
Dimas berangkat ke kantor bersama dengan Lili, adiknya. Setelah membicarakan tentang usul hukuman untuk Lili kepada papa dan kakaknya, mereka setuju dan meminta Dimas untuk segera melaksanakannya.
Lili tentu saja keberatan, tapi ia tak bisa membantah. Keputusan sudah di tetapkan jadi ia hanya bisa menuruti Papa dan kedua kakaknya. Sejak kejadian penculikan Elena, hubungan Dimas dan Lili menjadi semakin baik dan Lili kembali memanggilnya mamas
seperti waktu kecil.
Arya tiba di kantor lebih dulu dari Dimas untuk ikut menyambut trainee baru, yaitu Lili. Adik dari CEO perusahaan. Sebenarnya di belakang Dimas dan Arya banyak yang bergosip dan penasaran kenapa adik dari direktur perusahaan di jadikan trainee di kantor, karena setau mereka Lili yang manja kurang ramah kepada para pegawai di kantor. Jadi mereka menduga kalau Dimas melakukan ini untuk mendisiplinkan Lili.
Setelah Dimas datang bersama Lili, mereka langsung masuk ke ruangan Dinas dulu untuk bertemu dengan Arya. Lili yang melihat Arya langsung melingkarkan lengannya ke lengan Arya dengan manja. Dimas yang melihatnya langsung protes.
"Lili, tolong lepas tangan kamu dari Arya. Ini di kantor. Kalau di luar kantor terserah. Kamu mau training di sini, jadi kamu harus profesional."
"Maaf ya" Arya berkata dengan lembut agar Lili tak tersinggung. Lalu perlahan ia melepaskan tangan Lili yang sedang cemberut. Setelah itu mereka keluar dari ruangan dan berencana untuk mengumpulkan semua pegawai di bagian masing-masing untuk memperkenalkan Lili.
"Selamat pagi, semuanya" Ujar Dimas kepada seluruh pegawainya.
"Selamat pagi, pak!" Jawab para pegawai berbarengan.
"Pagi ini saya bersama wakil saya, Pak Ksatria, ingin mengenalkan seorang trainee baru bernama Lili, yang kebetulan adalah adik saya sendiri. Tujuan saya menjadikan Lili trainee agar ia banyak belajar seputar pekerjaan yang ada di perusahaan ini selama sebulan. Tiap minggunya, Lili akan bergantian bertugas di beberapa bagian di kantor ini, jadi nanti tolong di atur ya, Pak Sony" Ujar Dimas kepada kepala bagian HRD.
"Baik Pak" Ujar Pak Sony dengan patuh.
"Walaupun Lili adalah adik saya, saya ingin kalian tidak membeda-bedakan atau malah mengistimewakan Lili. Tolong perlakukan dia sama seperti trainee lainnya disini."
"Baik, pak" Ujar para pegawai dengan kompak.
Lili hanya tersenyum kecut mendengar perkataan Dimas. Tapi ia tetap harus menerimanya.
"Baik, sekarang tolong kembali ke tempat kerja masing-masing." Ujar Dimas.
"Lil, sebelum mulai training, kamu ikut sebentar ke ruanganku"
__ADS_1
"Iya, mas"
Kemudian Dimas dengan di dampingi Arya mengajak Lili untuk bertemu dengan Elena. Sebenarnya Elena masih agak trauma melihat Lili. Entah kenapa, ia takut kejadian yang sama terulang lagi padanya.
"Lili, bukankah seharusnya kau mengatakan sesuatu kepada Elena?" Ujar Dimas kepada Lili.
"Memangnya aku harus mengatakan apa?"
Dimas memutar bola matanya karena heran dengan kelakuan adiknya.
"Jangan pura-pura tidak tahu, Sis. Minta maaf kepada Elena atas kelakuan kamu hari minggu yang lalu"
"Yaa... Yaa... Baiklah... Elena, aku minta maaf atas kejadian hari minggu yang lalu. Tapi aku tak menyesal, lain kali mungkin aku akan melakukannya lagi kalau kau masih bersikap genit kepada kak Arya dan Koh Steven"
"Lili!" Dimas langsung marah dan menegur Lili. Arya hanya bisa geleng-geleng kepala dengan kelakuan Lili.
"Bercanda, mas. Ya udah aku minta maaf yaaa... Elenaaa... " Ujar Lili seperti di buat-buat. Kemudian dia mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Elena. Walau sempat ragu, akhirnya Elena menyambut uluran tangan Lili.
"Nah, gitu dong. Jadinya kan enak kalau udah saling memaafkan. Lili, sekarang kamu ke bagian HRD untuk bertemu dengan Pak Sony. Ayo aku antar. Setelah itu aku tinggal kamu di sana sampai waktunya pulang nanti, karena hari ini aku sama Arya lagi banyak kerjaan. Iya kan ya'?"
"Oh iya maaf, makan siang nanti aku akan jemput kamu. Kita makan siang bareng. Tapi hanya untuk hari ini, besok-besok sampai selesai kamu trainee, kamu harus makan siang bareng pegawai lain supaya kamu bisa belajar berbaur dengan mereka" Ujar Dimas dengan tegas.
"Apa? Makan siang sama pegawai lain? Aku ga mau! Mamas aja udah potong uang saku bulanan aku, mana cukup untuk makan di luar, mas!" Lagi-lagi Lili protes kepada Dimas.
"Cukup kalau kamu makannya di rumah makan biasa, kalau tiap hari makan di restoran atau cafe ya jelas ga cukup. Iya ga, Dims?" Kali ini Arya yang menjawab sambil menggoda Lili.
"Iya tuh, Arya bener. Kamu atur lah gimana caranya biar cukup. Lagipula, kamu masih mending tiap hari berangkat sama pulang kantor bareng aku. Coba liat pegawai lain. Tiap hari mereka naik kendaraan umum. Belum kalau yang rumahnya jauh dari sini. Pagi-pagi buta udah berangkat kerja, kadang ada yang beberapa kali naik turun kendaraan. Coba lihat sekeliling kamu, Lil. Masih banyak orang-orang yang hidupnya ga seberuntung kamu" Ujar Dimas panjang lebar.
"Iyaa... Iyaa... Aku ngerti... " Ujar Lili yang akhirnya pasrah kepada Dimas. Setelah mengantarkan Lili ke ruang HRD, Dimas dan Arya kembali ke ruangannya untuk memulai pekerjaannya.
"Elena, tolong kesini dan bacakan jadwal saya hari ini" Ujar Dimas kepada Elena via intercom.
__ADS_1
"Baik, Pak"
Kemudian mereka memulai hari dengan pekerjaan mereka masing-masing.
**
Menjelang waktu makan siang, Steven yang penasaran dengan hari pertama Lili sebagai trainee baru, mencoba untuk menghubungi Dimas. Telepon di angkat oleh Dimas pada deringan ketiga.
"Hei, Tev. What's up bro?"
"Hei, Dims. Kamu lagi sibuk?"
"Ya, biasalah. Kamu gimana?"
"Lumayan. Tapi aku penasaran sama reaksi Lili di hari pertama sebagai trainee. Gimana? Ngamuk-ngamuk ga dia?" Tanya Steven sambil terkekeh membayangkan reaksi Lili.
"Ngamuk sih ngga, tapi banyak protes. Tau sendiri kan dia kayak gimana. Dari kecil udah manja. Walau sama-sama anak bungsu kayak Dita, tapi manjanya tetap ga hilang. Beda sama Dita yang tipe wanita tangguh kayak nama grup kita"
Arya yang mendengar Dimas menyebut
nama adiknya hanya memberikan reaksi dengan tersenyum miring sambil menyetujui dalam hati. Dita selama ini sudah bekerja keras untuk perusahaan ayahnya, seharusnya memang dia mendapatkan penghargaan lebih dari ayahnya.
"Hmmm... Gitu ya... Trus makan siang nanti Lili bareng kamu sama Arya atau dia bareng pegawai lain?" Tanya Steven kepada Dimas.
"Khusus hari pertama ini bareng sama aku dan Arya, Tev. Besok dan seterusnya aku minta dia makan siang bareng pegawai lain biar dia belajar berbaur dengan pegawai lain"
"Kalau gitu aku ikutan ya, tungguin aku loh jangan di tinggal!"
"Oke deh, tapi jangan lama-lama, Tev"
"Iya, aku jalan sekarang nih. Udah dulu ya. Bye!"
__ADS_1
"Bye"
Setelah menutup telepon, Dimas juga mengajak Elena untuk makan siang bersama, tapi Elena menolak dengan halus karena ia masih merasa canggung dengan Lili. Cindy merasa bersyukur kali ini Elena menolak karena ia memang ingin makan siang dengan Elena sambil menggosipkan Lili, si trainee baru.