Trio Tangguh Dan Elena

Trio Tangguh Dan Elena
Bab 32 PA Training


__ADS_3

Di hari Senin pagi, Arya datang ke ruangan Dimas. Setelah itu Dimas memanggil Elena, Cindy dan Redi.


"Selamat pagi semua" Ujar Dimas.


"Selamat pagi, Pak... " Elena, Cindy dan Redi menjawab berbarengan.


"Pagi ini, saya dan Pak Ksatria memanggil kalian terkait dengan padatnya jadwal minggu ini di Loekito Corp Head Office. Terutama untuk Redi, karena kamu dapat SP 1 dan masih saya hukum, jadi perjalanan dinas sampai akhir bulan ini akan saya delegasikan kepada Elena dan mba Cindy agar kalian bisa belajar menangani tugas-tugas Redi jadi jika salah satu berhalangan, yang lain bisa menggantikan. Sampai di sini paham?"


"Iya Pak" Mereka bertiga menjawab bersamaan.


Lalu Arya melanjutkan.


"Sampai akhir bulan ini, Redi dan saya akan lebih banyak menangani meeting di Jakarta, sementara beberapa meeting di Palembang, Banjarmasin, dan Singapura di minggu depan akan di bagi oleh Pak Dimas, bergantian antara Elena dan mba Cindy."


"Baik, Pak"


Dimas kembali melanjutkan.


"Nanti saya harap kamu, Redi, bersedia untuk memberikan pelatihan dan pengarahan kepada mba Cindy dan Elena terkait tugas-tugas kamu sebagai Personal Assistant. Jadi saya harap kamu bisa bersikap profesional dan saya tidak mau lagi kejadian tempo hari terulang lagi. Paham, Redi?"


"Iya paham Pak"


"Bagus. Jadi rencananya minggu ini akan ada business trip ke Palembang beberapa hari lagi. Nanti saya akan di dampingi oleh mba Cindy. Berikutnya ke Banjarmasin saya akan di dampingi oleh Elena, begitu pula ke Singapura minggu depan."


Elena sempat merenung sesaat. Ia berfikir apakah ia sanggup menjalani tugas tersebut. Tapi sebenarnya yang paling ia takuti adalah bepergian dengan menggunakan pesawat terbang. Karena ia takut ketinggian dan fobia naik pesawat terbang.


Arya yang sedari tadi memperhatikan Elena jadi menegurnya.


"Elena... Elena... Kamu baik-baik saja?"


"Ah... Oh... Eh... Maaf Pak... Iya, saya baik... Baik-baik saja..." Elena menjawab dengan tergagap karena malu ketahuan sedang melamun. Semua yang ada di ruangan tersebut melihat ke arahnya dan tersenyum. Elena hanya menundukkan kepalanya karena malu.


"Baik, kalau sudah melamunnya, saya lanjutkan lagi ya" Ujar Dimas sambil tersenyum menggoda Elena.


"Saya jelaskan dulu disini agar tidak ada salah paham. Pertama, saya hanya akan mengajak mba Cindy ke Palembang karena mba Cindy sudah berkeluarga jadi saya akan mengurangi perjalanan dinas ke luar kota dan lebih banyak memfokuskan mba Cindy untuk lebih banyak bekerja di sini, di kantor pusat"


"Kedua, untuk Elena juga mendapat perjalanan dinas ke luar kota dan ke luar negeri agar Elena dapat belajar lebih banyak di kedua tempat yang nanti akan kita kunjungi."

__ADS_1


" Ketiga, tanpa bermaksud untuk mengurangi tugas kamu, Redi, sebenarnya saya malah ingin mempersiapkan kamu untuk tugas yang lebih besar lagi di bulan depan karena rencananya Loekito Corp akan ekspansi membuka kantor cabang di Sydney, Australia. Jadi nanti kamu dan saya yang akan berangkat ke sana bulan depan. Sampai di sini paham semuanya?"


"Paham, Pak" Sahut Elena, Cindy dan Redi berbarengan.


"Pak Ksatria ada yang mau ditambahkan?"


"Saya rasa tidak ada" Ujar Arya.


"Oke. Kalian ada yang mau di tanyakan?" Tanya Dimas kepada Elena, Cindy, dan Redi.


"Tidak ada, Pak"


"Baik, kalau begitu kembali bekerja ke tempat masing-masing. Terima kasih"


"Terima kasih kembali, Pak"


**


Keesokan harinya, mereka saling membantu pekerjaan masing-masing, terutama Redi yang banyak memberikan pengarahan kepada Elena dan Cindy, karena sampai akhir bulan ini Elena dan Cindy yang akan membantu Dimas untuk keperluan meeting di luar kota dan luar negeri.


Esok lusa adalah giliran pertama bagi Cindy untuk ke kota Palembang mendampingi Dimas. Cindy sudah berpengalaman dalam menangani meeting karena ia sudah bekerja untuk Loekito Corp sejak Bram - Papanya Dimas, masih menjabat sebagai Direktur Utama di Loekito Corp. Tak heran jika sampai saat ini Dimas sangat menghormati Cindy sebagai staf senior.


"Jadi gimana mba persiapan berangkat ke Palembang? Sudah siap semua?" Tanya Elena kepada Cindy.


"Sudah Len, tiket kan sudah beres karena kamu yang booking kemarin. Mba juga sudah minta izin suami. Anak-anak nanti di titip ke mama mba. Untungnya jarak rumah mama ke sekolah anak-anak ga terlalu jauh, jadi mba ga terlalu kepikiran."


"Syukur kalau sudah beres ya, mba. Tinggal berangkat aja."


"Iya, Len. Kamu kayaknya sejak Pak Dimas info tentang penugasan kita, kamu malah lebih banyak termenung. Kamu khawatir ya, Len?"


"Iya mba"


"Jangan khawatir, kamu pasti bisa. Apalagi kamu juga bisa bahasa Inggris kan."


"Iya sih, mba. Tapi ada hal lain yang buat aku khawatir"


"Apa itu, Len?"

__ADS_1


"Itu mba... Aku... Aku takut naik pesawat terbang... " Ujar Elena malu-malu.


"Ooo... Pantesan... Fobia ya? Memangnya kamu dulu pernah naik pesawat terbang?"


"Pernah mba, waktu kecil kakek sama nenek pernah ajak aku ke rumah saudara yang tinggal di Surabaya. Mereka kirim tiket buat ke sana. Pas pesawat mau berangkat aku nangis-nangis teriak minta turun. Jadi aku takut kalau nanti akan seperti itu lagi. Aku bisa-bisa malu sama Pak Dimas"


"Ya udah ga apa-apa, nanti kita cari cara supaya kamu ga fobia lagi"


"Iya mba, makasih ya"


**


Keesokan harinya, Cindy di panggil ke ruangan Dimas untuk membicarakan persiapan keberangkatan besok ke Palembang.


Cindy kemudian memanfaatkan kesempatan itu untuk membicarakan tentang Elena setelah selesai membahas persiapan untuk besok.


"Maaf Pak, karena persiapan untuk besok sudah matang saya ingin membicarakan hal lain kalau boleh"


"Tentang apa ya, mba?"


"Tentang Elena. Dia khawatir tentang perjalanan ke Banjarmasin dan Singapura, Pak."


"Memangnya kenapa? Karena pertama kali bagi dia ya? Kita semua di sini kan akan bantu dia untuk persiapan yang di perlukan untuk meeting di sana."


"Iya, Pak. Tapi bukan tentang meeting yang Elena khawatirkan"


"Jadi tentang apa, mba?"


"Tentang transportasi ke sana, Pak. Elena takut naik pesawat terbang, Pak."


"Oooh... Jadi Elena fobia naik pesawat ya?"


"Iya, Pak. Sebenarnya saya tidak boleh kasih tahu siapa-siapa sama Elena, tapi karena ia akan berangkat dengan bapak, jadi saya pikir bapak perlu tahu"


"Iya mba Cindy benar, saya perlu tahu jadi saya bisa antisipasi tentang itu. Terima kasih pemberitahuannya, mba. Nanti saya akan pikirkan bagaimana cara mengatasinya. "


"Baik Pak, saya pamit dulu"

__ADS_1


"Iya, silakan mba"


Karena besok Dimas tidak akan bertemu dengan Elena, ia lalu meminta Redi untuk mengajarkan apa yang di perlukan untuk perjalanan dinas nanti. Dimas juga meminta Arya untuk datang ke kantor selama ia ke Palembang bersama Cindy, sekaligus untuk mengawasi Redi agar kejadian sebelumnya tidak terulang lagi.


__ADS_2