
Steven merasa cemas. Sudah beberapa hari ini ia batuk-batuk terus. Ia hanya ingin sehat agar ia bisa hadir di ulang tahun Dimas, sahabatnya, di hari Minggu nanti.
Keesokan harinya, ia izin tidak masuk kantor agar ia bisa memeriksakan kesehatannya. Ketika sedang di perjalanan menuju ke dokter, Arya menghubunginya.
"Tev, kata asisten kamu, kamu hari ini ga masuk kerja karena lagi sakit ya?"
"Iya ya'. Ini aku lagi jalan mau ke dokter. Kamu mau ngomongin proposal kemarin ya?"
"Iya, tapi nanti aja deh. Kamu emang sakit apa, Tev?"
"Biasa sih, lagi batuk-batuk terus mungkin karena pancaroba jadi pengaruh ke daya tahan tubuh juga"
"Hati-hati, Tev. Itu bisa jadi warning juga buat kamu supaya berhenti ngerokok."
"Iya, ini aku juga lagi coba ngurangin merokok"
"Ngurangin rokok sendiri apa rokok teman? Wkwkwk... " Ujar Arya sambil bercanda
"Bisa aja kamu. Ya udah aku ke dokter dulu ya. Do'ain mudah-mudahan pas hari H Dimas ulang tahun aku udah sembuh"
"Aaamiin... Iya pasti aku do'ain kamu, Tev. Hati-hati di jalan. Di anterin sama Pak Sofyan kan?"
"Iya, aku di anterin sama Pak Sofyan"
"Oke, aku tutup telepon dulu ya, banyakin istirahat, Tev. Bye"
"Iya ya'. Bye... "
Setelah mengakhiri percakapan di telepon, Steven memejamkan matanya sampai tiba di dokter.
**
Liliana Chandrawati Loekito atau biasa di sapa Lili, adik dari Dimas, memasuki ruangan tamu sekaligus ruang staf sebelum masuk ke ruangan Dimas. Lalu ia menyapa Cindy, Redi, terakhir ia menyapa Elena.
"Siapa nama kamu? Aku lupa deh"
"Elena, mba"
"Oh iya, Elena. Kakakku ada di dalam?"
"Iya, ada mba lagi sama Pak Ksatria. Sebentar saya beritahu dulu ke Pak Dimas"
"Ga usah. Saya langsung masuk aja"
Lili langsung masuk tanpa meminta persetujuan lagi dari Elena yang hanya bisa geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Dia memang dari dulu agak angkuh, Len. Beda sama Pak Prakash dan Pak Dimas yang ramah dan perhatian sama karyawan."
"Oh gitu ya, mba? Aku juga ga tau kenapa kayaknya dari awal ketemu dia udah ga suka sama aku"
"Dia mungkin cemburu sama kamu, Len. Karena dia termasuk posesif. Bagi dia, Pak Ksatria sama Pak Steven itu milik dia, yang lain ga boleh deketin mereka. Kayaknya dari awal dia liat kamu dekat sama Pak Ksatria dan Pak Steven, jadinya dia kurang ramah sama kamu"
"Aneh juga ya, mba. Padahal aku kan ga ada hubungan apa-apa sama Pak Ksatria dan Pak Steven. Kok dia bisa sampai cemburu gitu sama aku?"
"Sekarang mungkin ga ada apa-apa, Len. Ke depannya kan belum tau. Feeling mba sih mereka semua suka sama kamu, termasuk Pak Dimas." Mba Cindy sebenarnya bukan hanya sekedar menggoda Elena, tapi ia bisa melihat sendiri kalau sepertinya trio tangguh memang suka dengan Elena.
"Ah, mba bisa aja. Ya udah ah balik kerja lagi, ga usah di bahas yang tadi." Elena mencoba mengalihkan pembicaraan ke pekerjaan.
"Iya deh, iya... " Mba Cindy langsung paham sambil tersenyum menggoda Elena. Redi yang sedari tadi mendengar percakapan mereka hanya melirik sebentar lalu kembali melakukan pekerjaannya.
Dimas dan Arya sedang berdiskusi ketika melihat Lili memasuki ruangan Dimas.
"Kamu kebiasaan deh main nyelonong aja! Boro-boro ketuk pintu, main masuk aja. Pasti kamu juga deh yang ga izinin Elena bilang dulu ke aku."
"Tuh kan, belain aja dia terus, padahal yang adiknya tuh siapa sih? Aku atau dia?"
"Ya udah ah ga usah ribut. Kamu kesini mau ngapain?"
"To the point banget ya! Tanya kabar aku dulu kek, langsung tanya aja!"
"Ngapain nanya kabar? Kita kan serumah, aku ga nanya juga kamu bilang sendiri!"
Arya yang mendengarnya hanya tertawa cekikikan.
"Ngomong-ngomong, koh Steven kemana? Katanya mau kesini?"
"Dia lagi sakit, Lil. Tadi aku telepon dia lagi mau ke dokter" Ujar Arya menanggapi pertanyaan Lili.
"Hah? Koh Steven sakit apa? Duh, kalau dia ga datang ke ultah mas ga seru dong!"
"Katanya sih lagi batuk-batuk terus. Belum tau juga persisnya sakit apa." Jawab Arya.
"Nanti aku telpon koko deh. Siapa tau aku telepon jadi sembuh! Hehehehe... "
"Hih... Kepedean! Yang ada Tev malah tambah sakit dapet telepon dari kamu!" Ujar Dimas dengan sinis.
"Mas jahat ih! Kita lihat aja nanti yang bener aku atau mas!" Ujar Lili dengan sewot.
Arya hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan dua bersaudara itu.
"Oh iya, walaupun cuma kayak garden party sederhana di rumah, aku tetap sebar undangan elektronik ya buat tamu undangan" Ujar Lili dengan antusias.
__ADS_1
"Iyaa... Terserah kamu aja enaknya gimana! Aku ikut aja" Ujar Dimas pasrah.
"Tapi aku ga mau undang dia ke acara mas hari mInggu besok"
"Dia siapa?" Tanya Dimas
"Itu si Elena, sekretaris mas yang sok kecakepan itu!"
Dimas dan Arya saling memandang heran.
"Sok kecakepan gimana, Lil? Elena kan emang cakep"
"Karena dandan aja kali jadi keliatan cakep! "
"Setau aku Elena kalau dandan ga pernah berlebihan deh, Lil. Kalau kamu baru tuh suka berlebihan kalau dandan, sesuai sama kepribadian kamu! Iya ga ya'?" Dimas meminta persetujuan Arya.
"Iya kali... Hehehe... " Tapi setelah itu Arya langsung diam melihat mata Lili yang melotot ke arahnya.
"Ya udah kalau kamu ga mau undang Elena sekalian aja ga usah rayain ulang tahun aku. Ga penting juga sih menurut aku. Mendingan aku kencan sama Leticia sekalian pedekate! Hehehe..." Ujar Dimas sambil terkekeh.
"Ga bisa gitu dong, mas. Aku udah capek-capek siapin kok mas ga hargain aku sih!" Ujar Lili sambil cemberut.
"Udah, kalian jangan berantem." Ujar Arya mencoba untuk menengahi lalu melanjutkan bicara.
"Lil, kalau Dimas ga undang Elena, berarti dia juga ga bisa undang mba Cindy sama Redi, karena mereka semua kan pegawai mas kamu. Jadi mas kamu harus adil sama mereka semua."
"Jadi aku terpaksa harus undang Elena nih?"
"Iya dong" Ujar Dimas dan Arya berbarengan.
"Tapi dia ga boleh di antar jemput sama kak Arya atau koh Steven ya! Kalian milik aku jadi ga ada yang boleh ambil kalian dari aku!"
"Ya ampun Lil, kamu kenapa sih kayak gitu banget? Bikin takut aja!" Ujar Dimas sambil memegang dahi Lili yang langsung di tepis oleh Lili.
"Ya udah kalau gitu aku mau pulang, mau cek persiapan buat acara lusa!"
"Ya udah sana, jangan lama-lama! Aku repot jadi ga bisa kerja kalau ada kamu!" Ujar Dimas yang memang sengaja membuat Lili kesal.
Lili yang akhirnya memang menjadi kesal keluar dari ruangan Dimas sambil menutup pintu dengan keras.
"Bisa-bisa aku jantungan kalau dia tiap hari kesini, ya"
"Ada-ada aja kamu, Dims!"
Dimas dan Arya kemudian melanjutkan diskusi pekerjaan mereka yang tadi sempat terganggu oleh Lili.
__ADS_1