Trio Tangguh Dan Elena

Trio Tangguh Dan Elena
Bab 71 Pengakuan Steven


__ADS_3

Setelah mengobati luka masing-masing, Steven mengembalikan kotak P3K ke tempatnya lalu mengambil minum di kulkas untuk dirinya dan juga Arya. Steven memutuskan untuk bicara setelah Dimas datang.


Pukul 8 malam akhirnya Dimas datang juga. Ia juga membawa makanan untuk makan malam dan beberapa belanjaan lain berupa makanan ringan dan minuman dalam kemasan. Setelah masuk ke dalam, Dimas bingung melihat Arya dan Steven yang terlihat babak belur.


"Kalian abis berantem sama siapa? Kok pada babak belur?"


Arya dan Steven hanya tertawa mendengar pertanyaan Dimas.


"Hei, aku serius nih! Kalian kenapa bisa babak belur begini?"


"Tanya aja tuh sama Arya! Dia yang mulai duluan!" Ujar Steven. Lalu Arya menjelaskan perkelahian tadi bersama Steven.


"Lagi kamu aneh-aneh aja sih! Orang lagi sakit malah di bikin babak belur!" Ujar Dimas sambil menendang kaki Arya di bawah meja.


"Aww sakit, Dims! Oke... Oke... Aku ngaku salah... Aku minta maaf Tev. Caraku memang berlebihan. Aku sempat kesel aja karena kamu ga mau cerita ke kita soal kondisi kamu"


"Aku bukannya ga mau cerita, tapi aku lagi mempersiapkan diri dan lagi butuh waktu untuk berfikir"


Arya akhirnya mengerti dan menjawab dengan menganggukan kepalanya.


"Aku tadi menemui Sylvia, Tev" Ujar Arya.


"Oh ya? Trus dia bilang apa?"


"Dia cuma bilang untuk langsung tanya ke kamu soal penyakit kamu. Dia sempat heran juga kenapa kamu belum kasih tau ke kita"


"Yah, memang aku belum kasih tau siapapun, termasuk keluargaku. Rencananya besok baru aku akan pulang"


"Aku sebenarnya dari tadi pagi udah takut untuk nanya ke kamu, Tev. Apalagi ke Sylvia. Makanya Arya yang bertemu sama Sylvia, bukan aku. Tapi aku tetap harus nanya juga, sebenarnya kamu sakit apa, Tev?" Dimas akhirnya memberanikan diri untuk bertanya kepada Steven.


Setelah menghela nafas panjang, akhirnya Steven bicara.

__ADS_1


"Kanker paru-paru stadium 2, Dims... Ya'... "


Dimas dan Arya tak bisa berkata-kata, mereka hanya memandang Steven. Tapi setelah itu, Dimas malah menangis. Awalnya pelan, lama-lama jadi bertambah kencang. Di antara mereka bertiga, Dimas memang yang paling cengeng. Steven dan Arya jadi risih melihatnya.


"Udah dong Dims, aku ga apa-apa. Sylvia bilang kesempatan hidup aku masih besar karena masih masuk stadium awal" Ujar Steven.


"Dan kamu percaya Tev sama Sylvia?"


"Iyalah, aku percaya. Masa iya dia bohong sama aku"


"Kalau kamu yakin akan sembuh kenapa butuh waktu lama untuk kamu kasih tau ke kita, Tev?" Tanya Dimas lagi.


"Aku kan udah bilang aku perlu waktu buat menenangkan diri dulu. Dan buat rencana untuk kedepannya"


"Emang rencana kamu apa, Tev?"


"Besok aku akan mengumpulkan keluarga, termasuk Aldo yang lagi di Surabaya. Aku tau Aldo belum ada setahun di Surabaya, tapi karena jadwal pengobatan aku akan menyita banyak waktu, jadi aku memutuskan akan mengundurkan diri dari perusahaan dan meminta Aldo untuk menggantikan aku sampai batas waktu yang tidak di tentukan"


"Iya memang. Tapi aku ga punya pilihan lain, kan? Untuk itu aku punya rencana cadangan. Jika sel kanker di tubuh aku membesar dan keadaan bertambah parah, aku akan minta kalian untuk turun tangan"


"Caranya gimana, Tev? Kita kan ga punya kuasa untuk itu?" Tanya Dimas penasaran. Kadang Steven memang suka punya ide di luar nalar yang tak terpikirkan oleh orang lain.


"Aku udah membeli saham dalam jumlah besar, jadi nanti kalian akan punya hak sebagai bagian dari Dewan direksi perusahaan"


Dimas dan Arya saling memandang dengan takjub. Sejauh itu ternyata rencana Steven.


"Tev, tapi... "


"Aku tau pikiran kamu, Dims. Menurut kamu aku udah berfikir terlalu jauh, kan? Tapi aku harus memikirkan langkah ini demi kelangsungan perusahaan papi"


"Aku dukung kamu, Tev. Jika keadaan sudah tidak terkendali lagi, pastinya aku juga akan minta bantuan dari orang yang punya kuasa di luar perusahaan kamu" Ujar Arya

__ADS_1


"Bagus, aku rasa kamu udah ngerti maksud aku. Jadi setelah ini fokus aku adalah pengobatan penyakit aku. Rencana selanjutnya nanti aku pikirkan lagi"


"Yah, apapun keputusan kamu, kita akan terus mendukung, Tev. Sekarang udah ga ada yang mau di bicarakan lagi, kan? Aku lapar berat, ayo ah kita makan. Dan kamu Tev, harus mau makan sama kita, jangan nolak lagi seperti kemarin Arya bilang ke aku. Kalau perlu aku suapin kayak anak kecil" Ujar Dimas.


Arya hanya tertawa mendengar ucapan Dimas, begitu pula dengan Steven. Setelah itu mereka bertiga makan di balkon sambil menghirup udara segar di luar dan memandang hiruk pikuk keramaian kota di bawah.


**


Keesokan harinya, Steven yang kembali ke rumah keluarganya meminta Dimas dan Arya untuk datang ke rumahnya setelah pulang bekerja. Kebetulan di hari itu pekerjaan sedang tidak terlalu padat.


Arya sudah kembali bekerja bersama Dimas setelah meliburkan diri selama 4 hari untuk menenangkan pikiran setelah emosinya terkuras sewaktu mengetahui kenyataan tentang ayahnya yang diam-diam menikah lagi.


Karena pulang tepat waktu dari kantor, sekitar jam 18.30 petang Dimas dan Arya tiba berbarengan di rumah keluarga Steven. Di hari itu Steven pulang lebih awal. Sore hari tadi sekitar jam 4 Steven sudah ada di rumah.


Dimas dan Arya di sambut oleh papi Steven yang menyebutkan kalau Steven sedang berada di halaman belakang bermain bersama anjing kesayangannya yang ia beri nama Jade. Ketika Dimas dan Arya sudah di halaman belakang, mereka melihat Jade yang sedang tidur pulas di atas permadani kecil yang memang disediakan untuknya tidur.


Steven sedang mengamati Jade dengan sedih sambil mengelus bulunya yang putih, tebal, dan halus. Jade adalah jenis anjing American Eskimo. Warna matanya hitam. Steven memberi nama Jade karena dulu Jade suka sekali memainkan perhiasan milik maminya yang berwarna hijau.


Ketika Dimas dan Arya menghampiri Steven, Steven langsung membicarakan Jade.


"Jade udah lama di sini dan usianya udah tua juga, udah lebih dari 10 tahun. Aku rasa dia mulai lemah dan sakit. Kalau umur dia dan aku ga panjang, rencananya aku sama dia mau di kremasi supaya bisa terus bersama."


"Tev, ide kamu yang ini kayaknya agak-agak di luar angkasa deh" Ujar Arya yang heran mendengar rencana Steven.


"Lagian emang papi kamu akan izinin kamu di kremasi? Aku rasa ngga deh, Tev. Kamu harus berfikir positif dan semangat untuk sembuh, kita pasti dukung kamu, Tev" Ujar Dimas menimpali.


Steven hanya tersenyum ketika mendengar ucapan dari kedua sahabatnya.


"Kan aku udah bilang ini rencana cadangan. Nanti aku juga akan bilang sama papi. Aku rasa papi juga akan setuju kalau aku bujuk."


Dimas dan Arya hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar rencana Steven. Sepertinya kesehatan mental Steven juga perlu di obati selain kesehatan fisiknya.

__ADS_1


__ADS_2