
Kesehatan Steven tambah memburuk dan membuat semua orang khawatir. Ia harus segera membuat keputusan. Lalu ia memanggil Dimas dan Arya.
"Dims... Ya'... Kurasa sudah waktunya. Tolong jalankan plan B"
"Kau yakin, Tev?" Tanya Dimas.
"Ya, aku yakin. Aku harus pamit kepada beberapa orang, waktuku tak banyak" Ujar Steven dengan nafas tersengal. Ia sudah mulai kesulitan untuk bernafas.
"Baiklah" Kali ini Dimas dan Arya menyahut berbarengan.
**
Orang pertama yang Steven panggil tentu saja adalah Hans Simmons, papinya.
"Papi, maaf aku selalu menyusahkan papi. Aku janji ini terakhir kalinya aku menyusahkan papi"
"Benarkah?" Hans tersenyum kecil, tapi setelah itu matanya berkaca-kaca.
"Steve, papi juga berhutang maaf padamu. Kau telah menghabiskan banyak waktumu demi perusahaan karena kesehatan papi yang memburuk, kalau saja..."
"Sudahlah, papi. Aku ikhlas. Tolong relakan aku pergi, pi"
"Akan papi coba walau ini berat untuk papi. I love you, son... "
"I love you too, papi"
Setelah membersihkan air matanya, Hans kemudian memanggil Meilina - istrinya, dan Emily. Aldo sedang tidak ada di rumah karena ia sedang dinas keluar kota. Steven pun tidak berharap untuk bisa berpamitan dengan Aldo.
**
Meilina masuk ke kamar Steven bersama Emily.
"Steve, aku memang tak pernah bisa menggantikan almarhumah mami kamu, tapi aku selalu berusaha yang terbaik untuk menyayangimu seperti ibumu sendiri."
"Iya, aku tahu tante"
Steven memang tak pernah bisa memanggil Meilina dengan sebutan ibu, mama, mami, atau sebutan lainnya karena baginya maminya hanya satu, yaitu Almarhumah Helen.
"Tolong maafkan juga sikap Aldo padamu selama ini, Steve. Aku rasa setelah ini ia akan berubah menjadi pribadi yang lebih baik karena tanggung jawab dari pekerjaan yang di pikulnya sangat besar"
"Iya tante, aku juga berharap begitu"
Emily tak sanggup berkata apa-apa karena ia terus menerus menangis.
"Em, tolong berhenti menangis dan mendekatlah kesini."
"Aku tak bisa, ko"
"Tak bisa yang mana? Berhenti menangis atau mendekat kesini?"
Tapi akhirnya Emily mendekat ke arah Steven walau ia masih menangis. Setelah mendekat ia langsung memeluk Steven.
"Jangan pergi ko..."
"Aku juga maunya begitu, tapi tak bisa. Jaga dirimu baik-baik ya. Emily yang sekarang aku lihat sudah jauh lebih kuat dari yang dulu waktu baru datang kesini"
"Terima kasih, ko. Aku jadi kuat berkat kau"
"Bukan karena aku, tapi karena dirimu sendiri" Ujar Steven sambil menjawil hidung Emily
"Aku sayang koko... Selamanya..."
__ADS_1
"Aku juga sayang kamu, Em... Sekarang tolong panggilkan Elena kesini"
"Baik, ko..."
**
Elena langsung masuk dan memeluk Steven sambil menangis.
"Tuh kan nangis lagi... Bener kan kata aku, kamu sama Dimas sama-sama cengeng. Lagian kamu kan udah janji ga akan nangis lagi"
"Mana bisa aku kayak gitu... Huhuhu..."
"Elena, tolong dengarkan aku sebentar. Lihat aku, ku mohon... "
Namun ketika Elena mendongakkan kepalanya untuk memandang Steven, Steven malah tertawa.
"Kenapa kamu malah ketawa sih?"
"Abis muka kamu malah lucu abis nangis gitu"
Karena malu, akhirnya Elena membersihkan mukanya dulu dengan tissue.
"Elena, aku minta maaf. Sepertinya aku tak bisa memenuhi janjiku untuk menikahi kamu setelah aku sehat, karena..."
Belum selesai Steven bicara, Elena malah menangis lagi. Kali ini lebih keras dari yang tadi.
"Stevie... Huhuhu... Jangan tinggalin akuu... Aku janji ga akan injak kaki kamu lagi kalau kita dansa, atau minta macam-macam yang buat kamu pusing nyarinya, atau..."
"Elena, sudah. Aku ga akan keberatan akan semua itu. Tapi, memang sudah waktunya aku pergi. Maafkan aku"
"Stevie.... Huhuhu..."
"Aku belum pernah memintamu untuk menciumku. Aku malu. Aku cupu banget emang kalau soal ginian" Ujar Steven sambil menutup mukanya dengan kedua tangan. Tapi kemudian Elena membuka kedua tangan Steven dan mengecup bibir Steven dengan lembut. Muka Steven jadi merah karena malu.
"Aku juga sayang kamu, Elena. Berjanjilah kamu akan bahagia dengan orang yang kau cintai"
"Tapi bagaimana aku bisa bahagia kalau kau malah meninggalkan aku? Huhuhu..."
"Nanti akan ada seseorang yang mencintaimu dengan tulus. Tunggu saja, kebahagiaanmu akan segera tiba. Sekarang tolong panggilkan Arya kesini"
Setelah memeluk Steven dengan erat, Elena memanggil Arya.
**
Arya dan Dimas masih menunggu di luar kamar Steven. Ketika melihat Elena keluar, mereka langsung berdiri berbarengan.
"Stevie mau bertemu kak Arya dulu" Ujar Elena dengan mata sembab. Arya yang melihatnya, memeluk Elena sebentar lalu masuk ke dalam kamar Steven.
"Ya', aku minta kamu yang masuk duluan sebelum Dimas karena aku tahu Dimas sama cengengnya dengan Elena. Jadi, kamu ga akan nangis juga kan?"
Arya hanya tersenyum kecil lalu menjawab.
"Ga, aku ga akan nangis. Tapi aku ga janji juga sih"
"Terima kasih ya selama ini udah jagain aku"
"Sepertinya selama ini ga aku jagain juga kamu bisa jaga diri sendiri deh, Tev"
"Kamu inget ga sebelum aku masuk ke kamar di hotel sebelum ketemu Reva?"
"Iya, aku ingat. Waktu itu aku ngasih kamu pelindung buat jaga-jaga"
__ADS_1
"Waktu itu aku emang lupa bawa pelindung saking gugupnya"
"Untungnya waktu itu ga jadi di pakai ya, Tev"
Kemudian mereka sama-sama tertawa.
"Kamu dulu pernah sebut Reva itu kayak piala bergilir. Apakah setelah ketemu dia lagi kamu masih anggap dia begitu, ya'?"
"Jujur, menurutku masih. Dari dulu dia emang nakal kan?"
"Iya sih. Untungnya dia ga jadi sama Dimas"
"Iya betul, Tev"
"Waktu Aldo hampir racunin aku juga kamu selamatin aku. Kalau ga, mungkin saat ini aku udah ngga ada"
Mendengar Steven berkata seperti itu, mata Arya langsung berkaca-kaca dan Steven melanjutkan ucapannya.
"Jadi siapa bilang kamu ga menjagaku?"
"Tev..."
"Kamu ingat ga dulu Dimas cemburu sama kita? Dia merasa di cuekin kayak nyamuk karena aku sama kamu asik sendiri. Terus kamu inget ga bilang apa waktu itu?"
"Ingat. Aku bilang karena Tev anak tunggal jadi aku selalu nemenin kamu, kalau Dimas kan di rumah juga punya kakak sama adik, kalau Tev ngga. Itu juga alasan kenapa kita ngebiarin kamu main sama Dita dan Lili, supaya kamu juga bisa ngerasa kayak punya adik sendiri."
"Oh gitu ya ternyata. Jadi bukan karena kalian ga peduli ya sama adik kalian?"
"Ngga dong, kamu kan tau aku sayang banget sama Dita"
"Iya sih. Satu lagi, soal Elena"
"Kamu mau aku jagain dia kan? Done, aku pasti akan jagain dia"
"Bukan itu. Aku mau kamu nyatakan cinta kamu ke dia"
"Tev, dia kan cintanya sama kamu"
"Kata siapa?"
"Buktinya dia jadian kan sama kamu?"
"Dia sayang sama aku, tapi dia cintanya sama kamu"
"Tev, kayaknya kamu salah deh"
"Aku ga pernah salah ya'. Aku selalu teliti dan penuh perhitungan. Ingat?"
"Dia ga cinta Tev sama aku"
"Iya, dia cinta sama kamu. Masa kamu ga bisa lihat sih? Aku aja sama Dimas tau"
"Dimas tau?"
"Iya, dia tau kok"
"Kok aku ga merasa dia cinta sama aku ya?"
"Karena kamu bodoh"
"Tev..."
__ADS_1
"Apa? Kalau aku ga sakit kamu akan pukul aku. Iya kan? Pukul aja kalau berani"
Arya mulai geram. Kalau bukan sahabatnya dari tadi sudah ia hajar Steven. Tapi jauh di dalam lubuk hatinya sebenarnya ia memang berharap Elena benar-benar mencintainya.