
Setelah Dimas pulang, Elena membawa gelas dan piring kotor ke dapur, lalu bergabung dengan kakek dan nenek di ruang tamu.
"Kakek sama nenek tadi nguping ya? Dari teras udah keliatan kok tadi nempel di pintu" Ujar Elena sambil menyeringai.
"Ah ngga kok, tadi kakek nyariin nyamuk"
"Kalau nenek lagi cari cicak"
Setelah itu mereka bertiga tertawa bersamaan.
"Ternyata itu bos kamu ya. Cakep juga ya, nek?"
"Iya kek, mukanya agak... Apa ya namanya... Imut-imut!"
"Kayak anak kecil dong, nek!" Ujar Elena sambil tertawa.
"Iya pokoknya masih keliatan awet muda gitu. Arya juga ganteng ya, kek. Anaknya juga sopan."
"Iya, jaman sekarang agak jarang anak muda yang kayak gitu. Jadi kakek salut sama mereka. Jadi, Dimas itu direktur dan Arya wakilnya, ya?"
"Iya, kek"
"Lena, tolong dengar kakek. Kakek tau kamu kecewa sama Arya. Tapi kamu juga beruntung punya bos seperti Dimas. Dia masih mau kasih kamu kesempatan untuk kerja sama dia. Kalau besok kamu masih belum bisa masuk kerja ga apa-apa, tapi kalau bisa jangan lama-lama"
"Iya, kek"
"Ya sudah, sekarang istirahat dulu. Sudah malam. Besok kita ngobrol lagi"
"Kalau gitu Lena masuk kamar dulu ya kek... Nek... "
"Iya" Ujar kakek dan nenek berbarengan.
**
Keesokan pagi, Dimas dan Arya tiba di rumah keluarga Steven.
"Kok aku deg-degan ya, Dims."
" Sama, aku juga. Bakalan perang ini si Aldo sama Tev"
"Kemarin sih Tev keliatan tenang-tenang aja. Takutnya marahnya lebih serem dari kamu, Dims."
__ADS_1
Dimas spontan memelototi Arya, tapi Arya malah cuek. Lalu mereka mengetuk pintu rumah keluarga Steven. Seorang asisten rumah tangga membukakan pintu untuk mereka.
Hans, Aldo, dan Steven sudah duduk di ruang tengah. Mami Aldo dan Emily - adik Aldo tidak terlihat di sana. Suasana terlihat tegang ketika Dimas dan Arya dipersilahkan untuk duduk. Mereka memilih untuk duduk di sebelah kanan dan kiri Steven untuk berjaga-jaga jika Steven emosi.
"Dimas dan Arya, Papi berterima kasih kepada kalian karena bersedia meluangkan waktu untuk datang ke sini"
"Iya, Pi. Pasti kami datang untuk Papi" Ujar Dimas. Sedangkan Arya hanya menganggukan kepala.
"Jujur Papi sedih mendengar kabar ini. Yang jelas Papi kecewa sama kamu, Aldo. Papi juga malu sama keluarga Loekito, terutama Prakash. Tapi Papi juga berterima kasih kepada mereka karena tidak melaporkan kamu ke polisi."
"Tapi aku tidak melakukannya, pi. Kenapa Papi ga percaya sih sama aku?"
"Papi heran kok kamu masih bisa menyangkal padahal sudah ada bukti. Apa sih sebenarnya tujuan kamu melakukan itu? Kamu mau menjatuhkan perusahaan keluarga yang sudah Papi bangun dengan susah payah?"
"Aku cuma pengen Papi bertindak adil sama aku! Aku tau aku bukan anak kandung Papi, tapi aku ga terima di perlakukan kayak gini!"
"Jabatan kamu sebagai direktur operasional sudah tinggi, Aldo. Tapi kamu masih belum puas juga. Kamu maunya apa sebenarnya?"
"Aku mau jabatan direktur utama di kantor pusat yang di pegang Steven di berikan ke aku! Aku yakin aku bisa lebih baik dari dia!" Ujar Aldo sambil menunjuk Steven.
Trio tangguh hanya menggeleng-gelengkan kepala, walaupun sebenarnya mereka sudah curiga dengan motif Aldo.
"Papi... Papi kenapa? Minum dulu, Pi. Tapi kalau Papi mau istirahat dulu ga apa-apa. Kita lanjut nanti lagi." Ujar Steven khawatir melihat kondisi Papinya. Ia takut Papinya stroke lagi seperti dulu.
"Tidak apa-apa, Papi masih kuat. Tapi siapa yang tidak pusing punya anak macam Aldo begini"
"Selalu saja aku yang disalahkan! Apa aku ga ada bagusnya sama sekali di mata Papi?"
"Ya udah, kalau kamu ingin sekali jabatan aku, ambil aja! Aku tantang kamu jadi direktur utama di Kantor pusat selama setahun. Tapi kalau kamu ga bisa memikul tanggung jawab sebagai presdir selama setahun, kamu harus mengundurkan diri secara sukarela! Gimana? Berani terima tantangan aku ga?"
"Tev, jangan!"
"Jangan, Tev!"
Ujar Dimas dan Arya hampir berbarengan.
"Papi ga setuju sama usul kamu, Steve. Itu terlalu beresiko. Apalagi urusannya dengan kantor pusat. Kamu aja dulu cukup lama belajar jadi presdir sampai sambil kuliah S2. Ga akan cukup waktu setahun bagi Aldo untuk mempelajarinya"
"Itu sih urusan dia, pi. Kan dia yang mau, berarti dia harus bisa buktikan kalau dia bisa" Ujar Steven penuh percaya diri.
Dimas dan Arya sama-sama memandang Steven karena heran dengan tantangan Steven.
__ADS_1
"Aku terima tantangan kamu! Aku yakin aku bisa lebih baik dari kamu!" Ujar Aldo penuh semangat.
"Oke, tapi ada satu syarat sebelum kamu menjabat sebagai Presdir di kantor pusat"
"Apa itu?" Tanya Aldo penasaran
"Kita harus duel dulu. Kalau kamu menang, jabatan itu jadi milik kamu selama setahun"
"Kalau selama setahun aku mampu gimana? Kamu jadi pengangguran dong?" Ujar Aldo sambil tersenyum licik.
"Ga masalah. Aku bisa cari pekerjaan lain. Aku kan lulusan S2, cum laude lagi. Emangnya kamu, lulus S1 aja pake beli ijazah!" Ujar Steven menyindir Aldo.
"Kurang ajar kamu sembarangan nuduh! Buktinya mana? Tarik omongan kamu! Aku ga terima kamu nuduh aku kayak gini!" Aldo langsung emosi dan hendak menyerang Steven, tapi Dimas dan Arya langsung maju untuk menahan Aldo.
"Sudah cukup bertengkarnya! Kalian ini memang ga pernah akur! Papi tambah pusing jadinya!"
"Maaf pi, Steve ga bermaksud buat Papi tambah pusing. Tapi kalau ga begitu Aldo ga akan berhenti ganggu aku!"
"Papi ga setuju sama tantangan kamu, Steve! Apalagi pakai duel segala! Itu terlalu berbahaya! Bisa-bisa nyawa salah satu dari kalian melayang!"
"Papi ga usah khawatir, kita ga akan bertarung sampai melewati batas kok. Apalagi sampai berbuat curang. Siapapun yang ketauan berbuat curang akan di diskualifikasi dan langsung di nyatakan kalah. Gimana? Kamu setuju ga, do?" Tantang Steven kepada Aldo.
"Setuju. Aku kan bisa bela diri jadi aku ga akan takut sedikit pun!"
"Baguslah kalau begitu. Gimana kalau duelnya hari Sabtu ini?"
"Setuju!"
"Terserah kalian sajalah, Papi pusing! Steve kamu yakin sama tantangan ini? Gimana kalau kamu kalah? Kamu sudah pikirkan konsekuensinya belum? Karena ide kamu ini terlalu gegabah kalau menurut Papi."
"Aku udah pikirin matang-matang, pi. Selama ini Aldo kan merasa diperlakukan ga adil sama Papi, jadi kali ini kita kasih kesempatan buat Aldo untuk membuktikan kalau dia bisa. Gitu kan mau kamu, do?"
"Iya betul!" Ujar Aldo bersemangat.
"Ya sudah terserah saja. Papi mau rebahan dulu. Dimas, Arya, seperti biasa anggap saja rumah sendiri ya, kalian bebas melakukan apa saja di sini. Papi permisi ke dalam dulu"
"Iya pi, Terima kasih" Ujar Dimas dan Arya berbarengan.
"Aldo, kamu masih Papi hukum, jadi sampai hari kamu dan Steve duel di hari Sabtu, kamu masih belum boleh ke kantor. Semua fasilitas mobil, kartu kredit, kartu debit, dan lainnya juga masih Papi tahan"
"Iya, pi" Ujar Aldo pasrah. Setelah itu Aldo pun pergi menuju kamarnya.
__ADS_1