
Steven langsung menyanggupi ketika Dimas dan Arya mengajaknya ke Bali. Orang tua dari Celine juga menyetujui keberangkatan Celine ke Bali. Rencananya mereka akan berangkat di hari Jum'at sore, jadi Dimas, Arya, dan Elena yang satu Kantor hanya bekerja setengah hari, setelah sholat Jum'at mereka bersiap-siap untuk berangkat.
Dimas yang di antar oleh supir pribadinya yang bernama Pak Dharma, kemudian menjemput Elena dan Celine yang rumahnya berdekatan. Sedangkan Arya di antar oleh supir pribadinya yang bernama Pak Jaka karena lokasi rumahnya yang jauh dengan Dimas jadi tidak memungkinkan bagi mereka untuk berangkat bersama.
Penerbangan ke Bali seharusnya berangkat jam 5 sore. Elena, Celine, Dimas, dan Arya sudah tiba di bandara satu jam sebelum keberangkatan. Tetapi 30 menit sebelum keberangkatan Steven belum juga muncul, membuat mereka semua khawatir.
Dimas dan Arya sudah bergantian menghubungi Steven di ponselnya, tapi tak kunjung di angkat. Beberapa menit kemudian, Steven malah menghubungi Elena dan berkata ia akan datang terlambat karena pekerjaan yang tidak bisa ditunda.
Ia berjanji akan menyusul dengan naik pesawat berikutnya. Tapi Elena tetap bersikukuh untuk menunggu Steven dan meminta Celine, Arya, dan Dimas untuk naik pesawat duluan sesuai dengan jam yang tertera di tiket mereka.
Arya menjadi yang pertama menolak usulan Elena, karena ia yang mengajak mereka jadi ia merasa tak enak meninggalkan salah satu dari mereka terlebih dahulu. Akhirnya mereka semua sepakat untuk menunggu Steven dan merubah jadwal perjalanan ke jam berikutnya sampai Steven benar-benar datang.
**
Steven baru datang satu jam kemudian. Setelah itu Arya baru mengubah jam perjalanan mereka ke jam terdekat. Untungnya masih bisa dan penumpang di jam itu tidak terlalu banyak.
Karena Arya yang mengurus semua tiket perjalanan mereka, jadi ia pula yang mengatur pengaturan tempat duduk. Mereka semua mendapatkan tiket kelas ekonomi yang bangkunya tersedia untuk tiga orang.
Arya sengaja memesan dua kursi khusus untuk Elena dan Steven untuk memberi mereka kesempatan menghabiskan waktu berdua. Dan kali ini juga giliran Steven untuk mengatasi aerophobia Elena. Sedangkan Dimas, Arya, dan Celine duduk bersama di satu baris dengan jarak yang agak jauh dengan Steven dan Elena.
"Koko Steve sama Elena duduk dimana ya?"
Tanya Celine kepada Dimas dan Arya.
"Mereka dapat duduk agak di depan, Cel. Tadi stafnya yang langsung tentuin tempat duduk kita, jadi ya kita terima aja deh, yang penting sampai, iya kan?" Ujar Arya mengarang cerita.
"Iya deh, tapi kalau bisa nanti pulangnya aku request duduk dekat koko ya, kak."
__ADS_1
"Iya, nanti aku usahain deh" Ujar Arya.
"Lagian kamu gimana Cel, baru aja berangkat udah mikirin pulang. Santai aja dulu. Nanti sampai Bali juga ketemu lagi kan sama Tev dan Elena" Ujar Dimas
"Hehehe... Iya juga sih..."
"Oh iya, kamu mau pesan makanan ga? Aku juga bawa cemilan nih kalau kamu belum mau makan yang berat. Kamu mau ga?" Ujar Dimas sambil menyodorkan tas kantong yang berisi banyak cemilan.
Dalam hati Arya tersenyum. Dia tau Dimas sengaja melakukan itu untuk mengalihkan perhatian Celine. Walau sekarang statusnya jomblo, tapi soal menangani perempuan dia memang jagonya.
**
Elena tersenyum canggung kepada Steven. Ini pertama kalinya ia naik pesawat terbang bersama Steven. Ia tahu Steven tahu tentang Elena yang takut naik pesawat terbang, tapi tetap saja Elena merasa tegang.
Steven kemudian mengeluarkan tas kantong berisi cemilan dan menawarkan ke Elena.
Elena tersenyum mendengar ucapan Steven.
"Permen mint kan biasanya? Kata Dimas sih begitu. Atau kamu berubah pikiran mau yang lain?"
Elena hanya menggelengkan kepalanya. Lalu Steven memberikan Elena sebuah permen dan Elena menerimanya. Setelah memastikan permen tersebut sudah di mulut Elena, tanpa berkata-kata, Steven langsung memberikan tangannya untuk di pegang oleh Elena. Nafas Elena yang semula tidak beraturan ketika take off, lama-lama menjadi tenang dan beraturan.
"Terima kasih, koko... "
"Sama-sama Elena... Terima kasih juga untuk kalian semua yang sudah bersedia untuk menungguku. Gara-gara aku flight kita jadi mundur."
"Ga apa-apa ko, daripada koko nanti jalan sendirian, kita jadi kepikiran"
__ADS_1
"Kenapa ya sejak aku sakit kalian ngejagain aku banget? Aku jadi kayak anak kecil yang belum bisa ngapa-ngapain" Ujar Steven sambil pura-pura cemberut
Elena tertawa mendengar ucapan Steven. Kadang-kadang ucapan Steven memang polos. Elena rasa itu adalah salah satu kesamaan Steven dengan dirinya.
"Aku rasa kalau posisinya terbalik juga koko akan melakukan hal yang sama, kan?" Ujar Elena
"Hehehe... Iya juga sih... Tapi rasanya agak janggal aja. Aku yang selama ini mengurus orang lain seperti mami, lalu Emily, sekarang aku merasa jadi seperti di urus oleh kalian.
" Bagus kan ko, anggap aja itu penghargaan atas kerja keras koko selama ini"
"Ah Elena... Sikap kamu memang selalu manis seperti wajahmu"
Elena hanya tertawa mendengar ucapan Steven.
**
Steven, Elena, Dimas, Arya dan Celine akhirnya tiba di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali pada pukul 22.30, penerbangan terakhir di hari itu. Mereka juga sudah makan malam di pesawat, jadi mereka hanya ingin beristirahat saja malam itu.
Arya memesan 2 kamar yang terletak bersebelahan. Satu kamar untuk Elena dan Celine, satu kamar lagi untuk Trio Tangguh. Dimas, Arya dan Steven memang biasanya hanya memesan satu kamar jika bepergian, terdiri atas dua twin bed yang biasanya akan di satukan.
Biasanya juga mereka hampir tidak pernah tidur jika sedang bepergian, karena mereka akan saling ngobrol dan bercanda semalaman. Arya juga terkadang tidak kembali ke kamar hotel karena ia kadang tidur di mess yang ada di lantai atas tokonya sambil berbincang dengan dua staf pria di toko tersebut, yaitu Putu dan Made. Tapi sekarang Made sudah menikah, jadi yang tinggal di mess hanya Putu.
Ada satu staf wanita di toko Arya yang bernama Laksmi yang bertugas di bagian kasir. Seperti Made, Laksmi juga sudah menikah jadi ia juga setiap hari pulang pergi ke toko.
Toko Arya memang kecil, tapi pemasukannya lumayan, cukup untuk menghidupi ketiga karyawannya yang ia telah percaya selama bertahun-tahun.
Setelah masuk ke kamar masing-masing, mereka pun bergantian ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian kemudian tidur. Besok mereka baru akan merencanakan aktivitas apa yang akan mereka lakukan terlebih dahulu sambil sarapan di hotel.
__ADS_1
Sebelum tidur, Dimas dan Arya saling menanyakan keadaan Steven, seperti apakah ia lelah, apakah Steven membawa obat yang sudah di resepkan oleh Sylvia, atau apakah Steven ingin makan sesuatu sebelum tidur, atau apakah ingin jalan-jalan keluar dulu sebentar untuk menghirup udara segar di luar, dan masih banyak pertanyaan lainnya. Kehebohan Dimas dan Arya membuat Steven jadi ngambek dan memutuskan untuk tidur karena pusing dengan ulah kedua sahabatnya.