
Setelah sholat Jum'at, Eyang, Dimas dan Arya menuju ke restoran dekat kantor Dimas untuk makan siang.
"Arya... Eyang harap Arya ga pernah bosan untuk selalu mengingatkan cucu eyang yang bandel ini untuk sholat Jum'at."
"Iya, yang. Insya Allah Arya ga akan pernah bosan untuk ajak Dimas sholat Jum'at bareng"
"Iya, pak Haji. Saya nurut deh sama pak Haji... " Ujar Dimas sambil pura-pura bungkuk untuk mencium tangan Eyang, kemudian tangan Arya, yang tentu saja refleks langsung di tepak oleh Arya.
Sebenarnya maksud ucapan pak Haji di tujukan bukan hanya untuk Eyang-nya, tapi juga untuk Arya. Sebenarnya Arya sudah pernah naik haji. Ketika hilang selama setahun, Mr. Abdulllah, orang yang telah menolong Arya dan menjadikan Arya sebagai anak angkat, pernah mengajak Arya untuk berangkat umroh.
Tapi ketika itu bulan depan memasuki bulan Haji sehingga Mr. Abdullah justru merubah rencana umroh mereka menjadi rencana naik Haji. Dimas mengetahui itu ketika secara tidak sengaja Dimas menemukan passport Arya sewaktu mereka akan berlibur ke pegunungan Alpen di Swiss untuk merayakan kembalinya Arya.
Dimas lalu bertanya kepada Arya lalu Arya membenarkan pertanyaan Dimas. Tapi Arya bertekad tidak ingin menggunakan titel hajinya di identitas dirinya, baik untuk KTP, SIM, dan dokumen-dokumen lainnya. Baginya, ibadahnya adalah urusan dia sendiri dan Yang Maha Kuasa saja, Ia tidak ingin mengumbar-umbar titelnya kepada siapa pun. Dimas pun mengerti dan tetap menjaga rahasia Arya dan menghormati keputusan Arya.
Sejak ketahuan oleh Dimas, sekembalinya dari Swiss, Arya langsung mengganti paspor nya dengan paspor biasa.
Setelah makan siang, Dimas dan Arya mengantarkan Eyang ke mobil dan berjanji akan datang ke pesta ulang tahun eyang minggu depan. Lalu Arya ikut Dimas ke ruangan kantor Dimas di lantai atas.
Setelah sampai di ruangan Dimas, Steven menelepon Arya. Arya langsung memasang loud speaker agar Dimas juga bisa mendengar percakapan mereka.
"Halo ya', gmn udah selesai sholat Jum'at sama Dimas kan?"
Walau berbeda agama, tapi Steven selalu rajin mengingatkan Dimas untuk sholat Jum'at.
"Iya udah, ini lagi di ruangan Dimas abis makan siang juga tadi sama Eyang."
"Sama eyang? Tadi eyang ke sana?"
"Iya, Tev tadi eyang kesini mau ngingetin supaya kita dateng ke ulang tahun eyang hari Sabtu minggu depan" Ujar Dimas menimpali obrolan Arya dan Steven.
"Iya aku sama Arya sih bakalan dateng. Kamu seharusnya bukan harus dateng lagi Dims, malah harusnya kamu jadi panitia acara! Jangan sampai kayak tahun kemarin ga dateng, bisa-bisa kamu di pecat jadi cucu eyang! Hahahaha... " Arya ikut tertawa mendengar ucapan Steven.
"Aku kan tahun kemarin ga dateng karena mendadak harus dinas keluar kota. Eyang aja yang ga mau ngerti sama alasanku" Ujar Dimas sambil cemberut.
"Udah jangan cemberut, nanti ga ada yang mau lagi loh sama kamu! Percuma kan dapet julukan playboy kalau ga ada yang mau!"
Lagi-lagi Arya dan Steven tertawa menggoda Dimas.
__ADS_1
"Udah dulu deh telponnya, aku banyak kerjaan nih!" Ujar Dimas pura-pura sibuk padahal sebenarnya memang sibuk.
"Dih, ngambek! Malu dong udah tua masa masih suka ngambek... Hahahaha... " Arya dan Steven tertawa berbarengan lagi.
Setelah itu Steven mengakhiri pembicaraan melalui telepon tersebut.
"Kamu juga ya' pulang sana! Hari ini kamu aku bebas tugaskan karena aku masih bisa handle"
"Kamu ngusir aku?"
"Iya"
"Jujur banget yaa... Ngeselin ih! Ya udah aku pulang! Aku juga sibuk mau ngurusin Oggy!"
Tetapi baru saja Arya akan keluar ruangan, intercom di meja Dimas berbunyi.
"Iya Bu Astri, ada apa?" Tanya Dimas.
"Pak, mengenai calon pegawai yang tadi bapak tanya yang memakai baju merah hitam, tadi sudah saya tanyakan ke bagian HRD, namanya Elena Adriana Putri, pak"
"Sudah selesai tesnya, Pak. Sekarang sudah pulang semua. Tapi besok kembali lagi untuk wawancara dengan bapak"
"Baik, Terima kasih banyak, bu Astri"
"Sama-sama Pak"
Arya yang dari tadi mendengarkan kemudian langsung berkomentar.
"Loh, berarti yang tadi pagi nolong eyang anterin kesini sama dengan orang yang aku rekomendasi ke kamu, Dims"
"Oooo... Berarti orang yang sama ya? Aku jadi penasaran pengen segera ketemu. Orangnya cantik ga ya'?"
"Huu... Kebiasaan deh pasti yang ditanya cantik apa ngga... Yang penting sikapnya Dims, dari sikap dia mau nolongin eyang tadi pagi udah nunjukkin kalau dia tuh orang baik!" Ujar Arya meledek Dimas.
"Iya... Iya... Tapi kan kalau cantik lebih bagus lagi ya'... Apalagi kalau nanti dia di terima di sini untuk gantiin bu Astri. Minimal kan kalau aku lagi suntuk kerja bisa mandangin dia biar ga stress!"
"Alesaan... Udah ah aku pulang sekarang!"
__ADS_1
"Ya udah, Hati-hati ya'... Jangan ngebut!"
"Iya beres... Tenang aja... " Setelah melambaikan tangannya Arya keluar meninggalkan ruangan Dimas.
Tadinya Arya ingin mengajak Elena untuk pulang bareng, tetapi ternyata Elena sudah lebih dulu pulang. Tapi Arya memang sedang tidak membawa dua helm, jadi mungkin lain kali ia akan bisa mengajak Elena pulang bareng dengan Lucky, motor kesayangannya.
**
Setelah Arya pulang, Dimas kembali di sibukkan oleh pekerjaannya. Sepertinya hari ini Ia akan lembur karena pekerjaannya menumpuk, walaupun Redi sang asisten pribadi ada di sebelahnya untuk membantunya.
Dimas sebenarnya tidak sabar menunggu hari Senin untuk mewawancarai Elena, tapi Ia tidak ada pilihan lain selain sabar menunggu sampai hari Senin tiba.
"Pak... Bagaimana menurut bapak tentang ini?" Redi tiba-tiba menanyakan sesuatu sehingga membuyarkan lamunan Dimas.
Setelah itu ia kembali melanjutkan pekerjaan bersama Redi.
Setelah semua pekerjaan selesai sekitar jam 7 malam, Dimas pun bersiap untuk pulang.
"Ah... Aku capek sekali... Aku butuh hiburan. Besok malam minggu dan aku belum ada rencana apa-apa." Ujar Dimas dalam hati.
Kemudian dia mengecek nama-nama yang ada di kontak handphonenya. Ia akan mencoba menghubungi wanita-wanita kenalannya untuk mengajak salah satu dari mereka untuk berkencan.
Setelah menyeleksi beberapa nama, Dimas memutuskan untuk menghubungi salah satu dari mereka. Tetapi belum juga Ia menelpon, tiba-tiba muncul pesan chat di layar handphonenya. Lagi-lagi Steven yang menghubunginya.
[Dims, besok kumpul yuk di cafe Sam!]
[Ga ah, males! Aku lagi ada acara!]
[Acara apaan? Kencan?]
[Rahasia dong! Kepo... Wkwkwk....]
[Ish... Nyebelin! Kalau ada kencan, batalin aja! Mending hang out sama kita!]
Dimas tak lagi menanggapi pesan Steven. Lagi-lagi ia gagal kencan. Baik Steven maupun Arya memang sering menggagalkan rencana kencan Dimas. Seharusnya mereka punya pacar supaya tiap malam minggu mereka berhenti menggangguku, pikir Dimas.
Setelah memastikan meja kerjanya rapi, Dimas kemudian turun ke lantai bawah dengan lift khusus eksekutif menuju parkiran untuk mengambil mobilnya.
__ADS_1