
Di hari Senin pagi, Steven melakukan Video call kepada Dimas dan Arya. Ia mengusulkan untuk berkumpul di kantor Dimas untuk membicarakan masalah kemarin tentang Aldo yang masih di kurung di rumah.
Setelah Dimas dan Arya setuju, Steven langsung bergegas berangkat ke kantor Dimas. Seperti biasa, jalanan di hari Senin pagi ramai dan macet dimana-mana. Arya sempat mengirimkan pesan chat kalau ia akan sedikit terlambat karena ia akan mengantarkan ibunya dulu ke butik karena supir keluarga sedang berhalangan.
Steven tiba di kantor Dimas yang sudah lebih dulu tiba dari Steven. Ketika akan masuk ruangan Dimas, ia terkejut melihat gadis yang dua hari lalu berdebat dengannya sedang duduk di kursi yang biasanya di tempati Bu Astri.
Dari dalam ruangannya Dimas melihat Steven datang dan ia keluar untuk menyambut Steven sekaligus menjelaskan tentang Elena.
"Hei, Tev. Macet ya tadi di jalan?"
"Lumayan, Dims. Ini... "
"Iya, ini sekretaris baruku yang bernama Elena. Elena, kenalkan ini Pak Steven dari Simmons Corp. Ia salah satu sahabatku juga. Kalian belum saling mengenal, kan?"
"Iya, memang belum kenal, Pak. Saya Elena" Ujar Elena sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Steven. Tapi Steven hanya diam saja.
"Ayolah, Tev. Jangan gitu dong" Dimas kemudian mengambil tangan Steven agar berjabat tangan dengan Elena.
Steven yang sebenarnya adalah pemalu setelah berjabat tangan dengan Elena langsung menarik tangannya kembali.
Tak lama kemudian Arya memasuki ruangan. Ekspresi Steven yang tadinya kaku langsung berubah setelah melihat Arya.
"Coba lihat siapa yang datang Dims, pahlawan kita wakil direktur Loekito Corp Mr. Ksatria Haryadi Himawan!" Ujar Steven dengan maksud bercanda. Tetapi muka Arya langsung berubah pucat karena Elena yang ada disana jelas mendengar perkataan Steven.
Elena langsung lari dengan membawa tasnya menuju toilet. Arya memanggil Elena dan menyusulnya.
Steven yang tidak tahu apa-apa terlihat bingung. Lalu bertanya kepada Dimas.
"Aku salah ngomong ya, Dims? Sebenarnya ada apa sih ini?"
"Ceritanya panjang, Tev. Ayo masuk ke ruanganku. Nanti aku ceritakan. Mba Cindy, sementara tolong gantikan tugas Elena dan tolong buatkan minuman buat saya dan Pak Steven ya."
"Baik, Pak"
**
"Elena! Elena, tunggu!" Arya masih berlari mengejar Elena. Larinya kencang juga. Mungkin dulu dia juara sprinter, pikir Arya.
Elena masuk ke toilet, sementara Arya menunggu sampai Elena keluar dari toilet.
Elena merasa sudah cukup lama menangis di toilet. Ia tak menyangka kalau Arya tega membohonginya. Atau apakah selama ini aku yang bodoh? Pikir Elena. Yang jelas hari ini ia tidak sanggup untuk bekerja. Kemudian ia ingat kalau ia belum pamit pada Dimas.
Ketika akhirnya Elena keluar dari toilet, Arya masih di sana. Arya langsung menghampiri Elena.
"Elena, tolong beri aku kesempatan untuk jelaskan ke kamu" Arya menyusul Elena sambil meraih lengan Elena.
"Lepaskan aku! Tolong tinggalkan aku sendiri!"
__ADS_1
"Tolong jangan seperti ini. Kalau kamu mau pulang setidaknya izinkan aku mengantarkan kamu pulang."
"Tidak usah! Tolong tinggalkan aku sendiri!"
Elena melepaskan tangannya dari Arya. Setelah itu ia berlari keluar dan naik taksi yang kebetulan lewat.
Ketika Arya akan mengejar Elena lagi, seseorang menepuk bahunya. Ternyata orang itu adalah Dimas dan Steven sedang berdiri di sebelahnya.
"Beri dia waktu ya' nanti setelah tenang baru kamu datangi dia."
Aryan hanya menganggukan kepalanya sambil menunduk lesu. Setelah itu mereka kembali ke ruangan Dimas.
"Sepertinya nasib Arya ga jauh dari aku, bedanya aku sudah memulai dengan tidak baik, sedangkan Arya awalnya baik tapi sekarang sedang kurang baik" Ujar Steven.
"Maksudnya gimana, Tev?"
Steven pun menjelaskan awal dia bertemu Elena di jalan dan sampai yang kedua kalinya bertemu di pesta Eyang pun masih saling berselisih paham.
"Jadi kamu yang udah ngotorin baju Elena?" Arya seketika langsung emosi dan meraih kerah baju Steven.
Dimas dengan sigap langsung melerai mereka.
"Sabar ya'! Jangan ribut di kantor!" Ujar Dimas.
"Kamu tau ga Dims, aku bertemu Elena dengan baju kotor karena terkena cipratan mobil dia! Sepanjang jalan dia menangis karena dia pikir akan kehilangan kesempatan untuk wawancara karena kesialan yang dia alami! Dia mungkin sempat melawan kamu, Tev! Tapi bagaimana pun dia itu perempuan. Udah berapa kali aku bilang sama kamu, jangan kasar sama perempuan!"
"Sepertinya aku juga berhutang permintaan maaf sama dia" Ujar Steven.
Setelah itu Arya terduduk dengan lemas.
"Iya, aku juga merasa tak lebih baik dari kamu, Tev. Mungkin dia juga tak akan memaafkan aku karena telah membohonginya"
"Berarti disini cuma aku yang baik di mata Elena, jadi kesempatan aku lebih besar dari kalian." Ujar Dimas bangga.
"Huuu... Kamu sih jelas cuma ngambil kesempatan di dalam kesempitan, Dims!" Ujar Arya.
"Tau nih Dimas! Tapi aku serius, kalau bisa jangan terlibat urusan asmara sama Elena, Dims. Kamu harus profesional dong jadi bos!" Ujar Steven menimpali Arya.
"Aku profesional kok! Buktinya selama ini aku ga pernah ngajak Bu Astri kencan, kan?"
"Yee... Itu sih beda! Kamu kalau berani begitu sih bisa kualat, Dims! Hahaha..." Ujar Steven.
"Ya sih emang beda. Aku janji kok akan tetap profesional sama Elena di dalam kantor. Tapi kalau di luar kantor aku ga janji!"
"Huuuu...!"
Arya dan Steven kembali menyoraki Dimas. Setelah itu ketegangan antara Arya dan Steven pun mereda.
__ADS_1
Mba Cindy kemudian masuk ke dalam ruangan untuk mengantarkan minuman untuk mereka. Lalu mereka melanjutkan pembicaraan tentang Aldo. Steven membuka percakapan.
"Aku kesini selain mau membahas tentang Aldo juga ingin minta kalian mengosongkan jadwal untuk besok karena Papi minta kalian datang ke rumah untuk membicarakan tentang Aldo. Arya sebagai saksi, sedangkan Kamu Dims sebagai wakil dari Loekito Corp"
Dimas dan Arya pun menyanggupi permintaan Steven. Setelah itu Dimas memberitahu Cindy tentang besok.
"Mba Cindy, tolong besok kosongkan jadwal saya. Kemungkinan saya akan izin selama sehari"
"Baik, Pak."
"Tapi kalau ada keadaan darurat tolong info saya. Tolong info ke Redi juga ya mba nanti kalau ia sudah kembali."
"Iya Pak, akan saya sampaikan ke Redi"
"Oke, Terima kasih"
"Kalau gitu aku pamit dulu ya balik ke kantor. Arya, aku minta maaf sepertinya niat kamu untuk bertemu Elena akan tertunda karena urusan besok" Ujar Steven.
"Ga apa-apa, Tev. Dimas ada benarnya juga, aku akan memberi dia waktu. Aku rasa mundur satu hari lagi ga masalah"
"Oke, kalau gitu aku pamit dulu ya" Ujar Steven.
"Kamu ga balik kantor abis makan siang aja Tev, kita makan siang bareng dulu aja disini"
"Lain kali aja ya, Dims. Aku ada kerjaan yang ga bisa di pending, nih!"
"Oke deh kalau gitu hati-hati di jalan, Tev"
"Siap, Dims!"
Setelah itu Steven menepuk pelan bahu Arya dan Dimas lalu beranjak pergi menuju kantornya.
Dimas dan Arya masih membahas tentang Elena dan persiapan untuk besok menjelang makan siang. Setelah makan siang Arya kembali ke butik untuk menjemput ibunya.
**
Elena tiba di rumah dengan muka sembab karena habis menangis. Nenek dan kakek heran melihat keadaan Elena yang pulang lebih cepat dari biasanya.
"Kamu sakit, Len? Kok pulang cepat?" Tanya nenek kepada Elena.
"Iya, agak kurang enak badan, nek. Lena masuk kamar dulu ya" Ujar Elena beralasan.
"Iya, istirahat dulu deh sana" Ucap nenek agak khawatir.
"Kalau menurut kakek sih, Elena lagi ada masalah di kantor nek, cuma dia ga mau bilang ke kita karena takut kita khawatir" Ujar kakek.
"Gitu ya, kek? Tapi kita jangan tanya dulu deh, tunggu Lena tenang dulu"
__ADS_1
"Iya betul, nek"