
Arya sudah kembali ke rumah orang tuanya dari sebelum ia ke Bali. Hubungannya dengan ayahnya masih kaku dan mereka selalu saling menghindar. Setelah semalam ia menginap di rumah sakit bersama Dimas untuk menjaga Steven, malam ini Arya memutuskan untuk pulang ke rumah keluarganya.
Arya tiba di rumah pukul 8 malam, tapi suasana di rumah terlihat sepi. Lalu ia menanyakan keberadaan penghuni rumah kepada ART yang sudah lama di percaya oleh keluarga Arya, yaitu Bik Sima.
"Bik, Ibu sama yang lain kemana? Kok tumben rumah sepi?"
"Lagi ke rumah sakit semua, den"
"Ke rumah sakit? Emang siapa yang sakit, bi?"
"Itu... Anu... Istri muda bapak mau melahirkan, den"
"Oh gitu. Kok ga ada yang ngabarin aku ya?"
"Bibik ga tau, den. Mungkin tadi karena buru-buru jadi ga sempat telepon"
"Oh ya udah ga apa-apa, bi. Makasih ya"
"Iya, den. Bibik siapin makan malam dulu ya buat den Arya"
"Iya, aku mandi dulu nanti aku turun untuk makan malam."
"Iya, den"
Setelah selesai mandi, Arya langsung turun ke bawah untuk makan malam. Sambil makan, ia mengisi daya baterai ponselnya tidak jauh dari ruang makan. Baru saja ia selesai makan, ponselnya berbunyi. Di layar ponsel tertera nama ibunya yang menelepon.
"Halo, bu. Ibu lagi dimana?"
"Halo, nak. Ibu lagi di rumah sakit. Kamu udah pulang ke rumah, kan?"
"Iya, aku udah di rumah"
"Tolong kesini segera nak, adikmu kritis"
"Adikku?"
"Iya, adik dari Astina, ibu tiri kamu"
"Oh, emang udah mau melahirkan ya, bu?"
"Iya, cepat kesini nak, nanti ibu jelaskan"
"Iya bu, kasih tau nama rumah sakitnya aja nanti Arya kesana"
__ADS_1
Setelah itu ibu Arya menginformasikan nama rumah sakit tempat istri muda ayahnya akan melahirkan, lalu Arya bergegas untuk berangkat kesana dengan menggunakan sepeda motornya yang ia beri nama Lucky agar tidak terjebak kemacetan.
**
Sekitar 20 menit kemudian, Arya tiba di rumah sakit yang di tuju. Ia langsung mencari ruangan tempat Astina dan calon bayinya di rawat beserta keluarganya yang sudah menunggu di sana. Setelah menemukan tempat yang di cari, ibu Arya langsung menghampirinya untuk berbicara.
"Syukurlah kamu tiba dengan selamat, nak"
"Iya bu, jadi gimana keadaannya? Ayah dimana?"
"Astina dalam keadaan kritis dan ia mengalami pendarahan. Harus segera di lakukan tindakan operasi. Ayahmu ada di dalam sedang menemani"
"Begitu ya... Dita sama Rido kemana?"
"Dita sama Rido sedang di periksa golongan darahnya karena Astina memerlukan donor darah. Sepertinya golongan darah Rido cocok, tapi golongan darah Dita tidak cocok untuk menjadi pendonor. Jadi masih kurang. Untuk itu Ibu minta kamu kesini karena golongan darah kamu dan calon adikmu sepertinya cocok. Tapi tetap harus di periksa lagi oleh suster nanti."
"Iya bu, aku siap. Jadi sekarang aku harus ke ruangan mana?"
"Kamu yakin nak mau donor darah kamu?" Tanya Ibu Arya dengan mata berkaca-kaca.
"Iya, aku yakin. Biar bagaimana pun kan dia adikku juga. Aku hanya tak suka dengan cara ayah yang menikah diam-diam dan telah menyakiti Ibu."
"Ibu ga apa-apa nak, Ibu ikhlas asal ayah bahagia"
"Oh Arya, kamu memang anak baik. Ibu bangga sama kamu, nak" Air mata pun menetes di pipi Kusumaningrum, ibu Arya. Arya langsung memeluk ibunya untuk menenangkan.
"Sudah bu, jangan nangis lagi. Kita harus segera menolong adikku dan ibunya sebelum terlambat."
"Iya, kamu benar. Ayo Ibu antar ke tempat donor darah.
Setelah di periksa, ternyata golongan darah Arya cocok untuk menjadi pendonor. Ia segera melakukan donor dan setelah selesai ia menunggu perkembangan dari proses melahirkan Ibu tirinya. Ia masih belum bertemu dengan ayahnya yang masih menemani Ibu tirinya. Ketika waktunya untuk di operasi, barulah Arya bertemu dengan ayahnya karena ia harus menunggu di luar bersama dengan keluarganya.
"Sedang apa kamu disini? Jangan bilang kamu ingin membuat kekacauan di sini!" Tanya Harja, ayah Arya.
"Aku sedang tak ingin bertengkar, ayah. Sebaiknya ayah fokus memikirkan keselamatan anak dan istri ayah"
"Jangan menggurui ayah, kamu tak tahu apa-apa, Arya!"
"Ayah, sudahlah. A'a benar. Sebaiknya ayah fokus ke anak dan istri ayah. Mereka sedang butuh ayah sekarang" Dita mencoba untuk menengahi. Harja tak menjawab. Ia diam saja karena sibuk memikirkan keselamatan anak dan istrinya.
Setelah menunggu cukup lama, seluruh keluarga sebenarnya sempat heran karena tidak terdengar tangisan bayi dari dalam. Tak lama kemudian, dokter keluar dari ruangan operasi dan memanggil Harja.
Dengan berat hati, dokter memberitahu kalau bayi Harja yang telah di lahirkan tidak bisa di selamatkan. Mereka telah berusaha semaksimal mungkin tapi bayi yang berjenis kelamin laki-laki tersebut tidak menangis, apalagi bernafas.
__ADS_1
Dokter menduga telah terjadi masalah dengan pembuluh darah di plasenta atau abrupsio plasenta, di mana plasenta memisah terlalu dini dari dinding rahim padahal belum waktunya. Hal ini juga menyebabkan Astina, istri dari Harja mengalami pendarahan hebat.
Astina masih koma dan belum mengetahui kalau ia telah kehilangan bayinya. Harja yang merasa sangat kehilangan tidak bisa menerima kabar duka atas kehilangan putranya. Ia bahkan berjanji akan menuntut pihak rumah sakit karena di anggap tidak bisa menangani pasiennya.
Tapi Kusumaningrum mencoba untuk menenangkannya dan menyarankan Harja untuk fokus menjaga istri mudanya. Dan akhirnya Harja menurutinya. Sekitar jam 10 malam Dita dan Rido, suaminya, pamit pulang ke rumah. Arya juga menawarkan kepada ibunya untuk pulang, tapi ibunya tetap ingin di rumah sakit mengikuti perkembangan tentang keadaan Astina, jadi Arya juga tetap tinggal demi menemani ibunya.
Selama menunggu kabar, ibunya tidak mau makan sama sekali. Setelah beberapa kali di bujuk oleh Arya, akhirnya ibunya mau makan walau hanya sedikit. Arya benar-benar di buat heran oleh ibunya yang sangat khawatir dengan istri muda ayahnya, sedangkan Harja sendiri terlihat tidak peduli dengan Kusumaningrum.
Sepanjang malam, Harja terus menemani Astina di ruang rawat inap VIP. Arya juga sempat menanyakan ayahnya apakah ia sudah makan malam, tapi ayahnya malah menyuruh Arya untuk pergi, jadi ia lebih memilih menemani ibunya di luar ruang rawat inap karena yang lain tidak ada yang boleh masuk kecuali Harja.
Dini hari sekitar jam 4, Harja merasakan Astina merespons genggaman tangannya, tapi setelah itu kondisinya malah bertambah parah. Detak jantungnya hampir berhenti. Kemudian Harja memanggil petugas jaga untuk melakukan tindakan. Namun setelah berusaha keras selama kurang lebih 30 menit, nyawa Astina tak tertolong. Respon dari genggaman tangannya seolah memberitahu kalau ia pamit bersama bayinya.
Semua orang berduka atas berita duka cita ini. Arya kemudian mengabari Dita yang sudah di rumah. Tetapi Ibu Arya begitu sedih sampai ia jatuh pingsan. Setelah siuman, ia dan Arya membantu Harja untuk mengurus jenazah anak dan istrinya. Namun Harja menolaknya. Ia malah menghubungi asisten pribadinya untuk mengurus jenazah anak dan Istrinya di rumah sakit. Lalu ia meminta Arya dan ibunya untuk pulang ke rumah.
**
Harja begitu terpukul atas meninggalnya istri muda dan anaknya. Sepertinya ia masih tak bisa menerima dan mengikhlaskan kepergian mereka.
Arya datang ke pemakaman bersama Dimas. Steven tak bisa datang karena masih dalam masa pemulihan pasca biopsi dua hari yang lalu. Kedatangan Arya dan Dimas cukup menyita perhatian karena walaupun mereka datang dengan baju dan kacamata serba hitam, malah membuat para wanita muda yang hadir di pemakaman malah lebih fokus ke mereka ketimbang mengikuti prosesi pemakaman dengan khidmat. Hal itu malah membuat Harja semakin kesal dengan Arya.
Setelah pemakaman selesai, Harja mengajak Arya menjauh untuk bicara. Dimas, Kusumaningrum, dan Dita mengikuti di belakang mereka karena tidak ingin mereka bertengkar.
"Apa yang kau lakukan disini, Arya?"
"Apa maksud ayah? Aku ke sini untuk menghadiri pemakaman adikku, sama seperti Ibu dan Dita"
"Jangan berbohong Arya! Ayah tau kau senang kan melihat ayah kehilangan anak dan istri ayah!?"
"Kalau aku senang kehilangan adikku untuk apa aku mendonorkan darahku untuknya?"
"Kebohongan apa lagi ini? Rido yang mendonorkan darahnya, bukan kau"
"Mas Rido memang mendonorkan darahnya, tapi karena masih kurang, jadi A'a ikut mendonorkan darahnya, kebetulan golongan darahnya sama dengan adik, walau akhirnya tetap tak tertolong" Dita ikut menimpali ucapan Harja.
"Itu betul kang, saya yang meminta Arya untuk datang dan mendonorkan darahnya" Ucap Ibu Arya.
"Kalau om perlu bukti, saya bisa menunjukkan CCTV rumah sakit agar om percaya" Dimas turut bicara untuk membela Arya. Walaupun ia tak ikut ke rumah sakit, tapi ia bisa meminta pihak rumah sakit untuk memberikan rekaman CCTV semalam.
"Apa-apaan ini? Kalian bersekongkol untuk menyudutkan aku?"
"Bukan begitu, ayah..." Dita masih mencoba untuk menengahi
"Kau tunggu saja, Arya! Ayah akan membalasmu!"
__ADS_1
Arya baru saja akan menanyakan maksud dari perkataan Harja, tapi ia sudah keburu pergi. Hal itu membuat Arya menjadi bingung, sedangkan Kusumaningrum menjadi khawatir atas ancaman dari suaminya terhadap anak sulungnya.