
Setelah memastikan Elena dalam keadaan baik-baik saja, Arya membukakan pintu mobil sampai Elena duduk dan Arya menutup pintu mobil. Lalu ia membuka pintu untuk dirinya sendiri dan duduk di kursi pengemudi untuk menjalankan kendaraan.
Elena lebih banyak diam ketika dalam perjalanan pulang menuju rumah kakek dan nenek Elena. Sewaktu baru masuk mobil, Elena hanya menanyakan keadaan Steven. Setelah Arya menjawab kalau Steven baik-baik saja dan sedang berobat ke dokter, Elena merasa bersyukur. Namun setelah itu ia kembali diam.
Tetapi di tengah perjalanan, tiba-tiba Elena menangis dengan suara keras dan histeris, membuat Arya kaget dan menghentikan mobilnya ke pinggir jalan.
"Kemarilah" Ucap Arya sambil meraih Elena ke dalam pelukannya. Elena masih menangis dengan tersedu-sedu, tak se-histeris seperti sebelumnya, tapi air matanya kini menempel di baju Arya. Kemudian Arya mengambil tissue dan mengelap air mata Elena.
"Aku cuma ga mengerti kenapa Lili sampai sebenci itu padaku. Aku kan ga mengambil salah satu dari kalian... Huhuhu..." Elena kembali menangis. Arya hanya diam dan mendengarkan. Ia tahu Elena masih syok dengan kejadian tadi.
"Aku sempat takut tadi... Aku pikir aku akan mati... Orang-orang itu buat aku takut... Huhuhuhuhu... " Elena masih menangis dengan badan bergetar karena tadi ia memang sempat ketakutan.
"Tenang Elena... Jangan takut lagi... Kamu sudah aman sekarang..." Ujar Arya sambil mengusap pelan bahu Elena.
"Kak Arya..."
"Iya, Elena?"
"Sebenarnya kakak sendiri secara pribadi apakah kakak pernah suka atau memberikan perhatian lebih kepada Lili?"
"Aku? Maksud kamu apakah aku pernah suka sama Lili gitu?"
"Iya" Tapi setelah itu Elena malah terperanjat. Ia kaget dan heran sendiri kenapa ia sampai berani mengajukan pertanyaan seperti itu kepada Arya.
"Maaf... Maaf... Tolong jangan di jawab. Lupakan kalau aku pernah menanyakan pertanyaan konyol seperti itu. Pikiranku pasti lagi kacau saat ini" Ucapnya sambil menepuk pelan keningnya. Tapi Arya malah tersenyum jahil kepada Elena.
"Kenapa? Memang kamu ga mau tau jawabannya?" Tanya Arya sambil tersenyum miring dan mengangkat kedua alisnya.
"Ngga... Ga mau tau... Ga usah... Iya, ga usah di jawab..." Elena malah bertambah gugup di tanya seperti itu oleh Arya.
"Aku sayang sama Lili, Elena. Seperti Dimas sayang sama Lili. Dia sudah aku anggap adik sendiri. Ga ada perasaan lebih. Sebenarnya Dimas ga pernah melarang kalau aku atau Tev punya perasaan lebih kepada Lili. Tapi, sepertinya memang aku sayang sama dia seperti kakak ke adik. Aku rasa Tev juga begitu. Dia sayang sama Lili dan adikku, Dita. Karena Tev anak tunggal, dari dulu dia memang ingin punya adik perempuan yang bisa dia manja. Itu sih setau aku ya."
"Oh gitu ya kak. Maaf seharusnya aku ga bertanya seperti itu karena itu bukan urusanku" Ujar Elena yang sudah mulai berhenti menangis, hanya sesekali terisak.
"Ga apa-apa, Elena. Aku ga keberatan kok jawabnya." Setelah itu Arya menyodorkan air mineral botol yang selalu ia simpan di mobilnya kepada Elena.
"Terima kasih, kak" Lalu Elena minum air mineral tersebut.
"Sekarang udah merasa enakan belum, Len?"
__ADS_1
"Alhamdulillah sudah enakan, kak. Maaf baju kakak jadi basah kena air mata aku" Ujar Elena sambil menunduk malu.
"Ga apa-apa, ini bukan masalah besar. Sekarang, mau lanjut pulang ke rumah atau mau mampir makan dulu? Kamu lapar ga? Sepertinya dari tadi kamu belum makan deh" Tanya Arya kepada Elena.
"Ga tau deh, sepertinya aku jadi tak lapar karena kejadian tadi. Lebih baik kita pulang aja kak"
"Kamu yakin?"
"Iya kak"
"Tapi kalau di tengah jalan perut kamu bunyi, kita langsung cari tempat makan ya. Gimana?" Arya mulai menggoda Elena untuk mencairkan suasana.
"Ih kak Arya, jangan gitu dong! Aku kan jadi malu!" Muka Elena berubah jadi merona merah karena malu.
"Hehehe... Kamu kalau lagi malu lucu deh... Ya udah kalau maunya langsung pulang aku anterin ya"
"Makasih, kak"
Arya hanya memandang Elena sambil mengangguk dan tersenyum. Lalu ia menyalakan mesin mobil dan melanjutkan perjalanan pulang ke rumah kakek dan nenek Elena.
**
Steven masih memandang Leticia dengan heran karena Leticia tak seharusnya disini menemaninya untuk berobat.
"Keadaan Steven secara keseluruhan baik, hanya terdapat beberapa luka memar dan syukurnya tidak ada tulang yang patah" Jelas dokter Sylvia kepada Steven dan Leticia.
"Syukurlah... Berarti Steven sudah boleh pulang ya, dok? Tidak perlu di rawat kan?" Tanya Leticia kepada dokter Sylvia.
"Iya, tidak perlu di rawat" Jelas Sylvia sambil tersenyum penuh arti kepada Steven.
"Baik, dokter. Terima kasih. Kalau begitu kami permisi pulang dulu." Ujar Leticia.
Steven yang sedari tadi hanya diam saja akhirnya bersuara.
"Thanks, Syl. Aku pulang dulu ya"
"Oke, nanti kita bicara lagi, Steve" Ujar Sylvia yang seolah penasaran dengan hubungan Steven dan Leticia.
"Oke, see you again." Ucap Steven kepada Sylvia.
__ADS_1
Di dalam kendaraan menuju rumah Leticia, Steven mencoba untuk berbicara kepada Leticia.
"Mmm... Lettie, aku hargai perhatian kamu yang sudha sudah bersedia untuk mengantarku ke dokter, tapi ini sebenarnya tidak perlu"
"Jadi kamu ga suka kalau aku antar, Steve?" Tanya Leticia yang tidak mengerti dengan maksud Steven.
"Bukan begitu... Mmm... Kamu seharusnya bersama Dimas dan kamu tahu kan kalau orang tua kamu dan orang tua Dimas sedang berusaha untuk menjodohkan kamu dan Dimas?"
"Oh... Soal itu... Iya aku tahu, Steve."
"Maaf Lettie, Dimas adalah sahabatku dan aku tak ingin mengacaukan perjodohan kalian"
"Kenapa? Apakah kau tak suka padaku, Steve?"
"Aku suka kamu sebagai teman, Lettie"
"Hanya itu?"
"Maaf... Tapi iya, hanya itu"
"Aku mengerti" Tapi setelah itu Leticia menghembuskan nafas dengan kencang tanda ia kecewa.
"Memangnya kau tak suka sama Dimas, Lettie?"
"Suka sih, tapi hanya sebatas teman. Sepertinya aku harus berbicara dulu dengan kedua orang tuaku tentang ini"
"Sekali lagi aku minta maaf, Lettie"
"Tidak, kau tak perlu meminta maaf. Ini salahku juga." Leticia memandang Steven sambil tersenyum pahit.
Setelah itu mereka saling diam dan larut dalam pikiran masing-masing sampai Leticia tiba di rumahnya. Steven sempat membukakan pintu untuk Leticia sebelum Leticia masuk ke rumahnya.
"Selamat tinggal, Steve"
"Selamat tinggal? Aku ga keberatan kok ketemu kamu lagi. Kita kan berteman"
"Sayangnya, aku yang tak mau berteman denganmu karena aku menginginkan lebih dari itu"
"Oh... Oke. Sekali lagi maaf soal itu, Lettie. Tolong sampaikan salamku untuk kedua orang tuamu"
__ADS_1
Leticia hanya menjawab dengan anggukan kepala dan tersenyum. Setelah itu ia masuk ke dalam rumah.