
Dimas memandang keluar melalui jendela di ruang kerjanya. Ia memikirkan banyak hal. Kemudian ia memanggil Elena via intercom.
"Elena, tolong kesini sebentar"
"Baik, Pak"
Elena kemudian mengetuk pintu ruang Dimas. Lalu Dimas mempersilahkan Elena masuk dan duduk di sofa ruang tersebut. Lalu Dimas duduk di sampingnya.
"Elena, saya benar-benar minta maaf atas kejadian kemarin. Saya juga tak menyangka kalau adik saya akan berbuat senekat itu"
"Iya, ga apa-apa mas. Sudah saya maafkan."
"Arya juga bilang ke saya kalau kamu sempat shock kemarin."
"Mmm... Soal itu... Iya Pak, saya sempat shock tapi sekarang sudah tidak apa-apa"
"Syukurlah. Saya pikir tadinya kalau kamu hari ini mau izin kerja dulu akan saya perbolehkan. Tapi kamu ternyata pagi-pagi sudah datang. Terima kasih ya."
"Iya, Sama-sama Pak. Saya punya tanggung jawab disini, jadi saya akan berusaha untuk selalu bersikap profesional."
"Sekali lagi, Terima kasih Elena. Sekarang kamu boleh kembali bekerja."
"Baik Pak"
Tak lama kemudian, suara Elena terdengar di intercom.
"Maaf Pak, Pak Steven dan Pak Ksatria ada disini untuk bertemu dengan bapak."
"Iya, Elena. Tolong suruh mereka untuk segera masuk"
"Baik, Pak"
"Hei, Dims!" Ujar Steven dan Arya berbarengan.
"Kamu keliatan agak... Murung... Kamu ga apa-apa, Dims?"
__ADS_1
"Yah, begitulah. Papa dan mas Akash kecewa sama Lili. Tapi mereka menyerahkan hukuman untuk Lili padaku karena Elena adalah pegawaiku. Aku juga sebenarnya jadi ga eenak sama Elena walaupun aku sudah minta maaf sama dia."
Iya, aku ngerti sih perasaan kamu. Kira-kira kamu udah kepikiran belum hukuman apa yang pas untuk Lili?" Tanya Arya.
"Belum. Aku sih pengennya hukuman yang mendidik untuk Lili" Ujar Dimas.
"Gimana kalau Lili di suruh belajar kungfu di pegunungan yang terpencil? Dia ga boleh pulang kalau belum bisa satu jurus ampuh." Ujar Steven dengan ide anehnya.
"Tev, please deh. Balik kesini aku rasa dia bisa gila saking ga tahan. Kamu tau sendiri kan dia manjanya kayak apa" Ujar Dimas yang heran dengan ide Steven.
"Tapi dia jadi bisa punya mental baja, Dims. " Ujar Steven masih ngotot dengan ide anehnya.
Arya hanya menertawakan Steven sambil menyimak obrolan Dimas dan Steven.
"Atau gini aja, Dims. Gimana kalau Lili kamu tugasin sebagai trainee di sini? Dan satu yang paling penting. Kamu potong uang saku bulanan dia selama dia trainee. Gak usah Lama-lama, sebulan aja cukup." Ujar Arya dengan idenya yang kali ini agak masuk akal.
"Ide bagus tuh, ya'! Tiap minggu dia pindah bagian. Misal minggu ini di bagian administrasi, minggu berikutnya di bagian HRD, dan seterusnya. Biar dia tau gimana rasanya kerja, ga cuma foya-foya aja. Dan yang paling penting, dia ga boleh berdandan yang berlebihan selama training" Ujar Dimas yang antusias dengan ide Arya.
"Tapi kalau kamu mau pakai ide aku ga apa-apa juga sih" Ujar Steven.
Setelah itu Arya dan Dimas malah menyoraki Steven. Lalu Steven kembali membicarakan hal lain kepada Dimas.
"Oh iya... Leticia ya. Orang tua Leticia katanya udah hubungi orang tua aku. Katanya ia masih mempertimbangkan soal pertunangan aku sama dia." Ujar Dimas.
"Bagus sih kalau masih di pertimbangkan" Ujar Steven yang agak lega mendengarnya, karena kalau pertunangan sampai di batalkan, Steven mungkin akan merasa bersalah karena Leticia lebih memilih dirinya.
"Memangnya dia kemarin ngomong apa sama kamu, Tev?"
"Eeh... Sebenarnya... Gimana ya aku ga enak nih ngomongnya... "
"Dia suka sama kamu kan, Tev?"
"Iya sih dia bilang gitu ke aku"
"Terus kamu gimana? Terima ga?"
__ADS_1
"Ya nggak lah"
"Bukan karena aku, kan?"
"Hih... Ge er banget sih kamu! Aku cuma suka sama dia sebatas teman aja kok"
"Dia kan cantik dan pintar, Tev. Kamu ga tertarik sedikit pun gitu sama dia?" Dimas masih terus mencari tahu alasan Steven karena penasaran.
"Ngga. Aku kan udah bilang kalau aku lagi mau pendekatan sama Elena"
"Oh... Masih ya. Kirain udah ngga"
"Masih dong, Dims. Yang penting kita bertiga bersaing secara sehat. Iya ga, ya'?"
Arya yang di tanya hanya diam saja. Karena curiga, Dimas dan Steven menoleh ke arah Arya yang sedang duduk di sofa. Ternyata Arya tertidur di sofa. Kemudian Dimas dan Steven diam-diam menghampiri sambil menggelitik Arya.
"Eh... Apa... Apa-apaan nih? Aduh geli! Tev... Dims... Udah dong aku geli nih! Ujar Arya yang memang paling tidak tahan kalau di gelitik.
Elena, Cindy, dan Redi yang mendengar kegaduhan di ruangan Dimas hanya bisa saling memandang dengan heran.
Lalu, setelah puas menggelitik Arya, Dimas dan Steven melanjutkan pembicaraan mereka.
"Jadi Dims, kamu tenang aja. Mudah-mudahan kali ini kamu berjodoh dengan Leticia." Ujar Steven kepada Dimas.
"Iya, Tev. Do'ain ya. Kamu juga tolong do'ain ya'. Kayaknya, sejak kasus Nine, aku jadi kapok gonta-ganti pasangan lagi. Aku mau coba settle down dengan menikah dengan pasangan yang tepat dan punya anak banyak"
"Iya Dims, aku setuju. Di usia kita sekarang udah bukan waktunya untuk main-main lagi" Ujar Arya yang baru bangun tidur tapi sepertinya langsung nyambung dengan obrolan Dimas.
"Kalian juga seharusnya punya pemikiran yang sama dong kayak aku, ya' sama Tev.
" Iya, aku juga pengen settle down kayak kamu, Dims. Apalagi aku kan paling senang sama anak-anak. Aku ga mau nanti anakku cuma satu kayak aku, karena aku ga ingin dia merasa kesepian kayak aku" Ujar Steven menimpali ucapan Dimas. Arya dan Dimas yang mendengarnya hanya menepuk baju Steven untuk menghiburnya.
Setelah itu mereka bertiga berencana untuk makan siang bersama. Mereka juga mengajak Elena untuk ikut makan siang bersama. Awalnya Elena menolak, tapi Cindy ikut membujuk Elena, hingga akhirnya Elena mau juga.
Ketika sedang makan siang, Dimas dan Steven sibuk mencari perhatian Elena dengan menawarkan bermacam-macam makanan dan minuman yang enak, hanya Arya yang tidak melakukan itu. Ia hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala karena heran dengan tingkah kedua sahabatnya, terutama Steven yang biasanya pendiam.
__ADS_1
Tapi Arya juga heran dengan sikap Dimas yang sepertinya lupa kalau ia sedang di jodohkan dengan Leticia tapi masih sempat-sempatnya menggoda Elena. Rupanya hanya sampai di situ saja janji seorang playboy yang tadi katanya mau insyaf dan menetap dengan wanita pilihannya.
Karena larut dengan pikirannya sendiri membuat Arya jadi terlihat seperti sedang senyum-senyum sendiri. Elena yang pertama menyadarinya jadi menegur Arya dan bertanya apakah ia baik-baik saja. Arya yang di tanya oleh Elena jadi gelagapan menjawabnya karena kaget dan membuat Dimas dan Steven jadi menertawakan Arya.