Trio Tangguh Dan Elena

Trio Tangguh Dan Elena
Bab 88 Steven Pamit (2)


__ADS_3

"Tapi aku tetap tak bisa mengutarakan perasaanku padanya, Tev" Ujar Arya


"Kenapa? Kamu takut?"


"Bukan itu. Aku sudah terlalu banyak berbuat kesalahan padanya, kau kan tahu itu juga"


"Yang mana? Waktu kamu bohongin dia? Atau waktu kamu cium dia?'


"Iya, itu beberapa di antaranya"


"Cinta tak perlu meminta maaf"


"Maksud kamu apa, Tev?"


"Maksudnya kalau kamu cinta seseorang, ia akan selalu memaafkan kamu karena dia cinta kamu. Kurang lebih sih gitu. Aku ambil kata-kata itu dari film yang suka papi tonton dulu sama mami. Judulnya Love Story"


Arya menepuk dahinya.


"Aku kira kamu sendiri yang buat kata-kata itu"


"Aku mana bisa buat kata-kata seperti itu"


"Aku tau sih"


Kemudian mereka berdua sama-sama tertawa. Tapi setelah itu Steven mengelus dadanya karena sakit.


"Berbahagialah bersama Elena, Arya. Aku ikhlas asal Elena sama kamu"


"Tev..."


"Kamu udah bisa move on kan dari Aisyah?"


"Iya bisa"


"Terus tunggu apalagi?"


"Entahlah. Mungkin aku takut gagal lagi"


"Kamu ga gagal, Arya. Karena aku sekarat, aku jadi ngerti perasaan Aisyah walau aku belum sempat bertemu dengannya."


"Maksud kamu gimana, Tev?"


"Waktu kanu pertama kali tau penyakit Aisyah, waktu itu dia minta kamu untuk ninggalin dia kan?"


"Iya"


"Aku rasa dia ingin kamu ninggalin dia supaya kamu ga liat dia menderita dan supaya kamu bisa cepat dapat pengganti dia. Intinya, dia cuma pengen kamu bahagia, bukannya ikut menderita bareng dia"


"Tapi kamu tau kan aku ga mungkin melakukan itu?"

__ADS_1


"Iya, tapi maunya dia emang gitu. Bukan karena dia ga cinta sama kamu lagi, tapi justru sebaliknya"


Arya jadi merenung. Sepertinya yang Steven katakan ada benarnya juga.


"Jadi menurut kamu selama ini aku salah duga?"


"Sepertinya begitu. Jadi kamu udah ga punya beban lagi. Aisyah sudah tenang. Sudah waktunya juga untuk kamu bahagia. Lakukanlah itu bukan untukku, atau Aisyah, tapi untuk dirimu sendiri. Selama ini kau selalu mengalah. Sudah waktunya kau melakukan sesuatu untuk dirimu sendiri"


"Baiklah, Tev. Aku mengerti sekarang"


"Sekarang ayo peluk aku. Tapi jangan terlalu kencang karena dadaku sakit"


Lalu Arya melakukan permintaan Steven dengan patuh.


"Aku sayang kamu, Tev. Aku senang punya saudara seperti kamu"


"Aku juga sayang kamu, ya'. Tolong do'akan aku di tiap sholatmu ya"


"Pasti, Tev" Air mata menetes di pipi Arya, tapi ia segera menyekanya agar Steven tak melihatnya. Lalu ia melepaskan pelukannya.


"Sekarang tolong panggilkan Dimas si cengeng"


Arya mengganguk dan setelah itu mereka sama-sama tersenyum.


**


Steven belum mengatakan apapun tetapi Dimas sudah menangis, seperti dugaannya sebelumnya. Secara usia, Dimas paling tua di antara Trio Tangguh, walau hanya beda bulan. Tetapi sikapnya malah paling kekanak-kanakan di antara mereka.


"Biarin. Kan sekarang kita cuma berdua di kamar ini, yang lain ga ada yang liat."


"Tapi kamar ini ada CCTV-nya loh. Aku bisa kasih rekamannya ke salah satu pegawai kamu, nanti tinggal di pasang di layar besar yang ada di lobby kantor kamu jadi semuanya bisa lihat nanti"


"Sialan! Kamu lagi sakit aja masih bisa nyebelin sih, Tev. Ya udah aku berhenti nangis nih!"


Steven tersenyum geli melihat kelakuan Dimas sambil menyodorkan sekotak tissue padanya.


"Dims, tolong awasi Arya. Jangan sampai dia berbuat bodoh lagi. Kamu tau kan maksudku?"


"Iya, Tev. Aku tahu"


"Jangan main-main lagi, Dims. Settle down dan menikahlah dengan perempuan yang baik, jadilah suami setia dan ayah yang baik buat anak-anakmu nanti. Perbaiki sholatmu, jangan bolong-bolong lagi"


"Iya, Tev"


"Sekarang udah ga iri lagi kan sama Arya?"


"Masihlah. Kenapa sih aku yang di panggil terakhir? Apa aku yang paling ga penting buat kamu? Padahal kita kenal paling lama loh, dari kamu masih belum lancar bahasa Indonesia sampai sekarang"


Steven terkekeh mendengar rengekan Dimas.

__ADS_1


"Dasar tukang ngambek"


"Biarin. Kenapa senyum-senyum?"


"Aku masih suka heran aja sama kelakuan kamu. Mmm... Dims...?"


"Ya, Tev?"


"Jangan khawatir. Kamu dan Arya akan baik-baik aja. Aku yakin kalian bisa. Aku percaya sama kalian"


"Ternyata kamu tahu ya kalau aku khawatir. Karena kamu bilang gitu, aku jadi merasa lebih baik. Thanks, Tev"


"Iya, sama-sama Dims. Now, come over here and give me a big hug"


"Oke"


"Aku sayang kamu, Dims. Jangan suka iri lagi, karena sayangku ke kamu sama besar dengan sayangku ke Arya"


"Iya, Tev. Sekarang aku ngerti. Aku juga sayang kamu... Huhuhu..."


"Nah kan nangis lagi. Udah ya Dims, aku harus siap-siap. Tolong hubungi Sylvia dan minta dia kesini. Aku juga harus beritahu Sissy dan pengacara aku. Mudah-mudahan masih ada waktu untuk itu sebelum terlambat"


"Iya, Tev. Aku hubungi Sylvia dulu, nanti aku kabari lagi."


"Iya, Dims. Aku mau istirahat dulu sebentar. Capek banget udah ngobrol panjang lebar sama kalian"


"Istirahat deh, Tev. Nanti aku bangunin kalau Sylvia udah datang"


"Oke"


**


Sylvia memberi kabar kalau ia mungkin tak bisa datang dalam waktu dekat karena mendadak ia harus menangani operasi salah satu pasiennya. Jadi waktu pasti untuk datang ke rumah Steven tidak dapat di pastikan.


Akhirnya yang datang lebih dulu adalah pengacara Steven sekaligus pengacara keluarga yang bernama Rizwan. Bersama Hans, Dimas, dan Arya, mereka akan membahas tentang surat warisan yang akan di buat oleh Steven secara terperinci. Sebenarnya Steven sudah pernah membuat surat warisan sebelumnya, jadi ia tidak akan mengubah terlalu banyak isi surat warisannya, hanya menambah beberapa hal penting di dalamnya.


Karena papi Steven sudah menyerahkan perusahaan sepenuhnya kepada Steven, jadi pengaturan harta warisan juga di serahkan kepada Steven. Hans, Meilinda, Aldo, dan Emily masing-masing akan mendapatkan hak warisan berupa saham di perusahaan yang jumlahnya nanti akan di tentukan oleh Steven dengan beberapa masukan dari Pak Rizwan.


Selagi mereka mendiskusikan banyak hal, Hans izin sebentar untuk ke toilet. Tetapi ketika ia membuka pintu, ia kaget ketika melihat Meilinda ada di depan pintu kamar Steven. Sepertinya ia dari tadi menguping pembicaraan di dalam kamar Steven.


"Meilinda, apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Hans. Karena sudah terlanjur ketahuan, Meilinda tak bisa mengelak lagi.


"Menurut kamu apa? Aku hanya heran kenapa aku tak di ajak berdiskusi oleh Steve, dia malah mengajak dua sahabatnya yang bukan bagian dari keluarga ini"


"Dimas dan Arya ada di dalam karena nantinya mereka akan membantu Steve di perusahaan, jangan berfikir negatif dulu. Tak usah khawatir kalau nanti kau tak kebagian, Steve sudah pikirkan itu semua dengan baik karena anakku tak serakah seperti anakmu!"


Steven, Dimas, Arya dan Rizwan yang mendengar keributan di depan kamar Steven jadi berhenti berdiskusi dan membuka pintu kamar untuk melihat ada apa di luar. Karena perdebatan antara Hans dan Meilinda menguras emosi, membuat penyakit jantung Hans kambuh.


Dengan sigap, Dimas dan Arya memapah Hans ke kamarnya dan langsung mencari obat Hans yang sebelumnya telah di beritahu letaknya oleh Steven.

__ADS_1


Steven menjadi sangat khawatir dengan keadaan papinya. Dari awal kedatangannya, Steven memang tak pernah percaya dengan Meilinda dan Aldo. Kini sebenarnya pun Steven mulai ragu dengan Emily. Sifatnya yang sekarang ceria malah membuat Steven jadi curiga. Pak Rizwan yang mengerti keadaan Steven pun menghiburnya.


Kemudian melalui interkom rumah, Steven memanggil security di rumah Steven untuk datang ke kamarnya. Steven memberitahu kepada mereka, jika Steven sudah tidak ada, ia akan memberikan akses CCTV rumah kepada kedua sahabatnya demi keamanan Hans. Hal ini bersifat rahasia, hanya yang ada di kamar Steven saat itu saja yang boleh tau tentang ini.


__ADS_2