
Steven memberitahu Arya mengenai rencananya. Ia yakin rencananya yang sudah tersusun matang akan berhasil. Di hari Sabtu malam minggu, mereka akan bertemu dengan Diva untuk berbicara. Steven memutuskan untuk memilih lokasi pertemuan di cafe milik Sam, saudara sepupu Steven.
Sebelumnya Steven meminta nomor ponsel Diva kepada Dimas dengan alasan dia ingin meminta maaf kepada Diva karena sudah menuduhnya memanfaatkan Dimas tanpa alasan yang jelas. Anehnya, Dimas langsung setuju dan langsung memberikan nomor Diva kepada Steven tanpa merasa curiga sedikit pun.
"Dimas yang kita kenal kalau ga lagi galau atau tertekan kayak gini pasti akan curiga, Tev. Sepertinya dia benar-benar lagi bingung saat ini" Ujar Arya.
"Nah itu dia, ya', makanya aku manfaatin momen ini untuk minta nomor ponsel Diva."
Arya lalu menghela nafas pelan.
"Seharusnya kamu minta maaf ke Dimas dulu sebelum minta maaf ke Diva atas perbuatan kamu yang membuat kalian saling adu jotos kemarin."
"Iya juga sih, tapi itu nanti deh. Sekarang urusannya sama Diva dulu"
"Dasar kepala batu" Sungut Arya yang kesal karena Steven susah di nasehati.
"Ya udah kamu ikutin aja ya' nanti juga ngerti"
"Terserah!" Arya ngambek dan meninggalkan Steven sendirian.
**
Hari Sabtu malam akhirnya tiba. Steven dan Arya sedang menunggu kedatangan Diva di ruang VIP agar mereka lebih leluasa untuk melancarkan aksi mereka. Sebelumnya Steven sudah menghubungi Diva dan Diva setuju untuk menemui Steven dan Arya.
Steven juga memberi tahu kepada staff untuk memberi obat bius di minuman Diva, yang tentu saja di tentang oleh Arya karena kondisi Diva yang sedang hamil. Tapi Steven bersikeras kalau obat itu aman dan hanya bersifat sementara. Mereka nantinya hanya akan punya waktu maksimal 10 menit untuk mengambil sampel Diva.
Diva akhirnya muncul dengan dandanan mewah dan super cantiknya. Ia juga tahu kalau Steven dan Arya adalah anak konglomerat. Ia akan menerima jika mereka juga ingin menggodanya karena kecantikan dirinya.
Steven menyambut kedatangan Diva dan Diva dengan penuh percaya diri menolak untuk berjabat tangan dengan Steven alih-alih ia malah mencium pipi Steven, juga Arya. Muka mereka jadi merah karena malu, terutama Steven yang merasa kurang pandai dalam menangani wanita.
"Terima kasih sudah datang Diva. Saya dan Arya sebagai sahabat Dimas hanya ingin menyambut kamu dengan baik sebagai salah satu bagian dari keluarga kami,"
__ADS_1
'Ah, kamu baik sekali, Steve. Aku jadi merasa terharu"
"Tidak apa-apa, memang seharusnya begitu, kan? Sekarang kita langsung pesan makanan yuk. Mulai dari minuman dulu, kamu mau pesan apa?"
Kemudian Diva menyebutkan pesanannya kepada pelayan yang datang. Semua minuman nantinya di beri obat bius, untuk itu Steven berpesan kepada Arya untuk pura-pura minum dengan menempelkan bibir saja tapi jangan di minum agar mereka bisa meyakinkan Diva kalau minuman itu aman.
Setelah minuman yang di pesan datang, Diva meminum minumannya. Perlahan obat mulai bereaksi. Diva terlihat pusing dan lemas. Tak lama kemudian, ia pingsan. Steven dan Arya membopong Diva ke kursi panjang yang berada di ruangan VIP tersebut.
Arya menyangga kepala Diva dengan bantal kecil. Lalu Steven mulai mengambil sampel Diva untuk tes DNA nanti. Setelah selesai, Steven malah mencoba mengangkat blus Diva. Arya kaget melihat kelakuan Steven.
"Tev, kamu ngapain?"
"Mencoba membuktikan sesuatu"
"Jangan macam-macam, Tev! Sedikit lagi obat biusnya akan selesai bekerja, nanti kita bisa ketauan!" Arya panik melihat aksi gila Steven.
"Sebentar aja, ya'."
"Apa ini ya'?" Tanya Steven yang memang kurang paham soal pakaian perempuan.
"Kayak semacam kemben yang suka di pakai perempuan kalau pakai kebaya. Ini biasanya buat mengecilkan perut"
Steven mengangkat alisnya karena heran.
"Kalau dia beneran hamil kenapa dia pakai ini, coba? Bukannya ini akan membahayakan bayinya? Seharusnya dia pakai baju yang longgar kan? Kemarin aja waktu pertama ketemu Dimas dia pakai celana ketat banget" Steven mencoba menganalisa dari cara berpakaian Diva yang menurutnya tidak wajar.
"Apa iya dia ga ngerti soal itu Tev, karena baru pertama kali hamil?"
"Aku rasa ga usah di kasih tau seharusnya dia ngerti soal ini. Iya ga sih?"
"Iya juga. Ya udah sekarang kamu cepetan beresin sampel ke dalam tas, jangan sampai ketahuan. Karena menurut perhitungan aku sebentar lagi seharusnya dia siuman." Ujar Arya yang mulai panik.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Diva mulai bergerak. Ia membuka matanya namun setelah itu ia memegang kepalanya karena merasa pusing.
"Apa yang telah terjadi? Kenapa aku berbaring seperti ini?'
" Kita juga ga ngerti, Diva. Tadi tiba-tiba kamu pingsan, jadi kita pindahkan kamu kesini sambil coba bangunin kamu" Jelas Arya
"Aneh. Kenapa aku bisa pingsan ya? Aku ga pernah pingsan sebelumnya. Apa karena aku lagi hamil ya?"
"Bisa jadi. Ini, kamu minum dulu deh" Kali ini Steven menyodorkan segelas air putih kepada Diva.
"Terima kasih. Selama aku pingsan, tidak terjadi apa-apa kan? Kalian ga ngapa-ngapain aku kan?" Ujar Diva sambil tersenyum menggoda.
"Ga dong. Kita ga seperti yang kamu duga karena Arya dan aku memiliki hubungan yang... Spesial... Jadi kamu aman karena kami tidak memiliki ketertarikan dengan lawan jenis" Ujar Steven. Arya spontan langsung melotot ke arah Steven. Sepertinya setelah ini ia akan buat perhitungan dengan Steven.
"Benarkah? Wah... Sayang sekali ya... Pantesan kalian suka dingin sama perempuan, terutama kamu, Steve"
"Ya... Begitulah kira-kira..." Ujar Steven sambil tersenyum aneh.
Makanan yang mereka pesan sudah terhidang di meja. Steven dan Arya meminta Diva untuk makan. Setelah mengobrol ringan sehabis makan, Steven dan Arya menawarkan untuk mengantar Diva pulang, tapi Diva menolak karena ia bilang kalau ia membawa mobil sendiri. Mereka sempat bertanya apakah aman bagi wanita hamil membawa kendaraan sendiri, dan Diva dengan percaya diri menjawab kalau itu aman asal tidak mengebut. Setelah itu ia pamit pulang.
Setelah memastikan Diva sudah pulang, Arya langsung mencengkram baju Steven dan mendorongnya ke dinding.
"Sorry... Sorry... Aku minta maaf ya'... Aku terpaksa beralasan seperti itu agar Diva tidak curiga" Jelas Steven kepada Arya.
"Akting kamu berlebihan, Tev! Kali ini aku maafin, tapi kalau begini lagi aku hajar habis-habisan kau!"
"Tenang... Jangan emosi ya', yang penting sekarang tujuan kita tercapai. Kita tinggal bawa sampel ini untuk di tes. Kita tinggal tunggu hasilnya nanti"
*Ya udah. Mudah-mudahan kecurigaan kamu benar-benar bisa terbukti, Tev. Kasihan juga Dimas kalau sampai Diva ternyata memang membohongi Dimas."
"Iya betul itu, ya"
__ADS_1
Setelah itu Steven dan Arya masih membicarakan rencana mereka selanjutnya, lalu mereka pulang ke rumah masing-masing.