
Dimas dan Cindy telah kembali dari Palembang. Perjalanan mereka berjalan dengan lancar. Rencananya lusa giliran Elena dan Dimas yang ke Banjarmasin. Sehari sebelum keberangkatan, Dimas memanggil Elena ke ruangannya.
"Elena, tolong ke ruangan saya sekarang" Dimas memanggil Elena via intercom.
"Baik, Pak"
Elena mengetuk pintu lebih dahulu. Kemudian Dimas menyuruh Elena untuk masuk dan duduk.
"Elena, saya sudah tahu tentang kekhawatiran kamu mengenai perjalanan bisnis ke Banjarmasin dan Singapura nanti. Mba Cindy bilang ke saya kalau kamu Aero fobia atau takut naik pesawat terbang ya?"
'Aduh, kenapa mba Cindy pakai bilang sih? Aku kan malu... ' ujar Elena dalam hati.
"Ii... Iya, Pak... " Elena menjawab sambil terbata-bata.
"Tolong jangan salahkan Cindy karena memberitahu ini ke saya. Justru saya bersyukur dia bilang ke saya supaya kita bisa mengatasi ini bersama. Oke?"
"Iya, Pak"
"Begini saja, ke Banjarmasin kita coba dulu naik pesawat. Tapi kalau tidak berhasil, nanti kamu ke Singapura lewat jalan darat saja dari Batam. Bagaimana? Kamu mau coba dulu tidak?"
"Saya sebenarnya ragu, Pak. Tapi saya bersedia untuk mencobanya, Pak"
"Terima kasih, Elena. Ya sudah kembali ke tempat kerja kamu lagi ya"
"Iya, saya permisi dulu, Pak.
"Iya, silakan"
**
Dimas telah membaca beberapa artikel untuk mengatasi Aero fobia atau takut naik pesawat terbang. Intinya adalah untuk mengalihkan orang yang fobia tersebut dari hal-hal yang membuat ia takut.
Hari berangkat ke Banjarmasin akhirnya tiba. Dimas menjemput Elena dari rumahnya ke bandara dengan di antarkan oleh Pak Darma, supir keluarga Dimas yang dulu juga pernah menjemput Elena dari rumah menuju tempat eyang Dimas yang waktu itu berulang tahun.
Elena terlihat tegang dan banyak diam sejak Dimas menjemput Elena di rumahnya.
"Elena... "
"Iya, Pak saya baik-baik saja. Saya kan sudah bilang mau mencobanya" Ujar Elena dengan tersenyum agak di paksakan.
__ADS_1
"Aku kan belum ngomong apa-apa, kamu udah ngomong ke arah situ aja" Ujar Dimas sambil pura-pura cemberut.
Elena malah menertawakan ekspresi Dimas yang lucu.
"Nah, gitu dong. Kalau udah mulai senyum apalagi tertawa setidaknya bisa mengurangi ketegangan walau sedikit"
"Hehehe... Iya Pak... "
"Kita lagi di luar kantor loh. Lupa ya masih manggil aku pakai Pak... "
"Eh iya... Maaf, mas..."
"Jangan lupa lagi ya, nanti kamu aku kasih SP1 kayak Redi loh. Mau?"
"Yah... Jangan dong mas... Aku kan ga mengintimidasi kayak mas Redi" Ujar Elena protes.
"Makanya nurut sama aku nanti ga di kasih SP deh"
"Iyaa... Siap Pak bos"
"Kok Pak lagi sih?" Dimas mendelikkan matanya dengan sinis. Elena malah tambah tertawa melihat ekspresi Dimas.
Kali ini justru Dimas yang menertawakan Elena.
**
Dimas dan Elena akhirnya tiba di bandara. Setelah itu Dimas meminta Pak Darma untuk langsung pulang tidak perlu menunggu lagi atau mengantarkan ke dalam karena ia bisa mengurusnya sendiri jadi Pak Darma tidak perlu memarkirkan mobil lagi, hanya mengantarkan sampai lobi bandara.
"Elena, koper yang saya belikan buat kamu itu bisa di naikin loh kayak mobil-mobilan jadi kamu ga perlu capek-capek jalan sampai tempat check-in"
"Emang bisa ya, mas?"
"Bisa dong. Sini aku contohin" Lalu Dimas mulai memperagakan cara memakai koper tersebut. Sebelum berangkat ke Banjarmasin, Dimas memang membelikan Elena sebuah koper untuk ia bawa tiap kali ia melakukan perjalanan dinas. Dimas juga membelikan untuk Cindy, sedangkan Redi sudah pernah di berikan sebelumnya waktu ia baru bekerja untuk Dimas.
Tak lama kemudian, Elena meluncur dengan mulus. Awalnya ia takut, tapi lama kelamaan ia malah senang. Dimas lalu menyusul di belakangnya sambil diam-diam merekam Elena dan mengirimkannya ke Arya dan Steven di grup chat.
Setelah check-in, Elena dan Dimas langsung menuju pesawat. Elena mulai agak tegang ketika mencari nomor tempat duduk di pesawat. Ketika sudah duduk dan belajar memasang sabuk pengaman, Dimas memberi Elena permen untuk mengurangi ketegangan.
"Nih liat Elena, aku bawa banyak permen. Karena aku ga tau kamu suka permen apa, jadi aku beli beberapa macam supaya kamu bisa pilih."
__ADS_1
"Aku pilih permen yang pedas aja biar ga mual. Makasih ya, mas"
"Iya, Sama-sama. Kamu tau ga, saking banyaknya aku beli permen sama cemilan, adik aku sampai nyindir aku. Kata dia aku tuh sebenarnya mau perjalanan dinas apa piknik sih?" Dimas bicara sambil memeragakan ucapan Lili yang sinis dan menyebalkan. Elena kembali tertawa melihat ekspresi Dimas, sampai ia lupa kalau pesawat akan take-off dan ia mulai tegang lagi. Lalu Dimas menawarkan tangannya untuk ia pegang untuk mengurangi ketegangan.
"Kamu boleh pegang tanganku Elena, tapi jangan di bawa pulang. Repot nanti aku ga bisa kerja kalau kamu bawa tanganku" Elena kembali tersenyum, ketegangannya agak sedikit berkurang. Dimas memang pandai menghadapi wanita. Tak heran makanya ia bisa jadi playboy.
Setelah pesawat sudah terbang, Elena mulai rileks dan melepas genggaman tangan Dimas.
"Gimana? Sudah lebih baik" Tanya Dimas dengan tenang agar Elena juga tidak tegang.
"Iya, sudah lebih baik. Terima kasih banyak, mas" Elena menjawab sambil tersenyum kepada Dimas.
"Iya sama-sama, Elena... " Ujar Dimas lega melihat Elena yang sudah mulai santai.
Penerbangan ke Banjarmasin memerlukan waktu hampir dua jam lamanya. Akhirnya mereka tiba dengan selamat di bandara Syamsudin Noor.
Setelah check-in di hotel, Dimas meminta Elena untuk beristirahat selama beberapa jam, lalu Dimas akan menjemput untuk makan siang sambil membicarakan persiapan meeting untuk besok pagi.
Kamar Elena terletak bersebelahan dengan kamar Dimas untuk memudahkan mereka jika masing-masing ada keperluan. Setelah beristirahat selama beberapa jam, Elena merasa segar dan memutuskan untuk mandi dan berganti pakaian. Lalu ia menelepon Dimas, tapi setelah deringan ke empat, telepon belum juga di angkat. Jadi, Elena memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di sekitar hotel.
Sekitar hampir satu jam kemudian, Dimas menelepon Elena.
"Halo, mas"
"Elena, maaf ya aku ketiduran. Kamu dimana sekarang?"
"Lagi jalan-jalan di taman hotel di bawah, mas."
"Ya udah kamu tunggu di sana ya, jangan kemana-mana lagi. Sebentar lagi aku ke sana. "
"Iya mas"
Setelah bertemu dengan Elena, Dimas lalu mengajak Elena makan siang di sebuah restoran yang menyajikan makanan khas Banjarmasin yang lokasinya tidak terlalu jauh dari hotel tempat mereka menginap.
**
Keesokan harinya, Dimas dan Elena bersiap untuk meeting dengan perusahaan Grain Corp di Banjarmasin. Hari sudah melewati jam makan siang ketika meeting selesai. Setelah itu, Grain Corp menjamu Dimas dan Elena dengan menyajikan masakan prasmanan khas Banjarmasin.
Di sore hari, Dimas dan Elena bersiap untuk kembali pulang ke Jakarta. Di dalam pesawat ketika akan take-off, Dimas kembali melakukan penanganan yang sama seperti ketika berangkat untuk mengatasi ketakutan Elena terhadap pesawat terbang. Dan seperti waktu berangkat, penanganan yang di lakukan Dimas berhasil sampai Elena kembali ke rumahnya dengan selamat.
__ADS_1