Trio Tangguh Dan Elena

Trio Tangguh Dan Elena
Bab 61 Sydney in Memory (2)


__ADS_3

Dimas terbangun di pagi hari ketika sinar matahari masuk melalui jendela kamar. Ia melihat di sekelilingnya. Ini bukan kamarnya di hotel. Seketika ia jadi ingat kalau ia menginap di apartemen Viera. Ia juga meninggalkan Redi untuk pulang sendiri agar ia bisa memperpanjang waktu berkunjungnya. Ia pikir perpanjang satu atau dua hari tidak akan menjadi masalah.


Dimas kemudian mengingat kejadian semalam. Ia tersenyum karena kali ini ia tidak mabuk. Ia kemudian melirik ke sebelahnya untuk membangunkan Viera yang masih tertidur. Ia kelihatan cantik sekali, bahkan tanpa make up.


Dimas mengingat peristiwa semalam ketika ia dan Viera makan malam bersama. Setelah berbicara panjang lebar, akhirnya Dimas mengingat Viera sebagai orang yang berasal dari masa lalunya. Dimas sungguh tak menyangka akan bisa bertemu lagi dengan Viera setelah lebih dari 10 tahun. 'Apakah ini yang di namakan jodoh?' pikir Dimas.


Viera akhirnya mulai membuka matanya dan menggeliat. Ia langsung bertatapan dengan Dimas yang sudah bangun lebih dulu dan sedari tadi sudah memandanginya.


"Selama pagi, Viera. Atau aku harus memanggilmu Reva?"


Viera mengibaskan tangannya dan berkata:


"Reva sudah tiada, sekarang hanya ada Viera"


Kenapa kau tidak mau di panggil Reva lagi?"


"Entahlah, aku merasa nama itu agak kekanakan" Ujarnya sambil mengangkat bahu.


"Tapi aku sih suka-suka aja" Ujar Dimas sambil mengecup hidung Viera.


"So... Apa rencana kita hari ini?"


"Karena kau lama tinggal di sini, aku rasa aku akan ikut kemanapun kau ajak aku. Tapi kalau kau mau seharian di tempat tidur juga tidak apa-apa" Ujar Dimas sambil tersenyum jahil.


"Kau dari dulu tak berubah. Masih nakal dan jahil" Ujar Viera sambil tersenyum.


"Kau dari dulu juga tak berubah. Masih cantik dan menggemaskan" Kemudian mereka berdua tertawa.


Viera telah tinggal di Sydney selama 5 tahun. Ia merintis kariernya sebagai model sejak masih tinggal di Indonesia. Viera memiliki beberapa teman sesama orang Indonesia di sini. Ia juga masih berhubungan dengan sahabatnya ketika masih sekolah, yaitu Devi.


Ketika Dimas sedang mandi, Viera memutuskan untuk menghubungi Devi.


"Halo, Vie! Gimana kabar kamu? Tumben nih telepon! Udah lama juga ya sejak terakhir kamu telepon."


"Kabar aku baik, kamu juga kan? Aku ada kabar mengejutkan nih!"


"Kabar apa? Aku jadi penasaran nih, cepetan bilang!"


"Tebak siapa yang lagi ada di apartemen aku sekarang?"


"Siapa, Vie? Aku kenal?"


"Kenal banget! Lebih dari sepuluh tahun lalu udah kenal!"


"Teman sekolah kita?"

__ADS_1


"Yup!"


"Oh my God! Jangan-jangan salah satu dari Trio Tangguh!"


"Iya bener banget!'


" Beneran? Yang mana?"


"Si playboy!"


"Dimas? Kok bisa sih? Gimana ceritanya?"


"Panjang ceritanya! Nanti aku telepon lagi ya! Kayaknya dia udah selesai mandi tuh!"


"Wow! Oke deh, aku tunggu ceritanya. Bye!"


"Bye"


Setelah selesai mandi, Dimas mencium Viera.


"Ayo cepetan mandi sebelum aku berubah pikiran dan malah nahan kamu disini seharian"


Viera pun tersenyum dan bergegas ke kamar mandi.


**


Setelah selesai makan siang, Cindy langsung mengajak Elena untuk bicara.


"Elena, pak Ksatria dari tadi belum makan siang, jadi aku inisiatif beliin dia soto karena biasanya dia suka makan itu. Jadi, kamu tolong taruh ini di piring trus sajikan untuk Pak Ksatria ya, aku lagi tanggung nih sama kerjaan"


"Iya mba, aku segera siapkan"


Kemudian Elena ke pantry untuk mengambil peralatan makan dan langsung ke ruangan Arya.


"Maaf mengganggu Pak, saya mengantarkan makan siang untuk bapak karna tadi mba Cindy bilang kalau bapak belum makan"


"Iya, taruh saja di situ Elena"


"Baik, Pak"


Sejam kemudian, Elena kembali masuk ke ruangan Arya untuk meminta tanda tangan, tapi ia terkejut ketika melihat makanan yang tadi sudah ia bawa untuk Arya ternyata belum tersentuh, padahal jam sudah menunjukkan pukul 3 sore.


"Pak, kenapa makanannya belum di makan juga?"


"Oh iya, saya belum sempat. Saya sibuk sekali dari tadi"

__ADS_1


"Makan dulu Pak, saya ga mau bapak sakit"


"Iya, nanti ya"


"Maaf ini sudah jam 3, sudah lewat jam makan siang. Apa perlu saya suapin bapak?"


"Ga perlu, Elena. Ini saya makan sekarang deh. Oke?"


"Gitu dong Pak" Ujar Elena sambil tersenyum. Tapi belum sampai Arya menyuap makanannya, telepon berbunyi.


"Saya lagi tunggu telepon penting. Saya angkat dulu ya"


"Ya sudah angkat saja, tapi sambil saya suapin"


"Elena... "


"Maaf kali ini saya ga mau patuhi bapak karena bapak harus makan. Mba Cindy sendiri kemarin tidak yakin Pak Ksatria makan siang atau tidak"


"Baiklah, saya turuti kamu untuk suapi saya sambil angkat telepon"


Arya merasa seperti anak kecil yang sedang di suapi oleh ibunya, tapi saat ini ia sedang tidak punya pilihan lain, jadi ia terpaksa menuruti Elena walau merasa canggung.


Setelah selesai menelpon, Arya juga selesai di suapi oleh Elena yang terlihat sedang tersenyum dengan puas.


"Eh... Terima kasih Elena... "


"Sama-sama Pak. Sekarang tolong tandatangani berkas ini dulu, Pak. Setelah ini saya akan tinggalkan bapak"


"Tinggalkan saya? Kenapa?"


"Eh, maksudnya saya akan kembali ke meja saya setelah ini"


"Oh, syukurlah. Saya pikir kamu udah di lamar Banyu jadi kamu mau tinggalkan saya di kantor ini"


"Apa?"


"Tidak apa-apa. Maaf, mungkin karena lelah saya jadi ga nyambung gini"


"Eh.. Iya ga apa-apa kok Pak"


Untuk menghindari suasana yang lebih canggung lagi, Elena pun langsung pamit untuk kembali ke meja kerjanya.


Di sore hari, akhirnya tiba juga waktu untuk pulang. Semua pegawai segera bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing. Namun ketika Elena dan Cindy hendak pamit kepada Arya, mereka melihat sepertinya Arya sedang tertidur di atas meja. Lalu Elena berinisiatif untuk membangunkan Arya, tapi Elena terkejut ketika menyentuh lengan Arya ternyata badannya panas.


Untungnya Redi masih ada di tempat dan ia membawa mobil ke kantor, jadi mereka bergegas untuk membawa Arya ke rumah sakit. Sepertinya Arya kecapekan di tambah sudah beberapa hari ini ia telat makan. Elena begitu khawatir melihat kondisi Arya karena selama mengenal Arya, ia tak pernah melihat Arya sakit.

__ADS_1


Setelah beberapa lama, akhirnya mereka tiba juga di rumah sakit. Arya langsung di bawa ke ruang UGD untuk di periksa. Elena hanya bisa berharap penyakit Arya tidak terlalu serius.


Elena yang sempat membawakan tas dan ponsel Arya, kemudian memutuskan untuk menghubungi keluarga Arya. Setelah itu berencana untuk menghubungi Dimas.


__ADS_2