
Hari Selasa pagi, Dimas dan Arya mulai masuk kerja lagi seperti biasa. Tapi mereka mendapati meja kerja Elena masih kosong. Lalu Dimas bertanya kepada Cindy.
"Elena masih belum masuk kerja ya, mba?"
"Iya, pak. Masih flu berat katanya"
"Baik, Terima kasih infonya mba"
"Sama-sama Pak"
Kemudian Dimas dan Arya masuk ke ruangannya.
"Kasihan Elena. Dia mungkin masih sakit karena masih sedih" Ujar Dimas
"Iya, Dims. Nanti sepulang kerja kita jenguk Elena yuk"
"Iya ya'. Mudah-mudahan hari ini ga terlalu banyak kerjaan jadi kita ga kemalaman sampai rumah kakek Elena."
"Iya Dims"
**
Sesuai harapan Dimas, hari ini pekerjaan sedang tidak terlalu banyak dan sedang tidak ada meeting.
Dimas dan Arya pulang tepat waktu dan langsung menuju rumah kakek Elena untuk menjenguk Elena yang sejak kemarin sakit. Di tengah perjalanan mereka sempat mampir di supermarket untuk membeli buah-buahan dan makanan untuk kakek dan nenek Elena.
Karena jarak dari kantor menuju rumah kakek Elena cukup jauh di tambah tadi mereka sempat mampir ke supermarket dulu, sehingga mereka baru tiba sehabis Magrib. Setelah sholat di jalan, mereka akhirnya tiba juga di rumah kakek Elena.
Yang membukakan pintu adalah kakek Elena yang sampai sekarang masih duduk di kursi roda otomatis yang pernah di belikan oleh Steven. Melihat kursi roda tersebut membuat Dimas dan Arya jadi merindukan Steven.
Setelah menyerahkan bawaan mereka kepada nenek Elena yang tak lama muncul setelah kakek, kemudian kakek memanggil Elena yang muncul dengan memakai sweater dan celana panjang. Hidungnya masih merah karena flu.
"Wow... Elena, hidungmu jadi keliatan kayak rusa kutub yang abis main salju" Ujar Dimas mencoba untuk bercanda, sementara Arya hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
"Maafin Dimas ya, Lena. Dimas kalau bercanda emang suka ga ada batas" Ujar Arya
"Ga apa-apa kak... Mukaku emang suka keliatan aneh kalau lagi flu" Ujar Elena sambil menyeringai malu.
Dimas dan Arya kemudian memandangi rumah boneka Barbie yang di letakkan di ruang tamu karena tidak muat di kamar Elena.
"Aku kayaknya baru liat rumah boneka ini deh sejak terakhir kemari. Emang kamu ga telat baru beli rumah boneka sekarang, Lena?" Tanya Arya yang kelihatan bingung.
"Iya deh, aku juga baru liat" Dimas ikut menimpali ucapan Arya.
"Itu... Itu dari Stevie, kak... Mas..."
__ADS_1
"Hah! Dari Tev?" Seru Dimas dan Arya berbarengan. Kemudian Elena masuk ke kamarnya dan mengambil surat singkat dari Steven. Dimas dan Arya saling berpandangan dengan bingung.
Tak lama kemudian nenek Elena menyajikan teh dan pisang goreng kepada Dimas dan Arya.
"Maaf ya nak, cuma ini aja"
"Ini juga udah lebih dari cukup, nek. Iya ga, Dims?"
"Iya betul. Kita sih apa aja doyan nek, kadang pisang goreng buatan sendiri rasanya lebih enak dari yang di restoran"
"Masa iya begitu?"
"Iya benar, nek" Arya ikut menyetujui ucapan Dimas.
Kemudian Elena membahas kalau dulu Dimas pernah cerita tentang pisang goreng yang ia makan sewaktu trio tangguh sedang naik gunung. Saat itu saking laparnya karena perbekalan mereka habis, melihat pisang goreng seperti melihat makanan mewah di restoran mahal. Dan saat itu Dimas memang yang makan paling banyak. Mengingat itu membuat Dimas menjadi malu.
"Ya udah kalau gitu habisin semua nih, Dims." Ujar Arya meledek Dimas
"Ah kamu bisa banget bikin aku malu, ya"
Mendengar itu yang lain jadi menertawakan Dimas. Tak lama kemudian Dimas dan Arya pamit pulang agar Elena bisa beristirahat kembali. Tapi sebelum pulang Elena mempunyai satu permintaan untuk Dimas.
"Mmm... Mas Dimas, aku ada permintaan boleh?"
"Permintaan apa ya?"
"Elena, maaf. Permintaan kamu ga bisa aku kabulkan. Pertama, karena percobaan pembunuhan yang dia lakukan itu bukan main-main walaupun kesannya spontan. Yang kedua, karena udah masuk proses hukum jadi ga bisa di batalin. Paling kalau dia di sana berkelakuan baik bisa dapat remisi"
"Gitu ya. Tapi dia kan belum tau soal kematian Stevie. Setidaknya aku mau ketemu dia apakah boleh?"
"Boleh. Nanti aku anterin kalau kamu udah sembuh"
"Iya mas, Terima kasih ya"
"Iya sama-sama, Elena"
Tak lama kemudian, Dimas dan Arya pamit pulang. Nenek tak lupa membawakan bekal pisang goreng untuk Dimas, membuat Dimas lagi-lagi merasa malu.
**
Di tengah perjalanan pulang, Arya tampak sedang memikirkan sesuatu.
"Kamu kenapa ya'?"
"Elena keliatan sedih banget setelah Tev pergi. Apa mungkin kita... "
__ADS_1
"Ngga bisa ya' kita udah janji"
"Aku kan belum selesai ngomong, Dims"
"Tapi aku tau pikiran kamu pasti ke situ. Kita udah janji ya'. Sekarang kamu harus fokus. Soal Elena nanti lama kelamaan juga dia bisa kembali seperti dulu lagi. Time heals all wounds, remember?"
"Ya udah... Oke deh... Eh, fokus kemana nih? Nyetir mobil atau...?"
"Dua-duanya dong. Kalian berdua tuh emang sama aja, suka ga tegaan sana orang"
"Maksudnya aku sama Elena, Dims?"
"Ya iyalah. Udah ada kesamaan tuh, buruan deh jadian!"
"Dia masih berduka, Dims. Ga segampang itu"
"Bisa kok, kamunya aja yang ribet sendiri"
"Hih, kamu tuh kayaknya seneng banget ya ngajak ribut!"
"Siapa yang ngajak ribut? Kamunya aja yang sensi kayak perempuan!"
"Mending sensi daripada kamu tuh udah tukang ngambek, cengeng lagi!"
"Wah, kamu beneran ngajak ribut nih!"
"Yang ngajak ribut itu aku atau kamu? Kan dari awal kamu duluan yang udah ngeselin!"
Dan lagi-lagi mereka ribut sampai akhirnya Arya tiba di apartemennya.
**
Keesokan harinya, Elena akhirnya kembali masuk kerja. Karena Dimas sudah janji kepada Elena jika ia sudah sembuh akan mengajak Elena untuk mengunjungi Celine, maka Dimas menghubungi pengacaranya dulu untuk bertanya apakah mereka bisa mengunjungi Celine hari ini.
Setelah di cek, akhirnya pengacara Dimas memberitahu kalau mereka bisa mengunjungi Celine di hari itu juga. Jadi rencananya nanti sepulang bekerja Elena akan datang mengunjungi Celine dengan di temani oleh Dimas dan Arya. Tapi Arya agak ragu karena ia melihat muka Elena yang masih pucat.
"Kamu yakin mau mengunjungi Celine hari ini, Elena?"
"Iya kak"
"Tapi mukamu masih pucat. Gimana kalau di tunda dulu sampai kamu benar-benar sehat?"
"Aku ga apa-apa kok kak"
Tapi setelah itu Elena bangkit dari duduknya dan malah pingsan. Ternyata Arya benar. Elena belum terlalu sehat. Jangankan untuk mengunjungi Celine, untuk bekerja saja sepertinya ia belum siap karena belum terlalu sehat.
__ADS_1
Setelah merebahkan Elena di sofa, Arya meminta Cindy untuk mengambil kotak P3K. Mereka sedang mendiskusikan apakah Elena perlu di bawa ke rumah sakit atau tidak ketika Elena akhirnya siuman.
Dimas memutuskan untuk tidak mengantarkan Elena untuk mengunjungi Celine di penjara karena kondisi Elena yang belum terlalu sehat. Elena akhirnya mengalah dan tidak protes lagi karena mereka benar. Elena akan menunggu sampai ia benar-benar sehat untuk bertemu Celine.