
Steven mendapatkan firasat tak baik setelah mimpi buruk semalam, lalu ia menghubungi Arya.
"Halo, Tev."
"Halo, ya'. Kamu ke kantor ga hari ini?"
"Ga sih kayaknya. Emang kenapa, Tev?'
" Kita temui Dimas yuk di Loekito Corp. Aku jemput kamu deh ke rumah biar bisa bareng. Nanti aku jelasin di jalan. Oke?"
'Oke deh"
**
Steven dan Arya merasa kalau mereka sudah datang cukup pagi untuk menemui Dimas, tapi ternyata ada tamu yang datang lebih pagi dari mereka. Elena meminta Steven dan Arya untuk menunggu sampai tamunya selesai bertemu dengan Dimas.
"Apa tamu ini bagian dari firasat ga enak kamu, Tev?" Tanya Arya kepada Steven
"Sepertinya begitu, ya'. Pasti tamunya perempuan"
Ternyata Steven benar. Tamu Dimas perempuan. Ia baru saja keluar dari ruangan Dimas dengan gaya elegan dan sophisticated. Ia memakai blus longgar dan celana ketat. Dia juga memakai sepatu hak tinggi yang mewah, membuat ia terlihat seperti seorang model kelas atas. Steven dan Arya spontan melihat ke arah tamu tersebut yang sempat melihat ke arah mereka, mengangguk sebentar, lalu pergi.
"Kamu kenal dia, Tev?"
"Ngga. Tapi kayak pernah kenal di mana ya?" Ujar Steven sambil berpikir dengan keras.
"Mending kita ketemu Dimas dulu untuk cari tahu"
"Oke deh. Yuk kita ke dalam!"
"Yuk!"
Setelah itu Steven dan Arya masuk ke dalam ruangan Dimas. Mereka melihat Dimas sedang menatap keluar jendela dan merenung. Arya membuka percakapan agar Dimas menengok ke arah mereka.
"Tumben, Dims. Biasanya yang suka pose begini Tev, tapi sekarang kamu juga. Hobi kamu sekarang suka bengong kayak gini ya ternyata" Ujar Arya bermaksud untuk menggoda Dimas, tapi Dimas tetap diam dan tak menoleh ke arah mereka. Steven dan Arya jadi bingung dan saling memandang dengan heran.
"Tanggalnya cocok... Waktunya pas..." Akhirnya Dimas membuka suara.
"Hah? Tanggal apa yang cocok, Dims?" Steven bertanya karena masih bingung dengan maksud Dimas.
"Perempuan tadi bernama Diva Soraya. Aku punya affair sama dia lima bulan yang lalu. Dia hamil anakku. Aku akan jadi ayah, Tev... Ya'..."
"APA?!" Steven dan Arya bersahut berbarengan saking kagetnya.
__ADS_1
"Kamu yakin kalau itu anak kamu, Dims?" Tanya Steven hampir tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Yakin, Tev. Tadi dia bawa hasil test pack sama USG karena kandungannya sudah berumur 4 bulan jadi sudah bisa di USG."
"Kok kamu bisa seceroboh itu sih? Emang kamu ga pakai pelindung?" Steven masih penasaran dan terus mencecar Dimas dengan pertanyaan.
"Pakai, Tev. Tapi sepertinya ada satu kali yang aku pas lagi ga pakai karena waktu itu aku lagi mabuk"
"Tunggu dulu deh, waktu kamu sama Nine tempo hari kamu kan juga mabuk, masih ingat pakai pelindung ga?" Kali ini Arya yang bertanya
"Sepertinya aku pakai." Ujar Dimas tak yakin
"Sepertinya? Aduh, Dims... " Arya menepuk jidatnya. Dimas kali ini benar-benar dalam masalah besar.
"Kamu harus minta tes DNA sama si Diva itu untuk membuktikan kalau ia benar-benar hamil anak kamu, Dims" Ujar Steven.
"Tes DNA di saat lagi hamil? Bukannya itu agak kejam, Tev? Aku ga mau membahayakan janin di perutnya. Sudahlah, aku akan bertanggung jawab atas perbuatanku. Aku akan segera menikahinya seperti yang aku janjikan kepadanya"
Steven dan Arya saling memandang tak percaya.
"Apa kamu benar-benar percaya sama dia, Dims?" Steven masih terus mencecar Dimas dengan beberapa pertanyaan.
"Iya, aku percaya. Semua bukti udah terpampang dengan jelas. Di hitung dari usia kandungan juga pas. Aku memang pernah berhubungan dengan dia"
"Dari rekan kerja yang di Surabaya, Tev"
"Trus abis kenalan, kamu langsung kencan sama dia?"
"Iya, begitu deh. Seperti yang udah kamu tau selama ini"
Setelah itu mereka bertiga sama-sama diam dan larut dalam pikiran masing-masing. Tak lama kemudian, Steven dan Arya pamit pulang kepada Dimas yang masih kelihatan termenung, lalu mereka keluar dari ruangan Dimas.
Arya sempat ke meja Elena dan memberitahu Elena jika ada apa-apa agar Elena segera menghubunginya dan Dimas kemungkinan akan pulang lebih cepat dari biasanya.
**
Di perjalanan pulang, Steven dan Arya kembali membicarakan Dimas.
"Kamu kayaknya masih ga terima keputusan Dimas, Tev." Ujar Arya
"Iya memang. Aku ga mau perempuan itu sampai manfaatin Dimas. Belum tentu juga kan kalau itu anaknya Dimas."
"Tapi dia kan udah nunjukin bukti-buktinya ke Dimas dan Dimas juga mengakui kalau mereka punya affair"
__ADS_1
"Ya, kita lihat saja nanti. Aku juga ada feeling kayak pernah melihat perempuan itu, tapi dimana ya?"
"Dimas bilang dia kenal Diva dari rekan kerjanya di Surabaya. Apa dia orang Surabaya ya?"
"Bisa jadi, ya'."
Setelah Steven mengantarkan Arya ke rumahnya, ia lanjut berangkat menuju kantornya. Ia sengaja menyetir mobil sendiri agar ia dapat berfikir. Sesampainya di kantor, ia sudah di tunggu oleh Pak Peter dari bagian keuangan yang hendak menyerahkan laporan keuangan bulan lalu. Setelah bertemu pak Peter, Steven jadi ingat sesuatu.
"Pak Peter, bapak masih ingat tidak waktu terakhir kali kita ke Surabaya?"
"Iya, Pak. Kita ke Surabaya tahun lalu. Memang kenapa ya, Pak?"
"Waktu itu bapak pernah menawarkan seorang wanita kenalan teman bapak"
"Ah, saya jadi malu kalau mengingat itu, pak" Ujar Peter sambil menunduk malu.
"Saya sedang butuh bukti tentang perempuan itu. Apakah bapak masih simpan fotonya?"
"Iya, saya masih simpan fotonya"
Setelah mencari cukup lama di ponselnya, akhirnya Peter menemukan juga foto dari perempuan itu, yang ternyata sama persis dengan perempuan yang tadi Steven lihat di kantor Dimas.
"Bisa tolong kirimkan fotonya ke saya, Pak?"
"Bisa, Pak"
"Baik, Terima kasih. Bapak tahu tidak nama perempuan ini?"
"Saya hanya tahu namanya Diva. Dia adalah pelacur kelas atas. Banyak pejabat yang pernah booking dia. Sempat jadi simpanan juga, tapi sudah tidak lagi karena orang itu sudah tidak sanggup lagi membiayai hidupnya yang luar biasa mewah"
Steven tentu saja kaget mendengarnya. Ia harus segera memberitahu Dimas karena ia tak ingin perempuan yang bernama Diva itu menjebak Dimas demi kepentingan dirinya sendiri yang materialistis dan ingin hidup bergelimang harta dengan cara yang tidak halal.
"Baik, Pak. Terima kasih informasinya. Laporan bapak nanti saya lihat dulu kalau ada yang perlu di perbaiki akan saya kabari lagi nanti"
"Baik, Pak Steven. Saya pamit ke ruangan saya dulu"
"Iya, silahkan Pak"
Setelah itu Steven kembali bekerja seperti biasa. Besok pagi ia akan ke Kantor Dimas lagi untuk bicara mengenai Diva.
**
Arya sedang sibuk mempersiapkan meeting untuk besok. Seharusnya meeting tersebut di lakukan oleh Dimas, tapi mengingat keadaannya yang sedang tidak stabil, maka Dimas meminta Arya untuk mewakilinya.
__ADS_1
Bunyi notifikasi pesan chat di ponsel Arya membuat Arya melirik ponselnya. Pesan chat tersebut berasal dari Steven yang memberitahu tentang Diva. Sama halnya dengan Steven, Arya tentu saja kaget. Tapi ia meminta Steven untuk tidak memberitahu Dimas dulu, setidaknya sampai Arya selesai meeting besok. Steven menyetujuinya dan setelah itu Arya kembali mempersiapkan dirinya untuk meeting besok.