
Steven akhirnya sadar dari operasinya. Kondisinya terlihat lemah dan Elena jadi sedih melihatnya. Kemudian Arya membisikkan sesuatu di telinga Elena.
"Elena, ingat yang aku bilang tadi"
"Iya kak"
Akhirnya Elena memasang senyum di wajahnya, walau terpaksa. Ia harus kuat demi Steven. Kemudian Elena langsung memegang tangan Steven.
"Kokoo... Syukurlah koko sudah sadar... "
"Iya, Elena. Maaf ya kamu udah kelamaan nunggu"
"Ga apa-apa. Koko butuh sesuatu ga?"
"Tidak, aku agak mual jadi kalau minum atau makan sesuatu takutnya malah muntah"
"Ya sudah kalau begitu koko istirahat aja"
"Aku memang agak ngantuk. Kamu temani aku sampai aku tidur ya. Tapi nanti kamu pulang ya, ini sudah malam."
"Iya, koko tenang aja. Ga usah mikirin aku"
"Hmmm..."
Steven tak berkata-kata lagi. Setelah itu ia tertidur dengan lelap sambil memegang tangan Elena. Arya tentu saja sedih melihat Steven, tapi ia hanya mengawasi mereka dari sofa yang ada di ruang rawat VIP tersebut.
Tak lama kemudian, Dimas muncul setelah berbelanja dari supermarket.
"Tev udah siuman, ya'?"
"Udah, Dims. Tapi abis itu tidur lagi"
"Kita makan dulu ya', abis makan aku baru antar Elena pulang. Kamu mau di temenin nginep ga nanti? Atau kita gantian aja selang-seling hari?'
" Gantian aja, Dims"
"Oke deh"
Dimas kemudian memanggil Elena untuk makan bersama mereka. Awalnya Elena menolak, tapi setelah di paksa akhirnya mau juga. Mereka bertiga makan dengan diam, sambil memikirkan kondisi Steven.
__ADS_1
Setelah selesai makan, Dimas mengantarkan Elena untuk pulang ke rumah kakeknya.
**
Sebulan setelah di operasi, Sylvia memberitahu Steven kalau ia akan melakukan kemoterapi agar sel-sel kanker yang ada di paru-paru Steven bisa hilang.
Sebelum di kemoterapi, Steven harus melakukan beragam tes kesehatan. Steven perlu melakukan tes untuk mengetahui kondisi ginjal, hati, dan jantungnya. Elena menemani Steven untuk melakukan beberapa tes tersebut. Dengan sabar, Elena terus menemani dan menyemangati Steven.
Papi Steven tidak bisa mengantarkan Steven ke rumah sakit karena kondisi dirinya sendiri yang kurang sehat sehingga tidak memungkinkan dirinya untuk mengantarkan Steven bolak balik ke rumah sakit. Untuk itu ia selalu berpesan kepada siapa saja yang bisa mengantarkan Steven untuk mengabarinya setiap kali Steven selesai berobat atau tes kesehatan di rumah sakit. Dan kali ini Elena mengabari papi Steven setelah selesai tes kesehatan.
Sylvia sebelumnya juga menjelaskan efek samping dari kemoterapi, seperti rambut rontok, muncul nyeri, nafsu makan menurun, mual dan muntah, sesak napas, kelainan detak jantung, perdarahan, hingga sulit tidur.
Dari semua efek samping tersebut, yang paling Steven keluhkan adalah rambut rontok yang tak jarang membuat penderita kanker paru-paru dan juga kanker lainnya menjadi botak. Elena tahu saat ini Steven sedang merajuk, sambil dalam hati tersenyum karena tingkah Steven yang seperti anak kecil.
"Nanti aku tak tampan lagi kalau kepalaku botak. Walau Dimas janji akan membelikan aku topi yang akan membuatku terlihat keren, tetap saja itu tak sama"
"Koko, kalau dari lahir sudah tampan sih mau gondrong atau botak sekalipun akan tetap terlihat tampan. Seperti aktor Keanu Weeves, misalnya. Kan kita juga pernah liat dia dengan berbagai model rambut, terbukti kan dia tetap tampan dan enak di lihat?"
"Kamu samain aku sama Keanu Weeves?"
"Iya. Sama-sama berdarah campuran juga kan? Sama-sama tampan juga. Cocok" Ujar Elena sambil menyeringai.
"Kamu yakin kamu ga bakalan Ilfeel liat aku botak?"
"Sayang ya?"
"Iya"
Steven lalu diam seperti sedang memikirkan sesuatu. Tetapi ketika Elena bertanya apa yang sedang ia pikirkan, Steven hanya menjawabnya dengan tersenyum penuh misteri.
**
Kemoterapi biasanya dilakukan dalam durasi 1 minggu pengobatan dan 4 minggu istirahat. Setelah menjalani berbagai tes kesehatan dan pengobatan selama 1 minggu, Steven lalu menjalani kemoterapi. Setelah di kemoterapi, Steven bisa langsung pulang ke rumah, tidak seperti operasi yang harus rawat inap selama seminggu pasca operasi.
Dimas, Arya, dan Elena, sudah berada di rumah sakit untuk mendukung Steven menjelang kemoterapi yang akan berlangsung paling lama 2 jam. Emily juga rencananya akan datang untuk memberi Steven semangat.
Mr. Rami, bodyguard kepercayaan Steven datang sendirian. Tentu saja itu membuat Steven menjadi bingung karena seharusnya ia yang mengantarkan Emily ke rumah sakit, tetapi kenapa ia jadi datang sendiri?
"Mr. Rami, sebenarnya ada apa ini? Kenapa kau datang sendiri? Kemana Emily?"
__ADS_1
"Dia menyuruhku untuk datang kesini lebih dulu. Tadi dia minta aku menurunkannya di salon. Lalu dia menyuruhku lebih dulu kesini karena takut aku terlalu lama menunggunya."
"Ke salon? Disaat seperti ini?" Tanya Dimas dengan heran. Arya dan Elena sebenarnya sependapat dengan Dimas. Mereka hanya tidak menyuarakannya seperti Dimas.
"Maaf, tuan. Saya hanya menuruti permintaan nona Emily"
"Lalu kau kesini dengan apa?" Tanya Steven penasaran
"Dengan ojek online. Saya meninggalkan mobil di salon sesuai permintaan nona Emily juga"
"Aneh ga sih, Tev? Tumben deh Emily kayak begini." Tanya Arya.
"Iya sih aneh. Aku jadi khawatir nih" Ujar Steven.
Tak lama kemudian, akhirnya Emily muncul juga. Ia memakai jaket dan topi rajut dari wol.
"Em, dari mana saja kau? Aku jadi khawatir di buatnya" Ujar Steven.
"Maaf aku terlambat"
"Kata Mr. Rami, kau habis dari salon. Lalu kenapa kau malah menutupi rambutmu dengan topi?"
Tanpa berkata-kata lagi, Emily langsung membuka topinya. Semua yang hadir disana menjadi terkejut ketika melihat rambut panjang Emily yang sudah tidak ada lagi. Ia telah memangkas habis rambutnya seperti aktor Keanu Weeves di film Speed.
"Em... Kenapa... Kenapa kau lakukan ini?"
"Aku melakukan ini untuk mendukung koko. Jadi jika nanti rambutmu mulai rontok, kau tak sendirian."
"Tapi, kau tak harus seperti ini untuk mendukungku, Em."
"Tidak apa, ini hanya rambut. Nanti juga tumbuh lagi" Ujar Emily dengan cuek. Tapi Steven sempat melihat kilasan di mata Emily. Sepertinya ia melakukan ini bukan hanya untuk membuatnya terkesan, tapi juga ingin membuat salah satu sahabatnya juga terkesan. Dan itu malah membuatnya khawatir.
Kemudian Dimas berbisik di telinga Arya, tapi masih bisa terdengar oleh Steven.
"Ya', apakah ini berarti kita harus memangkas habis rambut kita juga?" Belum juga Arya menjawab, Steven sudah langsung menjawab pertanyaan Dimas.
"Tidak boleh, kalian tidak boleh melakukannya, terutama kau, Dims. Nanti ketampanan kamu akan berkurang dan kau tak bisa mencari pacar lagi"
"Aku kira kau tak dengar, Tev" Ujar Dimas sambil bersungut-sungut. Arya hanya tertawa kecil melihat Dimas yang mulai ngambek.
__ADS_1
Setelah itu Steven meminta mereka semua untuk keluar dari ruangan dan meninggalkan Steven berdua dengan Emily supaya ia bisa berbicara empat mata dengannya.
Setelah berbicara dengan Steven, akhirnya Emily keluar dari ruangan. Lalu pihak rumah sakit memulai proses kemoterapi yang kemungkinan memakan waktu hingga dua jam lamanya.