Trio Tangguh Dan Elena

Trio Tangguh Dan Elena
Bab 70 Arya Curiga


__ADS_3

Arya baru saja pulang dari berbelanja. Dengan menenteng dua kantong belanja, dia jadi kelihatan seperti ibu-ibu yang habis berbelanja dari supermarket. Sebelum masuk apartemen, ia melihat Steven baru saja datang dari arah lift. Sudah beberapa hari ini Steven tak pulang ke rumah keluarganya.


"Baru pulang, Tev?"


"Hei, ya'. Iya, baru pulang. Kamu habis belanja ya?"


"Iya. Kemarin ibu sama Dita kesini, jadi aku pikir mau stok bahan makanan supaya bisa masak sedikit kalau mereka datang lagi kesini"


"Oh gitu"


Steven tak banyak bicara seperti biasanya, mukanya juga terlihat pucat. Bobot tubuhnya juga terlihat lebih langsing dari sebelumnya.


"Kamu udah makan, Tev? Makan bareng yuk, nanti aku masakin deh"


"Masak apa? Mie instan ya?" Ujar Steven sambil menyeringai.


"Bukan, tapi temennya yang dari Italia. Namanya Spaghetti" Steven jadi tertawa mendengar ucapan Arya.


"Thanks, tapi aku lagi ga lapar. Kamu aja yang makan, aku capek mau istirahat dulu. Aku masuk dulu ya. Bye"


Arya jadi bingung melihat perubahan sikap Steven. Setelah itu ia juga masuk ke dalam apartemennya.


**


Keesokan paginya, Arya menelpon Dimas.


"Halo ya"


"Halo, Dims, aku kayaknya hari ini masih belum bisa masuk karena aku mau ke rumah sakit mau ketemu Sylvia"


"Kamu mau ngapain, ya'?"


"Aku mau nanya ke Sylvia soal Tev. Aku merasa akhir-akhir ini dia berubah. Selain agak diam, Tev keliatan kayak kehilangan nafsu makan. Badannya jadi kurus. Aku khawatir dia lagi sakit"


"Iya sih, dia memang agak lain dari biasanya. Waktu itu dia pernah bilang kalau Sylvia minta dia general check up, tapi abis itu dia ga pernah cerita lagi gimana hasilnya."


"Nah iya, makanya aku curiga, Dims."


"Ya udah kalau gitu kamu ke sana aja trus nanti kabarin aku hasilnya. Kayaknya aku ga sanggup deh kalau tau hasil sebenarnya. Ada rasa takut juga kalau hasilnya Tev sakit serius kayak bronkitis atau pneumonia, karena dia sering batuk kan"


"Iya, Dims. Ya udah, aku ke rumah sakit dulu nanti aku kabarin lagi"


"Oke ya', hati-hati ya"


"Iya, siap Dims"


Setelah mengakhiri pembicaraan dengan Dimas, Arya langsung menuju parkiran di apartemen dan mengemudikan Lucky, motor kesayangannya.


**


Setibanya di rumah sakit, Arya langsung menuju ruangan dimana Sylvia praktek. Sebenarnya Arya sendiri juga tidak tahu jadwal Sylvia, ia hanya mencoba peruntungannya. Tetapi ketika hendak masuk lift, Arya bertemu dengan Sylvia.


"Syl, tunggu!"


"Arya? Kamu ngapain kesini?"


"Mau berobat"


"Siapa yang sakit?"

__ADS_1


"Ngga, aku bercanda. Aku kesini sengaja mau ketemu kamu"


"Ketemu aku? Kamu emangnya mau bahas soal apa?"


"Soal Tev, Syl"


Perasaan Sylvia langsung tak enak. Pasti Steven belum memberitahu kedua sahabatnya.


"Ada apa memangnya?"


"Jangan pura-pura, Syl. Steven pernah melakukan general check-up, aku tau karena waktu itu kamu yang minta tes lebih lanjut kan?"


"Iya, terus kenapa?"


"Aku ingin tau hasilnya"


"Seharusnya kamu tanya langsung ke Steve, Arya. Kamu tau kan sebagai dokter aku harus menjaga rahasia riwayat pasien"


"Itu dia masalahnya, Tev ga mau kasih tau apa-apa, dia terus-terusan bilang kalau dia ga apa-apa, tapi semakin hari aku melihat badannya semakin kurus dan nafsu makannya juga menurun. Please Syl, kasih tau aku ada apa sebenarnya"


"Aku ga bisa, ya"


"Posisi kamu dan aku kan sama, kita sama-sama sahabat Tev, kalau kamu ada di posisi aku dan Dimas, memangnya kamu ga penasaran juga kayak aku?"


"Aku tetap ga bisa, aku udah janji sama Steve."


"Jadi dia yang minta, Syl?"


"Iya, dia katanya mau bilang sendiri ke kalian. Aku pikir kalian udah tau, ternyata belum"


Arya menghela nafas panjang, sepertinya penyakit Steven serius. Ia sendiri sebenarnya sama seperti Dimas, tak siap untuk mendengarnya. Tapi ia penasaran... Sangat penasaran.


"Stadium 2, tapi masih bisa sembuh kalau Steve mau disiplin berobat.


"Apa? Stadium 2? Tev kena kanker, Syl?"


"Iy... Aaargh... Arya! Gara-gara kamu aku jadi keceplosan nih!"


"Tunggu, kanker apa, Syl?"


"Udah cukup, aku ga mau kasih tau lagi detailnya! Aku mau praktek!"


Setelah itu Sylvia berlari dan masuk ke lift. Kalau Steven tau, pasti ia sudah marah dengan Sylvia.


Arya pun memutuskan untuk tidak mengejar Sylvia lagi. Kemudian dia kembali ke apartemen dan menunggu Steven pulang.


**


Waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore. Kemarin Steven pulang pukul 7 malam. Setelah menunaikan sholat Magrib, Arya memutuskan untuk menunggu Steven di depan lift. Pukul 7 tepat, akhirnya Steven datang juga di waktu yang sama seperti kemarin. Arya yang sedari tadi menunggu Steven langsung memanggil namanya.


"Tev"


"Hei, ya'. Kamu ngapain berdiri di pojokan? Bikin takut aja."


"Aku lagi nungguin kamu, Tev"


"Oh.. Ya udah ayo masuk ke dalam"


"Tev, ayo pukul aku"

__ADS_1


"Apa? Kenapa aku harus mukul kamu? Aku ga mau! "


"Ya udah kalau gitu aku yang pukul kamu!"


Arya langsung melayangkan tinjunya, yang seharusnya mengenai hidungnya jadi meleset ke arah pipi. Sebenarnya Arya hanya ingin menguji refleks Steven, ketika ia masih bisa mengelak berarti refleksnya masih bagus.


"Apa-apaan sih kamu main pukul aja! Kamu udah gila apa?"


"Aku lagi menguji sesuatu, Tev"


"Uji apaan sih kok kayak gini banget?"


Arya hanya menjawab dengan cengiran. Lalu ia melanjutkan serangannya. Arya dan Steven sudah lama sekali tidak saling berkelahi. Perkelahian paling seru terakhir pun ketika mereka masih duduk di bangku SD. Waktu itu mereka bertengkar karena sama-sama ingin cosplay jadi power ranger merah.


"Aku udah ga mau jadi ranger merah lagi ya', kita kan udah gede!"


"Sama aku juga ga pengen"


"Terus kenapa kamu begini sih?"


"Menurut kamu kenapa?"


"Mana aku tau! Aku ga bisa mikir kalau kamu sambil nyerang aku kayak gini!"


Tapi Steven akhirnya kehilangan kesabaran juga. Akhirnya ia mengeluarkan jurus ampuhnya, ia menendang Arya sampai Arya jatuh dan membentur tembok. Pastinya sakit sekali, tapi Arya malah menyeringai dan mendorong Steven ke dinding.


"Ternyata refleks kamu masih bagus, Tev"


"Persetan dengan refleks!"


Lalu ia memukul muka Arya dan mengenai bibirnya sampai berdarah. Arya tak mau kalah, ia kemudian meninju hidung Steven sampai berdarah.


"Brengsek! Kau mematahkan hidungku! Aku ga bisa kencan dengan Elena kalau kayak gini!"


"Apa? Kau mau mengajak Elena kencan?"


"Iya, kenapa? Kau keberatan?"


Arya hanya mengangkat bahunya seolah tak peduli. Steven jadi punya ide untuk mengerjai Arya.


"Sebenarnya kamu kenapa sih, ya'? Tiba-tiba mukulin aku dengan brutal! Maksud kamu apaan sih soal refleks?"


"Kalau refleks kamu masih bagus, berarti sensor di tubuh kamu masih bagus. Aku tau kamu sakit, Tev. Akui aja! Kenapa sih kamu ga mau bilang ke aku sama Dimas? Apa kamu ga percaya sama kita?"


"Baiklah, aku akan akui dengan satu syarat"


"Apa syaratnya?"


"Aku akan bilang soal penyakit aku asal kamu mau mengakui ke aku kalau kamu cinta sama Elena"


"Apa? Syarat macam apa sih itu?"


"Kalau ga mau kasih tau ya udah, aku berarti juga ga mau kasih tau ke kamu soal penyakitku"


"Fine! Aku akui kalau aku cinta sama Elena! Puas? Sekarang giliran kamu untuk jujur ke aku!"


"Ya udah masuk dulu yuk! Muka kamu kalau babak belur jadi jelek"


"Emangnya kamu juga ganteng gitu kalau lagi babak belur?"

__ADS_1


Steven hanya tertawa sambil meringis menahan sakit. Setelah itu mereka berdua masuk ke dalam apartemen Steven.


__ADS_2