
Sebelum masuk ruangan Dimas, Elena terlebih dahulu mengetuk pintu. Steven sedang berdiri sambil menunggu Elena.
"Iya, silakan masuk!"
"Maaf Pak... Pak Steven memanggil saya?"
"Eh iya... Elen... Elena... Apakah kamu akan makan siang hari ini? Maksud saya nanti kamu makan siang jam berapa?"
"Biasa Pak, nanti saya makan siang dengan mba Cindy jam 12"
"Oh gitu ya... Baiklah kalau begitu"
"Maaf Pak.. Kalau boleh tau bapak tadi memanggil saya ada perlu apa, ya?"
"Ga... Ga ada apa-apa... Ga jadi... " Ujar Steven sambil nyengir.
Dimas dan Arya sebenarnya belum berangkat ke mesjid. Merek masih mengintip dari jarak agak jauh. Kantor Dimas selain ada CCTV juga ada penyadap suara yang langsung terhubung dengan handphone Dimas, jadi Dimas dan Arya sedari tadi bisa mendengarkan percakapan Steven dan Elena. Tak lama kemudian mereka melihat Elena keluar dari ruangan.
"Duh, Tev tuh emang paling payah deh soal ginian! Masa kayak gini aja mesti aku juga yang turun tangan sih!"
Arya hanya menyimak sambil nyengir. Lalu Dimas menelepon mba Cindy.
"Mba, ini saya Dimas. Tolong jangan sebut nama saya ya ketika kita lagi ngobrol gini. Saya mau minta tolong sama mba boleh?"
"Iya boleh, pak eh mas. Mau minta tolong apa?"
"Mba Cindy nanti mau makan siang bareng Elena kan? Bilang aja mba Cindy lagi ga bisa karena suami mba lagi datang kesini untuk ngajak makan siang bareng. Bisa, mba?"
"Oke, mas. Siap!"
"Makasih mba, nanti aku nitip makanan kesukaan anak-anak ya abis sholat Jum'at sebagai tanda terima kasih"
"Ga usah, mas saya ikhlas kok nolongin"
"Pokoknya makasih ya. Ya udah saya berangkat sholat dulu ya"
"Iya, mas"
Setelah itu mba Cindy menutup telepon dari Dimas.
"Elena, maaf ya tadi suami mba nelepon tau-tau dia udah ada di bawah ngajak makan Siang jadi kita ga bisa makan siang bareng deh. Tumbenan banget nih!"
"Iya, ga apa-apa, mba. Aku ngerti kok. Nanti aku bisa makan siang sendiri atau pesan online biar bisa sambil ngerjain kerjaan."
"Ya udah deh, sekali lagi maaf ya. Mba tinggal dulu ya Elena!"
"Iya mba"
__ADS_1
Steven baru saja akan keluar ruangan Dimas ketika melihat Elena masih di mejanya sendirian.
"Loh, Elena katanya mau makan siang sama mba Cindy? Memang Mba Cindy lagi kemana?"
"Ga jadi, Pak. Mba Cindy suaminya lagi datang dan ajak dia makan siang bareng"
"Jadi kamu makan siang sendiri?"
"Iya, Pak. Tapi paling nanti saya pesan via online aja deh makan disini."
"Jangan, mendingan makan siang sama saya aja yuk! Ga jauh-jauh kok di cafe dekat sini"
"Tapi Pak... "
"Saya janji ga akan ajak kamu berantem lagi. Gimana?"Ujar Steven sambil membentuk tanda peace di jarinya.
"Mmm... Boleh deh Pak, saya setuju"
"Nah gitu dong. Yuk!"
"Yuk"
Setelah itu mereka berjalan menuju cafe yang di maksud Steven karena letaknya memang tidak terlalu jauh.
"Elena mau pesan apa? Terserah kamu maunya apa. Kamu boleh pesan apa aja"
"Ya udah kalau gitu saya pesenin ya" Lalu Steven menyebutkan beberapa menu yang ia rekomendasikan. Elena hanya mengangguk setuju.
"Elena, kalau di luar kantor panggil saya Koko atau Koh aja juga ga apa-apa, biar ga terlalu kaku. Adik saya juga manggil saya gitu kok kalau di rumah"
"Eeeh... Iya, baik koh... " Ujar Elena masih kikuk.
Steven berdarah campuran Cina dan Kanada dari Papinya, sedangkan maminya asli Indonesia dari daerah Manado. Di antara trio tangguh memang Steven yang kulitnya paling putih karena berdarah campuran.
"Elena, sebelumnya saya minta maaf atas perbuatan saya ke kamu. Saya tau pertemuan kita tidak di awali dengan baik. Saya memang kurang bisa bergaul dengan perempuan dan sangat bertolak belakang dengan Dimas."
"Baik Pak, eh koko... Saya juga minta maaf karena saya juga salah dan selama ini bersikap kurang sopan dengan koko"
"Ga apa-apa, Elena. Jadi... Bisakah kita berteman mulai sekarang?" Ujar Steven sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Elena.
"Iya, teman" Ujar Elena sambil menyambut uluran tangan Steven dan tersenyum.
Dalam hati Steven merasa lega. Besok aku jadi bisa duel dengan Aldo dengan hati yang tenang, apapun yang akan terjadi besok, ucapnya dalam hati.
Setelah pesanan mereka datang, mereka pun mulai makan siang sambil bercakap-cakap ringan.
**
__ADS_1
Dimas dan Arya baru saja selesai sholat Jum'at dan mereka sedang mendiskusikan tempat makan siang yang akan mereka datangi.
"Di mana-mana rame ini, Dims. Makan siang dimana dong kita?"
"Ya kalau mau sepi kita makan siang di kuburan aja, ya'!"
"Yeee... Minta di jitak nih Pak Dimas! Eh btw, Tev sama Elena jadi makan siang bareng ga ya? Apa kita datengin mereka aja?"
"Aku juga penasaran sih, tapi aku juga ga mau ganggu sebenarnya. Kayaknya dia mau ngobrol berdua Elena aja deh sekalian minta maaf. Apa kita telepon aja nanya jadi makan siang bareng atau ga tapi jangan kita datengin. Gimana?"
"Ya udah kalau gitu telepon aja, Dims!"
Kemudian Dimas menelepon Steven. Setelah deringan ketiga, telepon baru di angkat oleh Steven.
"Tev, gimana? Kamu jadi makan siang bareng Elena?"
"Iya jadi. Ini kita masih makan siang. Kamu sama Arya mau nyusul kesini?"
"Sebentar deh... "
"Ya', Tev nawarin kita nyusul kesana. Gimana?"
"Ya udah kalau dia nawarin sih ga apa-apa, kita nyusul aja" Dimas pun melanjutkan pembicaraan dengan Steven.
"Ya udah kalau ga merasa terganggu kita nyusul kesana, Tev. Kamu maksi dimana?"
"Di cafe yang deket kantor, Dims."
"Oke, tungguin ya. Awas jangan ninggalin loh!"
"Iya udah makanya cepetan!"
Dimas dan Arya lalu langsung menuju cafe yang di maksud. Sewaktu mereka tiba, Orang-orang menatap mereka seolah-olah cafe itu kedatangan selebritis. Tampilan fisik mereka memang sering membuat orang menoleh, terutama para perempuan.
Steven yang melihat mereka langsung melambaikan tangannya agar Dimas dan Arya mendekat. Elena menunduk malu melihat Dimas dan Arya yang datang ke arah mereka.
Setelah Dimas dan Arya duduk, mereka langsung memesan makanan sementara Steven dan Elena sudah selesai makan menu utama, sambil menunggu menu penutup mereka datang.
"Koh Steven tadi pesan semua menu penutup karena katanya dia ga tau saya suka yang mana. Jadi nanti tolong bantu habiskan ya kak Arya dan mas Dimas" Ujar Elena mengadu pada Dimas dan Arya.
"Koh Steven?"
Dimas dan Arya bersahutan bareng.
"Iya tadi aku yang minta Elena panggil aku begitu kalau di luar kantor. Kenapa? Kalian ga suka?" Ujar Steven sambil pura-pura memasang muka sinis.
Kemudian Dimas dan Arya malah gencar menggoda Steven. Suasana pun menjadi tambah santai dengan kedatangan Dimas dan Arya.
__ADS_1
Setelah makan siang yang mengesankan selesai, Elena kembali ke kantor dengan di apit oleh trio tangguh yang membuat para karyawan melirik kagum kepada mereka. Redi yang juga melihat itu hanya tersenyum sinis kepada Elena.