
Hari Jum'at sore setelah pulang kerja akhirnya Dimas pulang ke rumah keluarganya. Kebetulan saat itu hanya ada adiknya, Lili. Kedua orang tuanya sedang keluar rumah. Tapi setelah Magrib, Prakash datang dari Singapura khusus untuk membahas tentang besok bersama Dimas dan Papanya.
"Hei, Dim. Gimana kabarnya? Udah mendingan di banding kemarin?" Tanya Prakash yang berpapasan dengan Dimas sebelum masuk ke kamarnya.
"Sedikit mendingan, mas. Tapi pastinya deg-degan nunggu besok"
"Jangan khawatir. Semuanya akan baik-baik aja. Seenggaknya Papa belum mau pecat kamu jadi presdir kok"
"Aku sebenarnya ga terlalu khawatir soal itu. Cuma... Malu aja sama Papa... "
"Tenang aja, Dim. Kamu emang harus lewati fase ini dulu kalau mau jadi lebih baik"
"Iya mas"
Setelah itu Prakash menepuk pelan pundak Dimas dan masuk ke dalam kamarnya.
**
Dimas, Bram - Papa dari Dimas, dan Prakash sudah berada di ruang tengah yang terkadang di pakai untuk tamu yang datang untuk makan bersama. Percakapan di buka oleh Bram.
"Kamu pasti sudah tau apa yang mau papa omongin."
"Iya Pa" Ujar Dimas.
"Papa yang pasti sama seperti mas Akash yang kecewa setelah tahu apa yang terjadi. Papa tahu dari dulu kamu memang suka gonta-ganti pasangan, tapi yang buat Papa kecewa adalah affair yang sudah kamu buat sampai membuat kamu jadi lalai dengan kewajiban kamu. Kalau kamu mau menjalin hubungan dengan siapapun itu hak kamu asal kamu tetap bisa menjalankan kewajiban kamu dengan semestinya."
"Iya Pa"
"Dengar Dim, Papa sama mas Akash juga pernah muda dan pernah seperti kamu juga tapi Alhamdulillah selama ini tugas dan kewajiban untuk keluarga tetap harus nomer satu"
Sebelum Bram melanjutkan pembicaraannya, seorang asisten rumah tangga datang memberitahukan kalau Arya dan Steven datang. Dimas yang tadinya murung jadi merasa lebih baik mendengar kedatangan mereka. Tak lama kemudian, Arya dan Steven di persilahkan untuk masuk.
"Maaf Papa dan mas Akash, kami tak bermaksud untuk mengganggu, tapi kami hanya akan menyerahkan ini setelah ini kami pergi" Ujar Steven membuka percakapan.
__ADS_1
"Ga apa-apa Arya dan Steven. Kalian disini saja sampai selesai. Tolong kash, CD yang di bawa Steven tolong di putar, Papa mau lihat"
"Iya Pa"
Prakash kemudian mengambil laptop yang di proyeksikan ke layar hingga gambar terlihat lebih jelas. CD tersebut berisi rekaman Dimas dan Nine yang sedang mabuk sebelum masuk ke kamar hotel dimana Dimas menginap.
Di rekaman tersebut juga terlihat Elena yang keluar dari lift dan melihat Dimas dan Nine di depan pintu kamar Dimas. Elena yang terlihat kaget setelah itu bersembunyi di ruang tangga darurat.
Dimas yang melihat rekaman itu hanya bisa menutup wajahnya dan mengerang pelan karena malu. Tapi Prakash akhirnya mengetahui kalau Nine telah membohonginya.
"Itu benar sekretaris kamu kan, kash?" Tanya Bram kepada Prakash.
"Iya Pa. Kemarin ia telah membohongi aku dengan alasan lain, Pa. Ia tak mengakui hubungannya dengan Dimas."
"Hmm... Lakukanlah apapun yang ingin kau lakukan tentang ini, kash. Masih banyak orang jujur yang mau bekerja untuk kita" Ujar Bram dengan bijak dan disetujui oleh semua yang ada di ruangan itu.
"Darimana kamu dapat rekaman ini, Steve?" Tanya Prakash kepada Steven.
"Dari salah satu asisten aku yang bernama Mr. Rami, mas. Dulu dia bekerja di hotel tempat Dimas menginap sebagai security, jadi ia kenal baik dengan para staf di sana"
"Iya, mas."
"Dim, sesuai janji mas setelah melihat bukti ini hari Senin nanti mas akan memecat Nine. Bukan karena kalian punya affair, tapi mas tidak suka di bohongi karena ke depannya juga nanti akan berpengaruh kepada sikapnya dalam menangani pekerjaan. Selain itu untuk hukuman, mas serahkan kepada Papa"
"Iya mas" Ujar Dimas kepada Prakash.
Lalu Bram melanjutkan pembicaraan.
"Dimas, soal jabatan kamu Papa akan tetap mempertahankan kamu karena selama ini Papa pikir kamu sudah melakukan tugasmu dengan baik. Tapi sayangnya kamu tetap harus menerima hukuman. Pertama, ulang tahun kamu yang akan di selenggarakan minggu depan yang biasanya di adakan di hotel berbintang, untuk tahun ini hanya akan di adakan secara sederhana di rumah dengan mengundang kerabat dan teman dekat saja."
"Iya, Pa. Aku terima hukuman itu karena aku sendiri ga terlalu suka ulang tahunku di rayakan. Aku udah terlalu besar untuk itu dan agak malu juga sebenarnya, Pa"
"Iya, Papa tau. Paling juga yang protes adik kamu yang selama ini selalu jadi seksi repot kayak waktu ulang tahun eyang bulan kemarin. Sekarang waktunya untuk hukuman kedua. Kamu siap?" Bram dan Prakash tersenyum penuh arti karena mereka sebelumnya memang sudah membicarakan tentang ini di belakang Dimas.
__ADS_1
"Ada hukuman kedua, Pa? Kirain cuma satu" Dimas mulai mengeluh dan protes.
"Ada dong" Jawab Bram dengan santai.
"Kalau begitu apa hukumannya, Pa?" Tanya Dimas penasaran.
"Hukuman keduanya adalah kamu harus mau Papa jodohkan dengan pilihan Papa dan mama"
"Aduh Paa... Udah ga zaman pa main jodoh-jodohan! Aku masih bisa kok cari sendiri" Dimas mulai protes kepada Papanya.
"Selama ini Papa kan sudah kasih kesempatan untuk kamu cari jodoh sendiri. Buktinya dan hasilnya mana? Belum ada juga kan? Jadi, biarkan Papa dan Mama yang turun tangan. Ada satu yang Papa rasa bisa menarik perhatian kamu" Ujar Bram sambil tersenyum penuh misteri.
"Siapa, Pa? Aku kenal ga?" Tanya Dimas penasaran.
"Leticia Angela. Kamu masih ingat kan sama dia?"
"Iya, aku masih ingat. Terakhir ketemu dia masih SMP, aku udah SMA. Dia kan yang dulu giginya berantakan sama jerawatan itu ?"
"Iya, itu dulu Dim. Sekarang dia cantik loh. Baru lulus S2 di Harvard. Jadi pastinya dia juga pintar. Iya ga, kash?" Ujar Bram meminta persetujuan Prakash.
"Iya, Pa. Cantik plus pintar" Prakash mengulang ucapan papanya.
Arya dan Steven yang sedari tadi hanya menyimak obrolan dan senyum-senyum, akhirnya ikut menimpali.
"Iya Dims, coba aja ketemu dulu siapa tau cocok. Iya ga ya'?" Ujar Steven
"Iya betul. Daripada kamu cari sendiri belum tentu dapet yang bener mending yang dari rekomendasi orang tua. Pastinya orang baik-baik, Dims. Ga kayak Nine!" Setelah itu mereka semua tertawa dan Dimas hanya bisa diam sambil cemberut memikirkan nasibnya. Lalu Bram melanjutkan pembicaraan.
"Arya sama Steven juga sebaiknya mencari jodoh, usia kalian kan juga sudah matang seperti Dimas. Apa mau Papa carikan jodoh juga?" Ujar Bram sambil tersenyum jahil.
"Ah ga usah Pa, Terima kasih. Aku bisa cari sendiri ga kayak Dimas" Ujar Steven dengan agak sungkan.
"Aku juga ga usah Pa, masih bisa cari sendiri" Arya ikut menimpali sambil senyum meringis karena merasa tak enak dengan Bram.
__ADS_1
"Ya sudah kalau bisa cari sendiri asal jangan kelamaan nanti keburu lumutan"
Mereka semua jadi tertawa mendengar ucapan Bram yang hanya ingin bercanda dan mencairkan suasana.