
Di hari Rabu malam, Dimas meminta Arya dan Steven untuk bertemu di tempat biasa di ruangan VIP Cafe Sam karena ada sesuatu yang penting yang ingin ia bicarakan. Dimas dan Arya datang bersama, sedangkan Steven datang terlambat.
Setelah 30 menit kemudian, Steven baru datang. Arya memperhatikan Steven yang terlihat lelah dan pucat.
"Lagi banyak kerjaan, Tev? Tanya Dimas.
" Lumayan, Dims. Makanya aku telat. Maaf ya"
"Ga apa-apa. Aku jadi ga enak juga sih karena aku mau ngomongin masalah aku"
"Masalah apa"
"Soal Viera. Dimas udah pernah cerita belum ke kamu" Arya menimpali omongan Dimas.
"Oh si Reva ya. Udah sih, tapi aku kan belum pernah ketemu langsung sama dia selama dia berubah jadi Viera"
"Dia tambah cantik loh sekarang. Sebentar aku kasih lihat fotonya ke kamu" Dimas kemudian mencari-cari foto Viera di ponselnya, lalu menunjukan foto Viera kepada Steven.
"Iya cantik sekarang tapi karena polesan make up, kalau dulu kan masih natural"
"Dan kamu tau ga apalagi bedanya?" Tanya Arya
"Ngga, apaan tuh bedanya?"
"Sekarang si playboy benar-benar udah naklukin dia" Arya memberi bocoran ke Steven
"Oh jadi Viera ini yang tinggal di Sydney itu ya? Pantesan sampe extend stay sampai Redi disuruh pulang duluan! Bener-bener kamu ya, Dims! Kalau Arya ga di rawat di rumah sakit bisa sampai seminggu kali tuh di sana! Bener ga, ya'?"
"Bisa ganti warga negara juga Tev saking betahnya!"
Steven dan Arya lalu sama-sama tertawa terbahak-bahak. Tawa mereka baru berhenti ketika Steven mulai batuk-batuk lagi. Arya lalu menepuk-nepuk pundak Steven lalu memberi minum.
"Kalian kayaknya seneng banget ya ledekin aku! Yang penting kan aku ga jomblo kayak kalian!"
"Aku sih happy-happy aja jadi jomblo. Kalau kamu gimana, Tev?"
"Kalau aku sih mau aja nikah tapi ga sama yang kayak Viera juga sih"
__ADS_1
"Emang Viera kenapa?"
"Yah, ga apa-apa sih. Tapi aku cari yang cantik ga di luar aja, tapi yang dalamnya cantik juga"
"Emang kamu pikir Viera ga cantik dalamnya, Tev? Kamu kan belum ketemu dia lagi setelah sekian lama"
Steven hanya menjawab dengan mengangkat bahu.
"Dims, sebenarnya kamu ajak kita kesini mau ngomongin soal Viera kan?" Tanya Arya yang sudah mulai curiga.
"Mmm... Iya sih. Tapi dengerin dulu sebelum kalian komentar macam-macam"
"Ya udah ngomong aja kita dengerin" Ujar Arya sambil mewakili Steven yang hanya menjawab dengan anggukan.
"Pertama, yaa.. Dia udah agak mulai atur hidup aku sih. Dia minta aku untuk pecat Redi karena dia ga suka. Kedua, ini yang agak buat aku pusing. Dia minta aku pindah ke Sydney supaya aku bisa terus sama dia"
"Apa?" Arya dan Steven merespon berbarengan.
"Kompak banget sih kalian" Ujar Dimas sambil melirik sinis.
"Kok dia bisa minta itu sih, Dims? Emangnya kamu udah lamar dia?" Tanya Arya
"Dims, emang kamu ga bilang apa kalau kamu punya tanggung jawab di sini? Kamu tuh CEO di kantor pusat. Lagipula kantor Sydney aja belum buka gimana mau tinggal di sana sih? Trus kamu mau jadi pengangguran di sana sambil nunggu kantor cabang buka?" Ujar Steven
"Kalian jangan emosi dulu, aku juga belum setuju kok sama usul Viera"
"Kalau begini sih dia sama aja kayak Diva! Kamu harus tegas Dims, jangan mau di manfaatin terus!" Ujar Steven lagi
"Steven betul Dims, lagipula kamu kan belum benar-benar kenal sama Viera, selama 10 tahun lebih banyak hal yang bisa terjadi sama dia dan kamu juga kan" Ujar Arya.
'Aku udah duga sih kalian akan cerewet kayak gini"
"Dan kamu tau sendiri kan kenapa kita cerewet. Kalau gini aku terpaksa menunjukkan sesuatu ke kamu. Mana laptop kamu, Dims?"
"Kamu mau ngapain, ya'?"
"Nanti kamu juga tau sendiri"
__ADS_1
Kemudian Arya membuka CCTV kantor yang memang terhubung dengan ponsel dan laptop Dimas. Arya mencari rekaman 2 hari lalu di hari Senin ketika Viera mencoba untuk merayu Arya di lorong dekat toilet.
Dimas tentu saja kaget melihatnya. Karena suara dari rekaman itu tidak terdengar, maka Dimas menanyakan apa saja yang telah Arya dan Viera bicarakan.
"Pertama, ketika aku menyuruh Redi untuk ke mobil duluan, dia nyuruh aku untuk memecat Redi, sama seperti yang kamu bilang tadi. Sebenarnya aku udah kesal sama dia, belum jadi istri kok udah ngatur kamu. Obrolan yang kedua mungkin kamu udah tau sendiri dari gesture dia kalau dia mau merayu aku"
"Kok kamu bisa ya' ga tergoda sama dia? Kucing aja kalau di kasih ikan mau" Ujar Steven memancing reaksi Arya.
"Aku kan bukan kucing Tev, makanya aku ga mau!" Dimas dan Steven spontan jadi menertawakan Arya.
"Jadi, gimana? Masih mau lanjut sama Viera?" Tanya Arya
"Ngga"
Kemudian Dimas menarik nafas dan menghembuskan dengan pelan.
"Kenapa ya sepertinya aku hanya jadi magnet para perempuan yang ga bener?"
"Mungkin karena kamu nyarinya di tempat yang ga bener, Dims" Ujar Arya
"Aku rasa kamu perlu perempuan yang tangguh, kuat, dan mandiri Dims supaya bisa bimbing kamu ke jalan yang benar" Ujar Steven
"Bukannya perempuan yang seperti itu biasanya ga butuh laki-laki ya?"
"Kata siapa? Setiap orang pasti butuh seseorang cuma sebagian dari mereka bisa nutupin aja dan ga nunjukin ke semua orang" Ujar Steven lagi.
"Betul itu, Dims. Kamu harus sabar, suatu hari nanti pasti jodoh kamu akan datang juga. Begitu pula sama jodoh Tev dan aku" Ujar Arya.
"Ooh... Ternyata kamu masih pengen ketemu jodoh lagi ya' bukannya waktu itu bilang udah ga mau lagi?"
"Aku sih ikutin arus aja. Kalau masih ada jodoh ya syukur, ga ada ya udah"
Setelah itu Dimas dan Steven malah meledek Arya dan masalah Viera pun jadi terlupakan.
**
Keesokan harinya, Viera kembali ke Sydney untuk kembali bekerja dan melanjutkan aktivitasnya di sana bersama teman-temannya. Viera kembali menanyakan tentang kepastian Dimas untuk pindah ke Sydney. Dengan tegas akhirnya Dimas menolak permintaan Viera.
__ADS_1
Mendengar jawaban Dimas, Viera jadi emosi dan tidak terima. Kemudian ia mengancam jika Dimas tak mau menuruti permintaan Viera lebih baik mereka putus. Dimas pun langsung menyanggupi keinginan Viera untuk putus dan itu akhirnya menjadi satu-satunya permintaan Viera yang di sanggupi oleh Dimas.
Viera kemudian boarding menuju pesawat dengan perasaan kesal. Ia bahkan bersumpah kalau Dimas takkan mendapatkan perempuan yang lebih baik dari dirinya. Sepertinya tingkat kepercayaan diri Viera memang sudah terlalu tinggi dan itu justru membuat Dimas lega karena ia bisa terlepas dari Viera lagi-lagi karena andil dari kedua sahabatnya yang sudah ia percaya melebihi siapapun.