Trio Tangguh Dan Elena

Trio Tangguh Dan Elena
Bab 81 Kekhawatiran Baru


__ADS_3

Pasca kemoterapi, rambut Steven mulai rontok. Ia kini lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah. Selain harus banyak beristirahat, Steven juga tidak boleh bekerja yang berat-berat.


Di sore hari, Steven bertemu dengan Aldo. Jarang sekali ia bertemu dengan Aldo di sore hari, karena ia biasanya pulang malam.


"Hei, do. Tumben kau pulang cepat. Bagaimana pekerjaan di kantor? Lancar?"


"Iya, lancar. Semua baik-baik saja"


"Aku dengar kau memindahkan Rick ke bagian lain"


Rick adalah asisten pribadi Steven. Ia telah bekerja cukup lama untuk Steven, jadi ia sebenarnya lebih paham tentang pekerjaannya di banding Aldo.


"Iya memang. Yang penting aku tak memecatnya kan sesuai kemauanmu. Lagipula, aku sudah punya asisten sendiri, namanya Davina. Aku lebih suka asisten perempuan, karena asisten laki-laki itu membosankan."


"Laki-laki atau perempuan, yang penting kerjanya bagus, do. Jangan samakan dengan mencari pasangan."


"Davina juga kerjanya bagus, kok"


"Ya, terserah kau saja, do"


"Ya, memang terserah aku, Tev. Kan aku pimpinannya sekarang"


"Hei, jangan memanggilku seperti itu, yang boleh memanggilku Tev hanya..."


"Hanya dua sahabatmu, begitu kan maksudmu?"


"Iya" Steven mulai meradang. Ia tahu Aldo sengaja memanggilnya Tev hanya untuk membuatnya kesal.


"Tak usah khawatir dan ikut campur lagi soal pekerjaan, Steve. Semuanya baik-baik saja. Oke?" Setelah itu Aldo menepuk pelan bahu Steven lalu pergi ke kamarnya.


Steven kembali ke kamarnya dengan kesal. Dari dulu Aldo memang selalu menyebalkan. Ini membuat Steven jadi ingin cepat sembuh.


**


Steven sebenarnya mulai bosan di rumah, karena ia hampir tak melakukan apa pun. Jauh sekali dengan kehidupannya yang dulu yang selalu dinamis. Dimas dan Arya sesekali masih suka datang untuk mengunjunginya. Begitu juga Elena. Steven merindukan Elena hari ini, tapi ketika ia akan menelpon Elena, salah seorang ART di rumahnya memberitahu kalau ia kedatangan seorang tamu wanita.


Steven yang mengira kalau tamunya adalah Elena, langsung menuju ruang tamu. Tapi ketika ia tiba di ruang tamu ternyata tamunya adalah Celine.


"Celine, ada apa kesini? Bagaimana kau bisa tahu alamat rumahku?" Tanya Steven tanpa basa-basi.


"Aku melihat dari data para pegawai, pak"


Steven mengerutkan kening. 'Seharusnya data pegawai tidak boleh sembarangan bocor. Tapi bagaimana Celine bisa melihat datanya? Apakah ia bekerja sama dengan pegawai lain?' pikir Steven.


"Ehem... Kalau begitu silakan duduk, Celine"


"Maaf kalau saya lancang ke sini, karena saya baru tahu kalau Pak Steven sudah mengundurkan diri dari perusahaan"

__ADS_1


"Iya, saya sakit. Karena proses pengobatannya menyita waktu, jadi saya terpaksa harus mengundurkan diri dan di ganti oleh saudara tiri saya yang bernama Aldo"


"Iya, saya tahu. Pak Aldo yang dulu jabatannya sebagai General Manager kan pak sebelum pindah ke Surabaya?"


"Iya, betul. Karena saya sudah mengundurkan diri dari perusahaan, kamu bisa panggil saya dengan sebutan Koko"


"Seperti Elena memanggil koko?"


"Iya, seperti Elena"


"Saya sebenarnya kecewa Elena tidak memberitahu saya tentang penyakit bapak, eh koko"


"Jangan salahkan Elena, memang saya yang minta agar hanya beberapa orang saja yang tahu"


"Koko maaf kalau saya lancang. Izinkan saya untuk merawat koko selama koko sakit. Saya bahkan rela keluar dari pekerjaan demi merawat koko"


Steven terperanjat mendengar ucapan Celine. Berarti benar yang di katakan oleh Elena kalau Celine menyukai dirinya.


"Eh... Maaf Celine, saya tak bisa. Apalagi kalau kamu sampai mengorbankan pekerjaan kamu demi saya"


"Kenapa?"


"Tidak apa-apa. Keluarga saya masih bisa merawat saya. Lagipula saya tak mau menyusahkan siapa-siapa, sebisa mungkin saya bisa mengurus diri sendiri"


"Begitu ya, ko... "


"Maaf, ini sudah mulai malam. Sebaiknya kamu segera pulang. Nanti orang tuamu khawatir. Saya akan minta pak Sofyan untuk mengantarmu pulang ke rumah"


"Nanti kapan-kapan kita ngobrol lagi ya, Celine. Saya ingin istirahat dulu"


Tak lama kemudian pak Sofyan datang dan mengantarkan Celine pulang ke rumahnya.


**


Pembicaraan dengan Aldo dan kedatangan Celine cukup membuat Steven menjadi pusing. Steven tak suka bila asisten kepercayaannya selama bertahun-tahun turun jabatan, begitu pula dengan kedatangan Celine yang menurutnya nekat.


Steven tidak suka dengan perempuan agresif. Dulu pernah ada perempuan yang terobsesi dengannya sampai mengikuti kemanapun ia pergi. Hal itu membuat ia menjadi trauma. Apalagi Celine sampai bisa mengakses data karyawan, menurutnya itu berbahaya, ia takut data-data tersebut nantinya akan di salahgunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.


Dua hari kemudian, Sylvia menghubunginya. Ia meminta Steven kembali menjalani beberapa tes untuk memeriksa apakah sel-sel kanker di tubuh Steven sudah bersih atau muncul sel-sel baru. Steven pun mengikuti permintaan Sylvia.


Satu minggu kemudian, Sylvia meminta Steven untuk datang ke rumah sakit untuk membacakan hasil tes yang sudah di jalani oleh Steven. Kali ini Steven datang sendiri. Perasaannya mulai tak enak, tapi ia tak menggubrisnya karena ia tetap ingin berpikir positif.


"Steve, aku sudah membicarakan ini dengan dokter spesialis onkologi dan Pulmonolog untuk spesialis ahli paru. Dengan berat hati, aku harus mengatakan kepadamu kalau sel kanker masih ada di tubuhmu dan telah naik menjadi stadium 3."


"Apa? Kau yakin, Syl?"


"Iya, aku yakin Steve"

__ADS_1


"Tapi bukankah kau bilang sel-sel kankernya sudah bersih waktu aku di kemo?"


"Iya, Steve. Entah mengapa, sel-sel tersebut muncul kembali. Apakah kau masih suka batuk, Steve?"


"Iya masih, Syl"


"Kau sedang banyak pikiran akhir-akhir ini?"


"Apakah itu berpengaruh?"


"Iya, Steve"


"Sepertinya iya"


"Aku pikir kau banyak beristirahat di rumah dan menenangkan pikiranmu"


"Iya memang, tapi tak mungkin bisa menenangkan pikiran jika masih serumah dengan Aldo"


"Hemmm... Aku mengerti maksudmu. Setelah mendapatkan yang ia inginkan, seharusnya ia berhenti jadi orang menyebalkan"


"Tidak bisa Syl, sepertinya itu sudah bawaan dari lahir" Mereka berdua pun tersenyum kecut membayangkan Aldo yang tak pernah lelah mengganggu Steven.


"Mungkin ia akan berhenti menggangguku jika aku sudah tiada lagi"


"Steve, jangan berkata seperti itu"


"Apakah kita akan mulai dari awal lagi, Syl?"


"Tidak, Steve. Setelah ini kamu harus di kemo lagi. Mudah-mudahan kali ini sel-sel tersebut tidak muncul lagi setelah di kemo"


"Apakah aku masih punya harapan untuk hidup?"


"Iya, kau masih punya harapan untuk hidup."


"Berapa lama lagi aku hidup? "


"Tidak bisa di pastikan. Yang bisa di prediksi itu di stadium 4, Steve. Antara 6 bulan sampai 1 tahun"


"Syl, aku memikirkan berbagai metode pengobatan di negara lain yang sudah berhasil"


"Aku rasa itu terlalu beresiko, Steve. Apalagi jika lokasi negara itu jauh seperti di Eropa atau di Amerika"


"Jika itu membuatku sembuh total, aku rasa aku mau melakukannya"


"Tegarlah, Steve. Aku akan selalu membantumu sampai kau benar-benar sembuh"


"Thanks, Syl. Aku memang membutuhkan banyak bantuanmu nanti"

__ADS_1


"Baik, Steve. Aku siap untuk membantumu"


Setelah itu Steven pamit pulang dan membawa hasil tes untuk ia bicarakan dengan papinya nanti.


__ADS_2