
Sudah beberapa hari ini Steven mendapat telepon dari Sylvia, tetapi Steven belum sempat menelpon balik, hingga hari ini.
"Halo Steve, akhirnya kau menelponku juga" Terdengar suara Sylvia di ujung telepon.
"Halo Syl, maaf aku baru sempat menelpon. Akhir-akhir ini aku memang sedang sibuk. Jadi, kamu ada perlu apa sama aku?"
"Aku ingin kamu melakukan general check up, hanya untuk memastikan sesuatu"
"Memastikan apa, Syl?"
"Memastikan kalau kamu benar-benar dalam keadaan baik"
"Aku baik kok"
"Steve, ayolah..."
"Iyaa... Nanti aku cari waktu agar aku bisa cek up secepatnya"
"Nah gitu dong. Aku tunggu ya, tapi jangan lama-lama loh"
"Siap, bu dokter"
Sylvia diam saja, tapi Steven tahu saat ini pasti Sylvia sedang memanyunkan bibirnya karena perkataan Steven barusan. Setelah itu mereka mengakhiri percakapan dan Steven kembali melanjutkan pekerjaannya.
**
Steven memandangi Emily yang pintu kamarnya sedang sedikit terbuka. Sudah beberapa hari ini Emily terlihat murung dan Steven tidak tahu kenapa, tapi Emily menolak untuk mengatakannya. Kepribadiannya yang introvert membuatnya sulit untuk membuka diri dengan orang lain.
Steven mengingat hari-hari ketika Emily pertama kali tiba di rumah ini bersama ibunya, Meilinda dan kakaknya, Aldo. Dari awal bertemu, Steven sudah tahu kalau Emily berbeda dengan Aldo. Waktu itu ia terlihat kurus dan pucat.
Sulit sekali untuk mendekati Emily. Kemudian Steven menyewa seorang detektif swasta untuk menyelidiki apa yang telah terjadi pada diri Emily. Butuh waktu cukup lama utuk mengetahui apa yang terjadi kepada Emily.
Ternyata hasil yang Steven terima dari detektif swasta hasilnya mengejutkan. Ketika ayah Emily meninggal, hidup mereka bertiga menjadi susah. Ibunya bekerja serabutan demi memenuhi hidup mereka. Namun itu masih belum cukup. Ibunya lalu meminjam uang dari rentenir. Hampir setiap hari mereka di desak untuk membayar hutang. Karena merasa terancam, akhirnya ibunya nekat menjual Emily untuk membayar hutang.
Ibunya meminta Emily untuk menemani seorang pria hidung belang yang berjanji akan melunaskan hutangnya jika Emily bersedia bermalam dengannya. Emily yang saat itu masih sekolah sangat merasa ketakutan, tapi ia tak punya pilihan lain.
__ADS_1
Emily yang pada dasarnya adalah seorang pemalu, sejak kejadian itu malah semakin menutup diri. Nilai-nilai di sekolahnya langsung anjlok dan dia sempat tidak naik kelas. Di tengah-tengah keputusasaannya, Emily pernah mencoba untuk melakukan bunuh diri, tapi tidak berhasil karena sudah keburu ketahuan oleh tetangganya yang kebetulan saat itu melihatnya dan langsung menyelamatkannya saat itu juga.
Ketika Steven mengetahui hal ini dari detektif swasta yang ia sewa, Steven menjadi marah besar. Ia lalu memberitahu papinya tentang ini, tapi yang membuat Steven heran adalah reaksi papinya yang biasa saja seolah-olah hal itu sudah biasa terjadi.
Papi Steven terkesan mendukung ibu tirinya dan menjelaskan kalau saat itu Meilinda terpaksa melakukannya karena terhimpit hutang dengan jumlah yang sangat besar.
Sejak itu hubungan Steven dengan ibu tirinya yang kurang baik menjadi bertambah tidak baik, bahkan menjadi lebih buruk. Meilinda sudah mencoba untuk mendekati Steven, tetapi masih tidak berhasil juga sampai akhirnya ia menyerah.
Sejak itu, Steven menyatakan kepada seluruh keluarganya kalau Emily berada di bawah perlindungannya dan tidak ada satu pun di rumah yang boleh menyakitinya.
Butuh waktu bertahun-tahun bagi Steven untuk mendekati Emily. Lama kelamaan Emily mulai mau membuka diri kepada Steven. Mereka menjadi lebih dekat sebagai kakak beradik sejak waktu itu sampai sekarang.
Sekarang Emily mulai menutup diri lagi dan itu membuat Steven merasa putus asa karena ia merasa seperti mulai dari nol lagi untuk mendekati Emily.
**
Hari minggu tiba, berarti waktunya bagi keluarga Steven untuk berangkat ke gereja. Emily ikut serta. Celine, yang tak lain adalah sahabat dari Elena, beribadah di tempat yang sama. Ketika itu Steven duduk di sebelah Celine, membuat dada Celine berdetak dua kali lebih hebat dari biasanya.
Duduk di sebelah Steven membuatnya gugup, sampai ia harus izin ke toilet untuk menenangkan diri. Tetapi ketika ke toilet, Celine melihat Emily, adik Steven sedang berbincang-bincang dengan seseorang. Jenis kelamin orang itu adalah pria. Celine belum pernah melihat orang itu sebelumnya.
Ketika Celine memutuskan untuk kembali ke Kursinya, Celine tidak sengaja bertubrukan dengan seseorang. Ternyata orang itu adalah Steven. Kemudian Celine memberitahu Steven kalau ia tadi melihat Emily sedang bercakap-cakap dengan seseorang. Namun ketika Steven ke tempat Emily dan pria itu bicara, mereka sudah tidak ada di sana.
Steven mencoba untuk mendekat tapi ia ingin mendengar dulu isi percakapan mereka sebelum memergoki mereka. Tapi setelah mendekat dan melihat siapa orang yang bersama Emily, Steven terkejut. Ternyata orang itu adalah Redi, asistennya Dimas.
Ternyata Redi dulunya adalah kakak kelas Emily. Dari yang awalnya sering bertemu di perpustakaan, lama kelamaan mereka menjadi semakin dekat dan menjadi sepasang kekasih. Tetapi hubungan mereka menjadi renggang setelah ibu Emily tega menjual Emily demi uang. Saat ini mereka terlihat sedang bertengkar di sudut belakang gereja.
"Ini sepertinya hari sial bagiku karena bisa bertemu denganmu di sini. Aku jarang ke gereja, tapi sekalinya datang malah ketemu sama kamu" Ujar Redi dengan sinis.
"Aku juga tidak berharap bertemu sama kamu di sini. Ya sudah kalau begitu aku pergi"
"Kamu masih sama seperti dahulu, Emily. Sok jual mahal tetapi ternyata murahan. Terlihat kalem ternyata agresif"
"Jaga mulutmu! Kau tak tahu apa-apa tentangku!"
"Kita bersama selama dua tahun dan tiba-tiba kau berubah hanya karena demi uang!"
__ADS_1
"Sudah berapa kali aku jelaskan padamu! Aku terpaksa! Kau pikir aku senang melakukan ini?"
"Mana aku tahu? Kau kan yang merasakannya... " Ujar Redi sambil mengangkat bahu.
"Brengsek!" Emily emosi dan hendak menampar Redi, tapi Redi dengan sigap menahan tangan Emily.
Lalu sebuah suara terdengar di belakang mereka.
"Sebaiknya kau berhati-hati dengan ucapanmu kalau kau mau pulang dengan selamat, Redi" Steven yang sedari tadi sudah kesal mendengar percakapan mereka akhirnya muncul di depan mereka.
"Pak... Pak Steven? Pak Steven kenal dengan Emily?" Ucap Redi yang kaget melihat Steven
"Dia adikku, Redi"
"Tapi bukankah kakak Emily hanya Aldo?"
"Aku juga kakaknya. Papiku menikah dengan maminya Emily 8 tahun yang lalu.
" Maaf, aku tidak tahu"
"Bukan aku yang seharusnya kau mintai maaf, tapi Emily"
"Tapi dia... "
"Emily sudah menjelaskan kepadamu kenapa kau tak percaya juga? Sudah terlalu lama dia menderita akibat perbuatan maminya sendiri yang tega menjual anaknya sendiri kepada lelaki hidung belang demi uang. Ia tak punya pilihan lain saat itu. Tapi hal itu berakibat panjang. Butuh bertahun-tahun terapi bagi Emily untuk bisa mengatasi rasa trauma yang ia derita, jangan kau tambahkan lagi atau aku terpaksa berbuat sesuatu padamu yang aku yakin kau takkan suka"
"Maaf... Bolehkah aku bicara berdua saja dengan Emily? Aku mohon. Hanya bicara, aku janji takkan menyakitinya."
"Boleh. Tapi aku akan tetap mengawasimu dari jauh. Jangan di sini. Ayo, ikut aku. Aku tau satu tempat yang aman dan bisa memberi kalian privasi"
"Bagaimana kalau aku yang tak mau bicara dengannya, koh? Aku sudah capek menjelaskan tapi dia tetap tak mau mengerti, jadi percuma saja kalau bicara lagi"
"Emily, aku janji kali ini akan berbeda. Tolong beri aku kesempatan" Ujar Redi.
"Entahlah... "
__ADS_1
"Semua terserah padamu, Em. Koko akan ikuti kemauanmu. Kalau kamu tak mau bicara dengan Redi, kita pulang sekarang juga. Tapi kalau kalau kau mau bicara dengan Redi, koko akan antar kamu ke cafe kak Sam" Ujar Steven memberikan Emily pilihan.
Setelah berfikir beberapa lama, akhirnya Emily bersedia untuk bicara dengan Redi. Lalu Steven mengajak Emily menuju cafe Sam dengan di ikuti oleh Redi di belakangnya.