Trio Tangguh Dan Elena

Trio Tangguh Dan Elena
Bab 63 Reva Riviera


__ADS_3

Setelah 3 hari, akhirnya Arya di nyatakan sembuh oleh dokter dan di perbolehkan untuk pulang. Keesokan harinya Arya sudah mulai bekerja kembali walau datang agak siang dan di antar oleh Pak Jaka karena Arya sementara ini tidak di perbolehkan untuk membawa kendaraan sendiri oleh ibunya.


Ketika ia muncul di kantor, para karyawan menyambutnya dengan senang, termasuk Elena yang merasa lega melihat Arya sudah sembuh dan bisa beraktivitas kembali.


Kemudian Arya masuk ke ruangan Dimas. Ternyata Dimas sedang melakukan panggilan video call dengan seseorang.


"Hei, ya'! Wellcome back!"


"Thanks, Dims"


"Sini, mendekat. Aku pengen kenalin kamu sama seseorang"


Ketika melihat wajah si penelpon, Arya langsung mengenalinya.


"Reva?"


"Arya! Udah lama banget ya ga ketemu. Gimana kabarnya?"


"Baik... Mmm.... Sebenarnya baru aja sembuh sih setelah di rawat beberapa hari di rumah sakit"


"Uh... Kasihan... Pantesan keliatan agak pucat"


"Iya sih, tapi besok juga ga pucat lagi. Jadi, gimana kabar kamu? Kalian bisa saling ketemu dimana?" Tanya Arya penasaran karena selama di rawat di rumah sakit Dimas memang belum cerita soal Reva.


"Aku baik. Dimas sama aku ketemu beberapa hari lalu waktu dia ke Sydney"


"Jadi kamu tinggal di Sydney sekarang?'


" Iya, udah lima tahun di sini"


"Kerja apa di sana?"


"Jadi model untuk fashion show, kadang juga untuk iklan dan pemotretan majalah sih"


"Bagus dong, akhirnya cita-cita kamu tercapai juga"


"Ah, kamu masih ingat aja ya', aku jadi malu"


"Inget dong kan kamu emang pernah bilang"


Setelah itu Dimas menyela pembicaraan mereka. Tak lama kemudian ia mengakhiri video call-nya dengan Reva. Lalu Dimas menatap Arya dengan ekspresi seram.


"Kamu kok kayaknya kenal banget sama Reva, ya'. Oh iya for your information, sekarang dia udah ga mau di panggil Reva lagi, tapi Viera"


"Kenapa emangnya? Kok bisa berubah gitu nama panggilannya?"

__ADS_1


"Dia bilang nama Reva terdengar kekanakan"


"Oh gitu. Ya, terserah dia aja sih. Mungkin nama Viera lebih gampang di sebut kalau di Sydney" Ujar Arya sambil mengangkat bahu.


"Kamu belum jawab pertanyaan aku tadi"


"Yang mana?"


"Kenapa kamu keliatannya kenal banget sama Reva?"


"Viera maksud kamu?"


"Arya! Jawab aja pertanyaan aku!"


"Aku kan pernah bilang ke kamu Dims, waktu malam aku sama dia aku ga ngapa-ngapain, tapi kita saling ngobrol banyak kayak teman aja. Nah, waktu itu dia pernah bilang kalau dia cita-citanya mau jadi model, makanya tadi aku bahas"


"Itu aja?"


"Iya, itu aja. Emang seharusnya ada lagi?"


"Ya udah kalau ga ada lagi. Tapi kok kamu bisa langsung kenali dia sih? Aku aja butuh dua hari baru tau kalau dia itu Reva."


"Kayaknya mukanya ga banyak berubah cuma lebih dewasa aja makanya aku langsung ngenalin. Sama tahi lalat yang ada di dagunya yang buat aku ngenalin dia. Itu kan emang cirinya dia kan?"


"Aku ga perhatiin sedetail itu"


"Iya udah, akhirnya aku jadi satu-satunya yang udah unboxing dia" Ujar Dimas sambil tersenyum bangga. Arya malah memandang Dimas dengan ekspresi aneh.


"Unboxing! Emangnya dia barang apa?"


"Ya terserah aku dong mau sebut apa!"


"Kamu serius sama Viera, Dims?"


"Belum tau, aku jalanin aja dulu. Karena LDR gini aku belum tau bisa tahan apa ngga "


"Ya udah jalanin aja, siapa tau nanti kamu ada niatan untuk berubah"


"Iya ya' do'ain aja. Tapi kamu jangan terlalu akrab ya sama dia. Kalau mau deketin perempuan, cari yang lain aja. She's mine"


"Kayaknya mode posesifnya mulai keluar nih. Jangan khawatir, aku ga akan terlalu dekat kok sama dia. Kamu kan tau aku gimana"


"Iya, aku percaya sama kamu"


**

__ADS_1


Dimas yang sebelumnya berkata kalau ia percaya dengan Arya, keesokan harinya malah sebaliknya. Tidak seperti biasanya, Dimas datang lebih siang dari Arya dengan muka marah. Ketika datang ia langsung menanyakan keberadaan Arya yang sudah ada di ruangan Dimas sedari tadi.


Kemudian Dimas langsung masuk ke ruangannya dan tiba-tiba langsung meninju Arya. Arya yang kaget dan tidak siap langsung jatuh ke lantai, tapi sebelumnya ia tak sengaja menyenggol vas bunga jadi bunyinya yang keras ketika menyentuh lantai membuat Elena, Cindy, dan Redi mengetahui kalau di ruangan Dimas telah terjadi sesuatu.


Ketika mereka mencoba untuk melerai, Arya dan Dimas malah keluar dari ruangan. Mereka akan melanjutkan perkelahian mereka di tempat yang sama waktu Dimas dan Steven terlibat perkelahian ketika Diva datang dan sempat mengacaukan hidup Dimas. Sekarang hal yang hampir sama terjadi lagi pada Dimas.


Ketika tiba di lapangan, Arya kali ini bukan hanya menangkis tapi juga menangkap tangan Dimas, karena ia ingin bicara sekaligus ingin tahu kenapa tiba-tiba Dimas memukulnya.


"Jangan di tangkis, ya'! Ayo lawan aku, jangan jadi pengecut!"


"Kamu kenapa sih pagi-pagi udah kayak begini?"


"Ini semua gara-gara kamu tau ga?!"


"Kok gara-gara aku sih? Coba jelasin dulu jangan langsung emosi!"


"Fine!"


Setelah itu Dimas duduk di lapangan yang berumput itu. Arya kemudian mengikutinya.


"Kamu bilang dulu kamu ga ngapa-ngapain kan sama Reva, cuma ngobrol aja?"


"Iya, terus kenapa?"


"Semalam waktu aku telepon dia, dia bilang sama aku kalau kamu sempat cium dia. Kenapa kamu ga bilang ke aku sih?"


"Iya, kami memang sempat berciuman karena dia yang minta. Dan aku waktu itu ga bilang ke kalian karena menurut aku itu ga terlalu penting"


"Tapi bagi aku sekarang dia itu penting, ya'!" Ujar Dimas emosi sambil menarik kerah kemeja Arya.


"Tunggu! Dengerin dulu! Bagiku ga penting karena dari dulu sampai sekarang aku ga pernah punya perasaan apa-apa ke dia. Jadi kamu ga perlu cemburu sama aku"


"Kamu tau ga dia bilang apa ke aku semalam? Dia bilang Arya is a good kisser! Itu melukai ego dan harga diriku tau!"


Mendengar ucapan Dimas yang polos tetapi menyebalkan itu malah membuat Arya tertawa terbahak-bahak.


"Kamu kenapa sih malah ketawain aku? Udah bosen hidup apa!"


"Abis kamu polos banget sih! Dimas yang aku tau memang paling ga suka di saingi. Kamu pasti kesal waktu Reva, eh ralat, Viera bilang ke kamu kalau aku itu good kisser. Iya kan?"


"Ya iyalah! Seharusnya kan aku yang lebih berpengalaman dari kamu!"


"Iya, aku tau kok. Sekarang ga usah ngambek lagi ah, gimana sih mas CEO ngambek mulu! Baikan sana sama Viera! Weekend nanti ajakin candle light dinner atau apa gitu biar kalian ga saling ngambek lagi. Tapi aku yakin sih yang ngambek itu kamu, dianya malah biasa aja. Iya kan?"


"Sok tahu!"

__ADS_1


Arya kembali menertawakan Dimas. Tapi setidaknya kali ini Dimas berhenti memukuli Arya. Setelah itu mereka kembali ke kantor untuk mulai bekerja sambil berangkulan di pundak.


*buat yang penasaran sama kisah Viera di masa lalu, bisa cek bab 2 ya 🤗*


__ADS_2