
Elena masih terus menangis ketika Arya mengantarkan Elena pulang ke rumah kakeknya.
"Elena, udah dong nangisnya. Kalau kakek sama nenek liat nanti di sangkanya aku yang abis buat kamu nangis"
"Aku cuma ngerasa bersalah aja kak sama Celine. Kalau waktu itu aku ga terima koko mungkin ga akan kayak gini"
"Jadi kamu nyesal udah terima Tev?"
"Ga juga sih... Aku sayang koko tapi aku juga ga mau kayak gini. Celine teman aku dari kecil, aku ga sangka aja kayak gini. Dia jadi begitu gara-gara aku... Huhuhu... "
Arya lalu meminggirkan Oggy - mobilnya, ke pinggir jalan.
"Elena, dengar ya. Kalaupun misalnya kamu ga terima Tev pun, Celine ga akan jadian sama Tev. Kamu tau ga kenapa? Karena Tev maunya sama kamu. Kesehatannya mungkin memburuk, tapi dia bahagia sama kamu. Itu yang penting. Sekarang berhenti nangis, bersihin muka kamu, dan senyum. Demi kakek sama nenek. Oke?"
"Oke"
Elena lalu membersihkan mukanya dengan tissue dan membersit hidungnya. Ia berkaca di kaca spion dan melihat mukanya yang merah karena habis menangis.
"Mukaku masih keliatan merah kak kayak kepiting rebus"
"Ya udah kalau nenek sama kakek nanya kenapa mukamu merah bilang aja abis makan kepiting rebus"
"Ih kakaak..." Elena lalu mencubit lengan Arya
"Aduuh... Tuh kan nyubitnya aja sakit kayak abis di capit sama kepiting. Cocok kan kalau di bilang abis makan kepiting rebus"
Setelah itu Elena akhirnya jadi tertawa. Lalu Arya melanjutkan perjalanan menuju rumah kakek Elena sambil terus bercanda dengan Elena agar ia lupa dengan peristiwa kemarin dengan Celine yang hampir membahayakan nyawanya.
**
Steven meminta kepada Sylvia agar ia bisa pulang ke rumah, tetapi Sylvia tidak mengizinkan karena kondisinya belum memungkinkan untuk pulang. Steven mendapat firasat tak enak. Ia merasa waktu Jade tinggal sedikit lagi. Dan mungkin begitu pula dengan waktu hidupnya Steven.
Sedari pagi ia terus berdebat dengan Sylvia. Dimas masih di rumah sakit. Tak lama kemudian, Arya datang menyusul. Mereka memahami kekhawatiran Steven, tapi Sylvia juga ada benarnya. Kondisi Steven masih terlalu lemah untuk pulang.
"Ya udah gini aja Tev, kamu video call sama Emily aja minta dia untuk cek Jade" Usul Arya.
"Oh iya, benar juga. Oke deh, aku telepon Emily dulu" Ujar Steven. Panggilan tersambung dan Emily langsung mengangkat telepon.
"Halo koko"
"Halo, Em. Lagi ngapain?"
"Aku baru aja selesai melukis. Mau lihat?"
"Boleh"
Emily menunjukkan hasil lukisannya. Ternyata ia melukis Steven. Hasilnya luar biasa. Dimas dan Arya yang ikut melihat pun kagum dengan hasil lukisan Emily.
__ADS_1
"Mungkin suatu hari nanti kalau Arya jadi punya Galeri kamu bisa join sama Arya, Em."
"Benarkah? Aku pasti senang kalau memang bisa bergabung"
"Tentu saja, Em. Nanti aku kabari kalau jadi punya galeri seni" Ujar Arya
"Oke, aku tunggu kabar baiknya ya, A"
"Iya, Em"
Dimas yang dari tadi diam hanya memperhatikan. Sepertinya akhir-akhir ini Emily mulai bicara lebih banyak dari biasanya.
"Anyway, Em. Aku mau minta tolong untuk melihat keadaan Jade. Bisa?"
"Iya, ko. Sebentar ya"
Emily lalu ke belakang rumah dimana Jade berada. Jade sedang tidur di karpet kecil kesayangannya. Lalu Emily memegang badan Jade.
"Astaga, badannya panas ko"
"Coba ambil thermometer, Em. Cek suhu tubuhnya"
Lalu Emily mengambil thermometer seperti yang Steven pinta. Ternyata suhu tubuhnya tinggi. Lalu Emily segera memanggil papinya dan segera membawa Jade ke dokter hewan langganannya.
"Nanti aku hubungi lagi kalau sudah sampai di dokter, ko. Bye"
"Oke, hati-hati Em"
"Suhu badannya tinggi, Steve. Dia demam. Kamu sendiri juga tahu kan kalau Jade sudah tua. Jadi, aku akan memberinya obat sambil di rawat di rumah."
"Apa waktunya sudah dekat? Aku merasa seperti itu"
"Sepertinya iya. Tapi aku tak bisa pastikan waktunya apakah akan satu bulan, satu minggu, atau... Beberapa hari"
"Aku mengerti, dok" Ujar Steven dengan sedih
"Saranku, jangan biarkan ia sendiri. Harus selalu ada yang menemani. Karena hewan peliharaan biasanya punya kecenderungan untuk menjauh dari pemiliknya sebelum mati, agar pemiliknya tak melihat ketika ia sedang sekarat"
Mata Steven langsung berkaca mendengar penuturan dokter Ruby. Sepertinya ia harus siap kehilangan Jade dalam waktu dekat.
"Baik, dok. Terima kasih sarannya"
"Iya sama-sama, Steve. Aku dengar kau juga sedang sakit. Semoga lekas sembuh, Steve"
"Ya, sekali lagi terima kasih dok"
Kemudian Emily mengakhiri percakapan via video call. Ia berjanji akan merawat Jade sampai Steven bisa pulang ke rumah.
__ADS_1
"Aku harus pulang ke rumah. Aku harus bertemu Jade sebelum terlambat. Tolong bantu aku untuk meminta kepada Sylvia agar aku bisa pulang ke rumah"
"Kita ga janji, Tev. Tapi kita akan coba" Ujar Dimas.
"Setelah itu, waktunya menjalani plan B"
"Plan B? Yang A emang yang mana?" Tanya Dimas bingung.
"Plan A itu menjalani segala macam prosedur pengobatan yang udah aku jalani sesuai perintah dokter Sylvia yang suka memerintah itu"
"Hei, aku denger loh. Ternyata selama ini kamu suka ngomongin aku di belakang ya, Steve" Ujar Sylvia yang baru masuk ruangan untuk memeriksa Steven.
"Aku ga pernah ngomongin kamu di belakang kok"
"Nah itu barusan apa dong kalau gitu?"
"Itu sih kebetulan aja"
"Udah diem dulu, aku mau periksa kamu"
"Iya, bu dokter"
Dimas dan Arya hanya saling memandang dan tersenyum. Mereka lalu izin keluar ruangan sementara Sylvia memeriksa Steven. Setelah itu mereka kembali ke dalam dan membicarakan plan B atau rencana B berempat.
Plan B sebenarnya melibatkan satu orang penting lagi dalam hidup Steven, yaitu Hans Simmons - papi Steven. Tapi papinya telah lebih dahulu di beritahu tentang rencananya ketika Steven sering tinggal di rumah, sebelum kemoterapi kedua.
Tak ada satupun baik dari Hans, Dimas, Arya, maupun Sylvia yang menyukai rencana Steven dengan alasan di luar nalar atau tidak masuk akal, terlalu beresiko, sampai berbahaya. Tapi Steven tetap ingin melaksanakannya, jadi mereka tetap mengikuti keinginan Steven walau dengan berat hati.
Tapi di antara mereka semua yang paling cemas adalah Dimas. Ia yang paling khawatir bukan hanya tentang kesehatan Steven, tapi juga keberlangsungan perusahaan Simmons Corp selama di pimpin Aldo. Ia benar-benar tidak percaya dengan saudara tiri Steven itu, karena dari dulu yang ia bisa lakukan hanya mengacau. Dan Dimas pribadi merasa tidak yakin apakah nantinya bersama Arya, ia akan bisa membereskan kekacauan itu atau tidak.
Tapi melihat ketenangan Arya membuat Dimas sedikit merasa lebih tenang. Dimas dan Arya juga mencoba untuk membantu Steven bicara mengenai kepulangan Steven ke rumah demi menemui Jade kepada Sylvia.
"Kalian curang. Tiga lawan satu jelas saja aku kalah" Ujar Sylvia sambil cemberut.
"Aku akan turuti semua mau kamu seperti memasang alat infus, alat pernapasan, dan lainnya di rumah. Aku juga akan memakai jasa perawat pribadi dan aku juga akan mengurangi menelepon kamu agar kamu ga terganggu terus"
"Kamu tuh kalau ada maunya tuh pasti kayak gini deh. Ya sudah, aku turuti mau kamu, tapi ingat kalau ada apa-apa kamu harus segera telepon aku. Oke?"
"Oke, bu dokter"
"Satu lagi, asal kamu tau aja ya, Steve. Kamu tuh masih pegang rekor sebagai pasien aku yang paling ga nurut selama aku tangani"
"Wow keren. Ada pialanya ga tuh Syl?" Arya menimpali kejengkelan Sylvia dengan bercanda.
"Kalian semua emang sama aja. Aku yakin Dimas sama Arya kalau sakit juga sama menjengkelkannya seperti Steve"
"Eh kok aku kena juga sih? Aku kan dari tadi diem aja" Dimas protes tak terima di bilang menjengkelkan seperti Steven dan Arya.
__ADS_1
"Sekarang aja diem. Kalau seperti Steve juga paling sama aja" Ujar Sylvia
Setelah itu mereka menertawakan Sylvia, kecuali Steven yang hanya tersenyum karena khawatir kalau ia ikut tertawa akan berakhir dengan batuk-batuk seperti sebelumnya.