Trio Tangguh Dan Elena

Trio Tangguh Dan Elena
Bab 41 Ulang Tahun Dimas


__ADS_3

Sehari sebelum ulang tahun Dimas, persiapan sudah hampir matang berkat Lili yang selalu suka menyiapkan pesta. Dimas baru saja ingat kalau tadinya ia berniat untuk membelikan Elena gaun untuk besok. Lalu ia menghubungi Arya.


"Halo ya' kamu hari ini sibuk ga?"


"Ga terlalu sih. Kenapa emangnya, Dims?"


"Aku mau minta tolong anterin Elena beli baju atau gaun ya'. Aku tadinya udah janji mau beliin tapi lupa"


"Ya udah nanti aku anterin ke butik ibu aku aja deh"


"Oke, makasih ya'."


"Iya, Sama-sama. Apa sih yang ngga buat birthday boy" Ujar Arya sambil menggoda Dimas yang di jawab dengan cibiran oleh Dimas.


Setelah mengakhiri pembicaraan, Arya langsung menghubungi Elena. Awalnya Elena menolak untuk di belikan gaun, tapi Arya tetap datang ke rumah Elena untuk mengantar Elena ke butik ibunya.


**


Kesehatan Steven sudah berangsur membaik setelah berobat dua hari yang lalu. Ia langsung berobat ke rumah sakit untuk bertemu dengan dokter Sylvia, yang merupakan teman satu almamater Steven yang berbeda jurusan waktu kuliah dulu.


Steven juga membeli banyak vitamin dan madu agar ia cepat pulih kembali. Saat ini ia sedang bersiap untuk ke rumah Dimas. Steven sempat mengajak Emily untuk ikut, tapi seperti biasa Emily menolak. Lalu ia menelepon Arya.


"Halo ya', Elena nanti berangkat sama siapa ya?"


"Sama aku. Memang kenapa, Tev?"


"Mmm... Kamu keberatan ga kalau aku yang anterin Elena ke rumah Dimas?"


"Oh ya udah ga apa-apa. Anterin aja. Berarti aku jadi bisa berangkat agak siangan nanti"


"Maaf ya, ya'. Kamu ga apa-apa, kan?"

__ADS_1


"Ga apa-apa, Tev. Kamu kayak sama siapa aja"


"Oke deh, thanks ya. Aku siap-siap dulu. Bye"


"Oke, bye"


Setelah mengakhiri pembicaraan melalui telepon, Steven langsung bersiap untuk menjemput Elena. Arya yang tadinya seharusnya berangkat menjemput Elena kembali bersantai di depan TV sambil merebahkan diri di sofa.


**


Dimas Panji Loekito sedang memperhatikan Lili, adiknya yang sedari tadi sibuk berkeliling menyiapkan pesta ulang tahun Dimas di taman belakang rumah. Dimas telah meminta tolong kepada Pak Dharma, supir keluarga Dimas, untuk menjemput Leticia dari rumahnya menuju rumah Dimas.


Sambil menunggu para tamu datang, Dimas memandang rumah pohon yang terletak di sudut belakang rumah. Bangunan tersebut sekarang terlihat kecil di mata Dimas yang hari ini genap berusia 30 tahun. Ia lalu mencoba menaiki rumah pohon tersebut.


Di dalamnya terdapat banyak kenangan yang melibatkan kedua sahabatnya, yaitu Arya dan Steven. Dimas tersenyum melihat salah satu pajangan di rumah pohon tersebut yang berupa cap jempol mereka bertiga yang di ambil dari masing-masing darah mereka sebagai tanda janji persahabatan.


Dari ketiga anggota trio tangguh, hanya Dimas yang berdarah asli Pribumi. Eyangnya masih keturunan salah satu bangsawan Jawa. Suatu hari ketika mereka masih kecil, Arya dan Steven penasaran dengan darah Dimas yang katanya berdarah biru. Lalu mereka membuat perjanjian dengan darah yang sekarang masih di pajang di rumah pohon ini. Saat itu Arya dan Steven kecewa karena ternyata darah Dimas berwarna merah, sama seperti mereka. Bukan berwarna biru seperti yang mereka kira selama ini.


Setelah merasa cukup bernostalgia dengan masa kecilnya, Dimas kembali turun ke bawah untuk bersiap menerima tamu-tamu yang akan datang ke acara pesta ulang tahunnya yang tahun ini di adakan secara sederhana di rumah keluarganya.


Menjelang siang, para tamu satu persatu mulai berdatangan dan mengucapkan selamat kepada Dimas. Leticia juga datang dengan penampilannya yang terlihat cantik dan anggun dengan make up yang tidak berlebihan tapi tetap memancarkan kecantikannya.


Kedua orang tua Dimas, yaitu Bram dan Triana memperhatikan Dimas dan merasa senang. Sepertinya Dimas menyambut baik perjodohan ini.


"Sepertinya perjodohan kita berhasil ya, Pa."


"Iya ma, Dimas ga mungkin nolak lah sama Leticia. Dia kan anak baik yang pastinya juga berasal dari keluarga baik-baik. Kita lihat saja ma, kalau dalam sebulan ini segalanya lancar, kita langsung usul ke mereka untuk tunangan aja. Gimana?"


"Setuju Pa, jangan lama-lama supaya Dimas ga keburu berubah pikiran. Tau sendiri kan anaknya kayak gimana"


"Iya ma. Kita gabung ngobrol sama mereka yuk, ma!"

__ADS_1


"Yuk, pa!" Ujar Triana yang semangat seperti suaminya.


Steven tak lama muncul bersama Elena. Dimas yang sedang berbicara dengan Leticia dan kedua orang tuanya langsung menghampiri Steven dan Elena.


"Hei Tev... Elena... Selamat datang!" Ujar Dimas dengan antusias.


"Hei Dims, selamat ulang tahun, bro!" Steven mengucapkan selamat sambil memeluk Dimas dengan erat layaknya saudara kandung.


"Selamat ulang tahun, mas Dimas. Terima kasih udah undang aku kesini. Maaf aku cuma bisa kasih ini aja" Elena menyodorkan sebuah kotak kecil sebagai kado kepada Dimas.


"Ampun deh kamu ngapain sih repot-repot bawa kado segala. Kamu datang aja aku udah seneng kok" Ujar Dimas sambil tersenyum. Setelah itu ia mengenalkan Leticia dan kedua orang tuanya kepada Elena. Tak lama kemudian, Lili datang menghampiri mereka.


"Loh koko Steve udah sehat? Syukurlah... Koko datang sama siapa?"


"Hei Lil, you look gorgeous as usual" Mendengar pujian dari Steven membuat pipi Lili jadi merona merah.


"Aku datang sama Elena, tadi aku jemput ke rumahnya sekalian bareng kesini" Ujar Steven. Lili merasa di hempaskan ke darat setelah sebelumnya di buat terbang oleh pujian Steven. Ia langsung melirik sinis kepada Elena. Kemudian Leticia memecahkan ketegangan dengan mengajukan pertanyaan kepada Steven.


"Elena ini... Teman dekat kamu, Steve?" Tanya Leticia tanpa basa-basi.


"Eh... Bukan... Belum sih... Elena ini sekretarisnya Dimas, tapi kita semua dekat sih sama Elena. Iya kan, Dims?" Ucap Steven dengan gugup dan meminta persetujuan Dimas.


"Eh iya... Kurang lebih begitu... " Sebenarnya Dimas bingung menjawabnya karena kalau ia bilang dekat dengan Elena nanti Leticia cemburu, tapi kalau ia bilang tidak dekat dengan Elena, nanti Elena yang tersinggung. Tak lama kemudian, Arya datang sendiri dan bergabung dengan mereka.


"Hei Dims, happy birthday baby boy!" Ujar Arya menggoda Dimas sambil mencubit pipinya. Yang lain melihat ulah Arya jadi tertawa.


"Ih apa-apaan sih kamu! Emangnya aku bayi apa di bilang baby boy!" Dimas protes sambil melotot kepada Arya.


"Emang bayi kan, buktinya dekorasinya aja ada balon biru tuh di mana-mana tuh!" Ujar Arya sambil menyeringai kepada Dimas. Yang lain jadi tambah tertawa mendengar candaan Arya yang sebenarnya di syukuri oleh Dimas karena mengalihkan suasana kikuk yang tadi ingin ia hindari.


Namun, di antara keceriaan yang tercipta, diam-diam Lili melirik Elena dengan wajah sinis dan pergi dari kelompok tersebut untuk menemui beberapa orang di suatu tempat.

__ADS_1


__ADS_2