Trio Tangguh Dan Elena

Trio Tangguh Dan Elena
Bab 89 Pemakaman Steven dan Jade


__ADS_3

Menjelang tengah malam, akhirnya Sylvia datang juga. Pak Rizwan, pengacara keluarga Steven sudah pulang beberapa jam yang lalu. Sambil mengatur nafasnya karena datang dengan terburu-buru, Sylvia meminta maaf kepada Steven.


"Maaf aku datang sangat terlambat. Ini di luar perkiraanku"


"Tidak apa-apa Syl. Tapi kita harus bergegas karena waktu kita tak banyak. Aku tak tahu sampai berapa lama bisa bertahan"


"Baiklah, aku segera bersiap."


Kemudian Sylvia segera mengeluarkan peralatannya. Ia terus menerus berusaha untuk menyelamatkan Steven. Lalu ia mulai mengeluarkan jarum suntik dan menyuntikkannya ke alat infus Steven.


Dimas dan Arya yang juga berada di ruangan itu tanpa di sadari sama-sama menahan nafas karena tegang. Hans sedang beristirahat di kamarnya setelah meminum obat yang di berikan oleh Dimas setelah berdebat hebat dengan istrinya. Meilinda malah tidak di ketahui keberadaannya. Sedangkan Emily seperti biasa sedang merenung di kamarnya.


Elena masih di rumah Steven. Ia juga masih setia menunggu di depan kamar Steven dengan di temani oleh Mr. Rami, bodyguard kepercayaan Steven. Elena masih terus menangis walau ia berharap ada keajaiban sehingga Steven bisa sehat kembali.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Sylvia keluar dari kamar Steven dengan muka lesu bersama Dimas dan Arya. Elena langsung bertanya tentang Steven kepada Sylvia.


"Bagaimana kak Sylvia? Apakah Stevie keadaannya bisa lebih baik?"


"Maafkan aku, Elena. Telah terjadi komplikasi, aku tak bisa menyelamatkannya. Aku telah benar-benar berusaha."


Dimas mencoba untuk menyembunyikan air matanya tapi tidak bisa. Sementara Elena yang tak bisa menerima kematian Steven menangis histeris sampai ia pingsan. Kemudian Dimas yang akhirnya bisa mengendalikan diri dan berhenti menangis akhirnya membantu Arya membopong Elena ke kamar tamu.


"Kurasa sebaiknya memang Elena pingsan sementara agar ia bisa menenangkan dirinya sebentar, jadi kita bisa bersiap-siap untuk mengurus pemakaman Tev" Ujar Arya


"Iya betul juga, ya'. Gimana dengan papi? Aku khawatir waktu kita tak cukup karena papi harus ikut mendampingi saat Tev nanti di kremasi bersama Jade"

__ADS_1


"Nanti setelah kita selesai membersihkan Tev dan di pakaikan baju lengkap oleh Sissy, kita akan coba bangunkan papi. Kalau perlu dengan bantuan Sylvia"


"Oke, ya'. Ayo kita siap-siap"


Di luar dugaan, Emily yang baru keluar dari kamarnya baru mengetahui tentang kematian Steven. Ia langsung berlari ke kamar Steven dan mengguncang-guncang tubuhnya untuk membangunkan Steven. Ia masih tak percaya kalau Steven telah tiada. Dimas dan Arya langsung panik dan menghampiri Emily.


"Em, sudah Em... Ikhlaskan kakakmu pergi. Ia telah berjuang dan memang sudah waktunya untuk ia pergi" Ujar Arya mencoba untuk menenangkan sambil perlahan melepaskan tangan Emily dari tubuh Steven. Setelah itu Emily memeluk Arya dengan erat. Beberapa saat kemudian, baru ia melepaskan pelukannya dan bersiap untuk membantu mengurus pemakaman Steven.


"Ada yang aneh. Kenapa dia lebih memilih untuk memeluk kamu sedangkan aku juga ada di sini?" Tanya Dimas.


"Dims, ini bukan saatnya memikirkan itu. Kita harus bergegas untuk mengurus proses kremasi Tev. Waktu kita tak banyak"


"Oke, ya". Sorry. Ayo kita coba bangunkan papi"


Setelah Steven dan Jade selesai di bersihkan dan rapi, maka Dimas, Arya, dan Hans yang akhirnya bisa di bangunkan dan segera mandi dan berpakaian, segera membawa jenazah Steven dan Jade di peti jenazah. Bersamaan dengan itu, Elena akhirnya siuman dan keluar dari kamarnya.


"Kami mau ke krematorium, Elena. Nanti kita bertemu di pemakaman. Mr. Rami nanti yang akan antarkan kamu ke pemakaman." Ujar Hans.


"Apa? Krematorium? Maksudnya Stevie akan di kremasi, pi?" Elena yang memang belum tau akan permintaan Steven jadi terkejut dan langsung protes.


"Tapi pi, apakah papi tega melakukan itu terhadap Stevie?"


"Ini sudah permintaan Steve, Elena. Kami hanya melaksanakan permintaannya" Kemudian Hans langsung berjalan menuju mobilnya. Elena tak mau menyerah, ia langsung menarik tangan Arya dan menahannya agar ia tak pergi.


"Kak, tolong jangan lakukan ini" Elena memohon kepada Arya.

__ADS_1


"Maaf Elena, aku tak bisa. Kami harus segera pergi" Dengan berat hati, Arya melepaskan tangan Elena dengan perlahan.


"Tunggu kak, setidaknya izinkan aku melihat Stevie untuk yang terakhir kali" Elena kembali memohon. Arya memandang Hans dan Dimas untuk meminta persetujuan mereka dan akhirnya mereka menyetujui. Elena menangis melihat Steven yang walaupun kepalanya sudah botak akibat dari kemoterapi, namun wajahnya masih terlihat tampan. Setelah Elena mencium pipinya, Hans, Dimas dan Arya langsung berangkat menuju krematorium untuk melakukan kremasi jenazah Jade dan Steven.


Setelah itu, salah satu ART di rumah Steven memberitahukan Elena kalau ia di beri amanah oleh Dimas untuk bersiap menuju pemakaman. Dimas juga sudah menyiapkan pakaian berwarna serba hitam di atas tempat tidur. Menurut Elena itu agak aneh karena Dimas seperti sudah menyiapkan segalanya seolah tahu kalau Steven akan meninggal dalam waktu dekat.


Sylvia tak terlihat lagi sejak Elena pingsan. Salah satu ART yang Elena tanyakan soal Sylvia memberitahu kalau Sylvia pulang dulu untuk mandi dan berganti pakaian setelah itu ia akan datang langsung ke pemakaman Steven.


**


Proses kremasi yang hanya boleh disaksikan oleh Hans, Dimas, dan Arya sesuai amanah dari Steven, membutuhkan waktu kurang lebih dua jam. Proses kremasi Jade berlangsung lebih cepat dari Steven karena ukuran tubuhnya yang lebih kecil membuat prosesnya menjadi lebih cepat.


Sylvia muncul beberapa saat kemudian dan membantu Hans, Dimas, dan Arya mengurus jenazah Jade dan Steven. Hans telah menyiapkan dua guci yang sudah di beri label nama untuk menyimpan abu jenazah Jade dan Steven.


Setelah proses kremasi selesai, mereka berempat bernafas dengan lega dan melanjutkan perjalanan dengan tidak terlalu terburu-buru menuju tempat pemakaman. Rencananya, jenazah Jade dan Steven akan di tempatkan di liang lahat yang sama, bersebelahan dengan makam Almarhumah Helen - mami Steven sesuai dengan permintaan Steven.


Sebelum berangkat ke pemakaman, Hans, Dimas dan Arya menyempatkan diri untuk mengganti pakaian mereka karena asap dari proses pembakaran jenazah masih menempel di pakaian yang mereka pakai.


**


Setelah mengetahui kematian Steven, Emily langsung menghubungi ibunya yang setelah bertengkar dengan papinya sempat menghilang untuk meredakan emosinya. Meilinda akhirnya muncul di pemakaman Steven. Emily juga menghubungi Aldo yang sedang di luar kota tapi langsung memesan tiket pesawat untuk datang ke pemakaman Steven. Karena jarak dari tempat kremasi menuju ke pemakaman membutuhkan waktu lama sekitar lebih dari 3 jam, membuat Aldo sempat untuk datang ke pemakaman Steven.


Sebagian besar yang datang ke pemakaman Steven menangis. Dita dan suaminya Rido, dan juga Lili yang selama ini di anggap sudah seperti adik sendiri oleh Steven, turut datang mengantarkan Steven menuju peristirahatan terakhirnya.


Sepanjang proses pemakaman, mata Dimas tak lepas dari Aldo. Ia terus mengawasi ekspresi Aldo yang terlihat sedih tapi tidak meneteskan air mata, berbeda dengan ibu dan adiknya Emily, yang menangis tersedu-sedu. Dimas semalam sempat meminta tolong salah satu anak buahnya untuk mengikuti Meilinda karena setelah bertengkar dengan Hans, ia sempat menghilang.

__ADS_1


Setelah di ikuti, ternyata Meilinda pergi ke sebuah club malam. Jadi bisa di pastikan air mata Meilinda palsu. Mengenai Emily, ia masih curiga tapi ia akan tetap mengawasinya. Kemudian Dimas dan Arya saling berangkulan di pundak, merasa lega karena telah selesai melaksanakan permintaan Steven dan mencoba untuk mengikhlaskannya pergi meninggalkan mereka.


__ADS_2