Trio Tangguh Dan Elena

Trio Tangguh Dan Elena
Bab 82 Bertambah Buruk


__ADS_3

Steven tak bisa tidur. Ia mengingat kembali percakapan terakhirnya dengan Sylvia mengenai kondisinya. Menurut Sylvia, kanker paru-paru stadium 3 merupakan kondisi stadium lanjut lokal. Artinya, tumor belum menyebar ke bagian yang jauh dari lokasi awal sel kanker tumbuh. Akan tetapi, kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening di dekatnya, seperti di bawah dagu, ketiak, dan sela paha.


Gejala-gejala kanker paru stadium 3 yang muncul pada pasien, adalah batuk yang tidak kunjung sembuh, batuk berdarah, dan sesak nafas. Kini Steven merasakan ketiganya. Sepanjang malam ia batuk terus menerus. Dan ketika ia hendak mengeluarkan dahak di kamar mandi, yang keluar malah darah. Steven panik. Dengan berjalan terhuyung-huyung, ia mencoba untuk mencapai pintu kamar papinya.


"Papi... Papi...!"


Steven yang akhirnya bisa mencapai pintu kamar papinya, mengetuk pintu dengan lemah. Tak lama kemudian, ia jatuh pingsan.


**


Hans yang untungnya saat itu mendengar ketukan pintu di kamarnya, langsung membuka pintu dan kaget melihat Steven yang tergeletak di depan pintu kamarnya. Ia langsung membawa Steven ke rumah sakit dengan di bantu oleh Pak Sofyan.


Dimas dan Arya langsung menyusul ke rumah sakit setelah Hans mengabari mereka.


'Gimana kondisi Tev sekarang, pi?" Tanya Dimas setelah menyapa dan salim kepada Hans yang diikuti oleh Arya.


"Masih di IGD. Sylvia juga segera ke sini. Nanti kalau sudah boleh masuk kamar rawat inap baru papi pulang"


"Kalau papi mau pulang sekarang juga ga apa-apa. Nanti kita yang urus semuanya di sini, pi" Ujar Arya


"Iya betul, pi. Jangan sampai papi sakit juga, papi harus banyak istirahat. Kita pasti kabarin papi tiap ada perkembangan baru." Dimas membenarkan ucapan Arya.


"Papi memang belum tidur lagi sejak antar Steve dini hari tadi. Baiklah, kalau kalian sudah di sini papi jadi bisa sedikit merasa lega. Tolong jaga Steve, anak kandung papi satu-satunya. Sepertinya Papi tak sanggup hidup kalau Steve pergi lebih dulu dari Papi" Ujar Hans sambil menitikkan air mata yang menetes di pipi.


"Jangan menyerah, pi. Tev pasti akan berjuang melawan penyakitnya demi papi dan dirinya sendiri" Ujar Dimas.


"Iya, betul itu pi" Arya ikut menyetujui ucapan Dimas. Setelah itu Hans pulang ke rumah untuk beristirahat dengan di antar oleh Pak Sofyan.


Setelah Hans pulang, Dimas dan Arya sedang mempertimbangkan untuk mengabari Elena sekarang atau nanti, karena waktu masih menunjukkan pukul 4 dini hari. Lalu mereka memutuskan untuk mengabari Elena nanti setelah sholat Subuh.


**


Steven masih di rawat selama beberapa hari setelah ia pingsan. Dimas dan Arya bergantian menjaga Steven. Ketika Steven mulai siuman dan di periksa oleh Sylvia, ia baru memberitahu Elena, Dimas dan Arya tentang stadium Steven yang naik dari stadium 2 ke stadium 3.


Walau sudah berjanji untuk terlihat kuat di depan Steven, tapi Elena yang begitu khawatir tak bisa membendung air matanya. Tapi Steven malah tersenyum dan menghibur Elena dengan mengatakan make up Elena akan luntur kalau menangis. Elena malah menjawab kalau ia saat itu sedang tak memakai make up. Steven jadi malu, akibatnya semuanya malah jadi menertawakan Steven.


Lalu Sylvia memberitahu kalau Steven akan kembali di kemoterapi dalam waktu dekat. Steven pun mulai merajuk dengan mengatakan rambutnya saat ini sudah menipis, setelah kemoterapi kedua dia yakin pasti rambutnya akan habis semua dan menjadi botak. Namun semuanya tetap menguatkan Steven kalau setelah sembuh rambut Steven akan tumbuh lagi.


**

__ADS_1


Setelah hampir seminggu di rumah sakit, Steven boleh kembali ke rumah lagi sebelum di kemoterapi minggu depan. Jadi sementara Steven menjalani rawat jalan.


Setelah mengantarkan Elena ke rumah kakeknya, Dimas memarkirkan mobilnya di parkiran khusus untuk penghuni apartemen bersama Arya. Rencananya malam ini ia juga akan menginap di apartemennya yang bersebelahan dengan apartemen Arya.


Setelah membersihkan diri, Dimas dan Arya makan malam bersama di apartemen Arya di balkon sambil membicarakan Steven.


"Tev itu luar biasa ya, dia udah memikirkan banyak hal dengan matang. Bayangin ya' dia beli saham perusahaannya sendiri atas nama kita supaya kita nanti punya posisi kuat di Dewan direksi Simmons Corp, jadi kalau ada apa-apa kita nanti bisa ambil alih"


"Iya Dims, dia memang jenius. Lagi sakit keras aja bisa kepikiran kesitu."


"Bener ya' sekarang kita jadi punya tanggung jawab tambahan. Mudah-mudahan aku bisa menjalaninya"


"Harus bisa Dims, demi Tev"


Dimas lalu menjawab Arya dengan anggukan di kepala.


**


Kemoterapi kedua akhirnya di laksanakan juga. Bedanya, setelah ini Steven masih di rawat di rumah sakit, tidak seperti sebelumnya yang di perbolehkan untuk pulang ke rumah karena kali ini Sylvia perlu melakukan observasi.


Seperti yang sudah di duga, rambut Steven mulai rontok, lebih banyak dari kemoterapi yang pertama. Lama kelamaan kepala Steven menjadi botak, tanpa rambut yang tersisa di kepalanya. Kemudian Dimas membelikan Steven banyak sekali topi beanie, atau di Indonesia di sebut topi kupluk.


Karena kondisinya yang memburuk, Steven mulai kehilangan kepercayaan dirinya, tetapi seluruh keluarga dan teman dekatnya tak pernah berhenti untuk memberinya semangat.


Di suatu malam, dengan izin dari kakek dan neneknya, Elena menginap di rumah sakit untuk menjaga Steven. Karena ruangan rawat inap VIP luas, jadi Elena bisa tidur di sofa yang cukup nyaman. Arya juga ikut menjaga Steven malam itu. Ia sedang mengurus obat Steven di lantai bawah.


"Elena, kau sudah ngantuk? Dari Tadi kau terus menguap" Tanya Steven


"Lumayan, ko"


"Kemarilah"


"Kemana?"


"Tidur di sebelahku. Tempat tidurnya cukup nyaman kok buat berdua"


"Jangan, ko. Kan ada selang infus juga di situ"


"Di sebelah sini kan bisa yang tak ada selang infusnya. Ayolah, Elena. Aku tak mau kau tidur di sofa karena masih agak dingin di situ. Aku janji takkan macam-macam. Aku kan lagi sakit" Ujar Steven sambil memasang muka memohon yang lucu. Elena jadi tertawa dan akhirnya setuju. Dengan perlahan, Elena menaiki tempat tidur Steven.

__ADS_1


"Tapi kalau ada perawat aku langsung bangun ya, ko"


"Kalau kamu tidurnya nyenyak biar saja, masa perawatnya ga mau ngerti. Dia kan pernah muda juga kayak kita"


"Koko diam-diam bandel juga ya, kirain mas Dimas aja yang suka kayak gitu"


"Aku ga bandel kok, aku baik"


"Iya deh, aku percaya"


"Tidurlah, Elena. Apa perlu aku nyanyi lagu Nina Bobo dulu biar kamu tidur?"


"Ga usah ko, suara koko udah mulai serak. Aku ga mau koko jadi capek karena kebanyakan ngomong"


"Oke deh"


"Good night, Stevie"


"Stevie?"


"Salah satu adiknya Barbie kayaknya ada yang namanya Stevie deh"


"Elena, aku dulu sering nemenin Dita sama Lili main boneka Barbie, jadi aku hafal nama-nama mereka, termasuk adik-adiknya Barbie"


"Kalau gitu namanya siapa aja dong?"


"Barbie punya 3 adik, namanya Skipper, Tracie sama Chelsea. Ga ada yang namanya Stevie, kan adiknya cewek semua"


"Oh ga ada ya? Hehehe... Mungkin karena dulu aku belinya Barbie kw jadi namanya salah."


"Kalau pun ada yang cowok, namanya Ken bukan Stevie"


"Aku jadi malu, ketauan deh ga pernah beli yang asli karena kakek belinya di pasar bukan di toko mainan"


"Ga apa-apa Elena. Aku ingat dulu Dimas sama Arya suka ledekin aku karena hafal nama-nama di tokoh Barbie. Siapa suruh mereka ga pernah mau maen bareng adik mereka."


"Koko memang paling baik deh"


"Ngga juga, kadang aku nakal juga sih kayak mereka"

__ADS_1


"Bagus deh kalau ngaku"


Kemudian mereka tertawa bersama. Tapi Steven jadi batuk-batuk. Kemudian Elena memberikan Steven minum sambil mengelus-elus pundaknya. Setelah itu mereka sama-sama terlelap.


__ADS_2