
Hari ini Steven berulang tahun. Seperti halnya dengan ulang tahun Arya yang baru akan berlangsung bulan depan biasanya tidak ada perayaan yang berarti. Trio Tangguh biasanya hanya berkumpul bersama di suatu tempat.
Keluarga Steven pun biasanya berkumpul bersama di saat makan malam di rumah dengan menyajikan makanan favorit Steven dan berdoa bersama. Steven biasanya pulang kerja lebih cepat apabila ulang tahunnya jatuh pada hari kerja. Tapi tahun ini berbeda. Papi Steven sudah menunggu sejak sore, tapi Steven belum pulang juga. Emily juga jadi khawatir, padahal ia sudah menyiapkan kado istimewa untuk Steven.
Dimas sudah beberapa hari yang lalu memesan kue kesukaan Steven untuk hari ulang tahunnya. Rencananya sepulang kerja nanti ia dan Arya akan ke rumah keluarga Steven untuk merayakan ulang tahun Steven secara sederhana, seperti tahun-tahun sebelumnya.
Di antara Trio Tangguh memang hanya Dimas yang ulang tahunnya di rayakan secara besar-besaran, itu juga bukan atas kemauan Dimas, tapi atas kemauan keluarganya. Terutama Lili, adiknya yang memang suka keramaian dan jadi pusat perhatian.
Dimas dan Arya pulang tepat waktu pada pukul lima sore. Dimas juga meminta kepada para karyawannya jika tidak terlalu penting lebih baik hari ini tidak ada yang lembur dan pulang tepat waktu. Dimas dan Arya sebenarnya ingin mengajak Elena untuk ikut ke rumah Steven, tapi anehnya sebelum jam 5 Elena sudah pulang lebih dulu tanpa pamit.
**
Setelah berjibaku dengan kemacetan kota, akhirnya Dimas dan Arya tiba juga di rumah Steven. Tetapi ketika tiba, tidak biasanya mereka di sambut oleh Emily yang biasanya lebih betah di dalam kamarnya dan jarang berinteraksi dengan siapapun kecuali Steven.
"Mas Dimas dan A' Arya kok tidak bareng koko kesini?" Tanya Emily. Dimas dan Arya saling berpandangan dengan heran.
"Loh, bukannya biasanya Tev sudah pulang dari sore, Em?" Tanya Dimas bingung. Lalu Emily menggelengkan kepalanya.
"Ngga, mas. Dari tadi koko belum pulang. Di telepon juga tidak aktif dari tadi"
"Duh, gimana nih, Dims. Takutnya ada apa-apa di jalan sama Tev."
"Iya, aku juga khawatir. Oh iya, Em. Tadi pagi Tev di antar pak Sofyan atau bawa mobil sendiri?" Tanya Dimas.
"Tadi koko di antar sama Pak Sofyan, tapi pak Sofyan juga ga bisa di hubungi, HP-nya juga tidak aktif"
"Ada apa ini sebenarnya, Dims?"
"Aku juga ga tau, ya"
"Aku rasa kalau kalian mencurigai kak Aldo, itu tak mungkin. Karena kak Aldo ada disini" Emily seolah tahu apa yang di pikirkan oleh Dimas dan Arya sebelum mereka sempat mengutarakannya. Tapi setelah itu mereka tetap masuk ke rumah keluarga Steven untuk menginterogasi Aldo.
**
Sekitar 30 menit sebelum jam pulang kerja, Elena mendapat telepon dari seseorang yang meminta Elena untuk bertemu di lobby kantor. Elena pikir karena banyak orang lalu lalang, ada bagian resepsionis dan juga beberapa orang security, jadi ia merasa aman untuk bertemu dengan seseorang, walaupun Elena tidak mengenal orang tersebut.
Setelah tiba di lobby, ada seorang lelaki berumur sekitar 40-an menghampiri Elena. Ia terlihat baik dan ramah.
"Nona Elena?"
__ADS_1
"Iya, saya Elena"
"Saya Sofyan, supir pribadi tuan Steven"
"Oh iya, pak. Pak Steven-nya tidak ikut kesini?"
"Tidak, non. Tapi ia meminta saya untuk menelpon tuan setelah saya bertemu nona"
Elena sebenarnya tidak mengerti, tetapi ia tetap menuruti ucapan pak Sofyan. Kemudian pak Sofyan segera menghubungi Steven dan menyerahkan ponselnya ke Elena.
"Halo Elena"
"Iya koh. Ini koko Steve kan?"
"Iya, ini aku. Jangan takut. Maaf mendadak, tapi aku ingin bertemu denganmu di suatu tempat, tapi sebelumnya Pak Sofyan akan antar kamu dulu untuk di dandani. Tenang saja, semua sudah aku urus. Sampai ketemu di rooftop. Bye, Elen... "
"Rooftop? Koko, tunggu... " Tapi belum juga Elena menyelesaikan ucapannya, telepon sudah terputus.
"Sudah, nona? Lebih baik kita berangkat sekarang sebelum macetnya bertambah parah"
"Baik, pak"
**
Dimas dan Arya baru saja selesai menginterogasi Aldo.
"Gimana? Kalian masih curiga juga sama aku? Kalian harusnya ingat tiap Steven ulang tahun aku selalu melakukan gencatan senjata sama Steven"
"Gencatan senjata? Emang kamu kira lagi perang?" Dimas mulai gemas dengan Aldo. Rasanya tangannya sudah gatal ingin sekali saja bisa meninju Aldo supaya ia tak bisa tebar pesona lagi kepada para perempuan. Seolah dapat membaca pikiran Dimas, Arya membisikkan sesuatu kepada Dimas.
"Sabar, Dims. Nanti ada waktunya kamu bisa buat dia babak belur"
"Iya, ya' aku tunggu hari itu tiba" Ujar Dimas.
Setelah itu mereka mencoba memikirkan dimana kira-kira Steven akan pergi di hari ulang tahunnya ini.
"Apa Tev lagi ingin menyendiri ya Dims di suatu tempat?"
"Bisa jadi sih, tapi dimana?"
__ADS_1
Kemudian Arya teringat sesuatu.
"Oh iya! Elena!"
"Maksud kamu apa sih kok bawa-bawa Elena?"
"Sebentar, aku coba hubungi ponsel Elena dulu, kalau tidak aktif kemungkinan dugaanku benar"
Kemudian Arya menelepon Elena dengan loud speaker agar Dimas juga bisa dengar. Ternyata HP Elena tidak aktif seperti dugaan Arya.
"Gini, Dims. Kemarin waktu aku berkelahi dengan Tev, aku kan ga sengaja tinju hidung Tev sampai patah. Nah waktu itu dia marah karena hidungnya patah jadi ga bisa kencan sama Elena. Gitu katanya, Dims"
"Ooh... Berarti kemungkinan Tev lagi kencan ya sama Elena?"
"Kayaknya gitu, Dims"
"Oh iya... CCTV kantor! Sebentar deh... "
Lalu Dimas kembali ke mobilnya untuk mengambil laptopnya yang terhubung dengan CCTV kantor. Dimas kemudian mengecek CCTV di depan ruangan Dimas sekitar jam 4 sore. Sekitar 30 menit kemudian Dimas dan Arya melihat Elena keluar kantor.
"Kira-kira Elena abis itu kemana ya, Dims?"
"Oh iya, lobby! Pasti lewat situ dulu kan?"
"Iya, bener juga. Coba dicek, Dims!"
Setelah itu mereka melihat Elena yang bertemu dengan pak Sofyan. Dari sana sudah jelas kalau Elena saat ini sedang bersama dengan Steven.
"Berarti udah jelas ya, Dims. Trus kita harus bilang apa ya ke papi? Karena kita tau Tev lagi sama Elena tapi kita ga tau persis dimana lokasinya"
"Iya juga sih. Kalau kita bilang mereka ada di cafe Sam, papi percaya ga?"
"Kayaknya sih ngga. Yang pasti Steven akan pilih tempat private yang kita ga kepikiran ada dimana"
"Ga mungkin di luar kota apalagi luar negeri kan? Karena Elena kan takut naik pesawat terbang"
"Iya juga. Kalau gitu kita bilang apa adanya aja ke papi"
"Oke deh"
__ADS_1
Setelah Dimas dan Arya memberitahu tentang Steven, mereka pamit pulang. Tak lupa sebelumnya Dimas menitipkan kue pesanan kesukaan Steven kepada keluarganya.