Trio Tangguh Dan Elena

Trio Tangguh Dan Elena
Bab 55 Unexpected Things at KL (2)


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul lima sore ketika Arya terbangun dengan agak tersentak. Ia pun segera mandi lalu sholat.


Setelah selesai, ia segera ke kamar Elena yang terletak di sebelah kamarnya.


Arya sudah mengetuk beberapa kali tapi tidak ada jawaban. Kemudian ia kembali ke kamarnya untuk mengambil ponselnya dan menghubungi Elena. Ponsel Elena baru di angkat di dering yang keempat.


"Halo, kak"


"Elena, kamu dimana?" Tanya Arya tanpa basa-basi.


"Di cafe yang ada di lantai bawah hotel"


"Aku ke sana ya sekarang? Boleh?"


"Iya boleh"


Jawaban Elena agak ragu. Ia menjadi agan canggung dengan Arya sejak Arya menciumnya tadi pagi. Sementara Arya bergegas menuju lantai bawah untuk menemui Elena.


Setelah tiba di cafe yang di sebutkan oleh Elena, Arya mencari Elena yang ternyata lebih dulu melihat Arya dan melambaikan tangan untuk memberitahukan keberadaannya. Arya lalu bergegas menghampiri Elena dan duduk bersebrangan dengannya.


"Maaf, aku tadi ketiduran. Aku sendiri heran bisa tertidur selama itu. Untung rapatnya baru di adakan besok pagi" Ujar Arya.


"Aku juga tadi sempat ketiduran. Bedanya, aku tadi bangun jam 3, lalu aku berkeliling hotel dan berakhir di sini. Aku suka mencoba cake di tempat baru. Biasanya hampir tiap minggu aku suka berwisata kuliner dengan Celine" Elena berbicara lebih banyak dari biasanya untuk menghindari rasa gugupnya tanpa ia tahu kalau Arya juga merasa gugup seperti Elena.


"Elena, aku... "


"Kak Arya ga mau pesan sesuatu dulu?" Elena langsung memotong ucapan Arya karena ia ingin mengulur waktu dan untuk menutupi rasa gugupnya.


"Baiklah, aku pesan dulu" Kemudian Arya memanggil pelayan dan memesan black coffee dan cake untuk dirinya. Setelah pelayan cafe meninggalkan mereka, Arya melanjutkan pembicaraannya.


"Elena, kumohon maafkan aku atas perbuatan aku tadi. Aku sungguh tak tahu kalau kau menderita aerophobia. Dimas belum pernah membicarakannya denganku. Tadi aku menciummu karena spontan dan ingin membantumu mengalihkan ketakutan kamu, tapi aku tahu kalau caraku salah"


"Jadi kak Arya memang tidak tahu?"


"Tidak, aku tidak tahu. Apakah waktu kau melamun saat rapat tempo hari karena kau sedang memikirkan tentang aero phobia?"


"Iya kak"


"Aku benar-benar minta maaf, Elena. Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi. Apakah kau mau memaafkanku?"


Elena hanya menjawab dengan anggukan kepala.


"Apakah kita bisa berteman lagi seperti sebelumnya?" Ujar Arya sambil menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Elena. Setelah agak ragu sesaat, Elena kemudian menyambut uluran tangan Arya.


"Elena, aku tau suatu tempat yang enak untuk kita makan malam nanti. Kamu mau kan ikut denganku nanti malam?"


"Iya kak, aku sih ikut aja karena aku sendiri kan baru pertama kali kesini"


"Iya Lena, nanti setelah beberapa kali bepergian, kau juga akan tahu dan hafal beberapa tempat seperti aku, Dimas, ataupun Steven"

__ADS_1


Di malam harinya, Arya menjemput Elena untuk makan malam bersama di tempat yang sudah di janjikan oleh Arya. Sambil makan malam mereka berbincang-bincang seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Padahal dalam hati Elena merasa jantungnya berdebar tak karuan. 'Tapi dia terlihat biasa saja. Apa aku yang berlebihan ya?' pikir Elena.


**


Keesokan harinya, mereka melaksanakan meeting dengan perusahaan lain sesuai janji yang telah di buat sebelumnya. Meeting berjalan dengan lancar, walau lagi-lagi Arya harus mempelajarinya secara mendadak karena yang seharusnya berangkat ke Malaysia adalah Dimas.


Hari sudah menjelang sore ketika meeting selesai. Tapi sayangnya Elena dan Arya belum bisa kembali ke hotel untuk beristirahat, karena Loekito Corp juga ikut pameran di sebuah event, jadi mereka harus ke sana dulu untuk memantau dan membantu para staf perwakilan untuk menjawab pertanyaan apabila di perlukan.


Pameran berlangsung sampai malam, tapi setelah merasa para staf sudah bisa handle di pameran, maka sekitar jam 6 sore Elena dan Arya kembali ke hotel untuk beristirahat.


"Aah... Aku capek sekali! Bisa-bisa aku tidur dua hari ini saking capeknya!" Ujar Arya sambil memijat-mijat badannya sendiri. Elena yang melihatnya hanya tersenyum. Ia pun merasa sangat lelah. Sepertinya mandi air hangat di bathtub enak, pikir Elena.


"Ah iya, tapi kita harus makan malam dulu ya sebelum tidur. Kamu mau makan dimana, Elena?"


"Entahlah, sepertinya aku ga sanggup makan di luar kak. Mungkin nanti makan di kamar aja"


"Gitu ya? Kalau gitu aku ikutan deh. Di kamar kamu atau kamar aku biar kita bisa makan bareng?"


Elena tak tahu harus menjawab apa. Ia merasa sungkan karena makan bersama di kamar terdengar seperti ide yang romantis seolah-olah mereka adalah pasangan. Arya sepertinya mengerti jalan pikiran Elena.


"Jangan khawatir, aku ga akan macam-macam kok, kan aku udah janji. Gimana kalau di kamar kamu aja? Nanti kalau ada apa-apa atau aku tiba-tiba khilaf kan kamu bisa langsung tendang aku keluar"


Elena yang mendengar usulan Arya yang konyol jadi tertawa terbahak-bahak.


"Ya udah kalau begitu aku setuju" Ujar Elena sambil tersenyum menyeringai.


Setelah selesai mandi, Elena dan Arya akhirnya jadi makan malam di kamar Elena. Sambil makan, mereka berbincang ringan. Setelah makan malam selesai, Arya pamit kembali ke kamarnya untuk beristirahat karena ia sudah benar-benar lelah.


**


"Hai Elena... Sudah merasa enakan?"


"Lumayan, kak. Tapi sepertinya tidur di rumah masih lebih enak dan lebih leluasa di banding disini"


"Iya pastinya. Sekarang kita turun ke bawah yuk untuk sarapan!"


"Ayok kak, kebetulan aku memang sudah lapar"


Mereka lalu turun ke bawah untuk sarapan. Setelah selesai sarapan, Arya melihat jam tangannya.


"Penerbangan kita masih lama, Elena. Masih ada waktu untuk jalan-jalan. Kita ke lobby yuk, aku mau sewa mobil ke bagian resepsionis."


Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya mobil sewa yang di tunggu datang juga.


"Kak Arya yang bawa mobil? Aku kira kak Arya sekalian sewa jasa supir juga. Emang ga capek, kak?'


"Ngga. Setelah tidur nyenyak semalam, aku jadi merasa enakan sekarang. Kamu gimana? Masih capek ya?"


"Ga terlalu sih kak. Jadi, kita mau kemana sekarang?' tanya Elena

__ADS_1


"Nanti juga kamu tau" Ujar Arya sambil tersenyum penuh misteri.


Setelah berkendara cukup jauh, mereka akhirnya tiba di sebuah kompleks pemakaman. Elena tentu saja jadi bingung, kenapa Arya mengajaknya ke sini. Kemudian mereka berjalan ke sebuah makam yang terawat dengan rapi. Di nisan makam tersebut tertulis nama Aisyah binti Mahmood. Elena heran melihatnya. 'Siapa dia? Apakah masih kerabat dari Arya?' kemudian Arya mengatakan sesuatu kepada Elena.


"Elena, perkenalkan ini Aisyah, almarhumah istriku"


"A... Apa? Kak Arya pernah menikah?"


"Iya. Empat tahun lalu ketika aku masih berumur 26 tahun, aku bertemu dengan Aisyah ketika sedang mendaki gunung bersama teman-temanku di komunitas pecinta alam. Aku ikut bersamanya pulang ke sini, meninggalkan teman-temanku sampai Dimas dan Steven mencari-cari aku. Dimas malah sempat berfikir kalau aku di bawa oleh mahluk halus dan tinggal di Kerajaan jin di hutan yang ada di gunung" Arya tersenyum ketika mengingat saat itu.


"Lalu aku menikah dengan Aisyah tanpa sepengetahuan orang tuaku. Memang kedengarannya sangat nekat waktu itu. Kemudian setelah menikah selama setahun, Aisyah jatuh sakit, sampai akhirnya ia meninggal setahun kemudian dan akhirnya aku kembali ke Indonesia."


Elena masih mencoba mencerna kata-kata Arya karena ia masih kaget mendengarnya. Pantas selama ini walau ia selalu baik dan sopan, Arya memang terlihat dingin dengan perempuan. Jauh berbeda dengan Dimas.


"Apakah koh Steven dan mas Dimas pernah kesini, kak?" Tanya Elena.


"Tentu saja. Setelah aku bercerita kepada mereka, aku langsung mengajak mereka kesini"


"Jadi kakak belum terlalu lama ya bekerja dengan mas Dimas?"


"Iya, baru sekitar hampir dua tahun ini" Arya lalu melihat jam tangannya.


"Elena, aku rasa kita harus kembali ke hotel untuk ber siap-siap pulang. Yuk!"


"Iya kak" Setelah berdoa di makam Aisyah, Elena dan Arya masuk ke mobil untuk kembali ke hotel. Di sepanjang perjalanan, Elena dan Arya lebih banyak diam. Tetapi akhirnya Elena bertanya kepada Arya.


"Apakah kau masih mencintainya, kak?" Arya yang kaget mendengar pertanyaan Elena tiba-tiba mengerem mobilnya secara mendadak. Untungnya kondisi jalan saat itu sedang sepi.


"Maaf... Maaf kak, aku tak bermaksud membuatmu kaget dengan pertanyaan aku."


"Tidak apa-apa, Elena. Aku hanya bisa bilang, kalau dulu aku pernah mencintainya, itu saja" Ujar Arya. Elena melihat Arya memegang kemudi setir dengan kuat. 'Apakah ada sesuatu yang terlewat olehku? Atau apakah ada yang tak ia ceritakan kepadaku?' pikir Elena penasaran. Tapi ia tak mau bertanya lebih jauh mengingat reaksi Arya barusan.


Arya kemudian menyalakan mesin mobil dan melanjutkan perjalanan. Mereka kembali diam sampai akhirnya tiba di hotel, lalu bersiap untuk ke bandara.


Seperti janji Arya, menjelang take off Arya tidak mencium Elena seperti waktu berangkat.


"Elena, biasanya apa yang di lakukan Dimas untuk mengatasi aerophobia kamu?"


"Mmm... Biasanya mas Dimas bawa banyak cemilan, tapi aku hanya makan permen"


"Gitu ya? Kamu mau aku panggilkan pramugari untuk bantu kamu?"


"Ga perlu, kak. Biasanya kalau lagi ga terlalu panik mas Dimas cukup genggam tangan aku aja"


"Oke"


Kemudian Arya meminta izin untuk memegang tangan Elena dan Elena mengizinkannya. Cara Arya menggenggam tangan Elena berbeda dengan Dimas. Ia menautkan jari-jari tangannya dengan jari Elena. Ia juga menangkupkan tangan yang satunya lagi, jadi tangan Elena seperti sedang kedinginan karena di genggam dengan kedua tangan Arya yang besar.


Setelah di rasa aman dan Elena sudah tak terlihat tegang, Arya kemudian melepaskan genggaman tangannya dengan agak berat hati. Elena jadi bingung melihatnya.

__ADS_1


Sekitar jam 3 sore Elena dan Arya akhirnya tiba di bandara Soekarno Hatta. Sebelum tiba di bandara Arya menghubungi pak Jaka, supir keluarganya, agar ia di jemput ke bandara.


__ADS_2