah. Ternyata sebelum ketemu sama Arya, Aisyah memang sudah sakit. Ia menderita leukimia, sama seperti penyakit maminya Tev. Selama setahun Aisyah berhasil menutupinya sampai akhirnya Arya tau karena penyakitnya bertambah parah. Setelah itu Aisyah malah meminta Arya untuk meninggalkannya, tapi Arya ga mau. Ia ingin mengurus Aisyah selama sakit, tapi Arya di tolak mentah-mentah. Kemudian keluarganya mengambil alih untuk mengurus Aisyah dan meminta Arya untuk mengurus perceraiannya dan kembali ke Indonesia. Tapi Arya tetap bertahan. Arya memang tipe pejuang, sesuai sama nama dia, Ksatria. Dan kalau ia mencintai seseorang memang ga pernah tanggung. Ia akan berikan semua yang ia punya untuk orang yang dia cintai. Aku rasa dia memang sengaja ga ngabarin kita disini karena pasti kita bakalan minta dia balik ke sini dan berhenti jadi orang bodoh di sana."


Elena mendengarkan cerita Dimas dengan seksama. Ia tak menyangka kisah Arya akan sepahit ini. Kemudian Dimas kembali melanjutkan ceritanya.

__ADS_1


"Arya kembali ke sini bukan hanya dengan hati yang patah karena berduka, tapi ia menyesali perpisahan yang tak enak dengan Aisyah. Aku tak pernah melihatnya menangis seperti itu. Sepertinya ia memang trauma dan tak ingin jatuh cinta lagi setelah itu. Entahlah, aku hanya berharap suatu hari nanti akan ada seseorang yang bisa menyembuhkan luka hatinya dan membuatnya bahagia."


Elena merasa sedih mendengarnya, tapi ia juga tahu bukan hanya Arya yang merasa patah hati. Sepertinya ia juga sudah tidak bisa berharap Arya mau menjalin hubungan lebih dari sekedar teman dengannya.


__ADS_2