Trio Tangguh Dan Elena

Trio Tangguh Dan Elena
Bab 52 Hari Tenang


__ADS_3

Karena masih pertengahan minggu, Dimas belum bisa cuti karena banyak pekerjaan yang terbengkalai sejak Diva datang dengan kabar yang mengejutkan. Dimas datang pagi seperti biasa. Bedanya perasaannya sekarang lebih tenang.


Arya juga hari ini datang sejak pagi untuk membantu Dimas. Lili masih menjadi trainee dan tadi ia berangkat bersama Dimas. Sepertinya sejak minggu lalu, Lili sudah merasa curiga dengan perubahan sikap Dimas yang biasanya ramah dan ceria kepada semua orang, tapi tiba-tiba berubah menjadi pemurung.


Dan hari ini Lili merasa heran karena sikap Dimas berubah seperti biasanya lagi. Lili sempat menanyakan itu tadi pagi, dan Dimas hanya menjawab akhir-akhir ini ada masalah serius di kantor, tapi sekarang masalah tersebut sudah terselesaikan. Lili masih menatap Dimas curiga, tapi ia memilih untuk tak melanjutkan pembicaraan lagi dengan kakaknya.


Menjelang makan siang, Dimas mengajak Elena makan siang karena ada beberapa hal yang ia ingin bicarakan juga di luar kantor. Elena setuju karena ia pun sebenarnya ingin menanyakan tentang pertengkaran Dimas dan Steven di kantor beberapa hari yang lalu.


**


Jam makan siang akhirnya tiba. Bersama dengan Arya, mereka bertiga makan di cafe dekat kantor, tempat yang sama ketika Steven pertama kali mengajak Elena makan siang bersama. Bedanya kali ini mereka tidak memesan semua makanan pencuci mulut seperti yang Steven lakukan.


Dimas membuka percakapan, karena tujuan Dimas mengajak Elena makan siang bersama adalah untuk membahas kejadian beberapa hari yang lalu.


"Elena, aku minta maaf atas kejadian kemarin. Aku tau kamu bertanya-tanya dan aku menghargai kalian bertiga tidak membocorkan hal ini ke bagian lain"


"Iya tidak apa-apa, pak. Mba Cindy yang sebenarnya memberitahu saya dan mas Redi untuk tidak menceritakan kejadian kemarin kepada bagian lain dan kami pun setuju."


"Kalau kamu ingin tahu kenapa kami sampai berkelahi, aku dengan senang hati akan menceritakannya ke kamu"


"Ini ada hubungannya dengan tamu yang bernama ibu Diva itu kan pak yang datang pagi-pagi sebelum pak Steven dan pak Ksatria datang?"


"Iya betul. Tolong, ini di luar kantor jadi jangan panggil aku dan Arya dengan pak. Kamu lupa terus ya? Lagipula kami kan belum setua itu juga"


"Emang iya? Bukannya beberapa hari yang lalu kamu bilang merasa kayak udah umur 100 tahun karena masalah yang kamu hadapi?" Arya menimpali ucapan Dimas.


"Iya sih tapi itu kan kemarin, sekarang aku balik lagi ke umur semula"


"Bisa gitu ya... Sesuka kamu ajalah, aku lapar. Kalian ngobrol aja, aku dengerin" Ujar Arya yang kembali ke mode cuek sambil makan. Elena hanya tersenyum melihatnya, lalu melanjutkan bicara.


"Aku sebenarnya ga ingin tahu cerita detailnya, mas. Tapi aku rasa masalah yang beberapa hari lalu mas Dimas hadapi itu lebih berat dari masalah Nine. Apakah aku benar?"


"Benar. Tapi untungnya sekarang sudah selesai."


"Dan mas Dimas udah ga berselisih paham lagi dengan koh Steven?"


"Iya, kami sudah baikan sekarang. Sejujurnya, kami bertiga memang tak pernah bertengkar lebih dari tiga hari. Benar kan ya'?"


"Kata siapa? Kamu pernah kok berantem sama aku lebih dari tiga hari. Udah lupa ya? Apa perlu aku ingetin lagi?" Ujar Arya sambil melirik sinis ke arah Dimas.


'Mulai lagi deh, sepertinya mereka akan bertengkar lagi. Dasar cowok' pikir Elena sambil menggeleng heran.

__ADS_1


"Itu kan karena aku terpaksa harus pulang kampung di hari kedua. Kalau waktu itu udah ada telepon juga pasti kita udah baikan sebelum tiga hari"


"Dih, alesan!"


"Mulai ngambek deh kamu"


"Siapa yang ngambek? Yang tukang ngambek kan kamu, Dims!"


"Mas, kak Arya, udah yah jangan berantem. Malu tuh orang-orang udah pada ngeliatin" Ujar Elena mencoba untuk menenangkan.


"Kita ga berantem kok Elena, cuma pemanasan aja" Ujar Arya


"Iya, pemanasan. Abis ini lanjut ke ring tinju... Hehehe... " Dimas menimpali sambil terkekeh, lalu melanjutkan obrolan lagi.


"Oh iya Elena, aku minta tolong lagi ya supaya kamu memastikan adik aku Lili tidak tahu soal masalah kemarin"


"Iya, mas nanti aku cari tahu. Sekarang kan mba Lili lagi di tempatkan di bagian administrasi, aku punya teman di bagian itu, nanti aku coba cari tahu"


"Oh, kamu akrab sama bagian administrasi juga ya? Cewek atau cowok?" Tanya Dimas.


"Dims, kamu kepo banget deh" Ujar Arya sambil memutar kedua bola matanya.


"Aku kan cuma nanya, emang ga boleh?"


Elena hanya tersenyum, tapi kemudian dia menjawab.


"Dia cowok kok, namanya Banyu"


"Benarkah?"


"Nah kan, sekarang siapa yang kepo?" Giliran Dimas sekarang yang menyindir Arya.


"Aku kan cuma nanya, Dims"


"Ya sama aja kan kayak aku tadi, cuma nanya!" Ujar Dimas tidak mau mengalah.


"Kamu dekat sama Banyu, Lena?" Tanya Arya lagi.


"Hanya dekat sebatas teman saja, kak"


"Syukurlah kalau begitu" Ujar Arya.

__ADS_1


"Ksatria Haryadi Himawan, sikapmu sungguh mencurigakan" Ujar Dimas sambil memicingkan mata


"Mencurigakan gimana? Aku biasa aja kok"


"Iyaa... Iyaa... Aku percaya... "


Arya hanya melirik sinis ke arah Dimas.


"Oh iya Elena, aku punya toko peralatan surfing di Bali. Tiap bulan aku ke sana untuk ngecek. Jadi kalau tiap bulan kamu ga liat aku selama 3 hari, itu berarti aku lagi ke sana untuk ngecek toko. Kalau nanti dalam sebulan ada tanggal merah di hari jumat atau Senin, kamu mau ga ikut aku ke Bali? Kamu udah pernah ke Bali belum?"


"Eeh... Belum, kak"


"Ya,' apa kamu sedang mencoba mengalihkan pembicaraan?" Tanya Dimas.


"Bisa iya, bisa ngga"


"Jawaban macam apa tuh yang kayak begitu?"


"Jawaban suka-suka. Puas? Sekarang diam dulu, aku masih ngobrol sama Elena"


"Hih, bossy!"


"Biarin!" Ujar Arya sambil menjulurkan lidah ke arah Dimas.


"Jadi gimana Elena? Mau kan? Ajak kakek sama nenek sekalian biar tambah rame"


Elena yang sedari tadi ceria menjadi murung.


"Sepertinya udah susah ajak kakek, kak karena kakinya lagi sakit. Untungnya koh Steven sempat beliin kursi roda untuk kakek"


" Benarkah? Kapan?" Kali ini Dimas dan Arya bertanya berbarengan.


"Iya, benar. Waktu aku lagi ke mall bareng kakek sama nenek, aku ketemu sama koh Steven. Waktu itu kaki kakek lagi sakit, lalu koh Steven membelikan kakek kursi roda. Jadi, sepertinya aku ga bisa ajak kakek kalau ke Bali, kak" Ujar Elena agak sedih.


"Iya, ga apa-apa Elena. Aku ngerti kok" Ujar Arya sambil tersenyum.


"Kamu ngajak Elena ke Bali ga izin sama aku dulu gitu?" Tanya Dimas


"Ngapain juga? Kamu kan bukan ayahnya Elena"


"Emang bukan, tapi aku bosnya, jadi harus izin dulu"

__ADS_1


"Kan aku ngajaknya pas libur, jadi ga perlu izin juga ke kamu"


Mereka masih saja terus berdebat. Elena hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Ia senang melihat mereka yang walau sering berdebat, tapi sebenarnya mereka bertiga saling menyayangi.


__ADS_2