Trio Tangguh Dan Elena

Trio Tangguh Dan Elena
Bab 36 Prakash Marah Besar


__ADS_3

Dimas terbangun di jam 10 dengan kepala pusing. Ia mencoba untuk mengingat-ingat peristiwa yang terjadi semalam ketika ia merasa ada sesuatu yang bergerak di sebelahnya.


"Nine? Bagaimana kau bisa ada disini?"


"Masa kau lupa, babe? Apa perlu ku ingatkan kembali?"


"Tunggu... Tunggu dulu... " Belum selesai Dimas bicara, Nine langsung menindih tubuhnya dan menciumnya dengan brutal.


'Nine, please. Kita perlu bicara... Ngomong-ngomong, jam berapa ini?" Dimas langsung mencari handphonenya untuk melihat jam.


"Jam 10! Oh ****! Kita terlambat untuk meeting, Nine!"


"Apa? Benarkah?" Nine langsung bangkit dan menuju kamar mandi. Tak lama kemudian, kepalanya muncul di pintu kamar mandi.


"Kau mau mandi bareng biar cepat selesai?"


"No, thanks. Kamu mandi aja duluan tapi jangan lama-lama" Ujar Dimas sambil memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.


"Okee... If you say so... " Nine kembali menutup pintu kamar mandi dan melanjutkan mandi.


"Gawat... Mati aku! Mas Akash pasti akan marah besar nanti!" Dimas khawatir nyawanya mungkin tak selamat kalau bertemu kakaknya nanti.


Tak lama kemudian, Nine selesai mandi.


"Aku tak bawa baju ganti, jadi aku pulang ke apartemenku dulu nanti kita ketemu di kantor aja ya" Ujar Nine kepada Dimas.


"Baiklah. Kamu yakin bisa pulang sendiri? Kepala kamu ga pusing?"


"Tidak terlalu. Iya, aku bisa pulang sendiri. Aku tinggal dulu ya. See you at the office. Bye!" Nine meniupkan kecupan selamat tinggal kepada Dimas.


"Bye"


Setelah itu Dimas langsung bergegas ke kamar mandi dan bersiap untuk berangkat ke kantor. Ia tahu ia sudah sangat terlambat tapi ia akan tetap datang.


**


Nine sudah tiba lebih dulu dari Dimas. Mereka sama-sama tidak bisa masuk ke ruang meeting karena mereka sudah sangat terlambat. Jadi Dimas menunggu di ruangan Prakash dan Nine menunggu di meja kerjanya.

__ADS_1


Nine sempat masuk ke ruangan Prakash untuk memberikan Dimas secangkir kopi. Tapi sebelum Dimas meminum kopinya, Nine sudah lebih dulu duduk di pangkuan Dimas dan kembali menggodanya.


"Kau luar biasa semalam. Mau mengulangi lagi disini?"


"Jangan disini, Nine. Kakakku bisa datang kapan saja. Tolong turun dari pangkuanku sekarang juga"


"Yaa... Yaaa... Baiklah..." Sebelum turun dari pangkuan Dimas, Nine sempat mengecup bibir Dimas sebentar. Dimas hanya bisa melotot kaget dengan tindakan Nine yang nekat.


**


Meeting baru selesai jam 1, sedikit lewat dari jam istirahat karena ada banyak hal yang harus di bahas.


Dimas kaget melihat Arya yang keluar dari ruang meeting bersama Prakash dan Elena. Prakash yang pertama masuk ke ruangannya dan melihat Dimas, spontan langsung menyerang Dimas.


Prakash secara spontan langsung meninju hidung Dimas dan mengeluarkan darah. Elena dan Nine sempat berteriak karena panik. Pukulan kedua hampir mengenai rahang Dimas jika Arya tidak dengan sigap memegang tangan Prakash untuk menenangkannya.


"Mas, sabar mas... " Ujar Arya mencoba meredam emosi Prakash.


"Aku ga percaya kamu bisa seceroboh ini, Dim! Dimana tanggung jawab kamu sebagai pemimpin! Kalau Arya tadi tidak datang mas bisa malu tau ga! Mau di taruh dimana muka mas!" Ujar Prakash dengan emosi.


"Maaf mas, aku khilaf... " Ujar Dimas meminta maaf kepada kakaknya.


"Tidak, sir. Saya tidak bersama Mr. Dimas. Saya tiba-tiba ada keperluan mendadak yang tidak bisa saya tinggalkan"


Dimas membelalakan matanya karna kaget. Ia tak percaya Nine tak mengakui apa yang telah terjadi semalam antara dirinya dan Nine. Begitu pula dengan Arya dan Elena yang saling memandang dengan tatapan tak percaya.


"Maaf mas, bukannya aku ingin mengalihkan pembicaraan, tapi aku harus segera kembali ke Jakarta karena ada janji dengan tamu jam 4 sore" Ujar Arya kepada Prakash.


Ah ya, Arya memang sudah ada jadwal bertemu dengan Mr. Brandon Reed hari ini, pikir Dimas. Dimas benar-benar merasa menyesal karena telah menyusahkan Arya dan mengacaukan segalanya hari ini.


"Kamu ga makan siang dulu ya' disini?" Tanya Prakash kepada Arya.


"Maaf ga keburu, mas. Aku pamit dulu ya"


"Tunggu. Mas rasa kamu ga akan keburu kalau naik pesawat komersil. Naik jet pribadi Loekito Corp aja. Sebentar mas telpon pilotnya dulu." Ujar Prakash.


"Aku juga akan telepon Pak Darma ya' supaya kamu di jemput di bandara setelah sampai nanti" Ujar Dimas menimpali ucapan Prakash.

__ADS_1


"Terima kasih banyak mas Akash dan kamu, Dims"


"Iya sama-sama. Sebentar lagi supir mas akan naik kesini untuk antar kamu ke bandara, ya'. Ujar Prakash kepada Arya.


Tak lama kemudian, supir Prakash datang dan menjemput Arya. Sebelum berangkat, Arya sempat memeluk Dimas untuk menenangkan dan ia membisikan sesuatu kepada Dimas.


"Jangan khawatir soal, Nine. Biar aku sama Tev yang urus nanti" Ujar Arya kepada Dimas. Mendengar ucapan Arya, Dimas hanya menganggukan kepalanya tanda mengerti.


Setelah supir Prakash menjemput Arya, Prakash kembali menginterogasi Dimas. Prakash meminta Elena dan Nine untuk keluar dulu dari ruangan Prakash karena ia hanya ingin berbicara berdua dengan Dimas.


"Oke, sekarang kita cuma berdua dan mas sudah agak tenang. Jujur sama mas, kenapa kamu sampai terlambat seperti ini"


"Aku... Mas benar, aku bersama dengan seseorang semalam, dan..." Dimas hampir tak sanggup melanjutkan kata-katanya.


"Dan apa, Dim?"


"Dan aku juga mabuk semalam" Ujar Dimas sambil menunduk malu.


"Mabuk karena alkohol atau narkoba?"


"Karena alkohol, mas"


Prakash menghembuskan nafasnya karena lega ternyata Dimas tidak mengkonsumsi narkoba lagi. Tapi mabuk karena minuman keras juga tidak bisa di benarkan. Kemudian Prakash melanjutkan pertanyaannya.


"Dengan siapa kamu semalam? Apakah mas kenal dengan orang itu?"


Dimas hanya menjawab dengan anggukan kepala. Lalu Dimas memberikan petunjuk kepada Prakash dengan mengarahkan pandangannya ke arah Nine.


"Dengan Nine? Benarkah? Tapi tadi dia... Apakah dia tadi berbohong sama mas, Dim?"


"Sepertinya begitu, mas" Ujar Dimas dengan kesal.


"Dengar Dim, bukannya mas ga percaya sama kamu. Tapi mas perlu bukti. Kalau bukti itu sudah mas terima, baru mas akan segera pecat Nine"


"Baik mas. Sekarang aku izin mau siap-siap kembali ke Jakarta bersama Elena. Aku sekalian pamit, mas."


"Oke, mas tunggu kabar dari kamu. Hari Sabtu ini mas akan ke Jakarta untuk bicarakan ini bersama papa."

__ADS_1


Dimas langsung bergidik ngeri membayangkan bagaimana reaksi papanya nanti. Setelah itu Dimas keluar dari ruangan Prakash untuk mengajak Elena pulang kembali ke Jakarta.


Elena pamit kepada Prakash yang merespon dengan hangat dan berterima kasih kepada Elena. Respon Nine kepada Elena ketika pamit dengannya bertolak belakang dengan respon Prakash. Nine tak menjawab Elena, sebaliknya Nine hanya memandang Elena dengan tatapan sinis. Tapi ketika Dimas melirik dirinya, Nine hanya bisa menunduk malu.


__ADS_2