
Di hari Selasa minggu berikutnya, Dimas dan Elena kembali bersiap untuk melakukan perjalanan dinas ke Singapura.
Sebelum pesawat take off, Dimas kembali melakukan penanganan yang sama terhadap Elena yang fobia naik pesawat terbang seprti yang ia lakukan sewaktu melakukan perjalanan ke Banjarmasin.
Tapi sayangnya, kali ini berbeda. Entah kenapa, tiba-tiba Elena merasa sesak nafas. Para kru pesawat dengan sigap membantu Elena. Untungnya, sebelum berangkat Dimas meminta Elena untuk memesan tiket kelas bisnis, sehingga penumpang lain agak berjarak dan tak sebanyak penumpang kelas ekonomi.
Para kru membantu Elena untuk bernafas secara teratur. Empat detik untuk menarik nafas, empat detik untuk mengeluarkan nafas. Dua pramugari dengan sigap menemani Elena. Ketika pesawat sudah di atas, Elena mulai tenang dan nafasnya kembali teratur. Salah seorang pramugari kemudian memberi Elena air mineral. Setelah Elena sudah terlihat tenang, para pramugari tersebut kembali ke tempatnya masing-masing.
Dimas mencoba membuka percakapan dengan Elena.
"Sudah enakan, Elena?" Tanya Dimas masih dengan muka khawatir.
"Sudah lebih baik, mas. Maafkan saya yang sudah menyusahkan, mas. Saya benar-benar ga enak. Saya juga ga mengerti kenapa bisa seperti ini, padahal sebelumnya waktu berangkat dan pulang ke Banjarmasin baik-baik saja"
"Iya sih sebenarnya saya juga ga mengerti. Apakah kamu gugup soal meeting besok, Elena? Atau takut karena mau ketemu mas Akash kakak saya? Tenang, dia ga galak kok" Ujar Dimas sambil mencoba mencairkan suasana.
"Saya rasa bukan karena itu, mas. Entahlah saya sendiri kurang tau kenapa bisa begini."
"Ya udah, demi keselamatan kamu nanti tiket pulangnya di cancel aja, kita pulang naik kapal feri aja ke Batam. Agak jauh sih memang, tapi yang penting kamu ga panik lagi seperti tadi. Gimana?"
"Saya ga mau nyusahin lagi, mas. Nanti pulang saya coba aja naik pesawat lagi. Mudah-mudahan ga terjadi apa-apa. Kalau jalur darat lama sampainya. Kerjaan kantor kan juga lagi banyak-banyaknya, mas"
"Ya sudah, terserah kamu aja. Nanti kita omongin lagi setelah meeting"
"Baik, mas. Makasih ya"
"Iya sama-sama" Ujar Dimas sambil tersenyum.
**
Dimas dan Elena tiba di Singapura sekitar jam 11 siang. Setelah check-in di hotel, mereka langsung menuju Loekito Corp untuk bertemu dengan Prakash. Rencananya, setelah makan siang, mereka akan langsung membicarakan persiapan untuk meeting besok.
"Kamu capek, Elena?"
"Ga kok, mas. Ga terlalu"
"Maaf ya, ga ada jeda untuk istirahat karena kita harus siap-siap untuk besok. Tapi kalau nanti cepat selesai juga bisa istirahat setelah ini."
"Iya, mas. Saya sih ikut aja"
__ADS_1
Setelah sampai di kantor Loekito Corp cabang Singapura, Dimas di sapa oleh Nine, sekretaris Prakash.
"Hei, Mr. Dimas. Long time no see." Ujar Nine sambil tersenyum menggoda.
Elena merasa kalau Dimas dan Nine sudah lama saling mengenal, jadi ia tak terlalu heran jika mereka terlihat akrab.
"Hei, Nine. You look nice today. Is my brother bussy today?"
"Yes, just like usual. He's still on the phone. Please wait for a minute."
"Oke. By the way, this is my secretary. Her name is Elena" Ujar Dimas memperkenalkan Elena kepada Nine "
"Hello, Miss. Nice to meet you" Ujar Elena sambil mengulurkan tangan kepada Nine. Tetapi sebelum Nine menyambut tangan Elena, ia terlebih dulu memandang Elena dari atas ke bawah seperti sedang mengamati sesuatu atau iri.
"Hello, Elena. Senang bertemu denganmu" Nine lalu menyambut uluran tangan Elena masih sambil memandangi Elena.
'Kenapa dia melihatku seperti itu ya? Apakah ada yang salah denganku?' Elena bertanya-tanya dalam hati.
Prakash kemudian muncul di pintu dan menyuruh Dimas dan Elena untuk masuk ke dalam ruangannya. Mereka lalu bercakap-cakap ringan sambil menunggu waktu makan siang. Tak lama kemudian, ia mengajak Dimas, Elena, dan juga Nine untuk makan siang di restoran yang jaraknya tak terlalu jauh dari kantor.
Setelah tiba di restoran, Prakash mencoba untuk membuka percakapan.
"Oh, begitu ya Pak... "
Dimas dan Nine yang duduk berseberangan tidak terlalu banyak bicara. Tapi Elena melihat sepertinya Nine sering melemparkan senyum menggoda ke arah Dimas. Tanpa Elena tahu kalau dibawah meja Nine sedang menjulurkan kakinya untuk menyentuh kaki Dimas.
Setelah beberapa lama mencoba bertahan dari godaan Nine, Dimas akhirnya izin ke toliet setelah memesan menu makanan. Tak lama setelah urusan di toliet selesai, Dimas di kejutkan oleh seseorang yang menarik tangannya ke bagian belakang restoran yang agak sepi. Saat itu memang tidak ada siapa-siapa disana.
Ternyata yang menarik tangannya adalah Nine. Sebenarnya mereka memang pernah menjalin hubungan terakhir kali Dimas ke Singapura.
"Didn't you miss me, baby?" Ujar Nine sambil mencium bibir Dimas dengan penuh hasrat. Dimas pun tak sanggup untuk menolak, tapi ia juga khawatir ketahuan kakaknya atau Elena. Dengan berat hati Dimas menarik dirinya dari pelukan Nine.
"Jangan di sini. Nanti kakakku atau Elena bisa lihat" Ujar Dimas sambil menengok ke kanan dan ke kiri.
"Kenapa kau takut Elena melihat kita? Kau suka padanya? Dia masih polos, Dimas. Sedangkan aku bisa membuatmu puas berkali-kali lipat dari dia" Nine masih sibuk menciumi Dimas sambil meraba-raba tubuhnya.
"Nine, please... "
"Please apa? Apa kamu sedang mencoba untuk memohon padaku?" Ujar Nine sambil tersenyum menggoda.
__ADS_1
"Jangan disini, oke?"
"Oke, ini hanya pemanasan. Let's have dinner tonight di cafe Soren. Hanya kita berdua. Jam 8 malam, jangan terlambat. Oke?"
"Oke"
"Good. I'll see you then"
Setelah itu Dimas mencoba untuk merapikan dirinya agar kakaknya dan Elena tidak curiga. Nine yang melihatnya hanya tersenyum.
"Don't worry baby, lipstikku waterproof kok. Jadi tak akan berbekas."
"Baiklah. Aku jalan duluan, kau menyusul belakangan. Jangan bersamaan agar mereka tidak curiga. Oke?"
"Oke, baby"
Setelah itu Dimas dan Nine kembali ke meja masing-masing untuk makan siang dengan Prakash dan Elena.
**
Setelah makan siang Dimas, Prakash, Elena dan Nine menuju ruang meeting untuk membicarakan persiapan meeting untuk besok. Laptop Dimas dan peralatan meeting yang lain sudah di letakan di sana, jadi besok Dimas tidak perlu membawa barang-barangnya lagi ke sana.
Waktu sudah menunjukkan pukul 4 lewat ketika mereka selesai membicarakan persiapan meeting untuk besok. Prakash mengingatkan Dimas agar jangan sampai terlambat karena meeting di mulai jam 9 pagi besok. Dimas pun menyanggupi karena biasanya memang ia selalu tepat waktu dan jarang terlambat.
Setelah itu Dimas dan Elena kembali ke hotel untuk beristirahat sebentar sampai menjelang waktu makan malam.
"Eeem... Elena... Aku minta maaf karena nanti malam aku tidak bisa mengajakmu makan malam karena aku ada janji dengan teman lamaku. Ga apa-apa, kan?"
"Oh iya ga apa-apa, Pak. Nanti saya makan malam di restoran yang ada di hotel aja, Pak"
"Bagus kalau begitu, jadi aku ga terlalu kepikiran kalau kamu makan malam di sini.
"Iya, mas"
"Kalau gitu saya masuk ke kamar dulu ya, kamu juga biar bisa istirahat."
"Baik, mas"
Setelah itu mereka masuk ke kamar masing-masing.
__ADS_1